NovelToon NovelToon
Terpesona Oleh Bu Rt

Terpesona Oleh Bu Rt

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Single Mom / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mooniecaa_moon

Menjadi janda muda di usia 27 tahun sekaligus Bu RT membuat Jasmine kenyang digosipkan miring oleh warga kompleks, namun ia tidak pernah menyangka bahwa tantangan terbesarnya bukan berasal dari bibir nyinyir ibu-ibu PKK, melainkan dari Aldi—berondong kuliahan nakal sekaligus Ketua Karang Taruna baru yang nekat melempar pesona demi bisa masuk ke dalam hidupnya. Di tengah benturan masa lalu Jasmine yang kelam sebagai single mom dan penolakan keras dari orang tua Aldi, sebuah kepasrahan di malam yang sepi justru menjebak keduanya dalam ketegangan yang tak semestinya terjadi, menyisakan satu pertanyaan besar: mampukah Aldi mengubah obsesi liarnya menjadi sebuah pernikahan nyata, ataukah hubungan terlarang ini justru akan hancur menjadi skandal terbesar di RT 04?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: SARAPAN BARENG DI TERAS

Langkah kaki Sendy dan Kenan mendadak melambat begitu mereka memasuki pagar halaman rumah Aldi. Penciuman mereka yang setajam srigala langsung menangkap aroma gurih mentega dan bawang goreng yang menguar kuat dari arah teras samping. Benar saja, alih-alih ditata di meja makan dalam rumah yang pengap, Bu Baren rupanya sudah memindahkan baskom nasi goreng kampung berukuran jumbo itu ke atas meja kayu panjang yang terletak di teras luar, pas di bawah rindangnya pohon mangga.

Di sana, Mikha sudah berdiri tegap dengan kedua tangan bersedekap di dada. Di atas meja, ia baru saja selesai menata piring-piring, sendok, dan tiga gelas besar es teh manis yang es batunya masih gemerincing saling berbenturan. Begitu melihat rombongan Sendy, Kenan, dan Aldi yang berjalan terseok-seok dengan daster-sandal selang-selingnya, senyum jail langsung terukir di wajah manis gadis SMA itu.

"Eh abang-abangku, kakak-kakakku yang paling jelek sedunia dan se-galaxy bima sakti! Silahkan duduk atau kaki kalian aku injek satu-satu?!" seru Mikha lantang dengan nada mengancam yang dibuat-buat, lengkap dengan lirikan mata mautnya.

Pak Dadang yang baru saja selesai mencantolkan kembali sangkar burung perkututnya ke dahan pohon langsung tertawa terpingkal-pingkal mendengar sambutan maut anak perempuannya. "Hahaha! Bener itu, Mikha. Injek aja kaki abangmu itu, dibilangin suruh jemput temen malah kayak orang habis dikejar tawon!"

Dari arah dalam rumah, Pak Dadang keluar menyusul sambil membawa satu toples kaleng besar berisi kerupuk putih legendaris yang biasa ada di warung-warung. "Nah, ini senjata utamanya ketinggalan. Gak afdol makan nasi goreng gak pakai kerupuk!" ujar Pak Dadang meletakkan toples itu di tengah meja dengan suara berdebum pelan.

"Nah, ayo duduk nak, anak-anakku. Gak usah dengerin si Mikha, dia mah sirik aja karena gak diajak begadang semalam," ucap Bu Baren yang tiba-tiba muncul membawa satu mangkuk kecil berisi potongan ketimun dan cabai rawit hijau sebagai pelengkap.

Kenan dan Sendy langsung mengambil posisi duduk berhadapan di kursi kayu panjang tersebut tanpa canggung sedikit pun. Rasa jengkel mereka karena dikerjai Aldi tadi seketika lenyap begitu melihat gundukan nasi goreng cokelat keemasan dengan suwiran telur dadar yang melimpah ruah di depan mata.

"Waduh, Tante... ini sih namanya pesta rakyat pagi-pagi," celetuk Sendy riang, tangannya langsung cekatan menyendok nasi goreng ke piringnya dalam porsi kuli bangunan, membuat gundukan nasi itu hampir tumpah dari pinggiran piring.

"Makan yang banyak, Sen, Nan. Mas Aldi juga itu piringnya diisi, jangan melamun aja pagi-pagi, ntar kesambet Bu RT baru tahu rasa," sindir Pak Dadang sambil mengenyakkan pantatnya di kursi sebelah Bu Baren, memicu dehaman tertahan dari Aldi yang langsung buru-buru menyendok nasi demi menyembunyikan wajahnya yang mendadak salting.

Suasana teras luar itu seketika ramai oleh suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring melamin, diselingi suara kriuk kerupuk yang dikunyah dengan brutal oleh Sendy. Mikha sendiri duduk di ujung meja sambil mengunyah ketimun, sesekali melemparkan tatapan mengejek ke arah abangnya yang makan dengan gerakan super rapi—sangat tidak biasa bagi seorang Aldi Bedul.

Di tengah kehangatan obrolan pagi yang diselingi candaan receh tentang jalannya ronda malam tadi, Bu Baren yang sejak tadi memperhatikan Kenan mendadak mengubah raut wajahnya menjadi lebih lembut dan penuh simpati. Ia meletakkan sendoknya pelan, lalu menatap lurus ke arah pemuda berambut agak ikal yang duduk di seberangnya itu.

"Nakku Kenan..." panggil Bu Baren dengan suara yang mendadak melunak, memecah keriuhan meja makan selama beberapa detik. "Gimana keadaan Mamamu di rumah? Kemoterapinya lancar?"

Kenan yang baru saja hendak menyuap sendok ketiganya mendadak menghentikan gerakannya. Ia menurunkan sendok itu kembali ke piring, lalu tersenyum tipis—senyuman tulus yang memperlihatkan kedewasaannya di balik sifat gesreknya selama di tongkrongan.

"Lancar kok, Tante. Aman aja, udah mulai membaik kondisinya dibanding bulan lalu," jawab Kenan dengan nada suara yang tenang, mencoba memberikan aura positif agar orang-orang di sekitarnya tidak ikut merasa sedih. "Tapi ya gitu... sekarang rambutnya udah mulai rontok banyak, jadi Mama mutusin buat dipotong habis sekalian kemarin. Katanya biar mirip artis Hollywood."

Mendengar penuturan Kenan, tangan Bu Baren bergerak mengusap lengan Kenan yang berada di atas meja dengan penuh rasa sayang seorang ibu. Hati wanita mana yang tidak terenyuh melihat seorang anak bujang yang harus tetap tegar mendampingi ibunya berjuang melawan penyakit keras di tengah kesibukan kuliahnya.

"Ya sudah, semoga Mama kamu cepat sembuh ya, sayang. Yang sabar, yang kuat nemenin Mamamu. Doa Bunda gak akan putus buat kesembuhan Mama Kenan," ujar Bu Baren dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, memancarkan ketulusan yang luar biasa. "Nanti pas mau pulang kerja bakti atau sebelum kumpulan di balai desa, kalian berdua Bunda bawain makanan lagi buat orang rumah ya! Jangan ditolak lho? Bunda sengaja masak sup iga sama lauk lain agak banyakan di dapur."

Kenan dan Sendy serempak menganggukkan kepala mereka dengan patuh. Ada rasa hangat yang membuncah di dada mereka masing-masing. Bagi Kenan, perhatian dari keluarga Aldi seperti ini adalah suplemen semangat terbesar yang membuatnya tidak pernah merasa sendirian dalam menghadapi badai di keluarganya.

"Iya, Tante. Makasih banyak ya, repot-repot banget selalu dipikirin lauk buat orang rumah," jawab Kenan tulus sambil mengangguk hormat.

"Makasih ya, Bunda Baren yang paling cantik! Sendy juga siap menampung dengan lapang dada dan perut yang ikhlas," timpal Sendy merusak suasana haru dengan cengiran lebarnya, sukses membuat Bu Baren kembali tertawa dan memukul pelan lengan Sendy dengan tisu.

"Kamu ini ya, Sen! Urusan makanan gratis nomor satu!" sahut Pak Dadang menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan teman anaknya itu.

Aldi yang duduk di samping Kenan hanya diam, namun tangan kirinya diam-diam menepuk pundak sahabatnya itu beberapa kali di bawah meja—sebuah isyarat tanpa kata antar-lelaki yang mengartikan: 'Gue selalu ada di belakang lu, Nan'. Kenan hanya menoleh dan membalasnya dengan anggukan kecil sebelum kembali menyantap nasi gorengnya yang sempat tertunda.

"Eh, Mas Aldi, itu di grup Karang Taruna udah ada yang bales belum pengumuman lu?" tanya Mikha memecah keheningan sambil menyeruput susu hangatnya.

Aldi meraba saku celananya, mengambil HP dan memeriksa notifikasi yang masuk. "Udah nih. Si Kenan sama Sendy doang yang belom nge-read, orangnya malah ada di sini lagi numpang makan."

"Heleh, entar jam delapan juga kita udah standby di pos ronda, tenang aja," sahut Sendy pede. "Tapi bentar, Di... gue masih kepikiran soal rapat jam dua siang nanti di balai desa. Seriusan itu digabung sama gang sebelah? Berarti anak-anak Karang Taruna RW sebelah yang terkenal rada songong itu bakal dateng juga dong?"

Aldi meletakkan HP-nya kembali ke meja setelah selesai menghabiskan suapan terakhirnya. "Ya mau gimana lagi, Sen. Ini kan perintah langsung dari Pak Lurah sama Pak RW. Konsep 17 Agustusan tahun ini emang mau dibikin gede-gedean tingkat kelurahan, makanya anggarannya digabung biar lombanya lebih meriah. Masalah anak gang sebelah songong atau enggak, yang penting kita di sana profesional aja. Jangan sampai bikin malu nama RT 04 di depan umum."

"Bener kata Mas Aldi itu," timpal Pak Dadang ikut menasihati. "Kalian itu sekarang udah gede, apalagi si Aldi sekarang jabatannya Ketua Karang Taruna. Harus bisa jaga emosi, tunjukin kalau pemuda RT 04 itu punya wibawa dan pinter kerja, bukan cuma pinter nongkrong sama ghibah di pos ronda."

"Siap, Om Dadang! Arahan dilaksanakan!" sahut Kenan kompak bersama Sendy.

Sarapan pagi di teras rumah itu akhirnya ditutup dengan gelas-gelas es teh manis yang tandas tak tersisa. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat empat puluh lima menit, menandakan bahwa waktu mereka untuk bersiap-siap menuju medan perang kerja bakti komplek sudah semakin dekat. Perbincangan hangat seputar sup iga, perjuangan ibu Kenan, hingga tantangan rapat gabungan siang nanti seolah menjadi bahan bakar sempurna bagi ketiga pemuda itu untuk memulai hari Sabtu mereka yang dipastikan akan penuh dengan peluh, tawa, dan mungkin... sedikit bumbu asmara tersembunyi di sudut kompleks RT 04.

1
Neny Tryana
👍🏻👍🏻
anggita
like iklan👍☝, buat bu rt.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!