yuna adalah perempuan cantik mandiri, dan cantik dipaksa nikah dengan Marco hanya karena kesepakatan bisnis keluarga nya
Marco adalah laki-laki yang dinggin,cuek,dan dikenal sebagai raja mafia yang namanya disegani bahkan ditakuti diseluruh dunia baginya hidup hanyalah tentang kekuatan, kekuasaan,dan kekayaan semua orang memanggil nya "Qing"
Yuna memiliki 2 sahabat terbaik nya bernama Yona dan jisoo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bubu1234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
benci jadi cinta (bab 6) ujian yang tak terduga
Semua terasa begitu indah di awal. Marco semakin hangat, setiap hari penuh senyum dan perhatian yang tulus. Namun takdir seakan belum selesai menguji kami.
Beberapa hari setelah pulang dari rumah sakit, tubuh Yuna mulai terasa aneh. Awalnya hanya kelelahan dan sedikit pusing, tapi kondisinya perlahan-lahan semakin menurun. Wajahnya yang biasanya berseri-seri kini tampak semakin pucat. Sering kali dia terbangun di tengah malam dengan keringat dingin, napasnya terasa berat, dan bahu yang terluka itu terasa nyeri yang menjalar ke seluruh tubuh.
Marco menyadari perubahan itu lebih dulu daripada siapa pun. Dia tidak membiarkan Yuna melakukan apa pun sendiri. Dia selalu ada di sana, menatapnya dengan cemas yang tak bisa disembunyikan.
"Kamu belum makan hari ini," katanya lembut, menaruh piring berisi sup hangat di meja samping ranjang. "Cobalah sedikit saja, Sayang."
Yuna tersenyum lemah, namun suapan pertama membuatnya mual. Dia menggeleng pelan. "Maaf… aku tidak nafsu."
Tangan Marco meremas pelan bahunya dengan hati-hati. Matanya menatapnya lekat-lekat, penuh kekhawatiran yang mendalam. "Kamu harus makan, Yuna. Dokter bilang kamu butuh energi untuk sembuh. Tolong… lakukan ini untukku."
Hari berganti hari, namun kondisinya tak kunjung membaik. Dia semakin sering terbaring lemah. Kekuatannya perlahan habis. Yona dan Jisoo datang hampir setiap hari, membawa makanan kesukaan Yuna, bercerita dan mencoba menghiburnya, namun Yuna hanya bisa tersenyum tipis. Mereka melihat perubahan itu dan air mata sering kali jatuh tanpa suara saat mereka berpaling dari Yuna.
Suatu sore, saat Marco sedang keluar mengambil obat, Yuna memanggil sahabatnya dengan suara yang lemah.
"Yona… Jisoo…" bisiknya pelan. "Kalau suatu hari aku tidak ada… jaga Marco ya? Dia terlihat kuat, tapi hatinya rapuh sekali. Dia hanya takut sendirian."
"Jangan bicara begitu, Yuna! Kamu pasti sembuh! Kami butuh kamu!" Jisoo menahan isak tangisnya, memegang tangan sahabatnya yang terasa dingin.
Yona mengusap punggung tangan Yuna dengan mata berkaca-kaca. "Kamu tidak akan ke mana-mana. Kamu akan sembuh, dan kita akan pergi jalan-jalan bersama seperti dulu. Janji ya?"
Yuna hanya tersenyum samar, matanya perlahan terpejam karena kelelahan.
Saat Marco kembali ke kamar, dia melihat suasana yang hening dan mata sahabat-sahabat Yuna yang sembab. Jantungnya berdebar kencang dengan rasa takut yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dia meletakkan obat di meja, lalu berlutut di samping ranjang, menggenggam tangan Yuna yang terasa begitu dingin.
"Kenapa tanganmu dingin sekali, Sayang?" suaranya bergetar. "Kamu harus kuat. Aku mohon… jangan tinggalkan aku. Aku baru saja menemukanmu. Aku belum sempat memberikanmu seluruh kebahagiaan yang pantas kamu dapatkan."
Malam itu menjadi malam terpanjang bagi Marco. Dia tidak tidur sedikit pun. Dia duduk di samping tempat tidur, menatap wajah Yuna yang tenang namun pucat pasi. Dia menyentuh pipinya, memastikan napasnya masih teratur. Setiap kali Yuna bergerak sedikit saja, dia langsung bertanya dengan panik apakah dia butuh sesuatu — air, selimut, atau sekadar ditemani.
Pikirannya dipenuhi rasa bersalah yang menghancurkan diri sendiri. Seandainya aku lebih cepat melindunginya… seandainya dia tidak pernah masuk ke duniaku yang berbahaya ini… dia pasti tidak akan menderita seperti sekarang.
Marco menunduk, menempelkan keningnya di tepi ranjang. Air mata yang dulu tak pernah berani ia tumpahkan kini jatuh satu per satu di atas selimut.
"Aku tidak takut menghadapi siapa pun atau apa pun," gumamnya pelan, suaranya tercekat. "Tapi aku takut kehilanganmu. Kamu adalah satu-satunya cahaya yang pernah masuk ke dalam hidupku yang gelap. Jangan biarkan cahayaku padam, Yuna… Kumohon… bertahanlah."
Namun di luar dugaan, keesokan paginya saat matahari mulai naik, demam Yuna justru semakin tinggi. Dia menggigil di bawah selimut, matanya terpejam rapat, dan namanya diucapkan dengan samar-samar di antara napas yang tersengal.
Marco langsung mengangkat telepon, tangannya gemetar hebat. Dia memanggil dokter terbaik, memerintahkan semuanya disiapkan secepat kilat. Di matanya kini bukan lagi ketakutan, melainkan tekad yang kuat — apa pun yang terjadi, berapa pun harganya, dia akan menyelamatkan Yuna. Bahkan jika dia harus menukar nyawanya sendiri demi nyawa wanita yang dicintainya itu.
BERSAMBUNG....