Novia Maharani itu paket lengkap masalah: ratu bolos, langganan BK, dan hobi bikin rusuh di sekolah. Tapi hidupnya berbalik 180 derajat saat dijodohkan paksa dengan Reyhan Aldebaran, Ketua OSIS paling dingin, perfeksionis, dan kaku se-antara jagat.
Tinggal seatap dengan musuh bebuyutan itu neraka. Reyhan benci kekacauan, sedangkan Novia adalah kekacauan itu sendiri. Namun, di balik sikap pemberontak Novia, ada luka masa lalu yang ia sembunyikan dengan tawa. Dan di balik wajah datar Reyhan, ada rahasia yang membuatnya enggan menyentuh cinta.
Saat tembok pertahanan mereka mulai runtuh oleh perhatian kecil yang bikin baper, rahasia keluarga dan ego remaja mengancam segalanya. Bisakah si pembuat onar dan si Ketua OSIS belajar dewasa bersama, atau pernikahan ini justru menghancurkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan Terbesar Dan Janji 24.
Detak jantung Novia terasa seperti bom waktu yang siap meledak di dalam rongga dadanya.
Di dalam pelukan Reyhan, tubuhnya masih bergetar hebat, sisa-sisa histeria yang menguras habis seluruh energinya.
Taman kota sudah sepenuhnya sepi. Hanya ada lampu jalan dan suara gesekan daun mahoni yang tertiup angin sore menuju malam.
Reyhan tidak melepas pelukannya.
Tangan cowok itu masih mengusap punggung Novia dengan ritme konstan yang menenangkan, sebuah kontradiksi total dari sosok Ketua OSIS berdarah dingin yang ditakuti satu sekolah.
"Udah lebih tenang?" suara Reyhan terdengar berat, bergetar tipis di dekat telinga Novia.
Novia tidak langsung menjawab. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengisi paru-parunya yang terasa menyempit akibat panic attack tadi.
Perlahan, dia melonggarkan cengkeramannya pada kain hoodie Reyhan, lalu mundur beberapa sentimeter.
Wajahnya berantakan; matanya sembap merah, dan beberapa helai rambut menempel di pipinya yang basah.
"Maaf," bisik Novia, suaranya serak dan nyaris habis. Dia menghapus sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan secara kasar. "Baju lo jadi basah."
Reyhan menatapnya datar, namun sorot matanya mengunci lekat-lekat manik mata Novia. Dia melepaskan jaket hoodienya tanpa sepatah kata pun, menyisakan kaus hitam polos di tubuhnya, lalu menyampirkan hoodie hangat itu ke bahu Novia yang gemetar karena hawa malam.
"Nggak usah mikirin hal gak penting," cetus Reyhan, kembali ke nadanya yang irit bicara namun sarat perhatian. Dia ikut duduk di atas rumput taman, menekuk satu lututnya dan bersandar pada batang pohon mahoni besar di belakang mereka. "Lo mau cerita, atau mau gue anter pulang sekarang dan pura-pura gak terjadi apa-apa?"
Novia menatap ujung sepatu pantofel nya yang kotor terkena tanah taman.
Pertanyaan Reyhan rasanya menyentil sesuatu yang selama ini dia gembok rapat di dalam kepalanya.
Mengapa dia selalu menjadi beban? Mengapa takdir begitu gemar menelanjanginya di depan cowok ini?
"Lo pasti mikir gue cewek aneh, kan?" Novia terkekeh hambar, sebuah tawa yang terdengar sangat menyakitkan. "Langganan masuk ruang BK, hobi bikin rusuh di kelas, sering bolos pelajaran sampai Pak Baskoro hapal muka gue. Laura bener, Rey. Gue ini cuma sampah di Pelita Bangsa."
Reyhan tidak menyela. Dia hanya mendengarkan, membiarkan Novia mengeluarkan apa pun yang menyumbat dadanya.
"Gue sengaja, Rey," lanjut Novia, suaranya mulai bergetar lagi, kali ini bukan karena takut, melainkan karena rasa sesak yang teramat sangat. "Semua keributan yang gue bikin di sekolah... itu sengaja. Gue sengaja bolos, sengaja ngerjain guru, sengaja biar nama gue dipanggil lewat pelantang suara sekolah."
Novia menoleh ke arah Reyhan, matanya yang basah menatap cowok itu dengan pandangan kosong yang memilukan.
"Karena cuma dengan cara itu pihak sekolah bakal telepon ayah gue. Cuma lewat surat panggilan BK itu gue bisa bikin ayah pulang ke rumah, meskipun cuma buat nampar atau bentak gue. Gue... gue cuma pengen ayah ngelihat gue, Rey. Gue pengen ayah tahu kalau anak perempuannya masih hidup setelah Ibu meninggal."
Kalimat itu meluncur begitu saja. Jujur, telanjang, dan tanpa filter.
Di sinilah letak ironi terbesar hidup Novia. Dia merendahkan harga dirinya sendiri, merusak masa depannya di sekolah elit itu, hanya demi mendapatkan secuil atensi dari seorang ayah yang bahkan sudah menganggapnya tidak ada.
Dan puncaknya adalah sore ini. Ketika dia menghancurkan hidupnya demi mematuhi wasiat perjodohan agar barang peninggalan ibunya tidak dibakar, sang ayah justru sedang tertawa lebar memeluk wanita lain di restoran mewah.
Reyhan terdiam. Rahangnya mengeras begitu rapat hingga urat-urat di lehernya terlihat menegang. Cowok itu memalingkan wajah sesaat ke arah jalanan, mencoba meredam amarah yang mendadak ikut bergolak di dalam dadanya.
Dia tahu Baroto adalah pria yang keras, tapi dia tidak pernah membayangkan bahwa di balik keceriaan palsu dan sikap pemberontak Novia di sekolah, ada luka sedalam dan sebusuk ini.
Interaksi nyata di antara mereka malam itu terasa begitu pekat. Tidak ada jarak lagi antara si Ketua OSIS yang sempurna dan si siswi berandal.
Yang ada hanyalah dua remaja yang dipaksa dewasa oleh ambisi orang tua mereka.
"Bego," ucap Reyhan akhirnya. Pendek, namun nadanya tidak dingin. Ada rasa sesak yang terselip di sana.
Novia menunduk lagi, tersenyum kecut. "Iya, gue tahu gue bego—"
"Bego karena lo ngorbanin diri lo buat orang yang bahkan gak peduli lo makan atau nggak hari ini," potong Reyhan cepat. Dia bergeser, memotong jarak di antara mereka hingga bahu mereka bersentuhan. Reyhan meraih dagu Novia, memaksa gadis itu untuk menatap langsung ke dalam manik matanya yang hitam pekat dan tajam.
"Dengerin gue, Novia," kata Reyhan, suaranya rendah namun penuh penekanan mutlak yang tidak bisa dibantah. "Mulai detik ini, lo nggak perlu nyari perhatian dengan cara ngerusak diri lo sendiri lagi. Lo gak perlu masuk BK atau bolos pelajaran cuma buat didengar."
Novia tertegun. Napasnya tertahan di tenggorokan melihat intensitas tatapan Reyhan yang begitu dalam, seolah cowok itu sedang menembus masuk ke dalam bagian paling rapuh dari jiwanya.
"Kenapa?" bisik Novia lirih, air matanya kembali menggenang di pelupuk mata. "Kalau gue gak kayak gitu, gak bakal ada yang peduli sama gue, Rey. Nggak ada."
Reyhan tidak melepaskan tautan mata mereka. Jemarinya bergerak perlahan, menghapus bulir air mata yang baru saja lolos dari sudut mata Novia dengan ibu jarinya.
Sentuhan itu begitu halus, berbanding terbalik dengan bentakan kasar yang biasa Novia terima dari dunianya.
Di bawah langit malam kota yang mulai gelap sepenuhnya dan dingin yang kian menusuk, Reyhan menarik napas panjang, membiarkan hatinya yang selama ini beku ikut terkoyak bersama kehancuran gadis di hadapannya.
"Mulai sekarang," ucap Reyhan dengan nada yang begitu tulus hingga membuat dada Novia berdenyut ngilu, "aku janji, aku yang akan memperhatikanmu."
Kata-kata itu terucap begitu saja, meruntuhkan seluruh sekat pertahanan yang selama ini dibangun Reyhan sebagai tameng kepalsuan mereka.
Bukan lagi sebagai formalitas kontrak, bukan lagi demi reputasi keluarga, tapi sebuah janji nyata dari seorang cowok yang memutuskan untuk menjadi tempat berteduh bagi jiwa yang hampir mati.
Novia membeku. Kalimat pendek itu terdengar seperti mantera yang sanggup menghentikan seluruh rasa sakit di dadanya, sekaligus menyalakan alarm bahaya di kepalanya.
Mereka tahu ini salah, kebohongan mereka di sekolah belum selesai, namun di bawah pohon mahoni ini, untuk pertama kalinya, Novia merasa dia tidak lagi berjalan sendirian di tengah badai.
......................
...****************...
Tbc,