NovelToon NovelToon
Sistem: Suplai Tak Terbatas

Sistem: Suplai Tak Terbatas

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Hari Kiamat / Sistem
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Wan Chen tidak ingin menyelamatkan dunia.

Ia hanya ingin kaya.

Untungnya, saat berada di ambang kematian, ia memperoleh Sistem dengan kemampuan Duplikasi dan Penyimpanan Dimensional.

Dan di dunia yang kekurangan segalanya, tidak ada kemampuan yang lebih menakutkan dari itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 - Uji Coba Penyimpanan Dimensional

Udara di depan wajahnya terpelintir kacau. Cahaya biru pucat merobek paksa hukum fisika di sudut jalan ini, tepat saat barisan gigi membusuk itu meluncur turun mengincar batang leher.

Wan Chen tidak membuang sisa napasnya untuk berteriak.

Ia menempelkan sebelah tangannya pada bongkahan puing beton yang sejak tadi menopang punggungnya. Benda mati itu terasa kasar. Sangat dingin di balik sarung tangannya yang berlumuran darah.

'Tarik,' perintahnya datar di dalam kepala.

Tidak ada proses yang rumit. Tidak ada kilatan cahaya dramatis layaknya pahlawan turun dari langit. Puing seberat puluhan kilogram itu lenyap begitu saja dari eksistensi dunia nyata. Tertelan utuh ke dalam kantong dimensi tanpa dasar di balik antarmuka sistem.

Hilangnya penopang itu menciptakan ruang kosong seketika. Gravitasi bumi mengambil alih otoritasnya dengan brutal.

Tubuh Wan Chen merosot jatuh ke belakang. Posisinya ambruk terjerembap membentur aspal yang hancur.

Tepat di atasnya, rahang anjing mutasi itu menutup dengan kekuatan penuh. Suara giginya yang beradu berderak nyaring. Memecah keheningan palsu sesaat.

Gigitan itu murni merobek udara kosong.

Makhluk buas itu kehilangan titik keseimbangan mutlaknya. Momentum serangannya sendiri menyeret tubuh gempalnya terhuyung ke depan. Kaki-kaki mutannya menggaruk aspal kosong, panik mencari pijakan pada target yang tiba-tiba anjlok ke bawah.

Ia tersungkur melewati tubuh Wan Chen. Anjing itu menggeram kebingungan. Rahangnya dipenuhi busa ludah yang meleset dari sasaran. Otak hewannya yang cacat tidak mampu memproses anomali hilangnya materi secara instan.

Di bawah sana, mata Wan Chen masih setengah mati menatap langit-langit mendung. Tidak ada euforia selamat dari maut. Wajahnya sedatar aspal di bawahnya.

Otaknya yang dididik oleh kebrutalan jalanan hanya mencatat satu hal.

Sistem ini merespons murni berdasar komando saraf. Tidak ada birokrasi pergerakan.

Sambil menahan rasa mual akibat pergeseran ruang yang meremas isi perutnya, tangannya meraba permukaan jalan. Jari-jarinya menyentuh gagang pisau tempur patah yang tergeletak pasrah di dekat pinggangnya. Benda rongsokan peninggalan mantan komandannya.

'Gudang.'

Logam berkarat itu hilang. Menyublim tanpa sisa meninggalkan rasa dingin di telapak tangannya.

Sebuah ikon kecil bergambar pisau usang mendadak muncul. Berkedip redup di sudut pandangan retinanya. Melayang tenang di dalam antarmuka monokrom yang terus melaporkan status pendarahannya.

'Kecepatan pikiran,' gumam Wan Chen di kepalanya. Sisa napasnya berembus pelan dari celah gigi yang retak. 'Tidak ada jeda sama sekali. Barang masuk begitu diriku memberi lampu hijau.'

Ia tidak berniat bangun. Tulang rusuknya mungkin sudah ada yang patah jadi serpihan serbuk. Mencoba berdiri sekarang hanya akan mempercepat pendarahan arteri di perutnya. Tubuhnya sudah mencapai batas toleransi rasa sakit yang masuk akal.

Di depannya, monster radiasi itu berhasil mengerem laju jatuhnya. Kuku-kuku kotornya mencakar aspal hingga berderit panjang.

Kepala cacat itu menoleh patah-patah ke belakang. Moncongnya berkerut liar. Air liur kental menetes jatuh, membakar kerikil jalanan dengan bunyi mendesis yang menjijikkan.

Anjing itu sadar mangsanya belum mati. Hanya berpindah posisi sedikit lebih rendah.

Kemarahan murni terpancar dari matanya yang tertutup selaput katarak kuning. Makhluk itu memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat. Mengunci pandangan kembali pada sosok manusia yang terkapar tak berdaya.

"Silakan," bisik Wan Chen serak. Suaranya nyaris terdengar seperti gesekan kertas pasir. "Coba lagi."

Ia tahu pertarungan fisik adalah lelucon konyol. Menendang atau memukul tubuh mutan itu sama saja dengan meninju pelat baja berduri dengan tangan telanjang. Ototnya sudah menolak bekerja sama.

Maka, Wan Chen menawarkan sebuah kompromi.

Ia menggeser perlahan lengan kirinya menjauh dari batang tubuh. Dibiarkan terentang pasrah di atas aspal kotor. Sama sekali tidak ditarik untuk melindungi area vital. Murni seonggok daging segar yang disajikan di atas piring terbuka.

Itu umpan. Umpan yang sangat murahan.

Tapi otak binatang buas yang didorong oleh rasa lapar tidak didesain untuk mencurigai trik murahan. Insting predator hanya melihat daging yang paling mudah dikoyak lebih dulu.

Raungan kasar kembali meledak merobek udara. Anjing itu menerjang balik. Kali ini tanpa keraguan sedikitpun.

Otot-otot kaki belakangnya menolak bumi dengan daya ledak tinggi. Tubuh anjing itu melontar bagai peluru kendali daging busuk. Mulutnya menganga luar biasa lebar. Jauh melampaui kapasitas engsel rahang normal. Target utamanya kini beralih pasti pada lengan kiri yang tidak terlindungi.

Jarak mereka terkikis dalam hitungan detik yang terasa melambat.

Tiga meter. Angin berembus kasar membawa debu.

Dua meter. Bau nanah infeksi kembali menyengat rongga hidungnya.

Satu meter.

Hawa panas dari mulut monster itu terasa membakar pori-pori kulit lengannya yang terbuka. Taring-taring kuning itu nyaris menancap di permukaan jaketnya.

Wan Chen sama sekali tidak berkedip. Garis wajahnya kaku bagai manekin kayu. Ia tidak menarik tangannya yang dijadikan umpan.

Ia hanya mengangkat pelan tangan kanannya yang sejak tadi kosong melompong.

Gerakannya tidak provokatif. Tidak ada ayunan ancaman. Lengan kanannya sekadar naik ke udara secara pasif, mengarah lurus menyongsong rahang bawah monster yang terbuka sangat lebar itu. Posisinya begitu pasrah, seolah ia ingin mengelus langit-langit mulut binatang itu dengan telapak tangan kosong.

'Keluarkan.'

Perintah internal itu dieksekusi oleh sistem tanpa ruang negosiasi.

Tepat satu jengkal di depan wajah Wan Chen, ruang hampa kembali meludah. Antarmuka di layar matanya berkedip satu kali. Pendar biru tipis menyayat udara.

Pisau tempur patah itu termaterialisasi seketika di realita. Tidak butuh waktu untuk ditarik dari sarung. Tidak butuh waktu untuk diayunkan dari bawah. Logam karatan itu muncul dalam posisi sudah tergenggam erat di tangan kanan Wan Chen, persis di jalur lintasan mulut anjing yang sedang melesat maju.

Bilah kasarnya mengarah vertikal. Tegak lurus menantang maut.

Semuanya terjadi sebelum kelopak mata sempat menutup rapat.

Wan Chen sama sekali tidak menusuk. Ia tidak membuang tenaga dorong sebiji pun. Lengannya hanya berfungsi sebagai pilar statis yang menahan pangkal gagang pisau.

Kecepatan terjangan monster itu sendiri yang merangkap sebagai algojonya. Anjing mutasi itu secara sukarela menelan bilah baja berkarat tersebut dengan kekuatan penuh dari momentum lompatannya sendiri.

Ujung pisau patah itu menembus keras langit-langit mulut makhluk itu. Terus merobek paksa naik menembus jaringan lunak, menghancurkan tulang rawan di rongga hidung bagian dalam, dan berhenti telak saat menabrak keras tempurung otak atasnya.

Darah hitam menyembur deras dari hidung dan celah mulut yang terkoyak. Menyiram pelat dada Wan Chen bagai guyuran oli kotor yang masih hangat.

Suara tulang kepala retak beradu dengan daging yang robek menggema bersamaan. Laju brutal tubuh monster itu berhenti seketika. Tersangkut mati pada sebilah rongsokan besi di tangan kanannya.

1
Yui
Karya ini sangat luar biasa, setelah baca novel ini aku jadi sedikit mengingat kenanganku yang telah lama menghilang, terimakasih Author 🔥🔥🔥🔥🔥
Ironside: /Toasted/
total 1 replies
Ironside
Ada error /Sweat/, biarlah, nanti di fix Editor
Gege
dan Wang Chen pun jualan obat...🤣😄
HiaTus
/Rose/
Wakana
wow sangat menarik & unik 👀
Ironside: Terima kasih telah membaca, semoga betah /Smile/
total 1 replies
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
‎ ‎ ‎Basah Mas... Sampe Banjir
ada insectnya gak kak?
‎ ‎ ‎Basah Mas... Sampe Banjir: yah, kecewa kak.
total 2 replies
The Ironheart
darkfantasy ini kak☺️
Ironside: /Slight/
total 1 replies
Ironside
Pliss... Like, Subscribe dan Upvote jika kalian menyukai karya ini /Determined/.
Ironside: Mr. Willheim /Scare/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!