Lima tahun Anindya Wiranegara menyembunyikan jati dirinya demi menjadi istri biasa. Lima tahun pula dia dihina suaminya, direndahkan mertuanya, dan dipandang rendah oleh semua orang.
Sampai malam pesta itu. Di anak tangga marmer sebuah hotel mewah, perempuan yang sudah lama menunggu gilirannya mendorongnya jatuh, dan sang suami hanya berkata, "Jangan merusak malamku."
Perempuan yang bangun dari rumah sakit itu bukan lagi istri penurut. Dia pewaris imperium perhotelan, perbankan, dan dunia bawah yang selama ini dia tinggalkan. Syaratnya hanya tiga: pegang kendali bisnis keluarga, kembali berlatih senjata, dan menikah dengan Arga Mahendra, taipan paling sombong dan paling ditakuti di negeri ini.
Pernikahan kontrak dimulai dengan klausul-klausul tertulis di atas meja kaca. Anindya menambahkan klausul merah miliknya sendiri. Arga menantang, Anindya membalas lebih tajam. Siapa pun yang berani menyebut pernikahan ini "sekadar bisnis" belum pernah melihat mereka berdua di ruang rapat, di meja catur, atau di ranjang.
Sementara itu, keluarga Pratama tak tahu bahwa kehancuran mereka sudah ditandatangani.
Ini bukan sekadar balas dendam. Ini seni, dan Nyonya Mahendra sudah menggoreskan tinta pertamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naibelys Perez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MALAM PENYERAHAN DIRI
Kegelapan malam jatuh di atas kediaman Mahendra seperti selimut berat, tetapi di dalam rumah, suasananya jauh dari sunyi atau tenang. Perjalanan dengan Rolls-Royce antipeluru berlalu dalam keheningan total yang tajam dan padat, hanya dipecah ketukan tumpul gerimis halus di kaca gelap. Keduanya tak mengucapkan sepatah kata pun, tapi ketegangan listrik yang melayang di jok belakang begitu nyata, seolah sanggup memecahkan kaca.
Begitu mobil berhenti di depan pintu utama, Arga turun lebih dulu, berjalan dengan langkah panjang dan mantap ke dalam rumah. Dia tak menunggu para kepala pelayan dan tak membiarkan siapa pun mendekat untuk mengambil mantelnya. Rahangnya mengeras, dan setiap otot tubuhnya merespons janji diam-diam yang dia ucapkan beberapa jam lalu di ruang kerja menara korporasi.
Anindya turun dari mobil dengan kelambanan yang menjengkelkan. Dia berjalan dengan kepala tegak, mengenakan mantel panjang kasmir hitam di atas sisa-sisa gaun yang sore tadi ditandai hasrat Arga. Pikirannya bekerja seperti roda gigi sempurna: dia tahu dia bermain api, bahwa dia menantang pemangsa alfa di wilayahnya sendiri, tapi adrenalin bahaya itulah yang menjaganya tetap hidup.
Mereka melewati lobi dan naik tangga langsung menuju suite utama tanpa menyalakan lampu apa pun selain penerangan otomatis lorong yang redup.
Begitu pintu kayu berat itu menutup di belakang mereka dengan bunyi kering, Arga melepas jas dan melemparnya tanpa melihat ke kursi di dekat pintu. Dia berbalik pelan, bertolak pinggang, dan memusatkan mata gelap yang seolah melahap segalanya pada Anindya.
"Kita sampai di tujuan, Anindya," kata Arga dengan suara berat berat dan serak yang menggema di dinding kamar. "Tak ada lagi kantor, direksi, atau pers sensasional di luar yang bisa menyelamatkanmu dari apa yang kujanjikan."
Anindya tak mundur sesenti pun. Dia melepas mantel hitamnya, membiarkannya jatuh ke lantai dengan keanggunan yang acuh, lalu bersedekap sambil menghadiahkan senyum menantang yang melawan wibawa pria paling ditakuti di negeri ini.
"Menyelamatkanku?" jawabnya dengan suara lembut dan sedikit mengejek. "Maaf, Mahendra, tapi satu-satunya keraguanku di sini adalah apakah kata-katamu sepadan dengan ancamanmu, atau kamu akan kehabisan napas di tengah jalan seperti yang terakhir kali."
Wajah Arga mengeras seketika. Geraman rendah, nyaris seperti binatang, lolos dari tenggorokannya. Provokasi itu telah mengenai sasaran tepat.
Dalam sepersekian detik, sebelum Anindya sempat melangkah lagi, Arga menyeberangi jarak di antara mereka secepat kucing besar. Tangannya yang besar dan kuat melingkari pinggangnya, mengangkatnya dari lantai tanpa susah payah dan melemparkannya tepat ke tengah ranjang king size yang berderit di bawah benturan tubuh mereka.
Arga menaunginya seperti bayangan raksasa, menahannya dengan seluruh berat dadanya yang berotot. Tangannya mencengkeram pergelangan tangan Anindya, menekannya ke seprai di sisi kepalanya dengan tenaga tak tergoyahkan, menguasainya sepenuhnya.
"Kamu akan belajar, Anindya, sekali untuk selamanya, dengan siapa kamu bermain," desis Arga di bibirnya, napas panas dan memburu menerpa wajahnya. "Malam ini tak ada gencatan, tak ada sarkasme, tak ada kata-kata manis. Aku atau kamu."
Anindya merasakan merinding menjalari tulang punggungnya, sengatan listrik yang membekukan ujung jari kaki tapi menyulut api di nadinya. Alih-alih panik atau tunduk, dia membuka mata dengan intensitas garang, menantangnya dengan senyum liar di bibir.
"Buktikan, pria alfa," bisiknya dengan suara terputus oleh hasratnya sendiri. "Jangan bilang apa yang akan kamu lakukan... lakukan saja."
Kendali diri Arga hancur berkeping di detik itu. Bibirnya jatuh di atas bibir Anindya dalam ciuman brutal dan liar, serangan rakus yang melahap setiap upaya perlawanan. Tangan Arga melepas pergelangan tangannya untuk menyusuri tubuhnya dengan putus asa, merobek sisa pakaian dalamnya dengan desakan demam, menandai setiap senti kulitnya dengan gigitan lembut dan isapan dalam yang menarik erangan tak sengaja dari tenggorokan Anindya.
Malam berubah menjadi pusaran gesekan, keringat, dan kehendak yang bertabrakan dalam gelap. Arga menguasainya dengan amarah tanpa ampun, membawanya ke batas mutlak tenaganya, membuatnya meneriakkan namanya dalam remang sementara seprai akhirnya tergulung di lantai. Setiap hunjaman adalah pernyataan kekuasaan, sekaligus penyerahan diri mutlak pada magnet tak tertahankan seorang perempuan yang menolak tunduk.
Berjam-jam kemudian, ketika badai gairah akhirnya mereda dan keheningan kembali ke suite utama, keduanya terbaring kelelahan di atas seprai kusut, napas berat dan saling terjalin dengan cara yang tak akan berani diakui keduanya dengan lantang.
Arga menaruh sebelah lengan di pinggang Anindya, merasakan detak mantap jantungnya di dadanya. Ketika menoleh, dia mendapati Anindya berbaring dengan mata terpejam dan senyum mungil penuh kemenangan di bibirnya.
"Kamu... hampir berhasil memenuhi ancamanmu, Mahendra," gumam Anindya dengan suara serak, nyaris seperti desah, membuka satu mata untuk meliriknya. "Tapi kamu masih kurang latihan untuk mengalahkanku sepenuhnya."
Arga tertawa serak sambil menggeleng, merapatkan tubuhnya sedikit pada tubuh Anindya dalam dekapan posesif yang tak menerima bantahan.
"Tidurlah, Anindya," bisiknya sambil mengecup puncak kepalanya. "Perang besok akan butuh kamu terjaga."
Dan untuk pertama kalinya sejak menandatangani kontrak, keheningan di kamar itu bukan gencatan senjata dan bukan urusan bisnis. Itu pakta diam dua jiwa yang ditakdirkan saling membakar.