Lin Xiu returned to civilization confident and proud after training with a master who cannot be named on a celestial island cut off from the real world. In his quest to uphold justice, he courageously picks fights with elites in the community wreaking havoc among the rich and the powerful. Be it ghosts, spirits, or seniors of the daoist association, he is fearless. Will the little girl Xiao Tong stay a little girl as she accompanies him on his journey to track down the rest of his friends from the orphanage they once shared?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EAGLE EZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32.Takhta yang berlumuran sejarah
Pintu kayu cendana raksasa setinggi sepuluh meter itu terbuka perlahan dengan derit yang memecah kesunyian seluruh Ibukota Imperial. Lin Xiu melangkah masuk ke dalam Aula Harmoni Tertinggi, ruangan paling sakral dan paling terlarang di seluruh negeri.
Di dalam, suasananya terasa sangat kontras dengan kehancuran di luar. Aula ini begitu megah, dilapisi oleh emas murni, batu giok transparan, dan pilar-pilar penyangga yang diukir dengan naga berkaki sembilan. Aroma dupa yang digunakan bukanlah dupa biasa, melainkan *Dupa Jiwa Abadi* yang diekstraksi dari sari bunga langka yang hanya tumbuh di puncak gunung terlarang, sebuah aroma yang konon bisa membuat orang awam merasakan ketenangan surgawi.
Namun, di hidung Lin Xiu, aroma itu hanya berbau amis. Amis darah yang mengering selama belasan tahun.
Di ujung aula, di atas takhta emas yang diselimuti oleh sutra naga, duduk seorang pria tua dengan jubah kaisar yang megah namun tampak terlalu besar untuk tubuhnya yang mulai terlihat renta. Wajahnya pucat pasi, namun matanya—sepasang mata yang tertutup selaput putih tipis—memancarkan aura otoritas yang sangat dingin. Ini adalah **Kaisar Agung**. Penguasa mutlak yang mengendalikan nasib jutaan nyawa di balik tirai kekuasaan.
"Akhirnya kau datang, Lin Xiu," suara Kaisar Agung tidak lantang, namun bergema di setiap sudut aula, bergetar di dalam rongga dada siapa pun yang mendengarnya. Dia tidak membuka matanya, seolah-olah dia bisa melihat Lin Xiu melalui persepsi jiwanya yang luar biasa. "Aku sudah menunggumu sejak tiga belas tahun yang lalu, tepat di hari ketika panti asuhan itu dihancurkan."
Lin Xiu tidak menjawab. Dia berjalan dengan langkah mantap di atas lantai giok yang memantulkan bayangannya, melewati deretan patung-patung leluhur kekaisaran yang tampak seolah mengawasi gerak-geriknya. Setiap langkah Lin Xiu membuat hawa dingin yang dipancarkan Kaisar Agung semakin tajam, seolah-olah ruangan ini sedang berusaha menekan setiap sel di tubuhnya agar berlutut.
"Kau membunuh Pangeran Long. Kau menghancurkan Tiga Tetua Langit yang menjadi pilar pertahanan terakhir negeri ini," Kaisar Agung perlahan membuka matanya. Tidak ada pupil hitam di sana, yang ada hanyalah kegelapan absolut yang mampu menyerap cahaya di sekitarnya. "Apakah kau sadar bahwa dengan kematian mereka, fondasi stabilitas dunia ini telah runtuh? Kau tidak sedang menyelamatkan dunia, kau sedang membawanya ke dalam kehancuran."
Lin Xiu berhenti tepat sepuluh meter di depan takhta. Dia menatap Kaisar Agung dengan pandangan yang tidak tergoyahkan.
"Stabilitas?" Lin Xiu tertawa sinis, sebuah tawa dingin yang membuat dinding-dinding aula bergetar. "Apakah yang kau sebut stabilitas adalah mengorbankan anak-anak panti asuhan Jiangnan untuk memberi makan ritual keabadianmu? Apakah stabilitas adalah membangun kejayaan di atas tumpukan mayat mereka yang tidak bersalah? Jika duniamu dibangun di atas fondasi seperti itu, maka biarlah ia runtuh sekarang juga."
Kaisar Agung perlahan berdiri dari takhtanya. Begitu kakinya menyentuh lantai, aura hitam pekat yang dia pancarkan berubah menjadi naga kegelapan raksasa yang melilit seluruh ruangan. Ini bukan lagi kekuatan manusia; ini adalah manifestasi dari **Energi Karma Negatif** yang dikumpulkan oleh kekaisaran selama ribuan tahun.
"Ibu pantimu adalah kunci untuk membuka gerbang itu," Kaisar Agung menunjuk ke arah Lin Xiu dengan jarinya yang kurus. "Wanita itu adalah salah satu dari sedikit manusia yang memiliki *Darah Dewa Pengatur Waktu*. Dia seharusnya menyerahkan kuncinya secara sukarela kepada kekaisaran untuk mencegah bencana besar di masa depan. Tapi dia keras kepala. Dia memilih untuk mati dan mewariskan beban kutukan itu kepadamu."
"Beban kutukan?" Lin Xiu merasakan kalung giok di dalam tasnya mulai memanas, bereaksi hebat terhadap keberadaan Kaisar Agung.
"Makam Suci di bawah aula ini bukanlah tempat untuk menyimpan harta karun," Kaisar Agung mulai berjalan turun dari takhtanya, langkahnya tampak lambat namun di setiap langkahnya, lantai giok di bawah kakinya hancur berkeping-keping. "Itu adalah **Penjara Dimensi**. Di dalamnya terkunci sesuatu yang jauh lebih tua dari kekaisaran ini. Jika gerbang itu terbuka, seluruh peradaban yang kau kenal akan berakhir. Itulah alasan mengapa klan kami memerintah dengan tangan besi—untuk mengumpulkan kekuatan agar kita bisa menahan apa yang ada di bawah sana."
"Dan untuk mengumpulkan kekuatan itu, kalian mengorbankan nyawa orang-orang yang tidak bersalah?" suara Lin Xiu menjadi serendah geraman harimau. "Itu hanyalah alasan untuk menutupi keserakahanmu akan keabadian yang menjijikkan."
Lin Xiu tidak membuang waktu lagi. Dia membuka tas kain usangnya dan menarik keluar satu set jarum emas panjang—**Jarum Penusuk Dimensi**. Tanpa aba-aba, dia melesat maju menembus badai energi naga hitam yang menghadang.
*WUSH!*
Kecepatan Lin Xiu kini telah melampaui logika fisik. Dia tidak lagi berlari, dia berpindah tempat di antara celah dimensi yang dia ciptakan sendiri.
Kaisar Agung mencoba menyerang dengan gelombang energi hitamnya, namun Lin Xiu memutar tubuhnya di udara, menghindari serangan itu dengan gaya yang sangat anggun. Dia menusukkan jarum-jarum emasnya ke titik-titik lemah pada manifestasi naga kegelapan tersebut.
*CRACK!*
Naga hitam itu hancur menjadi serpihan asap setiap kali disentuh oleh jarum Lin Xiu. Kaisar Agung terbelalak, untuk pertama kalinya dalam tiga ratus tahun, dia merasakan ketakutan yang nyata. Dia memanggil sebuah pedang kuno yang terbuat dari tulang naga dari balik altar, dan mengayunkannya dengan penuh amarah.
Benturan antara pedang tulang naga dan tangan kosong Lin Xiu yang diselimuti *Zhenqi* Sembilan Matahari menciptakan ledakan besar yang menggetarkan seluruh kota di luar istana. Kaca-kaca jendela istana pecah, dan para prajurit di luar sana terlempar ke tanah akibat gelombang kejutnya.
"Lin Xiu! Kau tidak tahu apa yang kau lakukan!" Kaisar Agung meraung saat pedang tulangnya mulai retak oleh panas matahari yang keluar dari tangan Lin Xiu.
"Aku tahu persis apa yang kulakukan," jawab Lin Xiu, matanya berkilat emas terang. "Aku sedang menutup buku sejarah kotor yang kalian tulis dengan darah rakyat kecil."
Dengan satu sentakan kuat, Lin Xiu mematahkan pedang tulang naga itu, lalu menggunakan sisa energinya untuk mendorong Kaisar Agung kembali ke atas takhtanya. Kaisar Agung terhempas ke atas kursi emasnya, terikat oleh rantai cahaya emas murni yang muncul dari lantai aula.
Lin Xiu tidak membunuhnya. Dia berjalan mendekat, meraih kalung giok bulan sabit milik Xiao Mei dari dalam tasnya, dan menempelkannya ke relief naga di dinding tepat di belakang takhta Kaisar.
*KLIK.*
Sebuah mekanisme kuno yang tersembunyi di balik dinding aula terbuka dengan suara gemuruh yang hebat. Dinding di belakang takhta perlahan terbelah, memperlihatkan sebuah tangga batu tua yang mengarah jauh ke bawah tanah—ke dalam **Gerbang Makam Suci**.
Cahaya putih menyilaukan memancar dari dalam sana, sebuah energi yang begitu murni dan tua hingga membuat Lin Xiu sendiri merasakan getaran di dalam jiwanya.
"Ini dia akhirnya," bisik Lin Xiu, menatap ke dalam kegelapan tangga yang bercahaya itu, mengabaikan Kaisar Agung yang kini gemetar ketakutan di takhtanya. "Saatnya untuk mengakhiri segalanya."
Lin Xiu melangkah masuk ke dalam kegelapan gerbang, meninggalkan sejarah lama kekaisaran di belakangnya, siap menghadapi rahasia terdalam yang selama ini tersembunyi di perut bumi.