NovelToon NovelToon
Si Jenius Dari Masa Depan

Si Jenius Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah sejarah / Perperangan
Popularitas:782
Nilai: 5
Nama Author: Rizzzz......

Kira berasal dari masa depan tiba tiba terlempar ke zaman kerajaan. Yang berawal dari tidak punya apa apa, sampai memiliki semuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizzzz......, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19

Lestari bertanya dengan bingung,

“Gimana kalau kamu jual gula putih dengan status penduduk desa?

Kira mendengus.

"Mungkin mereka bakal langsung menangkap ku, lalu menginterogasi ku soal cara memurnikan gula putih!"

Semua orang mengira bahwa orang yang melewati dimensi ke zaman kuno bisa menguasai dunia karena mempunyai keterampilan. Nyatanya, orang berkemampuan tinggi yang tidak mengerti kondisi pada zaman itu hanya akan dikendalikan orang. Mereka akan dianggap sebagai pencetak uang yang bisa dimanfaatkan dengan mudah.

"Nggak mungkin deh?" Lestari berkata dengan ragu,

"Keluarga Sutedjo terkenal baik dan dermawan di ibu kota provinsi!"

Kira menggeleng dan berkata dengan serius,

"Lestari, orang yang benar-benar baik hati nggak bakal sukses, Kamu nggak ngerti seberapa besar keuntungan yang bisa didapatkan dari pemurnian gula mentah menjadi gula putih. Kalau keluarga Sutedjo mengetahui teknik ini, mereka pasti bisa menjadi salah satu keluarga terkaya di dunia. Mana mungkin Hendra melewatkan kesempatan untuk dapat keuntungan sebesar ini!"

Ini adalah pertama kalinya Lestari bertemu dengan masalah seperti ini. Dia pun menjadi takut dan bertanya,

“Ja... jadi, gimana ini?"

Danu dan Tony juga ketakutan. Ini pertama kalinya mereka merasa dunia ini jauh lebih rumit dari pada yang mereka bayangkan.

Kira berpesan,

"Kalau sudah pulang nanti, cepat habiskan semua gula putih itu. Jangan biarkan orang lain melihatnya. Akhir-akhir ini, kamu juga jangan keluar rumah dulu. Kalau mau beli sayur, suruh Paman Suryadi saja. Nanti aku pergi ke Kota Pusat Pemerintahan Jagabu saja untuk jual gula putih nya,"

Lestari langsung terkejut.

"Ini sudah cukup bahaya, tapi kamu masih mau pergi ke kota pusat pemerintahan?"

Kira terkekeh, lalu berkata,

“Di tempat yang makin besar, uang makin mudah di dapatkan. Di kota pusat pemerintahan, 10 kilo gula putih ini paling nggak bisa dijual satu juta rupiah!"

Lestari langsung tergagap,

"Sa... satu juta rupiah?"

"Danu, hentikan kereta nya. Beri pelajaran pada pegawai toko itu!"

Kira lanjut berkata,

“Suruh dia sampaikan pada Pak Hendra. Kalau mau berbisnis dengan jujur, kelak kita pasti bisa kerja sana lagi. Tapi kalau dia punya niat buruk, Jangan harap aku bekerja sama dengan nya lagi."

Tidak lama kemudian, pegawai itu kembali ke Toko Gula Keluarga Sutedjo. Dia menunjukkan pergelangan tangannya yang bengkak dan menyampaikan pesan Kira.

Setelah mendengar hal itu, ekspresi Hendra langsung menjadi sangat suram.

Satu jam kemudian, setelah berbelanja dan mengembalikan kereta kuda, ketujuh orang itu berkumpul di depan gerbang kota. Melihat barang bawaan Kira yang begitu banyak, Suryadi pun panik

"Lestari, kenapa kamu nggak nasehatin Kira untuk jangan belanja begitu banyak? Utangnya masih belum lunas, Iho!"

Lestari langsung menunduk dengan malu, Dia sudah berusaha menasihati Kira, tetapi Kira malah langsung membelikan nya gelang, anting dan jepit rambut tanpa melakukan tawar-menawar. Kira juga membelikan nya dua set baju, sepatu dan bedak pipi merah yang sudah dia inginkan sejak lama. Bukan hanya begitu, Kira tentu saja juga berbelanja untuk orang lainnya.

Kira memberikan sebuah tas kain kepada Suryadi.

“Paman, jangan salahkan Lestari. Sebagai kakak sepupunya, sudah seharusnya aku membelikan nya sedikit hadiah. Ini pakaian dan sepatu untuk Paman. Nanti coba pakai, cocok atau nggak!"

"Hah? Ada hadiah untuk ku juga? Ngapain kamu habisin uang beli semua ini untuk ku? Aku nggak kekurangan apa-apa kok"

Suryadi menerima tas kain itu sambil tersenyum senang

“Berapa banyak yang kamu habiskan? Apa masih cukup bayar utang? Kalau nggak cukup, Paman pinjamkan uangnya!"

"Sudah cukup kok, Paman. Waktunya sudah larut, kami pulang dulu ya!"

Kira melambaikan tangan nya, lalu mengingati Lestari lagi,

"Jangan lupa soal pesanku!"

"Iya!" jawab Lestari dengan kesal.

Sepanjang perjalanan mereka tadi, Kira sudah mengingatkan nya berkali-kali untuk tidak membocorkan cara pembuatan gula putih, Kira juga menyuruhnya untuk menyimpan gula itu dengan baik dan menghabiskan nya secepat mungkin. Setelah berpamitan, Kira dan yang lainnya pun pulang.

Suryadi menatap kepergian mereka, lalu bertanya pada Lestari setelah mereka sudah jauh,

"Berapa hasil penjualan gula putih Kira? Kenapa dia bisa membeli begitu banyak barang?"

Lestari menjawab,

“Enam...."

Sebelum Lestari sempat menyelesaikan kata-katanya, Suryadi sudah memotong,

“Kalau gitu, yang tersisa setelah bayar utang juga cuman 20 ribu rupiah. Kenapa kamu nggak nasihati dia supaya nggak sembarangan belanja?"

Lestari melihat ke sekeliling, lalu berbisik,

"Ayah, bukan 60 ribu rupiah, tapi 600 ribu rupiah!!"

"A... apa? E... enam ratus ribu? Astaga! Mana mungkin!"

ujar Suryadi dengan terbata-bata.

Lestari lanjut berkata,

“Ayah, aku kasih tahu deh. Kak Kira jago sandiwara, Iho ..."

Setelah mendengar cerita Lestari, Suryadi pun mengerutkan keningnya,

"Kenapa pakaian dan kain ini berat banget?

Begitu melihat ke dalam, ternyata ada sebatang emas dan dua batang perak yang terselip di dalam tas nya. Lestari pun terkejut. Tadi, mereka semua belanja bersama.

Namun, Lestari tidak tahu kapan Kira memasukkan uang itu ke dalam tas kain ini. Suryadi juga terkejut, lalu berkata dengan berlinang air mata,

"Kak, Kira sudah besar, Dia sudah bisa menyayangi orang lain. Sayang sekali, kamu sudah meninggal. Kalau nggak, kamu pasti bisa hidup bahagia!,"

Dalam perjalanan pulang, Basan menarik gerobak di depan, sedangkan Danu mengawal di belakang. Doddy đan Tony sedang berjalan sambil mengobrol, sementara Kira tidur di atas gerobak. Dia sudah tidak tahan begadang dari semalam. Doddy berkata dengan semangat,

“Kak Tony, coba cerita sekali lagi gimana Kak Kira menjual gulanya."

"Doddy, aku sudah cerita berkali-kali! Tenggorokan ku sampai mau sakit!"

Tony pun menunduk dan bermain dengan bajunya.

"Ya sudah kalau nggak mau cerita lagi. Tapi kelak, panggil aku Zabran! Itu nama yang diberi Kak Kira untuk ku!" ujar Doddy dengan serius.

Tony mengangkat lengan bajunya sambil berkata,

"Zabran, kenapa kamu nggak ganti baju baru? Baju ini nyaman banget, Lho!"

Setelah meninggalkan Toko Gula Keluarga Sutedjo, Kira pun berbelanja banyak. Semua orang mendapatkan dua set pakaian dan sepatu baru. Doddy melirik ke arah ayahnya yang sedang menarik gerobak.

Baju baru harus disimpan sampai Tahun Baru, mana mungkin Doddy berani langsung memakainya seperti Tony. Jika tidak, ayahnya pasti bakal langsung mencambuknya hingga harus diseret pulang dengan gerobak.

"Hoam!"

Kira yang tidur di atas gerobak sudah bangun.

Saat mengamati sekeliling yang tidak ada orang, dia pun membuka kotak uangnya.

"Paman Basan, berhenti dulu, Danu, Doddy, Tony, kemari, kalian masing-masing dapat 50 ribu rupiah. Paman Basan dapat 60 ribu rupiah, soalnya kerjanya paling capek. Kalian nggak keberatan, kan?

"Nggak, nggak" jawab Tony dengan terbata-bata,

Mereka tahu Kira pasti akan membagikan uang kepada mereka, Namun, mereka mengira Kira paling banyak juga hanya akan memberikan sepuluh ribu rupiah untuk mereka.

Alhasil...

1
Aisyah Suyuti
good
I Am Riza
kerajaan Nayara itu kerajaan yang berdiri sendiri.
Ahmadi 241215
kerajaanya itu masih wilayah nusantara gak gak sih bos
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!