Ketika kebocoran fasilitas riset menyebarkan mutasi jamur pembawa wabah kematian, dunia runtuh dalam hitungan hari dan mengubah manusia menjadi mayat hidup yang dikendalikan spora ganas. Di tengah kekacauan Kota Mati, Luna harus memimpin empat penyintas lain, Steve si petarung, Nancy sang peretas, Endru si tenaga medis, dan Onad sang mekanik humoris. untuk bertahan hidup dari kejaran monster cordyceps dan ancaman kejam kelompok penyintas manusia lainnya. Di antara semak sisa peradaban, adegan penjarahan yang menegangkan, serta benih-benih cinta yang hangat di tengah malam kelam, mereka harus memperebutkan satu-satunya wilayah safe zone yang tersisa. Mampukah naluri survival dan ikatan manusiawi membawa kelimanya selamat, ataukah mereka justru hancur oleh kejamnya sesama penyintas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 - PILIHAN MENIT TERAKHIR
Asap tipis beraroma sengatan spora berputar lambat di atas lantai beton gedung parkir. Steve mengusap noda darah hitam yang menetes ke matanya, menatap lurus ke bawah menuju pos penjaga di seberang parkiran. Di balik jendela pecah pos tersebut, figur wanita jangkung berseragam taktis hitam masih berdiri tegap, memegang busur recurve dengan posisi siap tembak.
Di atas lantai dua, situasi Steve justru kian memburuk.
Dua ekor zombie jenis pelari memang telah tumbang oleh hantaman pipa besinya dan tembakan panah misterius tadi. Namun, suara raungan kematian dan dentuman pipa besi justru memancing puluhan zombie lain keluar dari pintu tangga darurat. Lebih dari belasan makhluk terinfeksi berbaris merangkak turun dari ramp atas, kaki-kaki mereka yang kaku menyeret lantai semen hingga menimbulkan suara gesekan beruntun yang amat membentak saraf.
"Sial, mereka datang lagi!" umpat Steve seraya mengencangkan cengkeraman tangannya pada gagang pipa besi.
Di bawah sana, di dalam pos penjaga yang sempit, Rian memegang lengan jaket Luna dengan kedua tangan yang gemetaran hebat.
"Luna, kita harus pergi sekarang! Kalau makhluk-makhluk di atas itu turun ke bawah, kita bisa ikut terkepung di sini!" mohoh Rian dengan suara bisikan histeris.
Luna tidak bergerak sedikit pun. Mata tajamnya tidak pernah lepas memindai pergerakan gerombolan zombie di lantai dua gedung parkir. Nalurinya sebagai mantan taruna militer menghitung setiap kemungkinan dalam hitungan detik. Pria bertubuh kekar di atas sana adalah seorang petarung yang amat tangguh, tetapi ia jelas sudah mencapai batas stamina fisiknya. Jika pria itu dibiarkan bertahan di lantai dua tanpa rute melarikan diri, ia akan terkoyak habis dalam waktu kurang dari satu menit.
Membiarkan potensi sekutu sekuat itu mati di depan matanya bukanlah pilihan taktis yang bijak.
"Rian, siapkan ranselmu di pintu belakang pos. Begitu aku beri instruksi, langsung lari ke arah gang pemukiman." perintah Luna dingin tanpa menoleh.
"Tapi kamu... kamu mau menyelamatkan orang itu?" tanya Rian terbelalak kaget.
"Aku tidak sedang menyelamatkan orang. Aku sedang membuka jalur." jawab Luna singkat seraya melangkah keluar dari pos penjaga, mengekspos posisinya di bawah naungan fajar yang redup.
Luna mengangkat busur recurve-nya lurus ke atas, memosisikan dirinya di tengah halaman parkir luar. Ia menarik satu anak panah karbon berujung broadhead dari tabung pinggangnya, memasang ekor panah ke tali busur dalam waktu kurang dari dua detik.
"Hei, Pria Pipa Besi!" teriak Luna dengan nada nyaring, jernih, dan penuh komando yang memotong riuhnya suara zombie di lantai atas.
Steve tersentak kaget di atas benteng beton. Ia menoleh ke bawah, mendapati wanita pemanah itu menatapnya lurus dari halaman luar.
"Jangan bertahan di atas sana! Lompat ke kap mobil merah di sebelah kirimu, lalu lari turun lewat ramp bagian luar sekarang!" seru Luna memberi instruksi tanpa ragu sedikit pun.
Steve melirik cepat ke arah mobil sedan merah yang terparkir setengah meter di bawah benteng beton tempatnya berdiri. Jarak lompatannya cukup jauh, dan di bawah ramp luar, tiga zombie berkepala jamur sudah berdiri menunggu dengan tangan terulur ke atas.
Pilihan di menit-menit terakhir ini sangat gila. Tapi tinggal di lantai dua ini sama saja dengan bunuh diri konyol.
"Baik! Lindungi punggungku!" balas Steve berteriak seraya mengambil ancang-ancang.
Steve memutar tubuhnya, mengayunkan pipa besinya sekali lagi untuk menghantam dada zombie terdekat hingga robek. Tanpa membuang waktu sekejap pun, ia melompati benteng beton gedung parkir bertingkat itu.
Tubuh kekar Steve melayang di udara fajar sebelum jatuh terhempas keras di atas kap mobil sedan merah.
BRAM!
Kap mesin mobil itu langsung penyok dalam seketika, memicu dentuman logam yang sangat keras. Steve terhuyung hampir kehilangan keseimbangan, tetapi otot kakinya yang kuat berhasil menahan tumpuan tubuhnya.
Pada detik yang sama, dua zombie berkepala jamur dari balik mobil melompat ke arah kap mesin, mengincar kaki Steve yang terbuka tanpa perlindungan.
STAS! STAS!
Dua tembakan anak panah dari Luna melesat beruntun membelah udara pagi bagaikan petir tanpa suara.
Anak panah pertama menancap telak di tengah dahi zombie pertama, membanting tubuhnya jatuh ke aspal. Anak panah kedua milik Luna terbang melengkung sempurna, menembus leher zombie kedua saat makhluk itu baru saja memegang pinggiran bumper mobil. Daya dorong anak panah tersebut membuat kepala zombie itu terlempar ke belakang, menghentikan serangannya seketika.
"Bergerak maju, sekarang!" teriak Luna seraya mencabut anak panah keempat dari pinggangnya.
Steve tidak menyia-nyiakan celah sempit itu. Ia melompat turun dari kap mobil merah, mendarat dengan lutut tertekuk di atas lantai ramp luar. Dengan sisa stamina yang tersisa di otot-otot lengannya, Steve berlari secepat yang ia bisa menuruni jalan melingkar gedung parkir.
Dari arah belakangnya, dua zombie pelari yang melompat dari lantai dua mengejar dengan kecepatan membabi buta. Jarak mereka hanya terpaut tiga meter dari punggung Steve yang terbuka.
"Di belakangmu!" jerit Rian dari balik dinding pos penjaga.
Steve tidak menoleh. Ia mempercayakan punggungnya sepenuhnya pada wanita di bawah sana.
Luna berdiri tenang di tengah halaman, menarik tali busurnya hingga menempel kencang di otot pipinya. Matanya menyipit fokus, mengunci target yang sedang berlari kencang mengejar Steve.
STAS!
Anak panah melesat menembus dada zombie pelari pertama dari arah bawah, menembus jantungnya hingga makhluk itu tersungkur bergulingan di atas semen ramp. Zombie pelari kedua mencoba melompati rekannya yang jatuh, namun Luna sudah melepaskan tembakan kelima dengan refleks yang hampir tak masuk akal.
JLEK!
Anak panah kelima menancap tepat di pelipis sang monster, menghentikan langkahnya secara instan di tengah udara.
Steve menabrak pintu pagar besi bagian bawah ramp, membukanya brutal dengan dorongan bahunya yang kekar. Ia keluar melintasi halaman luar, napasnya memburu kencang bagaikan mesin tua yang kepanasan, sebelum akhirnya jatuh bertumpu pada kedua lututnya tepat di samping Luna.
Tiga puluh meter di atas mereka, belasan zombie di lantai dua mengerumuni pinggiran benteng beton, meraung-raung histeris karena kehilangan mangsa utama mereka. Namun, rute tangga turun yang sempit membuat gerombolan itu tertahan untuk sementara waktu.
"Kerja yang bagus." kata Luna singkat tanpa menurunkan busurnya, matanya tetap memantau pintu ramp bawah.
Steve mendongak, menyapu keringat bercampur darah yang membasahi dahi dan otot pipinya. Untuk pertama kalinya, ia menatap wajah wanita yang baru saja menyelamatkan nyawanya dari jarak dekat. Mata wanita itu berwarna kelam, dingin, dan dipenuhi disiplin ketat yang terpancar jelas dari garis rahangnya yang tegas.
"Tembakan panahmu... benar-benar gila." bisik Steve sambil terengah-engah, mencoba mengontrol napasnya yang naik turun tajam.
"Jangan buang pasokan oksigenmu untuk memuji. Kita punya waktu kurang dari dua puluh detik sebelum makhluk-makhluk di atas turun ke sini." potong Luna dingin seraya membalikkan badan.
Rian berlari keluar dari pos penjaga dengan ransel hijau zaitun terikat rapat di punggungnya.
"Luna, pintu ramp samping mulai didorong oleh mereka!" teriak Rian panik sambil menunjuk pintu besi yang mulai bergetar hebat di ujung halaman.
"Ikuti aku. Jangan ada yang mengeluarkan suara keras lagi." perintah Luna tegas.
Steve bangkit berdiri dari tanah, meraih pipa besi tebalnya yang sudah bengkok dan bersimbah darah. Ia melirik sebentar ke arah Luna, lalu mengangguk pelan menandakan kepatuhan tanpa syarat pada komando wanita tersebut.
Kelimanya—Luna di depan sebagai penunjuk rute, Steve menjaga barisan tengah dengan pipa besinya, dan Rian mengikuti rapat di belakang—melangkah cepat meninggalkan area kompleks gedung serbaguna, menyusup masuk ke dalam lorong-lorong sempit Kota Mati yang kian tenggelam dalam kabut spora pagi.