NovelToon NovelToon
Perjodohan Terpaksa

Perjodohan Terpaksa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rara M.

Putra Setiawan, perwira tentara dingin yang menyimpan dendam, menerima perjodohan dengan Citra Lestari, dokter lembut putri musuhnya. Pernikahan ini hanyalah senjata untuk menghancurkan keluarga Citra dari dalam. Namun, saat ia berniat menyakiti, ketulusan wanita itu perlahan meruntuhkan tembok kebenciannya. Di antara balas dendam dan cinta yang tumbuh diam-diam, Putra harus memilih menuntaskan amarah, atau mempertahankan hati yang mulai ia miliki?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara M., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengkhianatan di Balik Bayang-Bayang

Guncangan akibat ledakan baru saja mereda, namun ketegangan di dalam ruangan tambang tua itu justru meledak berkali‑kali lipat. Debu batu dan pasir halus masih beterbangan memenuhi udara, menyelimuti pandangan bagaikan kabut tebal, namun hal itu takkan pernah mampu menutupi kenyataan pahit yang baru saja terungkap di depan mata Putra dan Citra. Dari dua belas orang pengawal yang sedari tadi berdiri setia di sisi Kolonel Bayu, tepat delapan di antaranya kini telah berbalik arah, mengarahkan moncong senapan tepat ke dada orang yang selama ini mereka sebut sebagai pemimpin. Sisa empat orang lainnya tetap berdiri teguh, membentuk barisan pertahanan rapat di depan Kolonel Bayu, meski jumlah mereka jauh kalah banyak.

“Pengkhianat! Kalian berani melawan perintah atasan?!” teriak Kolonel Bayu dengan suara menggelegar, memecah kesunyian yang mencekam. Meskipun usianya tak lagi muda, aura kegagahan dan ketegasannya sebagai seorang prajurit sejati tak pernah pudar sedikit pun. Di balik tiang penyangga batu yang kokoh, ia tetap berdiri tegak, melindungi Putra, Citra, dan Andi di belakang tubuhnya seolah menjadi perisai tak tergoyahkan.

Salah satu di antara pengawal yang berkhianat melangkah maju, melepaskan topi helmnya dan menyeringai sinis. Wajahnya yang tadinya terlihat biasa saja kini berubah tampak penuh kebencian dan keserakahan yang terpendam lama. Dialah Letnan Arga, orang yang selama beberapa tahun terakhir selalu berada di sisi Kolonel Bayu, dipercaya menangani urusan keamanan paling rahasia, bahkan seringkali makan dan bercanda bersama keluarga kecil Putra.

“Maafkan kami, Kolonel... atau sebaiknya kupanggil Tuan Bayangan? Permainanmu sudah berakhir lama,” ucap Arga dengan nada meremehkan. “Kami sudah bosan menjadi boneka dalam rencana rumitmu. Kami tahu apa yang tersimpan di sini, kami tahu seberapa berharga darah yang mengalir di tubuh bocah kecil itu. Kami takkan rela membiarkan semua kekayaan dan kekuasaan itu hanya jatuh ke tanganmu dan keturunan Agus.”

Putra menggenggam tangan Citra semakin erat, jari‑jarinya saling mengunci seolah takkan pernah mau terlepas lagi. Di dadanya, perasaan campur aduk bergejolak hebat masih ada sisa keraguan terhadap Kolonel Bayu, namun jauh di lubuk hatinya, ia sadar bahwa lelaki tua itulah satu‑satunya harapan mereka saat ini. Ia menoleh sekilas ke arah istrinya, melihat bagaimana Citra memeluk erat Andi di dadanya, jari‑jarinya yang lentik namun tegang telah bersiap menyelipkan pisau bedah tajam dari balik pinggangnya, siap berperang meski hanya sebagai wanita dan dokter. Mata Citra menatap tajam ke arah Letnan Arga, penuh amarah sekaligus kecewa yang mendalam.

“Jadi kaulah dalang di balik segala gangguan dan kebocoran informasi selama ini?” gumam Putra, suaranya rendah namun sarat amarah yang tertahan. “Kaulah yang membantu Aditya dan Ratih, kaulah yang menyusupkan ancaman ke dalam rumahku, kaulah yang membuat kami merasa tak aman di mana pun kami berpijak.”

“Benar sekali, Tuan Muda yang malang,” sahut Arga makin sombong. “Semua rencana licik yang kau kira dibuat oleh orang luar, justru berasal dari jantung pertahananmu sendiri. Kau dan ayahmu memang bodoh, terlalu percaya pada kesetiaan orang lain. Bahkan perjodohan terpaksa yang kau benci itu pun meski berniat baik menurut Kolonel tua ini akhirnya akan berujung sia‑sia, karena nyawa kalian bertiga akan berakhir di sini hari ini juga.”

Belum sempat Arga menyelesaikan ucapannya, Kolonel Bayu tiba‑tiba mengangkat tangan kanannya tinggi‑tinggi. Sebuah peluit perak kecil yang terselip di kerah bajunya ia tiup sekuat tenaga, melengkingkan suara nyaring yang menembus gema ruangan luas. Mendengar bunyi itu, wajah Arga dan pengawal pengkhianat lainnya seketika berubah pucat pasi, diliputi rasa panik yang tak tertahankan.

“Kira kalian sudah cerdas, tapi ternyata sama bodohnya dengan tuan kalian yang sesungguhnya,” ucap Kolonel Bayu dingin. “Kalian kira aku datang ke sini hanya dengan kekuatan seadanya? Sejak awal aku sudah tahu bahwa racun merayap masuk ke dalam barisanku. Peluit ini adalah sinyal bahaya tertinggi, dan pasukan elit yang setia sepenuhnya padaku, yang bahkan tak kalian ketahui keberadaannya, sudah mengepung seluruh lorong dan jalan keluar tambang ini sejak tiga jam yang lalu. Kalian yang merasa telah menjebak kami, justru kitalah yang menjerat kalian masuk ke dalam perangkap yang takkan pernah bisa kalian hindari.”

Seketika itu juga, dari lorong‑lorong gelap di atas dan samping ruangan, terdengar suara langkah kaki serempak yang bergema keras, disertai dentingan besi senjata yang saling bersentuhan. Dalam hitungan detik, puluhan sosok berpakaian seragam hitam dengan penutup wajah telah muncul dan mengelilingi seluruh ruangan, mengarahkan senapan mereka tepat ke arah delapan orang pengawal yang berkhianat itu. Posisi kekuatan pun seketika berbalik seratus delapan puluh derajat. Arga dan pengikutnya kini berdiri terpojok, napas mereka terengah‑engah karena ketakutan yang baru saja menyerang jantung mereka.

Namun, di tengah situasi yang mulai berbalik menguntungkan itu, Citra tiba‑tiba merasakan sesuatu yang tak beres. Sebagai dokter yang peka terhadap perubahan sekecil apa pun, ia merasakan detak jantung Andi yang dipeluknya berpacu jauh lebih cepat dari biasanya, dan suhu tubuh bocah itu terasa semakin dingin, padahal udara di dalam ruangan mulai terasa hangat akibat ketegangan. Ia menundukkan wajah, memeriksa wajah putranya dengan pandangan cermat, dan seketika matanya membelalak lebar. Di leher halus Andi, terselip sebuah jarum halus seukuran sehelai rambut yang nyaris tak terlihat mata telanjang, dengan cairan bening perlahan merembes masuk ke dalam aliran darahnya.

“Andi! Ya Tuhan, racun!” jerit Citra histeris, tangannya gemetar mencoba menarik jarum itu, namun terlalu takut melakukan kesalahan yang justru memperparah keadaan. “Mas Putra... dia keracunan! Ada racun yang sudah menyusup ke tubuhnya sejak tadi, mungkin saat mereka membawanya masuk!”

Mendengar jeritan itu, seluruh dunia seolah runtuh kembali di hadapan Putra. Amarah yang tadi mulai mereda seketika meledak menjadi kobaran api yang tak terpadamkan. Ia menoleh tajam ke arah Arga, matanya memancarkan kilatan pembunuh yang nyata, jauh lebih mengerikan daripada kecemasan apa pun yang pernah ia rasakan seumur hidupnya. Ia hendak menerjang maju, namun Kolonel Bayu dengan sigap menahannya, sementara matanya yang tajam segera menangkap sebuah senjata rahasia kecil yang terselip di pinggang celana Arga alat suntik otomatis jarum halus, buatan laboratorium gelap yang hanya dimiliki oleh kelompok penjahat tingkat tinggi.

“Dasar pengecut! Kalian menggunakan cara tercela seperti ini?!” bentak Kolonel Bayu, suaranya bergetar karena campuran amarah dan rasa khawatir yang luar biasa. Namun Arga justru kembali tersenyum penuh kemenangan, meski tubuhnya gemetar ketakutan dikelilingi puluhan senjata.

“Terlambat semuanya,” ucap Arga dengan suara parau namun tetap bangga. “Racun ini bernama ‘Embun Kematian’. Ia bekerja perlahan namun pasti, merusak organ tubuh sedikit demi sedikit. Tanpa penawar khusus yang hanya dimiliki oleh tuanku, bocah itu akan meninggal perlahan dalam waktu tujuh puluh dua jam ke depan. Kalian boleh membunuhku sekarang, boleh menangkap kami semua, tapi nyawa Andi takkan bisa diselamatkan lagi kecuali kalian bersedia menuruti satu syarat terakhir...”

Putra langsung berlutut di lantai kasar, memeluk erat tubuh Andi yang mulai terlihat lemas dan kaku. Air mata yang selama ini tak pernah mau jatuh dari mata seorang prajurit tangguh, kini mengalir deras membasahi pipinya, jatuh menetes ke pipi mungil putranya. Ia menatap wajah istrinya, melihat bagaimana Citra berusaha keras menahan tangis, jari‑jarinya dengan cepat dan terampil melakukan pertolongan pertama semampunya menekan titik‑titik akupuntur, menstabilkan pernapasan, dan mengamati setiap perubahan reaksi tubuh namun di balik ketenangan profesionalnya, tergambar keputusasaan yang mendalam.

“Syarat apa? Katakan! Katakan apa saja yang kau minta, asal jangan sakiti anakku!” teriak Putra dengan suara parau, kehilangan seluruh wibawanya demi nyawa satu‑satunya darah dagingnya.

Arga terkekeh pelan, matanya berkilat penuh kemenangan meski nyawanya terancam. “Syaratnya sederhana... kalian harus ikut aku menemui pemimpin sesungguhnya dari kelompok ini. Dialah satu‑satunya orang yang memiliki penawar hidup itu. Tapi hati‑hatilah... jika kalian berani membawa satu orang pun pasukan tambahan, jika kalian berani bermain curang sedikit saja, aku sudah memprogramkan perangkat jarak jauh yang akan langsung melepaskan racun dosis mematikan ke tubuh bocah itu seketika. Pilihannya ada di tangan kalian sekarang ikut dan mungkin selamatkan nyawa Andi, atau bunuh aku dan saksikan buah hati kalian mati perlahan di depan mata kalian sendiri.”

Suasana hening seketika, hanya terdengar suara tangis tertahan Citra, napas berat Andi yang semakin melemah, dan detak jantung yang berpacu kencang dari setiap orang di ruangan itu. Kolonel Bayu terdiam seribu bahasa, wajahnya memucat, menyadari bahwa musuh kali ini telah menyiapkan jebakan yang jauh lebih cerdik dan kejam dari yang ia perkirakan sebelumnya. Putra mengangkat wajahnya, menatap tajam ke arah Arga, lalu berpaling menatap mata Citra dua jiwa yang pernah saling membenci, kini terikat erat oleh takdir pahit dan cinta yang telah tumbuh begitu kuat dan dalam tatapan itu, mereka sepakat akan mengambil risiko apa pun, sekalipun nyawa mereka sendiri harus menjadi taruhan.

Namun, sebelum mereka sempat menjawab, tiba‑tiba suara gemuruh lain yang lebih dahsyat bergema dari lorong terdalam tambang, disertai getaran tanah yang terasa jauh lebih kuat dibandingkan ledakan sebelumnya. Cahaya merah menyala‑nyala mulai terlihat dari balik kegelapan ujung lorong, dan sebuah suara berat, dalam, dan tak dikenal yang belum pernah mereka dengar sebelumnya, bergema memenuhi seluruh penjuru ruangan, seolah berbicara langsung ke dalam telinga dan hati mereka.

“Tak perlu repot‑repot mengantar mereka, Arga. Aku sudah datang sendiri menjemput keturunan yang telah lama kucari... dan penawar yang kalian butuhkan, ada di tanganku saat ini. Tapi ingat, kalian takkan pernah bisa mendapatkan keduanya tanpa menyerahkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada nyawa sekadar bocah kecil. Selamat datang... ke pertemuan terakhir yang akan menentukan segalanya.”

Putra dan Citra saling berpandangan, mata mereka melebar tak percaya. Siapa gerangan sosok yang baru muncul ini? Apakah benar ia membawa penawar yang dibutuhkan Andi, atau justru ini adalah jebakan paling mematikan yang dirancang untuk menghancurkan mereka sepenuhnya?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!