NovelToon NovelToon
Balas Dendam Seorang Istri Yang Tersakiti

Balas Dendam Seorang Istri Yang Tersakiti

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Jefika Isabell

Celine Wang pernah percaya bahwa cinta mampu mengubah hati seorang pria yang dingin.

Selama tiga tahun pernikahannya dengan Alexander Wu, pewaris keluarga konglomerat Wu Group, Celine berusaha menjadi istri yang sempurna. Ia merawat rumah mereka, mendampingi Alexander ketika menghadapi kesulitan, dan diam-diam membantu menyelamatkan perusahaan suaminya dari krisis keuangan.

Namun, semua pengorbanannya tidak pernah dianggap berarti.

Bagi Alexander, Celine hanyalah wanita biasa yang beruntung mendapatkan tempat di keluarga Wu. Terlebih lagi, kehadiran Evelyn Zhao, cinta pertama Alexander yang kembali ke Shanghai, perlahan menghancurkan rumah tangga mereka.

Atas hasutan Evelyn dan tekanan keluarganya, Alexander menuduh Celine sebagai wanita yang tidak tahu diri, menandatangani surat perceraian, lalu mengusirnya dari rumah tanpa memberinya kesempatan menjelaskan kebenaran.

Pada malam yang sama, Celine mengetahui bahwa sebagian besar penderitaan yang dialaminya bukanlah kebetulan. Ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 — Suara dari Masa Lalu

Suara itu terus terngiang di kepala Celine Wang sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.

Pastikan William tidak pernah tahu siapa yang sebenarnya berada di mobil kedua.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan ancaman yang mengerikan. Seseorang telah mengetahui apa yang terjadi pada malam ayahnya meninggal. Seseorang telah memerintahkan agar William tidak mengetahui identitas penumpang mobil kedua. Dan yang paling membuat Celine ketakutan, suara itu terasa begitu akrab.

Ia pernah mendengarnya.

Bukan sekali atau dua kali, melainkan berkali-kali selama bertahun-tahun.

Namun, setiap kali ia berusaha mengingat, pikirannya justru dipenuhi bayangan yang saling bertabrakan.

“Celine.”

Suara Daniel membuyarkan lamunannya.

Mereka duduk di ruang tunggu rumah sakit. Liang Zhen sedang mendapatkan perawatan setelah mengalami benturan di kepala. Dokter mengatakan kondisinya stabil, tetapi ia belum sadarkan diri.

“Kau sudah mendengar rekamannya tiga kali,” ujar Daniel. “Apakah kau yakin mengenali suara itu?”

Celine menatap alat perekam yang terletak di atas meja.

“Aku mengenal nadanya. Cara orang itu mengucapkan kata-kata tertentu.” Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan. “Tapi aku tidak bisa memastikan siapa pemilik suara itu.”

“Kalau kau menyebut nama seseorang sekarang, kita berisiko salah menuduh.”

“Aku tahu.”

“Kalau begitu, jangan biarkan ketakutanmu membuat keputusan untukmu.”

Celine tertawa hambar.

“Lucu, bukan? Selama ini aku mengira yang paling kutakuti adalah mengetahui bahwa seseorang membunuh ayahku. Ternyata aku justru takut mengetahui bahwa orang itu adalah seseorang yang pernah kupercaya.”

Daniel tidak segera menjawab.

Ia tahu Celine sedang berjuang menghadapi dua hal sekaligus: keinginannya untuk mendapatkan keadilan dan ketakutannya kehilangan satu-satunya sisa keyakinan bahwa tidak semua orang di masa lalunya telah membohonginya.

“Apa pun yang kita temukan nanti,” kata Daniel akhirnya, “kau tidak harus memutuskan perasaanmu hari ini. Kita hanya perlu menemukan fakta.”

Celine mengangguk pelan.

Fakta.

Ia harus berpegang pada fakta, bukan pada kebencian, bukan pada kenangan, dan bukan pula pada harapan bahwa seseorang yang pernah menyakitinya mungkin ternyata tidak seburuk yang ia bayangkan.

Menjelang tengah malam, Daniel menerima panggilan dari tim keamanan yang berada di pelabuhan.

Mobil abu-abu yang digunakan para penyerang ditemukan terbengkalai di jalan beberapa kilometer dari lokasi. Pelat nomornya palsu. Sidik jari yang ditemukan di pintu mobil tidak memberikan hasil yang dapat langsung mengidentifikasi pelaku.

Namun, ada satu benda yang tertinggal di bawah kursi penumpang.

Sebuah kartu akses lama milik gedung perkantoran Wu Group.

Celine membaca laporan itu dengan wajah tegang.

“Ini belum membuktikan bahwa Wu Group terlibat,” kata Daniel sebelum ia sempat berbicara. “Kartu itu bisa dicuri atau sengaja ditinggalkan untuk menyesatkan kita.”

“Aku tahu.” Celine meletakkan laporan tersebut. “Tapi seseorang ingin kita menghubungkan penyerangan ini dengan keluarga Wu.”

“Atau seseorang dari keluarga Wu ingin kita berhenti mencari.”

“Dan ada kemungkinan lain,” sahut Celine. “Seseorang ingin aku mencurigai Alexander.”

Nama itu membuat keduanya terdiam.

Celine tidak menyukai kenyataan bahwa Alexander kembali menjadi bagian dari setiap petunjuk yang mereka temukan. Ia telah berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak membiarkan masa lalu mereka memengaruhi penyelidikan. Namun, semakin banyak rahasia keluarga Wu yang terungkap, semakin sulit baginya untuk memisahkan pria yang pernah dicintainya dari keluarga yang mungkin menyembunyikan kematian ayahnya.

“Aku akan menghubunginya,” ujar Celine.

Daniel mengangkat alis. “Kau yakin?”

“Aku tidak akan menemuinya sendirian. Aku juga tidak akan meminta penjelasan tentang pernikahan kami.” Ia mengambil ponselnya. “Aku hanya ingin tahu apakah dia mengenali suara ini.”

Celine mengirimkan pesan kepada Alexander, melampirkan potongan rekaman yang telah disalin Daniel.

Dengarkan rekaman ini. Jika kau mengenali suara orang yang berbicara, beri tahu Daniel. Jangan datang menemuiku tanpa persetujuanku.

Balasan tidak langsung datang.

Lima menit berlalu.

Sepuluh menit.

Ketika layar ponselnya akhirnya menyala, hanya ada satu kalimat.

Aku mengenali suara itu.

Jantung Celine berdegup lebih cepat.

Ia segera mengetik balasan.

Siapa?

Jawaban Alexander datang beberapa detik kemudian.

Besok pagi. Aku akan menjelaskannya di hadapan Daniel. Ada sesuatu yang harus kau ketahui tentang malam ayahmu meninggal.

Celine menatap pesan tersebut sampai layar ponselnya meredup.

Ia seharusnya merasa lega karena akhirnya mendapatkan petunjuk yang jelas. Namun, yang muncul justru rasa takut yang semakin besar.

Mengapa Alexander tidak menyebutkan nama itu melalui pesan?

Apa yang membuatnya begitu berhati-hati?

Dan apakah pria itu sedang bersiap mengungkapkan kebenaran, atau justru menyusun kebohongan baru?

Pagi berikutnya, Alexander datang ke kantor Daniel tepat pukul sembilan.

Ia tampak kurang tidur. Kemeja putihnya kusut di bagian lengan, sementara lingkaran gelap terlihat di bawah matanya. Untuk pertama kalinya, ia tidak terlihat seperti seorang CEO yang selalu mampu mengendalikan keadaan.

Celine duduk di seberang meja, menjaga jarak yang cukup jelas di antara mereka.

“Putar rekamannya,” katanya tanpa basa-basi.

Daniel menyalakan alat perekam.

Suara desis terdengar lebih dahulu, kemudian kalimat yang sama memenuhi ruangan.

Alexander memejamkan mata sesaat.

“Itu suara ayahku,” katanya.

Celine merasa seolah-olah lantai di bawah kakinya menghilang.

Victor Wu.

Pria yang selama ini berdiri di pusat semua kecurigaan mereka.

Pria yang telah berkali-kali menolak menjelaskan hubungan bisnisnya dengan William Wang.

Pria yang kini ternyata mungkin mengetahui siapa yang berada di mobil kedua malam ayahnya meninggal.

“Apakah kau yakin?” tanya Daniel.

Alexander mengangguk.

“Aku tumbuh mendengar suaranya setiap hari. Aku tahu bagaimana dia berbicara.”

Celine berusaha menjaga wajahnya tetap tenang.

“Apakah kau mengatakan bahwa ayahmu memerintahkan seseorang untuk menyembunyikan identitas penumpang mobil kedua?”

“Aku tidak tahu konteks rekaman itu. Aku juga tidak tahu kapan rekaman tersebut dibuat.” Alexander menatap Celine. “Aku tidak akan membela ayahku tanpa bukti. Tapi aku juga tidak ingin kau mengambil kesimpulan sebelum kita mengetahui siapa yang berbicara kepadanya dan apa yang terjadi setelahnya.”

“Betapa mudahnya kau mengatakan itu sekarang.”

Alexander menerima sindiran tersebut tanpa membantah.

“Aku tahu kau tidak punya alasan untuk mempercayaiku.”

“Bukan hanya karena aku tidak memercayaimu.” Suara Celine bergetar, meskipun ia berusaha keras mengendalikannya. “Ayahku meninggal. Ibuku meninggalkan rahasia yang tidak sempat ia jelaskan. Selama bertahun-tahun, aku hidup tanpa mengetahui bahwa orang-orang yang berada di sekitar keluargaku mungkin mengetahui sesuatu tentang kematiannya.”

Ia berhenti sejenak, menelan rasa sesak yang mengancam menguasai dirinya.

“Dan sekarang kau datang membawa nama ayahmu, seolah-olah aku hanya perlu mendengarkan penjelasanmu lalu melanjutkan hidup.”

“Aku tidak mengharapkan itu.”

“Lalu apa yang kau harapkan, Alexander?”

Alexander menunduk.

Untuk sesaat, ia tampak ingin mengatakan sesuatu yang bersifat pribadi. Mungkin tentang penyesalan, mungkin tentang perasaan yang masih tersisa. Namun, akhirnya ia memilih jawaban yang paling sederhana.

“Aku ingin kau mendapatkan kebenaran, meskipun kebenaran itu menghancurkan keluargaku sendiri.”

Celine menatapnya lama.

Ada bagian dalam dirinya yang ingin mempercayai kalimat itu. Bagian yang masih mengingat lelaki yang pernah menjadi rumah baginya. Namun, ia tidak lagi bisa membiarkan kenangan mengambil keputusan atas nama dirinya.

“Kalau begitu, buktikan dengan tindakan,” katanya. “Mulailah dengan mencari tahu kapan rekaman itu dibuat. Daniel akan menangani pemeriksaan forensiknya. Kau bisa membantu dengan dokumen yang kau miliki, tetapi jangan menghubungiku secara pribadi kecuali aku mengizinkannya.”

Alexander mengangguk.

“Baik.”

Ia berdiri, tetapi sebelum melangkah ke pintu, ia berhenti.

“Ada satu hal lagi. Aku menemukan catatan lama dari sopir keluarga kami. Pada malam William meninggal, ayahku tidak berada di rumah seperti yang selama ini dikatakan keluarga.”

Celine langsung menegakkan tubuh.

“Di mana dia?”

“Catatan itu menyebut sebuah rumah di pinggiran Shanghai. Alamatnya cocok dengan lokasi tempat Shen Yiran pernah tinggal sebelum menghilang.”

Daniel segera mengambil pena.

“Apakah kau punya salinannya?”

Alexander menyerahkan sebuah map tipis.

“Ini semua yang kutemukan. Aku belum mengetahui apakah catatan itu lengkap.”

Celine membuka map tersebut. Di halaman terakhir, terdapat tanda tangan Victor dan sebuah tanggal yang bertepatan dengan malam kematian ayahnya.

Di bawah tanggal itu, seseorang menulis dengan tinta merah:

Penumpang kedua telah dipindahkan. Jangan biarkan William bertemu dengannya.

Tangan Celine mendadak dingin.

“Apa maksudnya dipindahkan?” bisiknya.

Alexander menggeleng.

“Aku tidak tahu.”

Namun, kali ini Celine melihat sesuatu dalam tatapan pria itu yang membuatnya berhenti bertanya. Alexander benar-benar tidak tahu. Atau setidaknya, ia tampak seperti seseorang yang baru saja menyadari bahwa rahasia keluarganya jauh lebih gelap daripada yang pernah ia bayangkan.

Sore harinya, Daniel menerima kabar bahwa Liang Zhen telah sadar.

Celine segera menuju ruang rawatnya. Lelaki tua itu tampak lemah, tetapi matanya terbuka dan mengikuti setiap gerakan di dalam ruangan.

Ketika melihat Celine, ia mencoba bangkit.

“Jangan bergerak,” ujar Celine sambil mendekat. “Anda harus beristirahat.”

Liang menggeleng pelan.

“Tidak ada banyak waktu.”

“Apa yang Anda maksud dengan orang yang membawa Shen Yiran pergi? Apakah Anda mengenalinya?”

Liang memejamkan mata, seolah-olah sedang mengumpulkan keberanian.

“Aku tidak melihat wajahnya dengan jelas. Tetapi aku tahu siapa yang memberikan perintah.”

“Siapa?”

Lelaki tua itu membuka mata dan menatap Celine dengan kesedihan yang mendalam.

“Bukan Victor Wu.”

Celine terdiam.

“Lalu siapa?”

Liang meraih tangannya dengan lemah.

“Orang yang memberikan perintah itu berasal dari keluarga Shen. Dia memiliki alasan untuk memastikan Yiran menghilang. Dan William… William meninggal karena ia berusaha menyelamatkan seseorang yang seharusnya tidak pernah ia temui malam itu.”

Sebelum Celine sempat mengajukan pertanyaan berikutnya, monitor di samping tempat tidur berbunyi ketika Liang mengalami kesulitan bernapas. Dokter dan perawat segera masuk, meminta Celine keluar dari ruangan.

Ia berdiri di koridor dengan pikiran kacau.

Selama ini, ia mencurigai keluarga Wu sebagai pusat semua kebohongan. Kini, petunjuk terbaru justru mengarah kepada keluarga Shen—keluarga yang menjadi dasar Shen Capital, tempat ia bekerja dan membangun kembali hidupnya.

Ia teringat Shen Yuxin, surat misterius yang ditinggalkan untuknya, dan rekaman suara Shen Yiran.

Siapa yang sebenarnya ingin menyelamatkan Yiran?

Siapa yang ingin menghilangkannya?

Dan mengapa ayahnya harus mati karena mencoba menolong seseorang?

Ponselnya bergetar.

Sebuah pesan dari nomor tak dikenal muncul di layar.

Alexander telah memberitahumu tentang Victor. Liang telah memberitahumu tentang keluarga Shen. Sekarang, tanyakan kepada Shen Yuxin mengapa nama ayahnya dihapus dari laporan kematian yang asli.

Celine membaca pesan itu berulang kali.

Di bawahnya terdapat foto halaman laporan kematian Shen Guowei. Bagian penyebab kematian telah dicoret, sedangkan kolom saksi terakhir memuat sebuah nama yang membuat napas Celine tertahan.

William Wang.

Celine perlahan menurunkan ponselnya.

Ayahnya bukan sekadar rekan bisnis Shen Guowei.

Ia adalah saksi terakhir sebelum kematian pria itu.

Dan jika laporan tersebut benar, seluruh penyelidikan yang selama ini ia lakukan mungkin dimulai dari sebuah kematian yang jauh lebih tua daripada kematian ayahnya sendiri.

Celine memejamkan mata, berusaha menahan air mata yang akhirnya jatuh juga.

“Ayah,” bisiknya, “apa sebenarnya yang berusaha kau selamatkan?”

Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi yakin bahwa balas dendam akan memberinya jawaban.

Namun, ia tahu satu hal: ia tidak akan berhenti.

Bukan demi Alexander. Bukan demi keluarga Shen atau keluarga Wu.

Melainkan demi ayahnya, yang mungkin telah mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan seseorang—dan demi dirinya sendiri, agar ia tidak menghabiskan sisa hidup dengan membenci orang yang salah.

Di luar jendela rumah sakit, langit Shanghai perlahan menggelap.

Dan di suatu tempat di kota itu, Shen Yuxin sedang membaca pesan yang sama dengan pesan yang diterima Celine.

Hanya ada satu perbedaan.

Di layar ponsel Yuxin, pesan itu diakhiri dengan kalimat lain.

Jika Celine sudah mengetahui nama William dalam laporan kematian ayahmu, jangan biarkan dia melihat halaman terakhir. Di sana tertulis siapa yang sebenarnya membunuh Shen Guowei.

Yuxin menatap layar dengan wajah pucat.

Lalu ia membuka laci mejanya, mengeluarkan sebuah amplop tua, dan membakar surat di dalamnya.

Karena rahasia yang selama ini ia simpan bukan hanya tentang ayahnya.

Rahasia itu juga tentang alasan mengapa ia sejak awal membiarkan Celine masuk ke Shen Capital.

1
niaww
semngat kak jangan lupa mampir🥰❤
Isabell: siap kakak terimakasih 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!