Aurora kira pertemuannya dengan Bima cuma kebetulan. Tapi semakin dekat, semakin dia sadar cowok itu menyembunyikan banyak hal — dia tahu hal-hal yang belum pernah diceritakan siapa pun, dan selalu bicara soal "38.000 langkah" yang belum selesai.
Saat Bima akhirnya berjanji akan datang menemuinya, justru kabar kecelakaan yang datang. Bima pergi, meninggalkan sebuah kotak misterius. Dari sana Aurora mulai menelusuri jejak Bima, dan menyadari bahwa pertemuan mereka sama sekali bukan kebetulan. Bima sudah berjalan jauh, melewati banyak hal berat, cuma untuk sampai ke hatinya.
Walau tak bisa bertemu lagi, cinta Bima sudah sampai tujuan di hati Aurora, selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 — Satu Tempat yang Belum Dikunjungi
Beberapa bulan udah berlalu sejak aku pindah ke sini. Buku sketsa Bima selalu ikut ke mana pun aku pergi, tersimpan rapi di tas kain itu. Hampir semua halaman di dalamnya udah aku tandai, udah aku kunjungi, udah aku tulis ceritanya di buku catatanku. Cuma ada satu halaman terakhir yang masih kosong di bagian bawahnya. Gambarnya sederhana banget sebuah bangunan kecil di pinggir tebing, di depannya ada pohon besar yang daunnya rindang, dan di depannya lagi ada jalan tanah yang membelah ladang luas. Nggak ada nama tempatnya, nggak ada alamatnya, cuma ada coretan kecil di sudut bawah yang tertulis samar-samar: "Tempat di mana langit terasa paling dekat."
Aku udah tanya ke mana-mana. Tanya Pak Jaya di toko buku, tanya Lina, tanya teman-teman di kantor. Nggak ada yang tahu persis tempatnya di mana. Katanya mungkin di daerah perbukitan agak jauh dari kota, tapi nggak ada yang yakin. Kadang aku pikir, mungkin tempat itu cuma ada di kepalanya aja? Mungkin dia cuma menggambarnya karena berharap suatu hari nanti bisa ke sana, bukan karena tempat itu benar-benar ada di peta? Tapi rasanya sayang banget kalau aku menyerah begitu aja. Itu halaman terakhir yang belum selesai. Rasanya kayak ada satu bagian penting dari cerita kita yang masih tertinggal di sana, menunggu aku untuk menemukannya.
Suatu sore aku pulang ke rumah dan ada surat yang menungguku di meja depan. Tulisannya aku kenal banget — tulisan tangan ibunya Bima. Aku langsung duduk dan membukanya pelan-pelan. Dia cerita soal hal-hal kecil di rumah, soal tanaman yang Bima dulu suka rawat sekarang udah tumbuh subur di halaman, soal Rian yang baru aja dapat pekerjaan baru. Dan di bagian akhir suratnya, dia tulis sesuatu yang langsung bikin jantungku berdebar:
"Oh ya nak, Bima pernah cerita soal sebuah tempat ke aku. Dia bilang itu tempat favoritnya sejak kecil, tempat dia lari kalau dia merasa dunia terlalu berat. Lokasinya agak jauh, di desa kecil di atas bukit, kira-kira dua jam perjalanan dari sini. Namanya nggak terkenal, tapi pemandangannya luas banget. Kalau kamu berdiri di sana, kamu bisa lihat matahari terbit lebih awal dari tempat mana pun. Aku lupa nama desa persisnya, tapi dia pernah bilang jalannya mudah ditemukan — ada satu pohon beringin besar di pertigaan jalan, belok ke kanan, terus ikuti jalan tanah itu sampai ketemu bangunan tua di pinggir tebing. Itu tempatnya."
Aku langsung buka buku sketsa itu lagi. Pohon beringin besar, jalan tanah, bangunan tua di tebing. Persis kayak gambar di halaman terakhir itu. Jadi tempat itu benar-benar ada. Bukan khayalannya aja. Aku tatap gambar itu lama banget, senyum sendiri. Dia menyimpannya sampai terakhir. Mungkin dia mau aku menemukannya sendiri, dengan caraku sendiri, di waktu yang tepat.
Aku berangkat pagi-pagi banget keesokan harinya. Naik kereta pagi yang berangkat sebelum matahari terbit, lalu lanjut naik mobil kecil yang mengantarkan penumpang ke desa-desa di atas sana. Perjalanannya lumayan menanjak, jalan makin lama makin sepi, dan udara makin dingin makin tinggi kita naik. Di sepanjang jalan aku lihat pemandangan hijau yang luas, rumah-rumah kecil yang berjarak berjauhan, dan langit yang perlahan berubah dari gelap jadi kebiruan lembut. Di dalam tas aku bawa buku sketsa, catatan, air minum, dan sepotong roti — persis seperti yang Bima selalu bawa kalau dia mau pergi sendirian ke tempat yang tenang.
Sesampainya di pertigaan yang dimaksud, aku langsung melihat pohon beringin besar itu. Dahan-dahannya menjalar luas, daunnya hijau pekat, berdiri tegak seolah udah ada di sana selama puluhan tahun. Belok kanan, masuk ke jalan tanah yang sempit dan berdebu. Jalan itu menanjak pelan, di sisi kiri dan kanannya ada ladang tanaman sayur yang rapi, dan di kejauhan terlihat garis bukit yang berjejer rapi. Nggak ada kendaraan yang lewat, cuma langkah kakiku yang terdengar di atas tanah kering, dan suara angin yang berhembus pelan melewati dedaunan. Rasanya tenang banget, sepi tapi nggak menakutkan. Kayak alam sedang menahan napas pelan supaya nggak mengganggu ketenangan di sini.
Dan akhirnya aku melihatnya. Bangunan kecil itu berdiri sendirian di tepi tebing. Dindingnya terbuat dari batu dan kayu yang udah tua, atapnya dari rumbia yang masih terlihat rapi meski warnanya mulai memudar. Di depannya ada halaman tanah yang luas tanpa pagar, dan di depannya lagi tebing yang jatuh ke lembah hijau yang dalam. Dari sana aku bisa lihat sejauh mata memandang bukit-bukit berwarna biru muda di kejauhan, kabut tipis yang melayang di lembah, dan langit yang membentang luas tanpa penghalang apa pun. Persis kayak di gambarnya. Bahkan lebih indah dari yang dia gambarkan.
Aku berjalan pelan ke tengah halaman itu, berdiri di sana sendirian, dan tarik napas sedalam-dalamnya. Udara di sini bersih banget, segar masuk ke paru-paru, bikin dada terasa lapang. Angin berhembus lembut menerpa rambutku, membawa aroma rumput basah dan tanah yang subur. Di depanku langit dan bumi terasa menyatu, seolah aku berdiri di ambang pintu antara dua dunia. Aku mengerti sekarang kenapa dia suka ke sini. Di tempat lain kamu selalu dikelilingi tembok, bangunan, keramaian orang. Tapi di sini cuma ada kamu, langit, dan keheningan yang damai. Nggak ada yang perlu kamu sembunyikan, nggak ada yang perlu kamu takutkan. Kamu cuma perlu berdiri dan bernapas. Itu aja sudah cukup.
Aku duduk di tepi bangunan batu itu, membuka buku sketsa di halaman terakhir. Di kertas putih di sebelah gambarnya, aku mulai menulis pakai pulpenku:
"Halo Bima. Aku sampai. Tempatnya indah banget, kamu benar. Langit di sini terasa lebih dekat, seolah kamu cuma perlu mengulurkan tangan untuk menyentuhnya. Kamu pasti sering duduk di tempat aku duduk sekarang kan? Melihat pemandangan yang sama, menghirup udara yang sama. Rasanya aneh banget ya aku nggak sendirian di sini, padahal cuma aku yang ada di tempat ini. Karena aku tahu, bagian dari dirimu ada di sini, di setiap jengkal tanah tempat kamu pernah berdiri, di setiap hembusan angin yang pernah menyentuh wajahmu. Terima kasih udah simpan tempat terbaik ini untukku. Terima kasih karena di akhir perjalananmu, kamu pastikan aku punya satu tempat lagi untuk pulang selamanya."
Aku tinggal di sana sampai siang. Makan roti yang kubawa, duduk diam melihat awan bergerak pelan di langit, menutup mata dan mendengarkan suara angin yang berbisik di antara pepohonan. Kadang aku bicara pelan padanya, cerita hal-hal kecil yang terjadi belakangan ini. Soal Lina yang kasih aku bunga, soal buku yang aku tulis, soal bagaimana ibunya terlihat sehat dan bahagia. Rasanya dia benar-benar mendengarkan di sebelahku, diam, tenang, tersenyum seperti biasa.
Saat aku berdiri untuk pulang, aku menatap tempat itu sekali lagi. Nggak ada rasa sedih saat pergi. Karena aku tahu aku bisa kembali ke sini kapan pun aku mau. Ini bukan tempat yang cuma sekali aku kunjungi. Ini tempat yang sekarang juga jadi milikku, seperti halnya dia yang juga jadi bagian dari diriku.
Di perjalanan pulang, saat matahari mulai condong ke barat, aku menyentuh liontin di dadaku dan tersenyum. Semua halaman udah selesai. Semua tempat udah dikunjungi. Cerita Bima di buku sketsa ini udah lengkap. Tapi bukan berarti cerita kita berakhir. Justru sebaliknya sekarang giliranku untuk melanjutkan ceritaku sendiri, dengan semua yang diajarkannya, dengan semua kebaikan yang dia tinggalkan. Dan di mana pun aku berada, di kota ramai atau di bukit yang sepi ini, aku tahu dia selalu berjalan di sampingku, langkah yang tak terlihat tapi selalu terasa.