NovelToon NovelToon
Cinta Dan Gairah

Cinta Dan Gairah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa / Model / Obsesi / CEO / Romantis
Popularitas:219
Nilai: 5
Nama Author: Li Qiqiu

Hidup Angel yang semula tenang berubah menjadi menakutkan setelah melihat sesuatu yang tak seharusnya. Setiap malam, tidur nyenyaknya harus terganggu oleh mimpi-mimpi aneh yang membuatnya terbangun tengah malam. Anehnya, mimpi itu hilang setelah ia bertemu William, generasi ke-3 dari Xun Yi Group tempat ia bersekolah dan bekerja. Sebagai tokoh utama di mimpinya, apakah ini ada kaitannya dengan berakhirnya mimpi yang ia alami selama ini? Meskipun William tidak melakukan apapun terhadapnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Li Qiqiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7

Demi Tuhan, Darren ingin sekali menghajar sepupunya namun ia tahan sejak pagi. Ia mengira laki-laki itu masih berada di Bali, begitu melihat Dimas berada di depan rumah Angel emosi Darren sudah tak terbendung lagi.

Darren mengambil langkah besar untuk segera menuju pintu dan memasukkan pin rumah. Dimas yang melihat itu tidak bisa berbuat apapun. Ia hanya bisa berdoa semoga tidak ada pertengkaran.

Sayangnya harapannya tidak terkabul. Karena begitu Darren memasuki rumah, netranya menyala begitu melihat William duduk santai menyantap makanannya.

"Bajingan kau!" teriak Darren, ia berjalan cepat, tangannya mengepal siap dihantamkan pada wajah tampan William.

Bugh!

Beberapa tinju dilayangkan Darren hingga membuat William tersungkur yang anehnya tidak mendapat balasan dari William.

Angel masih menganga tak percaya akan apa yang ia lihat. Darren yang tiba-tiba saja datang lalu memukul William.

"Kau pantas menerimanya, Will," sembur Darren dengan nafas terengah-engah. Ia menghentikan pukulannya meskipun amarahnya belum tersalurkan sepenuhnya. Tapi ia mengingat ikatan keluarga di antara mereka.

"Kau mengalami peningkatan dari terakhir kali, Darren," William meringis, tangannya menyentuh sudut bibirnya yang berdarah akibat pukulan Darren. "Seharusnya kau tidak memukul wajah tampanku. Kau tahu, wajahku adalah aset bagiku."

"Persetan dengan asetmu itu, Will. Kau telah menyakiti Angel. Kau hampir membuatnya mengakhiri hidupnya!"

William bangkit, ia mendudukan dirinya kembali di kursinya. Tangannya mencoba menggapai tangan Angel namun gagal.

"Sekali lagi, maafkan aku."

"Darren, terima kasih sudah membelaku dan melampiaskan amarahku. Tapi, bisakah tinggalkan aku sendiri? Aku butuh ketenangan. Aku janji tidak akan melakukan sesuatu yang membahayakan diriku," mohon Angel mencoba meyakinkan Darren.

"Kau yakin?" Angel mengangguk mantap.

William mengamati interaksi antara Darren dan Angel. Ia memperhatikan sorot mata Angel pada sepupunya yang menyebalkan dan sebaliknya. Ia tersenyum getir.

Poor my Angel...

"Aku harap kau bisa menetapi janjimu pada Darren, Angel. Meskipun aku masih mengkhawatirkanmu, aku akan meminta Dimas untuk berjaga di depan. Jadi, jika kau butuh sesuatu katakan saja pada Dimas. Besok aku akan datang," tekannya pada Angel lalu bangkit dan meninggalkan mereka berdua.

***

Meskipun sangat dongkol, William memutuskan pulang bersama Darren sesuai dengan keinginan Angel. Setelah ia mengatakan beberapa hal pada Dimas dan meninggalkan mobilnya agar memudahkan Angel jika ingin keluar.

Memasuki kediaman keluarga Wijaya, mereka disambut dengan beberapa pohon hias yang mulai meninggi dan air mancur yang dikelilingi berbagai macam bunga yang beberapa tengah mekar. Nenek mereka sangat menyukai berkebun, dialah yang menanam semua tanaman di halaman.

"Kakek menunggumu di ruang kerjanya," ucap Darren setelah sepanjang perjalanan hanya diisi kebisuan. William mengangguk sebelum keluar dari mobil.

William memasuki rumah yang cukup besar, pintu sengaja dibuka untuk menyambutnya. Tak ada siapapun di ruang tamu, padahal biasanya bibi atau neneknya akan menyambutnya jika ia berkunjung. Namun, sepertinya kali ini tidak karena ia baru saja membuat masalah lagi.

"William," panggil seseorang dengan suara rendah.

Itu Tante Amanda, ibu Darren. William mendekat dan menampilakn senyum manisnya. Tante Amanda menyambutnya dengan pelukan hangat.

"Ponakan tante yang paling ganteng, apa yang terjadi dengan wajahmu?" tanya Amanda panik. Tangannya mengelus bagian wajah William yang lebam. "Apakah sakit?"

"Aw..." William meringis. "Darren yang memukuliku. Dia mencoba membunuhku tante," adunya dengan ekspresi yang dibuat memelas.

Amanda melihat Darren yang berjalan dengan muka suntuknya. "Apakah itu benar Darren?" Amanda menatap tajam Darren yang hanya ditanggapi dengan gedikan bahu.

"Entah siapa sebenarnya di sini yang anaknya," ucap Darren sambil berlalu menuju kamarnya yang berada di lantai 2. Amanda hanya menggelengkan kepalanya tak habis pikir. Darren memang tak ada bedanya dengan kakaknya.

"Ayah berada di ruang kerjanya. Ia sudah menunggu sedari tadi. Tante menyarankan untuk kau jangan terlalu membela dirimu ataupun berdebat dengan ayah. Kesehatannya sedang menurun akhir-akhir ini. Bagaimanapun kau kali ini salah, William." Amanda menasehatinya, William menganguk mengerti.

***

William menghembuskan nafasnya kasar, ia mempersiapkan diri akan mendapat amukan dari kakeknya tercinta. Ia mengetuk pintu dan membukanya perlahan.

"Kakek," panggilnya, kepalanya menyembul dari balik pintu disertai cengiran. "Aku tahu kakek merindukanku." Ia berjalan pelan memasuki ruangan yang cukup luas dan dipenuhi dengan rak-rak buku serta beberapa lukisan klasik di dinding.

Kakeknya yang sedang membaca menutup bukunya. Ia menatap tajam William. "Apa kau tahu kesalahanmu, William?"

"Bukankah aku sudah sering muncul di berita-berita gosip? Mengapa kali ini kakek masih saja heran?" bodohnya William, ia malah menjawab pertanyaan dengan pertanyaan yang membuat kakeknya kian marah.

William mendekati kakeknya, ia berjongkok dan menopangkan dagunya pada paha kakek. "Aku tahu aku salah kakek, Angel belum genap 18 tahun dan aku malah membuatnya terjebak pada situasi ini. Tapi sungguh kek, kali ini aku serius dan tidak akan bermain-main lagi. Aku akan menunggunya hingga ia berada di usia legalnya untuk menikah." William berusaha meyakinkan kakeknya.

Memang benar jika William sering muncul di berita gosip kadang bersama aktris yang tengah naik daun, model, influencer, atau penyanyi. Namun itu hanya sebatas pergi untuk menemaninya di acara-acara formal bukan liburan yang bersifat pribadi. Hubungannya dengan Sandra pun sebatas saling memanfaatkan.

"Jika zaman dulu usia 17 tahun dianggap sudah dewasa sekarang berbeda William. Kau bisa dilaporkan ke polisi, ya meskipun tak susah untuk mengeluarkanmu. Namun karena tindakanmu ini sudah memengaruhi reputasi keluarga kita. Kau ingat keluarga kita dijadikan sebagai contoh keluarga yang harmonis dan sehat?" papar sang kakek memberi pengertian. "Sebenarnya beberapa gosip tidak masalah jika tidak berpengaruh pada perusahaan. Namun reputasi keluarga berpengaruh pada saham perusahaan. Dan skandal mu ini sudah mempengaruhi perusahaan, William. Dan itu adalah kesalahanmu."

William mengangguk. "Bagaimana tanggapan paman? Apakah dia marah?"

"Kau berterima kasihlah pada paman-pamanmu. Terutama Daniel yang membantu membereskan masalahmu."

"Mereka tidak melimpahkan semuanya pada Angel, kan? Sungguh, ini bukan salah Angel."

"Apa kau tidak mencari tahu? Apa yang kau lakukan sedari tadi?"

"Aku menemani Angel, kek."

Kakeknya hanya mendengus.

***

Harus William akui, menjadi kesayangan di keluarga Wijaya memang menguntungkan. Apapun masalahnya, selalu ada yang menyelesaikannya. Namun, ini adalah kesalahan paling fatal yang pernah ia lakukan. Dan Paman Daniel yang membantunya menyelesaikan.

Ia langsung menelpon pamannya begitu keluar dari ruangan kakeknya. Ia mengucapkan terima kasih karena telah membantunya. Paman Daniel juga mengatakan bahwa timnya juga mulai menelusuri dari mana foto-foto itu berasal. Ia akan memberi pelajaran pada pelakunya karena sudah mengganggu ponakan kesayangannya. William menanggapi dengan tertawa.

"Kau akan tidur di sini malam ini?" tanya neneknya. Setelah menelpon Paman Daniel, ia memutuskan untuk menemui neneknya. Ia sangat merindukan neneknya yang cantik.

"Aku akan menginap, nek. Darren harus bertanggung jawab karena telah membuat wajahku babak belur."

"Itu salahmu karena telah mengganggu temannya. Bukankah itu artinya Darren adalah teman yang baik?" bela neneknya pada Darren.

"Jadi kau membelanya nek? Apa kau tidak menyayangiku lagi, nek?"

Neneknya tertawa. "Tentu saja aku menyayangimu, Will. Namun kesalahan adalah kesalahan. Dan kau harus menebusnya."

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!