Di mata Arum, Angkasa Wardana tampak seram badan tinggi besar, bertato ukiran Jawa di lengan kanan, dan berwibawa. Namun, di balik penampilan itu, tersimpan suara lembut dan tutur kata halus. Pertemuan tak sengaja si penulis novel dengan pengusaha sukses itu, perlahan mengungkap makna mendalam di balik setiap goresan tinta dan tato yang menghiasi lengan lelaki itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENYESALAN ANGKASA
Angkasa pulang dengan perasaan yang hancur dan penuh penyesalan. Dia tidak bisa tidur semalaman. Kata-kata Arum yang menyakitkan, raut wajah gadisnya yang kecewa dan terluka, serta isak tangisnya terus berputar berulang kali di kepala Angkasa.
Dia sadar betul, kali ini kesalahannya besar. Dia yang berjanji akan selalu ada, dia yang berjanji akan menemani Arum , tapi justru dialah yang menanamkan benih keraguan itu kembali di hati Arum.
Pagi buta sekali, sebelum matahari benar-benar meninggi, Angkasa sudah berdiri kembali di depan rumah Arum. Dia tidak peduli belum mandi atau penampilannya sedikit berantakan karena begadang, yang dia tahu hanya satu: dia harus bicara, harus meminta maaf, dan harus meyakinkan Arum bahwa pernikahan bulan depan itu harus tetap terjadi, tidak boleh diundur.
Arum baru saja selesai membantu Bu Saras di dapur. Matanya terlihat bengkak dan merah, jelas sekali ia juga menangis sepanjang malam dan tidur tidak nyenyak.
Saat dia mau matikan lampu yang ada diteras rumahnya,dia melihat sosok Angkasa berdiri di teras dengan wajah yang tampak lelah itu, langkah Arum terhenti sejenak. Dia ingin masuk lagi ke dalam, masih ada rasa kesal dan sakit hati yang tersisa, tapi kakinya seolah tertahan.
Angkasa segera berjalan mendekat saat melihat Arum muncul. Dia tidak membela diri, dia langsung menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda permohonan maaf yang tulus.
"Sayang... Maafin mas ya... Maafin mas.." ucap Angkasa lirih, suaranya terdengar berat dan penuh penyesalan.
"Mas datang pagi-pagi begini cuma mau minta maaf. Maaf karena lagi-lagi bikin kamu ragu,maaf karena bikin kamu ngerasa sendirian nyiapin semuanya,maaf karena mas terlalu sibuk sama kerjaan sampai lupa kalau ada kamu yang butuh perhatian mas lebih dari apa pun."
Angkasa menatap mata Arum lekat-lekat, tatapannya begitu dalam dan serius, seolah ingin menanamkan keyakinan itu langsung ke hati gadisnya.
"Dan satu hal yang harus kamu denger dari mas sekarang,mas nggak mau nikahannya diundur, Arum. Mas gak mau. Mas udah nunggu hari itu dari lama banget, udah nunggu buat jadi suami kamu seumur hidup . gak ada alasan apa pun, gak ada kesibukan apa pun yang bisa bikin mas mau mundur atau menunda kebahagiaan sama kamu. Kemarin kamu bilang mau diundur... itu rasanya kayak ada yang nyayat hati mas, Sayang. Mas takut banget."
Arum hanya diam menunduk, bibirnya bergetar. Mendengar suara Angkasa yang penuh penyesalan dan ketegasan itu, pertahanan dirinya mulai runtuh. Rasa marahnya perlahan hilang, digantikan oleh rasa sedih yang makin meluap.
"Mas salah, mas akui mas salah besar. Mas terlalu sibuk mikirin kerjaan, mikirin uang, mikirin masa depan... tapi mas lupa kalau masa depan itu ada di depan mata sekarang, ada di kamu. Mas janji sama kamu, mulai detik ini sampai kapan pun... mas bakal atur jadwal. Kerjaan tetap mas kerjain, tapi mas bakal luangin waktu buat kamu, ada waktu buat urus persiapan kita, ada waktu buat dengerin kamu. Mas bakal bagi waktu sebaik mungkin, mas gak bakal biarin kamu ngerasa diabaikan atau ragu lagi. Mas janji, Sayang... Demi apapun, demi nyawa saya sendiri, mas janji," ucap Angkasa dengan nada yang sangat serius, mantap, dan tak terbantahkan.
Arum masih belum menjawab sepatah kata pun. Dia hanya bisa diam, menahan tangis,dia ingin bicara, ingin bilang bahwa dia juga salah, tapi suaranya tercekat di tenggorokan. Air matanya jatuh semakin banyak, bahunya mulai berguncang menahan isak tangis.
Melihat itu, Angkasa tidak tahan lagi. Dia maju selangkah, lalu dengan lembut menarik tubuh Arum masuk ke dalam pelukannya. Dia memeluk Arum sangat erat, seolah takut jika dia melepaskan sedikit saja, Arum akan hilang atau menjauh lagi. Pelukan itu penuh dengan rasa rindu, rasa bersalah, rasa sayang, dan rasa takut kehilangan yang luar biasa.
"Maafin mas... Maaf..." bisik Angkasa berulang kali di telinga Arum, sambil mengusap punggung dan rambut kekasihnya itu dengan penuh kelembutan.
Dan di dalam pelukan hangat itu, tangisan Arum yang tadi ditahan, kini meledak makin kencang. Dia membenamkan wajahnya di dada Angkasa, membiarkan semua rasa sakit hati, rasa lelah, rasa ragu, dan rasa kangen itu keluar lewat air matanya. Ia memukul pelan dada Angkasa berkali-kali, manja namun penuh rasa sakit, seolah melampiaskan segala kekesalannya.
"Mas jahat...hiks, Mas jahat banget...hiks Kemarin aku sakit hati banget tau nggak... Aku pikir Mas udah nggak sayang... Aku pikir Mas emang belum mau nikah sama aku...hiks" isak Arum di sela-sela tangisnya, suaranya terdengar begitu menyayat hati.
"Enggak, Sayang... Enggak ada gitu. Mas sayang banget, Mas mau banget. Maafin Mas ya... Mas salah, Mas bodoh," jawab Angkasa lembut, ikut menahan rasa haru yang memuncak di dadanya. Ia membiarkan Arum menangis sepuasnya, membiarkan gadis itu melepaskan semua beban di hatinya.
Beberapa lama mereka berdiri berpelukan di teras rumah itu, diiringi suara tangis Arum yang perlahan mereda dan berubah menjadi isakan halus. Angin pagi berhembus sejuk, membawa serta ketenangan di antara keduanya.
Setelah napas Arum mulai teratur dan tangisnya mulai kering, perlahan Arum mengangkat wajahnya, menatap wajah Angkasa yang juga terlihat berkaca-kaca. Ia mengusap sisa air matanya dengan punggung tangan, lalu menggeleng pelan.
"Udah... aku maafin, Mas..." ucap Arum lirih, suaranya masih serak. Ia tersenyum tipis, senyum lega yang kembali hadir.
"Aku juga minta maaf ya... Maaf kalau aku kemarin ngomong kasar, maaf kalau aku terlalu banyak nuntut kamu, maaf kalau aku kayak anak kecil yang manja dan gak ngertiin kesibukan kamu. Aku cuma... aku cuma takut kehilangan perhatian kamu aja, Mas."
Angkasa tersenyum lega sekali, rasanya beban seberat gunung baru saja diangkat dari pundaknya. Ia mengusap pipi Arum dengan lembut, mencium kening gadisnya itu dalam-dalam.
"Gak apa-apa, Sayang. Gak apa-apa. Justru itu bener, kamu harusnya nuntut perhatian aku, kamu harusnya manja sama aku. Kamu itu calon istriku, berhak dapet segalanya dari aku. Mulai sekarang, gak ada lagi yang harus diundur ya? Bulan depan kita tetep nikah, tetep jadi suami istri, tetep sama-sama. Selesai masalahnya ya?"
Arum mengangguk mantap, matanya kembali berbinar penuh keyakinan seperti dulu. "Iya... Selesai masalahnya. Kita tetep nikah bulan depan."
Mendengar jawaban itu, Angkasa kembali menarik Arum masuk ke dalam pelukannya, kali ini lebih erat dari sebelumnya, lebih hangat, dan lebih menenangkan. Dia berjanji dalam hati, ini adalah kesalahan terakhirnya. Dia tidak akan pernah lagi membiarkan keraguan itu datang menghampiri Arum.
Di kejauhan, Bu Saras yang melihat semua itu dari balik jendela dapur hanya tersenyum haru, menghela napas lega. Pertengkaran itu ternyata bukan penghalang, tapi ujian yang justru membuat ikatan mereka makin kuat dan makin kokoh.