Arga, seorang pemuda yatim piatu miskin yang berjuang hidup sebagai nelayan sampan, harus menelan pil pahit saat dihina habis-habisan oleh mantan teman-teman sekolahnya di sebuah acara reuni.
Merasa putus asa dan tidak terima dengan ketidakadilan takdir, ia melampiaskan emosinya dengan memancing di tengah malam, namun kailnya justru menarik sebuah umpan logam berkarat misterius yang menyerap darahnya dan membangkitkan Sistem Mancing Mania Mantap.
Berbekal sistem aneh yang menggunakan emosi sebagai umpan dan menunjukkan lokasi pancing yang tidak masuk akal, Arga tidak lagi sekadar memancing ikan biasa, melainkan menarik harta karun dimensi lain, pusaka kuno, hingga kekuatan gaib yang akan memutarbalikkan nasibnya dari pemuda rendahan menjadi sosok kaya raya yang ditakuti semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Arga sedikit terkejut namun dia berusaha menyembunyikan ekspresinya dan tetap mempertahankan wajah datarnya.
Pria tua di depannya ini ternyata adalah bos besar dari tempat yang baru saja menghina harga dirinya.
"Saya mewakili balai lelang ini meminta maaf secara langsung atas perlakuan tidak sopan Kepala Kurator saya tadi," ucap Wijaya dengan nada sangat tulus.
Leo yang berdiri di belakang mereka langsung berkeringat dingin dan kakinya terasa lemas.
Dia tahu karirnya sudah tamat hari ini juga karena membuat bos besarnya harus turun tangan meminta maaf kepada klien.
"Gak masalah Pak Wijaya, yang penting sekarang udah terbukti kalau barang yang saya bawa bukan barang palsu," balas Arga melirik sinis ke arah Leo.
"Tentu saja barang ini jauh dari kata itu," puji Wijaya kembali menatap guci tersebut.
"Arga, daripada kamu menunggu proses lelang yang memakan waktu berbulan-bulan, bagaimana kalau saya membeli guci ini secara pribadi hari ini juga?" tawar Wijaya langsung ke inti bisnis.
Arga terdiam sejenak dan memutar otaknya dengan cepat untuk menghitung keuntungan dari tawaran ini.
Menjual langsung kepada Wijaya berarti dia akan mendapatkan uang tunai hari ini juga tanpa potongan komisi balai lelang.
Hal ini sangat dia butuhkan untuk segera merenovasi dan mengisi ruko barunya di Menteng.
Keterampilan Penilaian Barang Gaib miliknya tadi menaksir harga guci ini berada di angka dua miliar rupiah.
"Boleh aja Pak Wijaya, asalkan harganya cocok dan masuk akal buat barang sekelas ini," jawab Arga membuka proses negosiasi.
Wijaya tersenyum tipis dan mengangkat tiga jari tangan kanannya ke udara.
"Saya tawarkan harga tiga miliar rupiah tunai tanpa potongan pajak atau biaya administrasi apa pun," ucap Wijaya memberikan tawaran pertamanya.
Para tamu VIP yang masih berada di lobi langsung menahan napas mendengar angka fantastis tersebut keluar begitu saja dari mulut Wijaya.
Arga merasakan jantungnya berdegup sangat kencang namun dia berusaha keras menjaga raut wajahnya agar tetap tenang.
Angka tiga miliar itu jauh melebihi nilai taksiran pasar yang diberikan oleh sistem gaibnya.
'Ini tawaran gila yang gak mungkin gue tolak,' batin Arga merasa sangat kegirangan.
"Saya rasa angka tiga miliar itu cukup adil buat menghargai nilai sejarah dari guci ini Pak Wijaya," jawab Arga mengulurkan tangan kanannya.
"Saya sepakat jual guci ini ke Bapak hari ini juga."
Wijaya langsung menyambut uluran tangan Arga dan menjabatnya dengan erat.
"Keputusan bisnis yang sangat tegas dan cepat Arga, saya suka gaya bekerja pemuda seperti kamu," puji Wijaya.
Wijaya menoleh ke arah salah satu pengawal berjas hitam di belakangnya dan memberikan isyarat anggukan kepala pelan.
Pengawal itu langsung maju membawa sebuah komputer tablet dan memintanya kepada Arga.
"Silakan masukkan nomor rekening tujuan Anda di kolom ini Bapak Arga," kata pengawal itu menyodorkan tabletnya.
Arga mengetikkan nomor rekening pribadinya dengan hati-hati dan mengembalikan tablet tersebut.
Hanya dalam waktu kurang dari lima menit, ponsel di saku celana Arga bergetar memberikan notifikasi pesan masuk.
Arga membuka layar ponselnya dan melihat laporan mutasi saldo masuk sebesar tiga miliar rupiah bersih.
Total uang tunai di rekeningnya kini melonjak drastis menyentuh angka tiga miliar lima ratus delapan puluh juta rupiah lebih.
"Uangnya udah masuk penuh ke rekening saya Pak Wijaya," konfirmasi Arga sambil menunjukkan layar ponselnya sekilas.
"Baguslah kalau begitu, transaksi kita sudah resmi selesai hari ini," balas Wijaya merasa sangat puas telah mendapatkan barang incaran barunya.
Wijaya mengambil kotak pelindung berlapis beludru dari meja resepsionis dan memasukkan guci keramik itu ke dalamnya dengan sangat hati-hati.
Dia lalu menoleh ke arah Leo yang masih berdiri mematung dengan wajah tertunduk lesu di dekat meja.
"Leo, kamu kemasi barang-barang kamu dari ruang kerja hari ini juga," perintah Wijaya dengan nada suara yang sangat dingin dan tidak terbantahkan.
"Saya tidak butuh kurator sombong yang tidak bisa membedakan barang asli dengan cetakan mesin pabrik."
Leo langsung jatuh berlutut di atas lantai marmer dan memohon ampun dengan suara menangis.
"Tolong beri saya satu kesempatan lagi Tuan Wijaya, saya khilaf dan berjanji akan lebih teliti ke depannya," mohon Leo menyatukan kedua tangannya.
"Keputusan saya sudah bulat Leo, petugas keamanan akan mengantar kamu keluar dari gedung ini sebentar lagi," tolak Wijaya tanpa belas kasihan sedikit pun.
Wijaya memberikan isyarat mata kepada petugas keamanan lobi untuk segera menyeret mantan kurator itu pergi dari hadapannya.
Dua orang petugas keamanan langsung mengangkat tubuh Leo dari lantai dan membawanya menuju pintu keluar diiringi tatapan hina dari para tamu.
Arga menatap kejadian itu dengan perasaan sangat lega karena keadilan akhirnya ditegakkan dengan cara yang sangat memuaskan.
Dia sama sekali tidak merasa kasihan kepada Leo karena orang sombong memang harus diberi pelajaran keras agar sadar diri.
"Arga, ini kartu nama pribadi saya," ucap Wijaya menyodorkan sebuah kartu tebal berwarna hitam elegan.
"Kalau perusahaan barang antik kamu nanti mendapatkan barang peninggalan langka lagi, jangan ragu untuk menghubungi saya pertama kali."
Arga menerima kartu nama itu dan membacanya sekilas sebelum memasukkannya ke dalam saku kemeja.
"Pasti Pak Wijaya, Bapak bakal jadi orang pertama yang saya hubungi kalau ada barang bagus masuk ke ruko saya," janji Arga tersenyum ramah.
Suara mekanis sistem tiba-tiba berbunyi sangat jernih memecah kesunyian di dalam kepala Arga.
Ding.
"Penjualan barang gaib tingkat Sangat Langka berhasil diselesaikan dengan keuntungan maksimal," lapor sistem memunculkan layar biru transparannya.
"Host mendapatkan tambahan dua ribu Poin Sistem dan satu Umpan Emosi Tingkat Tinggi."
Arga hampir saja melompat kegirangan mendengar hadiah poin yang sangat besar itu masuk ke dalam saldonya.
Dengan tambahan poin ini dia bisa memborong banyak barang keamanan dari Toko Sistem untuk melengkapi rukonya.
"Saya permisi pulang dulu ya Pak Wijaya, masih banyak urusan renovasi ruko yang harus saya kerjain hari ini," pamit Arga menundukkan kepala sedikit sebagai tanda hormat.
"Silakan Arga, semoga bisnis perusahaan barumu berjalan lancar dan sukses besar di ibu kota ini," doa Wijaya melepaskan kepergian pemuda itu.
Arga berbalik dan berjalan keluar dari balai lelang bergengsi tersebut dengan dada membusung penuh kebanggaan.
Dia masuk ke dalam mobil SUV hitamnya dan menyalakan mesin kendaraan tersebut.
Perutnya mulai berbunyi keroncongan karena dia belum makan siang sama sekali sejak berangkat dari kos tadi pagi.
Arga memutuskan untuk mencari restoran daging panggang mewah di kawasan Sudirman untuk merayakan hari bersejarah ini.
Hari ini dia resmi menjadi miliarder muda dengan aset properti dan perusahaan resmi yang siap beroperasi secara penuh.
Namun di tengah kebahagiaannya, Arga sadar bahwa tantangan sebenarnya dalam menjalankan bisnis barang antik gaib ini baru saja akan dimulai.
Dia harus mencari cara untuk terus mendapatkan stok barang langka tanpa membuat orang curiga dari mana asal usul barang tersebut.
Malam ini dia berniat untuk menguji Umpan Emosi Tingkat Tinggi miliknya di lautan lepas untuk mencari harta karun yang lebih besar lagi.