Di ulang tahun pernikahan nya yang ke sepuluh, Sarah di minta oleh ibu mertua nya menyusul Gibran yang tinggal di tanah perantauan.
Tapi alangkah terkejut nya Sarah, dia menemukan suami nya sudah menjadi suami dari wanita lain. Bahkan mereka sudah memiliki anak berusia 7 tahun. Hal yang lebih mengejutkan, setiap tahun mertua nya datang ke sana mengunjungi mereka serta memberikan banyak hadiah.
Merasa di khianati, Sarah memutuskan kembali ke kota dan memilih untuk berpisah. Tapi setiba nya di rumah, sebuah fakta baru terungkap. Selama ini suami nya membohongi ibu nya sendiri dan menjual nama Sarah demi wanita itu.
Gibran, suami nya Sarah di dukung oleh ayah nya dan juga wanita yang menjadi selingkuhan dari Ayah nya. Ibu mertua nya mendukung Sarah dan membalas perbuatan anak dan suami nya, 2 orang yang berusaha merampas semua harta nya. Tepat di hari Gibran melakukan resepsi mewah, Ibu nya dan Sarah datang memberikan kejutan yang tak terduga untuk Gibran dan juga ayah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
Acara pernikahan ulang Santi dan Gibran berjalan dengan lancar, tapi acara itu tidak di hadirin oleh bu Meri dan Sarah. Karena saat ini kedua nya masih di dalam perjalanan dan belum tiba di sana.
Bu Siti dengan wajah bangga berada di meja utama, di samping pak Burhan dan orang tua nya Santi. Semua orang kampung hadir di sana, karena di kampung ini baru kali ini di adakan pesta mewah.
"Pesta nya mewah sekali, dari orang terkaya di kampung kita!" Ujar salah satu warga.
"Tali aku heran ya, kenapa pernikahan nya baru di resmikan sekarang? Anak nya udah 7 tahun loh!" Tanya yang lain nya.
"Entah lah, mungkin memang dulu belum ada biaya nya. Maklum lah, pak Deni dan bu Tuti dulu nya juga orang biasa seperti kita!"
"Benar itu, semenjak Santi menikah dengan Gibran barulah kehidupan mereka berubah!" Yang lain ikut berkomentar.
Pada saat yang bersamaan, bu Meri dan Sarah tiba di sana. Mereka duduk bersama kumpulan tamu yang lain nya, mereka berada di bagian belakang.
"Ibu tamu dari kota ya? Masalah nya ini baru pertama kali nya kami melihat ibu di sini?" Tanya salah satu warga.
"Saya bukan tamu, tapi saya adalah ibu kandung dari pengantin laki - laki!" Jawab Bu Meri.
"Ya ampun bu, kenapa ibu harus duduk di sini? Keluarga utama pengantin harus nya ada di depan, di meja utama!" Yang lain nya ikut berkata.
"Lalu wanita gemuk yang ada di sana siapa? Kalau ibu nya Gibran ada di sini?" Tanya seorang ibu sambil menunjuk bu Siti.
Kebetulan sekali, bu Siti mengenakan seragam yang sama seperti yang di pakai oleh orang tua nya Santi. Jadi semua orang awal nya mengira bahwa bu Siti adalah ibu nya Gibran.
Baik Gibran dan pak Burhan, belum menyadari bahwa bu Meri dan Sarah sudah berada di sini. Mereka sibuk menerima ucapan selamat dari semua orang.
"Baik lah para tamu undangan sekalian, sekarang mari kita dengarkan sedikit kata dari sang pengantin. Gibran dan Santi, silahkan!" Pembawa acara mempersilahkan Gibran dan Santi untuk maju.
Sepasang pengantin itu maju sambil bergandengan mesra, mereka berdiri di tengah panggung. Mereka menunjuk kan kebahagiaan yang tak terbendung hari ini.
"Bapak ibu para tamu undangan sekalian terima kasih karena telah menghadiri acara pernikahan ulang kami di sini. Dulu saya dan Santi hanya bisa menikah siri karena banyak kendala, tapi sekarang kami bisa meresmikan pernikahan kami di hadapan kalian semua. Terima kasih atas kedatangan dan juga doa nya untuk keluarga kami!" Gibran menyampaikan sedikit kata di hadapan semua orang.
Gibran dan Santi kembali duduk di pelaminan yang sudah di siap kan, mereka tampak bahagia. Begitu pula dengan pak Burhan dan bu Siti, yang tengah mendampingi kedua nya.
"Pengantin sudah menyampaikan ucapan nya, sekarang kita berikan kesempatan pada keluarga pengantin pria untuk menyampaikan sedikit sambutan nya. Kepada perwakilan dari pengantin pria, kami persilahkan!" Pembawa acara berkata dengan suara lantang dengan menggunakan mikrofon.
Sebelum semua orang sempat bereaksi, bu Meri sudah berdiri dan semua sorot mata memandang nya. Pak Burhan dan Gibran terkejut, mereka tidak menyadari jika bu Meri dan Sarah sudah berada di tempat ini.
"Mas, istri mu ada di sini!" Bu Siti berkata dengan gugup.
"Siapa dia? Kenapa dia ada di meja belakang? Harus nya di berada di meja utama, di depan!" Bisik - bisik tamu undangan sudah terdengar di telinga.
"Benar, bukan kan keluarga utama pengantin harus nya berada di depan!" Yang lain nya ikut menambahkan.
"Ayo Sarah!" Bu Meri menarik tangan Sarah untuk naik ke atas panggung.
Bu Meri dan Sarah melangkah kan kaki ke depan, semua mata menatap mereka dengan heran. Bu Siti sudah pucat sejak tadi, karena dia tahu sekarang semua orang akan tahu siapa dia dan siapa bu Meri.
"Terima kasih pada Pembawa acara karena sudah membiarkan saya menyampaikan sedikit ucapan di sini!" Bu Meri menghentikan ucapan nya sejenak sambil menatap mata Sarah.
Sarah memberikan kode dan dukungan pada bu Meri, dia mengangguk kan kepala nya sambil tangan nya menggenggam erat tangan bu Meri.
"Sebelum nya saya ingin memperkenalkan diri di sini, saya adalah ibu kandung nya Gibran!" Ujar bu Sarah.
Wajah bu Siti semakin memucat, semua orang memandangi diri nya dengan sorot mata tajam.
"Jika ibu ini adalah ibu kandung nya Gibran, lalu wanita itu siapa?" Tanya salah satu warga sambil mengarahkan telunjuk pada bu Meri.
"Saya sendiri tidak tahu dia siapa? Jika ada wanita lain yang mengakui sebagai ibu nya Gibran, maka jelas suami saya main serong di belakang saya!" Bu Meri kembali menambahkan.
"Bu, cukup. Ibu jangan bicara lagi!" Gibran menahan ibu nya agar tidak lagi meneruskan kata - kata nya.
"Gibran, jangan lupa siapa diri mu! Apa kau ingin membayar sendiri biaya resepsi ini?" Tanya Bu Meri dengan tatapan dingin.
"Ibu,,,,!" Gibran menghentikan ucapan nya.
Gibran tahu, jika dia membuat ibu nya marah maka bu Meri tidak akan memberikan uang pada nya. Dengan begitu dia tidak akan bisa menebus rumah ini, Santi dan keluarga nya akan kehilangan rumah ini.
"Mas,,,!" Bu Siti berkata sambil memegang tangan pak Burhan.
Bu Siti tidak bisa lagi menahan rasa malu dan kesedihan nya, semua orang kini sudah menebak siapa diri nya.
"Saya sendiri tidak tahu jika selama ini putra saya sudah memiliki keluarga di sini, dan saya tidak tahu siapa yang mengaku sebagai ibu nya Gibran selama ini. Sekali lagi saya tegaskan, saya adalah istri sah dari Ayah nya Gibran dan saya adalah ibu nya Gibran di sini!" Ucap Bu Meri dengan suara lantang.
"Oh, jadi wanita itu pelakor rupa nya!" Ujar salah satu warga.
"Di kampung ini tidak menerima yang nama nya pelakor, cepat usir dia dari sini!" Warga yang sudah terpancing emosi mulai mengusir bu Siti.
"Kau, keterlaluan kau!" Bu Siti maju dan ingin menyerang bu Meri.
Tapi sebelum bu Siti berhasil menjangkau diri nya, bu Meri dengan cepat meraih minuman yang ada di atas meja. Dan dengan sekali gerakan, bu Meri menyiramkan minumam itu tepat di wajah bu Siti.
"Awwww,,,,!" Pekik bu Siti
Wajah dan baju bu Siti basah kuyup karena di siram oleh bu Meri, semua orang yang ada di sana melihat nya. Sebagain besar dari mereka mendukung apa yang di lakukan oleh bu Meri, karena memang di kampung itu anti pelakor.
"Ibu, apa yang ibu lakukan?" Pak Burhan membela bu Siti di hadapan semua orang.
gugat cerai saja Pak Burhan. Depan tanpa sepeserpun di kasih harta. Hidup numpang kok ya banyak tingkah