Di Benua Sembilan Provinsi, kekuatan adalah satu-satunya hukum yang diakui. Lin Xuan, pewaris muda Klan Lin yang lahir dengan Tulang Kaisar Kuno, dikhianati pada malam upacara kedewasaannya. Tetua Agung klan bekerja sama dengan sepupunya, Lin Haotian, dan tunangannya dari Sekte Pedang Bulan, Su Qingxue, untuk merobek Tulang Kaisar dari tubuhnya secara hidup-hidup. Dengan meridian yang hancur dan tubuh yang dibuang ke Jurang Tulang Iblis, Lin Xuan seharusnya mati menjadi santapan binatang buas.
Namun, darah pantang menyerah dan kebencian yang membakar jiwanya memicu bangkitnya artefak misterius dari era sebelum penciptaan langit: Sistem Penakluk Takdir (Fate Conqueror System). Sistem ini memiliki satu hukum mutlak: rampas takdir musuh untuk membangun tahta sendiri. Setiap musuh yang dibunuh dan setiap faksi yang dihancurkan oleh Lin Xuan akan diekstrak menjadi Esensi Kultivasi Murni, Bakat Spiritual, dan Fragmen Hukum.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Pemburu yang Menjadi Mangsa
Tiga hari kemudian, di bagian tengah Jurang Tulang Iblis.
Di atas sebongkah batu hitam besar yang dikelilingi puluhan bangkai binatang buas yang telah mengering, Lin Xuan duduk bersila sambil memejamkan mata.
Hembusan napasnya membentuk pusaran angin kecil di sekitarnya. Setiap kali ia menarik napas, kabut energi spiritual di udara tersedot masuk ke dalam pori-pori tubuhnya, dimurnikan oleh Kitab Kaisar Penelan Langit menjadi aliran kekuatan murni.
[Kultivasi saat ini: Penempaan Tubuh Tingkat 8 (Puncak).] [Poin Takdir: 185 Poin.]
"Selama tiga hari ini, aku telah membantai tiga puluh dua binatang buas di dasar jurang," gumam Lin Xuan sambil membuka matanya yang memancarkan kilatan tajam. "Hanya butuh satu langkah lagi untuk menembus Tingkat 9, lalu membuka kembali gerbang menuju Ranah Pembukaan Meridian."
Tiba-tiba, panel sistem di sudut pandangannya berkedip merah disertai bunyi peringatan pelan:
[Radar Karma Aktif: Mendeteksi tiga target manusia dalam jarak 300 meter di arah utara.] [Indikator Niat Membunuh: 100% (Ditujukan kepada Inang).] [Identitas Target: Tiga Algojo Penjaga Bayangan milik Tetua Agung Lin Zhen (Dua Penempaan Tubuh Tingkat 8, Satu Penempaan Tubuh Tingkat 9).]
Sudut bibir Lin Xuan terangkat membentuk seringai dingin.
"Lin Zhen dan Lin Haotian benar-benar berhati-hati. Meski sudah menjatuhkanku ke Jurang Tulang Iblis dengan nadi hancur, mereka masih mengirim tiga Penjaga Bayangan untuk mencari mayatku."
Di masa lalu, Lin Xuan mungkin akan terkejut melihat betapa kejamnya kerabat satu klannya sendiri. Namun sekarang, di matanya, ketiga algojo itu tidak lebih dari kantong Poin Takdir dan esensi darah yang berjalan mengantarkan diri mereka sendiri.
Dari balik pepohonan kering di arah utara, tiga pria berpakaian serba hitam dengan pedang panjang di pinggang melangkah hati-hati menuruni lereng jurang.
"Kapten Zhao, kita sudah mencari selama dua hari di dasar jurang ini. Dengan luka parah seperti itu dan banyaknya Serigala Darah Besi di sini, bocah Lin Xuan itu pasti sudah menjadi kotoran binatang buas," keluh salah satu pria berwajah codet.
Pria bertubuh kekar di tengah yang dipanggil Kapten Zhao—seorang praktisi Penempaan Tubuh Tingkat 9—menggelengkan kepalanya dengan tegas.
"Tuan Muda Haotian berpesan dengan sangat jelas: hidup harus terlihat orangnya, mati harus terlihat tengkoraknya! Jika kita kembali tanpa membawa bukti kematiannya, kitalah yang akan dikuliti oleh Tetua Agung," ujar Kapten Zhao dingin. "Lagipula, bukankah aneh? Sepanjang jalan tadi, semua binatang buas yang kita temui sudah mati mengering seperti dihisap iblis!"
"Kalian tidak perlu repot-repot mencari tengkorakku," sebuah suara tenang namun sedingin es tiba-tiba terdengar dari atas dahan pohon kering tepat di belakang mereka. "Karena hari ini, tengkorak kalian bertigalah yang akan tertinggal di jurang ini."
Ketiga Penjaga Bayangan itu tersentak kaget dan langsung membalikkan badan sambil mencabut pedang mereka!
Saat melihat pemuda berambut hitam dengan jubah robek yang berdiri tenang di atas dahan pohon, mata Kapten Zhao terbelalak tak percaya.
"Lin Xuan?! Kau... kau masih hidup?! Bagaimana mungkin?! Bukankah Tulang Kaisarmu sudah dicabut dan seluruh meridianmu sudah dihancurkan oleh Tetua Agung?!"
Lin Xuan tidak membuang waktu untuk menjawab pertanyaan orang mati.
"Sistem, gunakan 100 Poin Takdir untuk meningkatkan Langkah Bayangan Darah dan Tebasan Pemutus Nadi ke tingkat Sempurna!" perintah Lin Xuan di dalam benaknya.
[Mengurangi 100 Poin Takdir...] [Seni Gerak Langkah Bayangan Darah dan Teknik Pedang Tebasan Pemutus Nadi telah mencapai tingkat Sempurna (Flawless Mastery)!]
Seketika, ribuan pengalaman bertarung meresap ke dalam otot dan ingatan Lin Xuan.
"Jangan panik! Dia pasti hanya beruntung menemukan tanaman obat di dasar jurang! Bunuh dia bersama-sama!" teriak Kapten Zhao sambil mengerahkan seluruh kekuatan Penempaan Tubuh Tingkat 9 miliknya.
Kedua bawahannya langsung menerjang dari sisi kiri dan kanan, mengayunkan pedang mereka ke arah leher dan perut Lin Xuan dengan gerakan mematikan.
Namun di mata Lin Xuan, gerakan kedua algojo Tingkat 8 itu tampak begitu lambat dan penuh celah.
SWOOSH!
Tubuh Lin Xuan lenyap dari atas dahan pohon, meninggalkan bayangan samar berwarna merah darah di udara. Sebelum algojo berwajah codet di sisi kiri sempat mengayunkan pedangnya hingga separuh jalan, Lin Xuan sudah muncul tepat di hadapannya!
"Apa—?!"
SRAAAK!
Pedang patah besi hitam di tangan Lin Xuan berkelebat secepat kilat menyambar. Tidak ada gerakan berlebih—hanya satu garis hitam tipis yang langsung membelah pedang baja lawan menjadi dua dan menebas leher algojo berwajah codet itu hingga kepalanya terpental ke udara!
Darah segar menyembur keluar, namun belum sempat menyentuh tanah, pusaran energi dari telapak tangan kiri Lin Xuan telah menyedot seluruh esensi darah dari tubuh tanpa kepala tersebut!
[Anda telah membunuh Penjaga Bayangan Lin Hu (Penempaan Tubuh Tingkat 8).] [Merampas Esensi Darah Murni +80! Poin Takdir +30!]
"Lin Hu!!" teriak algojo kedua dengan wajah pucat pasi. Ia hendak menarik mundur langkahnya, namun bayangan Lin Xuan sudah berpindah ke belakang punggungnya.
"Giliranmu."
JLEB!
Pedang patah besi hitam itu menembus tepat dari punggung hingga keluar di dada sang algojo kedua. Dengan satu sentakan dingin, Lin Xuan menyerap habis esensi darahnya dan melemparkan tubuh kering itu ke kaki Kapten Zhao.
Semua itu terjadi kurang dari tiga tarikan napas!