Dua tahun Anala Paramitha menjadi sekretaris pribadi—sekaligus "simpanan"—Damar Hadiwijaya, pewaris paling berbahaya di Jakarta. Semua orang mengira Nala mencintainya. Padahal setiap ciuman di mata pria itu adalah bagian dari dendam.
Dibius dan dilelang di Batam, Nala menikam penculiknya, lalu pulang membawa barang curian Damar dan menyebut harganya: sepuluh miliar. Damar membayar, menghancurkan musuhnya demi dia, lalu menjadikannya miliknya—tanpa nama, tanpa status.
Makin gila Damar mencintainya, makin dekat Nala pada bukti untuk menjatuhkannya. Tapi bagaimana kalau pria yang ingin dia hancurkan bukan pembunuh yang dia cari… dan ternyata yang selama ini jadi pengganti bukan dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29: Siapa yang Kamu Cium
Petugas medis perkemahan datang dalam empat menit dua puluh detik. Damar menghitungnya.
Seorang laki-laki muda berompi oranye, dengan tabung oksigen kecil di punggungnya dan anak perempuan pemandu yang berlari di depannya membawa senter. Dia memasang masker di wajah Anala, memeriksa nadinya, menyuruh Damar membawanya ke tenda yang paling dekat dengan bara api, dan menumpuk selimut di atas tubuhnya.
"Mabuk ketinggian, Pak. Ditambah kedinginan. Ibunya kelihatannya habis sakit, ya? Badannya belum kuat." Dia menyesuaikan aliran oksigen. "Jangan panik. Kalau sampai subuh membaik, nggak perlu turun."
Damar tidak panik. Dia hanya duduk di sebelah Anala dengan tangan perempuan itu di genggamannya, dan tidak melepaskannya sampai pukul lima pagi.
Pada jam itu, bibir Anala sudah tidak biru lagi. Kelopak matanya bergerak. Dia membuka mata dan melihat Damar, dan hal pertama yang dia katakan adalah, "Kamu belum tidur."
"Belum."
"Mukamu jelek sekali."
Damar menghela napas. Napas yang dia tahan sejak tengah malam.
***
Mereka menonton matahari terbit dari atap jip.
Itu ide Anala. Damar menolak. Anala bilang dia sudah naik ke gunung ini dengan kaki pincang dan tidak akan turun tanpa melihat matahari terbit. Damar bilang dia hampir mati enam jam yang lalu. Anala bilang justru karena itu.
Jadi dia mengangkatnya ke atap jip, membungkusnya dengan dua selimut, dan duduk di sebelahnya.
Di bawah mereka, lautan pasir dan kabut. Kawah Bromo mengepulkan asap putih ke langit yang mulai jingga. Di belakangnya, Semeru berdiri seperti bayangan raksasa, puncaknya baru tersentuh cahaya pertama. Orang-orang di perkemahan lain sudah berkumpul di pagar pandang dengan ponsel terangkat.
Damar tidak bisa melihat semuanya dengan jelas. Pinggir pandangannya masih abu-abu, seperti setiap pagi sebelum matanya benar-benar bangun. Tapi dia melihat cahaya itu jatuh di wajah Anala, dan itu cukup.
Reza memanjat ke kap mesin dengan dua gelas kopi. Dia menyodorkan satu kepada Damar dan duduk di bawah mereka, memunggungi kaca depan.
"Semalam," katanya tanpa menoleh. "Kamu teringat Sekar lagi?"
"Diam."
Reza diam.
Damar tidak menatap Anala. Tapi dia tahu perempuan itu mendengar. Dia merasakan bahunya, yang bersandar di bahu Damar di bawah selimut, sedikit menegang. Lalu kembali lunak.
Anala tidak bertanya apa-apa. Dia hanya menatap matahari yang naik dari balik pegunungan, dan Damar tidak tahu apakah itu lebih baik atau lebih buruk.
Dia ingin mengatakan sesuatu. Dia tidak tahu apa. Bahwa nama itu sudah hampir tiga tahun tidak dia ucapkan dengan suara keras. Bahwa semalam, ketika dia melihat bibir perempuan ini membiru, yang muncul di kepalanya bukan wajah lain, melainkan wajah ini, dan rasa takut yang belum pernah dia kenal.
Tapi kata-kata itu tidak pernah menjadi kalimat. Dia hanya menarik selimut lebih rapat di bahu Anala.
"Dingin?" tanyanya.
"Tidak," jawab Anala. Lalu, setelah beberapa saat, dia menyandarkan kepalanya di bahu Damar, dan tidak mengangkatnya lagi sampai matahari berada di atas Semeru.
***
Keesokan harinya, di penginapan di Tosari sebelum mereka kembali ke Surabaya, Damar berdiri di ambang pintu kamar Laras dan melihat sesuatu yang aneh.
Kamar itu seperti habis diserang angin puting beliung. Isi koper Laras berserakan di atas dua ranjang: baju, jaket, kabel pengisi daya, alat-alat rias dalam kantong-kantong kecil warna pastel. Laras duduk di lantai dengan wajah putus asa.
"Nggak muat," katanya. "Waktu berangkat muat. Sekarang nggak muat. Ini koper ajaib."
Anala duduk di pinggir ranjang. Dia masih pucat, dan tangannya masih sedikit dingin ketika tadi Damar menyentuhnya. Tapi dia mengambil baju-baju Laras satu per satu, dan tangannya bergerak cepat.
Lipat, gulung, masukkan. Jaket dilipat tiga, lengannya diselipkan ke dalam. Kaus digulung rapat seperti lumpia. Kabel-kabel dililit dengan karet gelang dan diselipkan ke dalam sepatu. Kantong-kantong rias disusun di sela-sela gulungan baju seperti potongan teka-teki.
Sepuluh menit. Koper itu tertutup dengan mudah. Masih ada sisa ruang di atasnya.
Laras menatap koper itu. Lalu menatap Anala. "Kak. Kakak penyihir, ya?"
"Dulu ada yang mengajariku," kata Anala.
Dia tidak menjelaskan siapa. Dia tersenyum kecil, menepuk tutup koper itu dua kali, dan senyum itu, untuk satu detik, terlihat seperti senyum seseorang yang sedang mengingat sesuatu yang tidak bisa dia dapatkan lagi.
Lalu Laras mendekatkan kepalanya ke Anala dan berbisik keras, terlalu keras untuk disebut bisikan. "Kak. Kakak kenal Kak Arka, kan? Dia orangnya kayak gimana? Dia punya pacar nggak?"
Damar berbalik dan pergi sebelum dia harus mendengar jawabannya.
***
Mereka sampai di Pondok Indah hari Sabtu malam. Damar mandi, berganti baju, dan duduk di ruang kerjanya dengan ponsel yang sudah berdering dua kali selama di pesawat.
Nomor itu tidak tersimpan di kontaknya. Tapi dia hafal.
"Bagaimana?"
"Saya sudah ketemu satu orang, Pak. Mantan buruh pelabuhan. Sekarang jualan bakso di Cilegon." Suara di seberang terdengar ragu-ragu. "Dia bilang malam itu, sebelum gudang meledak, dia lihat dua mobil masuk ke area dermaga. Satu sedan. Satu lagi mobil boks tanpa logo."
Damar memejamkan mata.
"Kalau orangnya sama," katanya pelan, "dengan yang hampir tiga tahun lalu... ledakan di dermaga Anyer. Ada petunjuk baru?"
"Belum bisa dipastikan, Pak. Tapi cara mainnya mirip. Truk di Bintan, rem mobil Bapak tahun lalu, dan dermaga Anyer. Semua dibuat kelihatan seperti kecelakaan."
"Cari terus."
Dia meletakkan ponselnya.
Ketika dia mengangkat kepala, pintu ruang kerjanya terbuka sedikit. Dia tidak ingat membiarkannya terbuka.
Di lorong, dia mendengar langkah kaki yang menjauh. Ringan. Sedikit tidak rata, seperti langkah seseorang yang pergelangan kakinya belum benar-benar sembuh.
***
Kamar utama itu gelap ketika dia masuk.
Hanya ada cahaya dari lampu taman yang menembus tirai tipis. Anala berdiri di dekat jendela, membelakanginya. Dia memakai sesuatu yang belum pernah Damar lihat. Gaun tidur sutra berwarna hijau tua, panjangnya sampai lutut, dengan tali tipis di bahu. Warnanya hampir hitam dalam gelap, kecuali di bagian yang tersentuh cahaya lampu taman, di mana kainnya berkilau seperti air kolam di malam hari.
Dia berbalik ketika Damar menutup pintu.
Damar tidak bertanya apa yang dia dengar di lorong. Anala tidak mengatakan apa pun soal itu.
Dia hanya berjalan mendekat. Damar mengangkatnya. Anala melingkarkan lengannya di leher Damar, dan Damar membawanya ke ranjang dan membaringkannya di atas seprai yang dingin.
Dia menciumnya. Dahinya. Pipinya. Lalu bibirnya.
Di tengah ciuman itu, Anala mengangkat kedua tangannya ke wajah Damar. Telapak tangannya dingin di pipinya. Ibu jarinya bergerak ke atas, ke kelopak mata Damar yang terpejam, dan diam di sana.
"Damar," bisiknya.
"Hm."
"Kamu tahu siapa yang sedang kamu cium sekarang?"
Damar berhenti.
Dia membuka matanya. Dalam gelap, dia hampir tidak bisa melihat wajah perempuan itu. Hanya bentuknya. Garis rahangnya, kilau samar matanya, rambut yang tergerai di atas bantal.
Pertanyaan itu menggantung di antara mereka. Dia tahu apa yang perempuan itu tanyakan. Sekar. Reza di atas kap jip. Bianca di serambi Menteng. Semua orang, ternyata, tahu nama itu, kecuali perempuan ini. Dan sekarang perempuan ini juga tahu.
Dia ingin menjawab dengan cepat. Jawaban yang benar sudah ada di lidahnya.
Tapi lidahnya tidak bergerak.
Satu detik. Dua. Lima.
Gelap ini. Rambut di atas bantal ini. Dia tidak bisa melihatnya dengan jelas, dan untuk sesaat yang sangat pendek dan sangat buruk, dia tidak yakin apa yang sedang dia lihat.
"Anala," katanya akhirnya.
Perempuan itu tidak mengatakan apa-apa lagi.
Dia menarik wajah Damar ke bawah, dan menciumnya, dan setelah itu tidak ada pertanyaan lagi.
***
Pukul tiga pagi, Damar masih terjaga.
Anala tidur di sebelahnya, napasnya pelan dan teratur. Satu tangannya terlipat di bawah pipi. Gaun hijau itu tergeletak di lantai, seperti genangan air yang gelap.
Damar menatap langit-langit.
Kamu tahu siapa yang sedang kamu cium sekarang?
Dia sudah menjawab. Dia sudah mengucapkan namanya. Tapi lima detik itu masih di sana, di dalam dadanya, seperti duri kecil yang tidak bisa dia cabut.
Lima detik.
Dia memutar kepalanya dan menatap perempuan yang tidur di sebelahnya. Wajah itu tenang dalam tidur, lebih muda, tanpa senyum yang tidak bisa dia baca.
Dia benar-benar tahu?
Damar tidak tidur sampai pagi.