Sejak kematian ibunya, hidup Kayla berubah menjadi neraka. Diambil oleh keluarga paman yang serakah demi warisan yang menjadi haknya, gadis kecil itu tumbuh bukan sebagai keponakan, melainkan sebagai budak, samsak tinju, dan sasaran hinaan selama bertahun-tahun. Dunianya hanyalah ruang bawah tanah yang gelap dan lembap.
Lalu takdir mengetuk lewat cara yang paling kejam. Untuk menyelamatkan diri, keluarga itu menukar Kayla sebagai pengantin—menyerahkannya kepada Arkan Pratama, bos mafia paling ditakuti di kota, sebagai pengganti putri kandung mereka yang sesungguhnya. Malam pertama mereka mengungkap sebuah kebenaran yang mengubah segalanya: gadis rapuh penuh luka ini bukanlah perempuan yang Arkan kira.
Lelaki yang datang untuk membalas dendam justru menemukan sesuatu yang tak pernah ia cari—seseorang yang ingin ia lindungi dengan segenap kegelapannya. Sementara Kayla perlahan belajar mengeja dunia, tertawa, dan mencintai, roda pembalasan mulai berputar. Dan mereka yang pernah memadamkan cahayanya… akan segera menuai ganjaran setimpal.
Bisakah cinta menyembuhkan jiwa yang telah remuk? Dan seberapa jauh seorang mafia rela melangkah demi perempuan yang menangis air mata jiwa untuk sampai kepadanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Murka
Arkan langsung masuk ke ruang kerjanya, menuang wiski, lalu meneguknya sekali habis. Ia menghantamkan gelas itu ke meja begitu keras hingga ia kira gelas itu akan pecah berkeping-keping.
Niko masuk setelah dipanggil, tak paham mengapa sampai sebegitu mendesak.
"Perempuan yang kunikahi itu bukan putri lelaki itu." Arkan menatapnya dengan dahi berkerut. Menyesal? Begitulah yang ia rasakan—atas apa yang telah ia perbuat.
"Kenapa kau bilang begitu?" Niko mengernyit, tak mengerti.
Untuk pertama kalinya Arkan merasakan sesuatu yang menghimpit dadanya, mirip penyesalan—atau entah apa itu, ia sendiri tak tahu.
"Aku merusaknya!"
Ia memegangi kepalanya dengan kedua tangan.
"Maksudmu dia masih…"
Arkan mengangguk tanpa mengangkat kepala.
"Niko, bantu aku menyelidikinya. Aku ingin tahu siapa dia." Arkan menjelaskan alasannya: memar-memar itu, dan mungkin ada tulang yang patah.
"Aku mulai besok pagi-pagi sekali," jawab Niko penuh keyakinan. Apa yang diceritakan Arkan memang serius. "Kita bongkar dari awal mula bisnis-bisnisnya. Aku janji semua beres dalam waktu singkat," ia meyakinkan, lalu melangkah keluar dengan wajah termenung.
Sudah tengah malam dan Arkan tak berhenti berpikir. Ia memutuskan mampir ke kamar itu, kalau-kalau bisa mencari tahu sesuatu. Ia mengetuk pelan, tak ingin menakutinya. Mungkin ia harus minta maaf—sejujurnya ia tak tahu apa yang terbaik.
Kamar itu sunyi dan remang. Sekejap ia cemas gadis itu telah kabur, tapi begitu pintu terbuka, yang pertama ia lihat adalah gumpalan tubuh yang meringkuk di lantai.
Ia mengangkatnya; bagi tubuh kekarnya, bobot gadis itu seringan bulu. Berusaha tak membangunkannya, ia melangkah perlahan, berhati-hati agar tak menambah luka pada tubuh yang sudah teraniaya itu, lalu membaringkannya di ranjang.
Arkan hanya bisa tertidur sekitar satu jam. Ia tak sanggup berhenti memikirkan apa yang mungkin telah terjadi—amarah pada lelaki itu, dan kegelisahan tentang siapa sebenarnya gadis itu.
Ia menyeduh kopi lalu keluar dari dapur, dan tanpa sadar, entah bagaimana, langkahnya membawanya ke pintu kamar itu. Pintunya masih seperti yang ia tinggalkan semalam. Ia membukanya dan masuk. Gadis itu masih tertidur, tampak damai seakan benar-benar kelelahan.
Dan memang begitulah bagi Kayla: kelembutan ranjang dan seprai yang harum sabun membuainya bagai candu, menyeretnya ke dalam tidur yang begitu nyenyak—tidur yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Tapi kenyataan menyadarkannya di mana ia berada. Ia membuka mata dengan panik dan benar-benar melompat turun dari ranjang. Begitu melihat Arkan, ia langsung terjatuh berlutut.
"Tuan, ampun, aku bersumpah tak tahu bagaimana aku bisa ada di ranjang itu," ucapnya penuh kegelisahan. "Tolong jangan pukul aku, aku bersumpah takkan terulang. Akan kucuci seprainya." Ia menarik-narik seprai itu untuk melepasnya, tapi Arkan menjauhkannya dari perbuatan itu.
Saat itulah Arkan sadar bahwa gadis itu terbiasa dipukuli atas apa pun yang ia lakukan. Secara naluri Kayla melindungi diri, berusaha menghindari pukulan.
"Jangan pukul aku. Aku akan bersikap baik, aku janji. Tuan tak perlu lagi melihatku. Asal jangan pukul aku."
"Tenang, tak akan ada lagi yang memukulmu," janjinya dengan geram. "Aku takkan mengizinkannya. Aku berjanji."
Gadis itu terlalu ketakutan untuk bisa menjawab pertanyaan apa pun. Arkan meninggalkannya sendiri, memerintahkan agar diantarkan makanan dan pakaian bersih untuknya, sembari menyuruh orang membelikan baju sesuai ukurannya.
Hari sudah larut dan Niko belum juga melapor, tapi Arkan sepenuhnya percaya pada kerja sahabatnya itu.
Pukul empat sore, Niko menelepon.
"Sudah kudapat."
"Dan kau harus melihat ini."
Ia mengubah panggilan itu menjadi panggilan video.
Ia telah menemukan Bu Marni—atau, perempuan itulah yang menemukannya.
"Tapi ada masalah," Niko mengarahkan lensa kamera ke kalung logam yang melingkar di leher perempuan itu, lengkap dengan lampu kecil yang menandakan benda apa itu.
"Sial! Apa-apaan itu?"
"Lelaki itu memasangkannya padaku sebagai hukuman," ungkap Bu Marni, kini tanpa rasa takut. "Gara-gara aku pernah berusaha membantu Kayla kabur dari siksaannya."
"Dan beginilah aku sekarang—hidup di bawah ancaman."
"Aku kenal seseorang yang bisa membantu soal itu. Niko, jangan putuskan sambungannya, biar Vina melihat jenis alat apa itu."
Tak sampai sepuluh menit, si ahli mekanik itu berhasil membaca cara kerjanya.
"Jangan bergerak, aku segera ke sana," janji perempuan itu—Vina, yang berkecimpung di bidang keamanan algoritma, pemasaran digital, dan segala hal berbau mekanik. Ia menyambar sebuah monitor kecil dan obeng, lalu langsung berangkat ke alamat yang dikirimkan padanya.
Vina melakukan tugasnya, menonaktifkan mekanisme yang tersemat di leher mantan juru masak itu.
"Bisakah kau membantuku menjadikannya hadiah untuk lelaki itu?" pinta Bu Marni sambil tersenyum. Itu bukan apa-apa dibanding bertahun-tahun ia hidup tertindas di bawah aturan-aturan terkutuknya.
KEDIAMAN PRATAMA
"Tuan, Nyonya mengigau, demamnya sangat tinggi," lapor perempuan yang bertugas mengantar makanannya.
Sejak menikah, Arkan justru dirundung lebih banyak kekhawatiran daripada selama lima belas tahun memimpin mafia.
"Panggil dokter," perintahnya sambil bergegas menuju kamar tempat gadis itu berbaring.
Wajah pucatnya makin kentara di bawah terang siang. Baru saat itulah Arkan benar-benar memperhatikannya: gadis itu cantik, meski tubuhnya terlampau kurus.
Ia mendekat, melihat raut wajah Kayla mengernyit, seolah sedang lari dari sesuatu atau seseorang.
"Jangan, jangan pukul aku, sakit sekali, kumohon… sakit sekali."
Arkan meninju dinding sekuat tenaga.
"Bajingan keparat, akan kubakar kau hidup-hidup, dasar tikus terkutuk."
"Kau akan membayar setiap pukulan yang kaulayangkan padanya dua kali lipat, aku bersumpah. Setelah itu, akan kubuat kau menyaksikan putri dan istrimu memohon-mohon." Ia bersumpah demi nyawanya sendiri akan menepatinya. Tapi lebih dulu ia harus menyembuhkan perempuan yang kini menjadi istrinya—dan itulah yang paling sulit, sebab ia harus memulihkannya dari dalam ke luar.
Ia meminta Bram, salah satu algojonya, mulai memburu putri lelaki itu. Tak akan ada tempat di dunia ini bagi Sasha untuk lolos dari hukuman yang pantas ia terima.
Kedatangan Niko bersama Bu Marni membuyarkan lamunannya. Dokter masih memeriksa Kayla—jauh lebih lama dari yang ia kira.
"Kau mengenalnya?" Arkan memberi isyarat agar Bu Marni masuk. Dokter baru saja selesai memeriksa.
"Dia harus segera dioperasi. Ada tulang yang rusak di pergelangan tangannya dan di salah satu kakinya." Mata Bu Marni memerah menahan tangis yang berusaha ia bendung.
Tapi memang dialah—gadis kecil itu, yang kini tak lagi sekecil dulu, tapi tetap tertindas seperti awal mula.