OUTPLAYED BY YOU
He wins every game. She wins every argument.
"Aku tidak akan menikah denganmu kalau kamu masih menyembunyikan sesuatu dariku!"
Raka Adhitama memijat pelipisnya. Di hadapannya, Nadira Prameswari berdiri dengan piyama biru dan ekspresi siap membatalkan pernikahan mereka, padahal pria itu bahkan belum selesai menjelaskan.
"Aku belum mengatakan apa-apa."
"Tepat! Kamu selalu begitu. Diam, menghindar, lalu memasang wajah tampan seolah semuanya akan selesai sendiri."
"Aku tidak pernah menggunakan wajahku untuk menyelesaikan masalah."
Nadira mendengus. "Sayang sekali. Padahal itu satu-satunya kemampuanmu yang kuakui di luar permainan."
Raka hampir tersenyum. Hampir.
Di arena esports, ia dikenal sebagai Vex, pemain profesional yang mampu mengalahkan lawan terkuat tanpa kehilangan ketenangan. Namun, menghadapi calon istrinya sendiri ternyata membutuhkan keterampilan yang tidak tersedia dalam buku strategi mana pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Bima hampir tersedak minumannya ketika Raka memasuki ruang latihan dengan senyum yang terlalu sulit diabaikan.
“Sebentar,” katanya sambil meletakkan botol di meja. “Ada yang berubah.”
Raka melepas jaketnya. “Apa?”
“Wajah lo.”
“Memangnya kenapa?”
“Biasanya lo datang ke sini dengan ekspresi orang yang sedang menghitung berapa banyak kesalahan yang dilakukan timnya semalam.” Bima menyipitkan mata. “Sekarang lo terlihat seperti orang yang baru saja mendapatkan sesuatu yang sudah lama diinginkan.”
Raka menarik kursi di depan komputer.
“Minum obat, Bim.”
“Gue serius.”
“Gue juga. Sepertinya lo butuh bantuan profesional.”
Bima tertawa keras sampai dua anggota ASTRAL lainnya menoleh.
Namun, sebelum ia sempat melontarkan pertanyaan berikutnya, Raka sudah mengenakan headset dan membuka permainan.
Sayangnya, menyembunyikan perasaan ternyata jauh lebih sulit daripada menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris Adhitama Global.
Setiap kali teringat bagaimana Nadira menggenggam tangannya malam sebelumnya, konsentrasinya sedikit terganggu. Ketika teringat kecupan singkat di pipinya, ia bahkan sempat salah menekan tombol saat pemanasan.
Bima melihat kesalahan itu.
Tentu saja.
“Kapten!” serunya. “Musuhnya belum muncul. Kenapa lo sudah menyerang udara?”
Raka melepas headset.
“Lo mau latihan atau mau gue pecat dari tim?”
“Gue mau menyaksikan sejarah.”
“Latihan. Sekarang.”
Bima masih tertawa ketika akhirnya kembali ke komputernya.
Raka menggeleng, tetapi senyum kecil di wajahnya belum sepenuhnya hilang.
Ia belum tahu apakah Nadira akan langsung menyebut mereka sepasang kekasih di hadapan orang lain. Mereka baru saja sepakat untuk mencoba, dan baginya, itu sudah cukup untuk sekarang.
Ia tidak ingin membuat hubungan yang baru dimulai terasa seperti perlombaan.
Kali ini, ia ingin belajar menikmati prosesnya.
Nadira, di sisi lain, sedang menghadapi masalah yang jauh lebih sederhana sekaligus lebih memalukan.
Ia tidak tahu harus membalas pesan Raka dengan apa.
Pagi itu, laki-laki tersebut mengirimkan pesan singkat.
Raka: Selamat pagi. Sudah sarapan?
Nadira menatap layar ponselnya.
Pertanyaan biasa. Tidak ada yang aneh.
Namun, entah mengapa, ia membaca pesan itu dua kali sebelum menjawab.
Nadira: Sudah. Kamu?
Raka: Belum.
Nadira: Kapten ASTRAL tidak boleh melewatkan sarapan. Nanti kemampuan berpikir strategismu menurun.
Raka: Aku sedang menunggu rekomendasi ahli.
Nadira: Ahli gizi?
Raka: Ahli yang kemarin memilih restoran.
Nadira menahan senyum.
Nadira: Makan nasi, telur, dan sayur. Tidak perlu menunggu rekomendasi dari seorang wartawan.
Raka: Baik, Bu Wartawan.
Nadira: Bagus. Sekarang latihan yang benar.
Raka: Siap. Tapi aku punya satu pertanyaan.
Nadira menunggu beberapa detik.
Nadira: Apa?
Raka: Boleh aku mengajakmu makan malam lagi minggu ini?
Senyum Nadira semakin lebar.
Ia sempat mempertimbangkan untuk membalas dengan lelucon. Itu lebih mudah daripada mengakui bahwa ia memang ingin bertemu Raka lagi.
Namun, setelah semua percakapan yang mereka lalui, Nadira memutuskan tidak perlu bersembunyi di balik sindiran setiap kali merasa bahagia.
Nadira: Boleh. Asalkan kali ini kamu tidak memilih tempat yang terlalu mahal hanya untuk membuatku terkesan.
Raka: Bagaimana kalau aku memilih tempat yang punya mi ayam enak?
Nadira: Sekarang kamu mulai memahami cara kerja dunia.
Raka: Aku belajar dari perempuan yang tepat.
Nadira terdiam sesaat.
Kemudian ia meletakkan ponselnya di meja, menarik napas, dan menatap layar laptop seolah-olah sedang berhadapan dengan tenggat artikel paling penting dalam hidupnya.
Masalahnya bukan karena ia tidak menyukai kalimat itu.
Justru sebaliknya.
Ia menyukainya lebih dari yang ingin ia akui.
Menjelang siang, Dimas memanggil Nadira ke ruangannya.
Di atas meja editor tersebut tergeletak beberapa dokumen dan sebuah surat elektronik yang sudah dicetak.
“Kamu masih ingat laporan tentang Yayasan Adhitama Peduli?” tanyanya.
Nadira mengangguk. “Yang sedang saya telusuri lewat jalur resmi?”
“Ya. Ada perkembangan?”
“Saya dijadwalkan bertemu dengan Ratna Wibisono untuk membahas arsip lama. Mereka menemukan catatan tambahan yang berkaitan dengan kode AP-17, tetapi belum memberikan detailnya.”
Dimas memperhatikan wajahnya.
“Ini menyangkut keluargamu, bukan?”
Nadira tidak langsung menjawab.
Ia memang sudah memberi tahu Dimas bahwa ada kemungkinan bantuan yayasan tersebut berkaitan dengan operasi ibunya lima tahun lalu. Namun, ia belum menceritakan semua pesan anonim yang diterimanya.
“Ya,” jawabnya akhirnya. “Ibu saya pernah menerima bantuan medis pada periode yang sama.”
Dimas menyandarkan tubuh ke kursi.
“Kalau begitu, kamu harus lebih berhati-hati daripada biasanya.”
“Saya tahu.”
“Bukan hanya karena ada informasi yang mungkin sensitif. Kamu juga perlu memisahkan kepentingan pribadi dari pekerjaan jurnalistik.”
Nadira mengangguk. Itulah hal pertama yang ia pikirkan sejak menemukan hubungan antara surat AP-17 dan operasi ibunya.
“Saya tidak akan menerbitkan apa pun sebelum semua informasi diverifikasi. Kalau ternyata ada konflik kepentingan yang membuat saya tidak bisa meliputnya secara objektif, saya akan membicarakannya dengan Anda.”
“Bagus.” Dimas mendorong salah satu dokumen ke arahnya. “Satu hal lagi. Ada kabar bahwa Adhitama Global sedang meninjau ulang beberapa program sosial lama mereka. Belum tentu ada kaitannya dengan kasusmu, tetapi saya ingin redaksi memahami konteksnya.”
Nadira membaca dokumen itu.
Tidak ada nama pasien. Tidak ada informasi pribadi. Hanya ringkasan rencana evaluasi program yayasan yang dijadwalkan berlangsung dalam beberapa minggu mendatang.
Namun, satu kalimat menarik perhatiannya.
Peninjauan kembali dokumentasi program bantuan medis periode lima tahun sebelumnya.
Nadira mengangkat kepala.
“Apakah ini sudah dikonfirmasi?”
“Baru dari sumber industri. Belum cukup untuk dijadikan berita.”
“Saya akan memeriksa fakta yang bisa diverifikasi.”
Dimas mengangguk.
“Dan Nadira?”
“Ya?”
“Jangan biarkan rasa ingin tahu membuatmu mengambil jalan pintas. Kadang-kadang, orang yang paling ingin kita percaya justru orang yang harus kita tanyai dengan pertanyaan paling sulit.”
Kalimat itu membuat Nadira teringat Raka.
Ia tidak menyukai kenyataan bahwa urusan pribadi dan penyelidikannya mulai bersinggungan. Namun, ia juga tahu bahwa Raka bukan satu-satunya orang yang memiliki kemungkinan akses terhadap informasi tersebut.
Dan sampai ia memperoleh bukti yang jelas, ia tidak berhak menyalahkan siapa pun.
Termasuk laki-laki yang baru saja mulai ia percaya kembali.
Sore harinya, Raka berada di kantor Adhitama Global.
Ia sebenarnya ingin menghabiskan waktu setelah latihan dengan memeriksa strategi pertandingan ASTRAL. Namun, panggilan ayahnya membuat rencana itu harus ditunda.
Adrian Adhitama duduk di balik meja besar dengan beberapa map terbuka di hadapannya.
“Duduk,” katanya.
Raka duduk tanpa banyak bicara.
“Aku menerima laporan bahwa tim yayasan mulai memeriksa kembali arsip program bantuan medis lima tahun lalu.”
“Lalu?”
“Aku ingin kamu ikut meninjau hasilnya.”
Raka mengernyit.
“Kenapa aku?”
“Karena kamu sudah mulai terlibat dalam pengawasan yayasan. Kamu perlu memahami bagaimana program-program ini dijalankan.”
“Kalau tujuannya hanya supaya aku belajar mengurus perusahaan, masih banyak dokumen lain yang bisa diperiksa.”
Adrian menatap putranya.
“Kamu selalu menganggap setiap permintaanku sebagai upaya untuk menjauhkanmu dari ASTRAL.”
“Karena sebagian besar permintaan Ayah memang berakhir dengan pembicaraan tentang kapan aku akan berhenti bermain.”
“Aku tidak pernah mengatakan kamu harus berhenti sekarang.”
“Tidak. Ayah hanya terus membuatnya terdengar seperti pilihanku tidak akan pernah cukup.”
Ruangan itu mendadak hening.
Adrian menutup salah satu map.
“Ada perbedaan antara memiliki pilihan dan memahami konsekuensi dari pilihan tersebut.”
“Aku mengerti konsekuensinya.”
“Benarkah?”
Raka menahan napas.
Ia tahu ayahnya tidak sedang membicarakan esports semata.
Adrian selalu memiliki cara untuk membuat percakapan sederhana terasa seperti ujian yang tidak pernah diumumkan sebelumnya.
“Aku akan memeriksa dokumennya,” kata Raka akhirnya. “Tapi aku ingin tim yayasan menjelaskan prosedur dan batas aksesnya dengan jelas.”
Adrian mengangguk.
“Baik.”
Raka hampir berdiri ketika ayahnya kembali berbicara.
“Dan Raka, jangan menganggap semua orang yang mendekatimu memiliki niat yang sama.”
Ia berhenti.
“Apa maksud Ayah?”
“Tidak semua orang tertarik kepada seseorang karena dirinya sendiri. Ada yang tertarik kepada nama keluarga, kedudukan, atau apa yang bisa mereka dapatkan dari hubungan itu.”
Raka menatap ayahnya dengan ekspresi datar.
“Aku tahu.”
“Pastikan kamu benar-benar tahu.”
Raka tidak menjawab.
Ia meninggalkan ruangan dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Nasihat itu mungkin terdengar masuk akal bagi orang yang tumbuh dalam keluarga seperti Adhitama.
Namun, setelah mengenal Nadira, Raka tidak ingin menjadikan ketakutan ayahnya sebagai alasan untuk meragukan perempuan yang telah berusaha ia dekati dengan jujur.
Meski begitu, ia juga tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa rahasia keluarganya belum sepenuhnya terbuka.
Dan suatu hari nanti, rahasia tersebut mungkin akan menguji hubungan mereka.
Malam itu, Nadira menerima konfirmasi resmi dari Ratna.
Pertemuan mereka akan berlangsung dua hari lagi di kantor Yayasan Adhitama Peduli. Ratna meminta Nadira membawa surat AP-17 asli yang dimiliki keluarganya agar tim arsip dapat membandingkan nomor referensi, tanggal, dan catatan korespondensi.
Nadira menunjukkan pesan tersebut kepada ibunya.
Ratih membaca konfirmasi itu dengan wajah yang semakin tegang.
“Dua hari lagi?” tanyanya.
“Iya, Bu. Mereka ingin mencocokkan surat yang Ibu simpan dengan dokumen arsip.”
Ratih mengusap ujung surat lama yang terletak di meja.
“Apa kamu yakin ingin melanjutkan ini sekarang?”
Nadira duduk di sampingnya.
“Bu, aku sudah mencoba memahami semuanya dari potongan informasi yang berbeda. Tapi aku tidak bisa terus menebak-nebak.”
“Ibu tahu.”
“Kalau ada sesuatu yang perlu aku ketahui, aku ingin mendengarnya dari dokumen yang benar dan dari orang yang memang bertanggung jawab menjelaskannya.”
Ratih terdiam cukup lama.
“Ada hal-hal yang dulu Ibu lakukan karena Ibu pikir itu cara terbaik untuk melindungimu.”
Nadira menggenggam tangan ibunya.
“Aku mengerti. Tapi melindungiku tidak berarti Ibu harus menanggung semuanya sendirian.”
Mata Ratih tampak berkaca-kaca.
Ia belum memberikan jawaban yang dicari Nadira. Namun, untuk pertama kalinya, ia tidak meminta putrinya berhenti bertanya.
“Apa pun yang kamu temukan nanti,” katanya pelan, “jangan langsung membuat kesimpulan sebelum kamu mendengar semuanya.”
Nadira mengangguk.
“Aku akan berusaha.”
Ratih memeluknya sebentar.
Setelah itu, Nadira kembali ke kamarnya dan meletakkan surat AP-17 di dalam map khusus bersama foto lama ibunya serta salinan catatan yang selama ini ia kumpulkan.
Ia memeriksa semuanya sekali lagi.
Nomor referensi.
Tanggal.
Catatan tentang pemberitahuan yang belum diterima keluarga.
Belum ada satu pun yang menjelaskan siapa sebenarnya yang membayar operasi ibunya.
Namun, untuk pertama kalinya, ia memiliki kesempatan nyata untuk menemukan jawabannya melalui jalur yang bisa dipertanggungjawabkan.
Ponselnya bergetar.
Raka: Bagaimana harimu?
Nadira tersenyum tipis sebelum mengetik.
Nadira: Panjang. Penuh dokumen, pertanyaan, dan orang-orang yang sepertinya senang menyimpan rahasia.
Raka: Kedengarannya melelahkan.
Nadira: Memang.
Beberapa detik kemudian, pesan baru masuk.
Raka: Kalau kamu butuh teman bicara, aku ada.
Nadira membaca kalimat itu berulang kali.
Ia bisa saja menceritakan pertemuan yang akan datang. Bisa saja mengakui bahwa semakin dekat ia dengan kebenaran, semakin besar pula kekhawatirannya terhadap apa yang mungkin ditemukan.
Namun, malam itu ia hanya membalas dengan jujur.
Nadira: Terima kasih. Aku mungkin akan membutuhkanmu.
Balasan Raka datang tidak lama kemudian.
Raka: Aku di sini, Dira.
Nadira meletakkan ponselnya di samping map berisi surat AP-17.
Ia tidak tahu apakah Raka akan tetap berada di sisinya ketika semua rahasia itu akhirnya terbuka.
Namun, kali ini ia tidak ingin membiarkan ketakutan menentukan apa yang harus ia lakukan.
Ia akan mencari kebenaran.
Dan ia akan memberi hubungan mereka kesempatan untuk tumbuh tanpa berpura-pura bahwa masa lalu tidak pernah ada.
Dua hari lagi, ia mungkin akan menemukan jawaban pertama.
Atau pertanyaan yang jauh lebih besar.