NovelToon NovelToon
Sistem Guru Legendaris: Dari Guru Buangan Menjadi Guru Terhebat

Sistem Guru Legendaris: Dari Guru Buangan Menjadi Guru Terhebat

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Idola sekolah
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Husen Alkhafi adalah seorang guru idealis dengan kemampuan mengajar luar biasa yang ditugaskan ke SMA Garuda dan memimpin Kelas XI-7 yang terkenal sebagai sarang berandalan.

Namun, di tengah keputusasaan menghadapi murid-murid bermasalah yang hobi melawan guru, Husen membangkitkan Sistem Guru Legendaris yang memungkinkannya melihat potensi tersembunyi setiap siswa beserta kelemahan mereka.

Kini, berbekal sistem misterius dan keteguhannya, Husen bertekad mengubah kelas sampah itu menjadi yang terbaik, membimbing murid-muridnya menuju masa depan yang cerah,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Kring!

Bel tanda berakhirnya jam pelajaran berbunyi nyaring ke seluruh penjuru sekolah.

Husen melangkah masuk ke dalam ruang guru yang berukuran tidak terlalu besar itu.

Aroma kopi saset murahan langsung menyengat hidungnya begitu dia membuka pintu kayu yang kusam tersebut.

Beberapa guru yang sedang duduk di meja mereka langsung menghentikan obrolan dan menatap Husen.

Tatapan mereka tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran sekaligus rasa tidak suka yang bercampur menjadi satu.

Tap tap tap.

Husen berjalan tenang menuju meja kosong di pojok ruangan yang memang dikhususkan untuknya.

Baru saja dia duduk dan meletakkan buku absennya, sebuah suara tawa mengejek terdengar dari meja seberang.

"Masih bertahan rupanya Anda di sini, Pak Husen?"

Seorang pria berkacamata dengan kemeja rapi dan rambut disisir klimis tersenyum sinis ke arah Husen.

Nametag di seragamnya menunjukkan nama Anton, wali kelas XII-1 yang merupakan kelas unggulan di sekolah ini.

"Saya pikir Bapak akan langsung mengundurkan diri setelah masuk ke kandang babi itu pagi tadi."

Pak Anton menyesap kopinya perlahan sambil melirik merendahkan.

Husen sama sekali tidak terpancing emosinya dan hanya menyusun pulpennya dengan rapi di atas meja.

"Kandang babi yang Bapak maksud adalah kelas yang berisi murid-murid sah di sekolah ini, Pak Anton."

"Saya tidak melihat ada alasan bagi saya untuk menyerah hanya dalam waktu satu hari."

Pak Anton tertawa lebih keras mendengar jawaban tenang dari guru baru di depannya itu.

"Jangan sok idealis di sini, Pak Husen."

"Semua orang di sekolah ini tahu kalau kelas XI-7 itu isinya cuma sampah masyarakat yang menunggu waktu untuk dibuang."

Beberapa guru lain di ruangan itu mengangguk setuju dan mulai berbisik-bisik membenarkan ucapan Anton.

"Mereka itu bodoh, malas, dan cuma bisa membuat keributan setiap hari."

"Ujian tengah semester akan diadakan hari Senin minggu depan, dan saya yakin seratus persen nilai mereka akan nol besar semua."

Husen menghentikan gerakannya menyusun meja dan menatap lurus ke arah mata Anton.

"Murid-murid saya bukan sampah, mereka hanya belum menemukan cara belajar yang tepat."

"Bapak terlalu cepat mengambil kesimpulan tanpa pernah mencoba mengajar mereka dengan benar."

Brak!

Pak Anton meletakkan cangkir kopinya dengan keras ke atas meja merasa tersinggung.

"Anda meragukan kemampuan mengajar saya, Pak Husen?"

"Saya ini wali kelas unggulan yang selalu mencetak murid terbaik di sekolah ini selama lima tahun berturut-turut!"

Husen tersenyum tipis dan menyenderkan punggungnya ke kursi kayu yang sedikit berderit.

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita buktikan saja ucapan Bapak itu dengan sebuah taruhan kecil?"

Suasana ruang guru mendadak hening seketika mendengar tantangan berani dari Husen.

Pak Anton memicingkan matanya dengan tatapan licik bagaikan serigala yang melihat mangsa empuk.

"Taruhan apa yang Anda maksudkan, Pak Guru Buangan?"

"Jika kelas XI-7 berhasil mendapatkan nilai rata-rata ujian di atas tujuh puluh, Bapak harus meminta maaf secara terbuka kepada mereka di lapangan upacara."

"Bapak juga harus berlutut mengakui bahwa Bapak telah gagal sebagai pendidik karena melabeli murid sendiri sebagai sampah."

Anton tertawa terbahak-bahak sampai perutnya terguncang mendengar syarat yang dianggapnya sangat mustahil itu.

"Itu adalah lelucon paling lucu yang pernah saya dengar seumur hidup saya!"

"Jangankan nilai rata-rata tujuh puluh, untuk mendapat nilai tiga puluh saja mereka pasti harus menyontek sana-sini."

"Lalu apa yang akan saya dapatkan jika kelas Anda gagal mencapai target konyol itu?"

Husen menatap Anton dengan ekspresi yang sangat serius dan dingin.

"Jika nilai rata-rata mereka di bawah tujuh puluh, saya akan langsung mengundurkan diri dari SMA Garuda Kelam hari itu juga."

"Dan saya tidak akan pernah menginjakkan kaki lagi di dunia pendidikan seumur hidup saya."

Seluruh guru di ruangan itu terkesiap mendengar taruhan gila yang baru saja diucapkan Husen.

Pak Anton menyeringai lebar merasa kemenangan sudah berada di dalam genggamannya.

"Deal!"

"Saya akan dengan senang hati membantu mengemasi barang-barang Anda hari Senin depan, Pak Husen."

Keesokan harinya, cuaca di luar jendela kelas XI-7 terlihat sangat mendung.

Husen berdiri di depan kelas dengan sebatang kapur putih di tangan kanannya.

Srak srak srak.

Dia menuliskan tanggal ujian tengah semester di papan tulis dengan ukuran huruf yang sangat besar.

"Dengar baik-baik semuanya, ujian tengah semester akan dimulai tepat hari Senin minggu depan."

Suara keluhan dan desahan malas langsung terdengar memenuhi seluruh penjuru ruang kelas.

Rico menyenderkan kepalanya ke dinding dan memutar bola matanya malas.

"Nggak usah ikut ujian aja kali ya, Bos?"

"Toh nilai kita semua pasti merah berdarah kayak biasanya, mending kita nongkrong di bengkel aja."

Beberapa anggota geng Bara yang lain mengiyakan ucapan Rico dengan antusias.

Namun Bara tetap diam di bangkunya, matanya terus menatap tajam ke arah Husen tanpa berkedip.

Sejak kejadian kemarin siang, pandangan Bara terhadap guru baru ini perlahan mulai berubah arah.

Husen menepuk tangannya dua kali untuk meminta perhatian seluruh kelas kembali.

Plok plok!

"Saya tahu kalian sangat membenci ujian dan menganggapnya hanya formalitas belaka."

"Tapi ujian kali ini sangat berbeda dari sebelumnya."

"Saya telah mempertaruhkan jabatan saya sebagai guru dan masa depan saya untuk kalian semua."

Suasana kelas XI-7 yang tadinya berisik mendadak sunyi senyap seperti tidak ada orang.

Siska yang sedang asyik memainkan ponselnya langsung mendongakkan kepala dengan dahi berkerut.

"Maksud Bapak apa mempertaruhkan jabatan?"

"Bapak jangan bikin drama deh di pagi hari begini."

Husen menghela napas panjang dan menceritakan detail kejadian di ruang guru kemarin sore tanpa melebih-lebihkan.

"Jika nilai rata-rata kelas ini gagal menyentuh angka tujuh puluh, saya akan keluar dari sekolah ini selamanya."

"Dan Pak Anton akan terus merasa benar bahwa kalian hanyalah sekelompok sampah yang tidak punya masa depan."

Brak!

Bara tiba-tiba memukul mejanya dengan keras sampai buku-bukunya berjatuhan ke lantai.

Wajah ketua kelas itu memerah menahan amarah yang meletup-letup di dalam dadanya.

"Si Anton brengsek itu benar-benar minta dihajar mulutnya!"

"Dia pikir kelas unggulannya itu hebat cuma karena isinya anak-anak orang kaya yang bisa bayar guru les mahal?!"

Husen mengangguk setuju melihat respons emosional dari Bara yang sesuai dengan prediksinya.

"Bapak tahu persis Pak Anton itu meremehkan kita, tapi kenapa Bapak malah menerima taruhan gila itu?!"

Bara berteriak marah ke arah Husen karena merasa masa depan kelasnya sekarang memikul beban yang sangat berat.

"Karena saya percaya kalian tidak sebodoh yang mereka pikirkan, Bara."

"Saya tidak akan pernah bertaruh jika saya tahu saya akan kalah di akhir pertempuran."

1
Dewiendahsetiowati
selamat untuk kemenangan sekolah Garuda Kelam Husein dan tiga serangkai Bara, Rico dan Nisa
Nissa Safira: Terima kasih banyak kak🥰🙏
Kemenangan ini bukan cuma buat Husen, tapi buat kita semua yang udah nahan kesel lihat kelakuan Pak Surya. Akhirnya tiga serangkai Bara, Rico, Nisa bisa senyum lega juga😁
Makasih ya kak udah jadi saksi kemenangan Garuda Kelam. Ditunggu dukungan kakak di tingkat nasional ya💪🥰🥰
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
mampus kau
Nissa Safira: Mampus bener kak💪😂
akhirnya diborgol sendiri di depan wartawan. Puas banget nulisnya aku juga pas Husen colok flashdisk itu.
Makasih ya kak udah ikut puas bareng🤣🤗💪
total 1 replies
Aisyah Suyuti
seru
Nissa Safira: gasss terus kak.. ikuti keseruan cerita ini sampai akhir yaa🥰🔥
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
lawan mereka Bara dan bikin malu mereka
Nissa Safira: gaaaas kak aku juga teriak bara lawan! lawan! 😤🔥
Tapi inget latihan Husen kak "Seorang pemimpin sejati tidak perlu memukul musuh yang bodoh, cukup mempermalukannya dengan fakta tajam"🔥🔥💪
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
semakin seru ceritanya
Nissa Safira: waaaa makasih banyak kak 😭🙏
Serunya baru mulai kak.. Di Olimpiade nanti kita lawan Akademi Cakrawala lagi, Reno udah bilang "aku akan menghancurkannya sampai tak berbekas"! Bara juga udah ngamuk "aku ingin meremukkan kesombongan anak-anak kaya itu!"🔥🙏
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Nissa Safira: Hadirrr kak dewi😁🙏🔥
Absennya aku catet paling atas nih kak😂
Makasih udah hadir pagi-pagi kak💪
total 1 replies
xebeck D ron
akhirnya GK gabut gw😄😄
Nissa Safira: up tiap hari kok kak rudi💪
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!