"Aku lahir dari puncak sebuah ego yang membara, Tapi aku dikunci rapat oleh darah dan rahasia maut di malam badai.
Aku membuat dua orang yang saling mencintai menatap dengan tatapan es,
Dan aku terukir abadi sebagai garis pucat di perut sang wanita. Siapakah aku?"
Enam tahun lalu, ego memisahkan mereka.
Sebuah kecelakaan maut yang merenggut nyawa Amara, sahabat dari Vexana Valerio Dan Landon Dasmon—mengubah cinta membara menjadi kebencian pekat yang saling menyalahkan.
Kini, takdir memaksa Vexana dan Landon kembali berhadapan di koridor kampus yang sama.
Di antara dendam yang membakar dan penyesalan yang terlambat, mampukah mereka mengungkap kebenaran malam badai itu, atau justru hancur bersama puing-puing masa lalu?
~~~~~~
Happy reading 🦋🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#31
Kamar tidur utama penthouse itu mendadak kehilangan seluruh sisa kehangatan dari malam panjang yang baru saja mereka lewati.
Yang tersisa hanyalah kebenaran yang baru saja terkoyak, berdiri telanjang di antara dua orang yang jiwanya telah lama cacat akibat kebohongan.
Landon masih berlutut di tepi ranjang, mencengkeram kedua bahu Vexana dengan kekuatan yang gemetar. Sepasang matanya yang legam kini memerah, digenangi air mata yang luruh tanpa bisa ia bendung lagi.
Seluruh keangkuhan akademis dan dominasi gila yang ia tunjukkan beberapa menit lalu menguap, digantikan oleh sosok seorang pria—seorang ayah—yang dunianya baru saja diguncang gempa tektonik.
"Katakan, Bee... kumohon, katakan padaku..." Suara bariton Landon pecah, bergetar hebat di udara kamar yang pengap.
"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, Landon! Lepaskan aku!" jerit Vexana, mencoba berbohong di tengah kepanikannya.
"JANGAN BOHONG!!!" bentak Landon, suaranya menggelegar memenuhi kamar, membuat Vexana tersentak ketakutan.
Landon meraba perut bawah Vexana secara paksa, jarinya menyusuri garis bekas luka horizontal itu dengan tekanan yang menuntut.
"Luka ini tidak bisa bohong! Kau melahirkan secara sesar! Enam tahun lalu... kau tidak keguguran, kan?! Jangan membohongiku lagi! Dan jangan katakan bayiku sudah mati di dalam kandungan!"
Cengkeramannya di bahu Vexana mengendur, berubah menjadi usapan panik yang memohon.
"Jangan siksa aku seperti ini Vexana... Katakan padaku bahwa dia masih bernapas, Sayang!"
Vexana membeku di bawah kungkungan tubuh Landon.
Ketakutan yang sempat menguasainya perlahan tergantikan oleh tembok pertahanan Valerio yang kembali mengeras. Rasa perih di bagian intinya dan tubuhnya yang remuk seolah mati rasa, dikalahkan oleh debaran jantungnya yang bertalu-talu. Ia menatap wajah Landon yang hancur berantakan di hadapannya.
Sebuah kekehan sinis—dingin dan sarat akan kepahitan—lolos dari bibir Vexana yang membengkak. Ia memalingkan wajahnya, menolak memberikan kehangatan dari sepasang matanya.
"Kau ingin tahu?" bisik Vexana, suaranya terdengar datar namun tajam laksana sembilu. "Setelah apa yang kau lakukan pagi ini? Setelah kau memaksaku seolah aku ini pelacurmu? Aku tidak akan pernah memberitahumu, Landon Desmon. Jalani sisa hidupmu dengan rasa bersalah itu. Kau tidak berhak tahu apa pun tentang kehidupan yang tidak pernah kau pelihara."
Mendengar penolakan dingin itu, sesuatu di dalam diri Landon seolah menyerah pada rasa sakit.
Pria tegap itu tidak lagi membentak atau memaksa. Kehilangan akal sehatnya yang kedua kali hari ini membawa Landon pada tindakan yang berada di luar nalar.
Dengan tubuh yang masih tanpa busana, Landon menjatuhkan dirinya berlutut di atas kasur, tepat di hadapan perut bagian bawah Vexana. Ia menyingkirkan selimut abu-abu yang menghalangi pandangannya dengan kasar, mengekspos kembali garis horizontal panjang yang mematikan itu.
Lalu, di sana, di depan bekas luka operasi caesar yang masih tampak jelas di kulit mulus Vexana, Landon Desmon menangis dengan gila.
Pria yang dikenal dingin dan tak tersentuh di koridor UCLA itu menundukkan kepalanya dalam-dalam hingga dahinya menyentuh kulit perut Vexana.
Bahunya terguncang hebat. Suara isakan yang tertahan dan sarat akan penderitaan menahun menggema di dalam kamar.
Landon meraba sisi kanan dan kiri perut Vexana dengan telapak tangannya yang gemetar, seolah mencoba merasakan sisa-sisa kehamilan yang terlewatkan olehnya.
Cup. Cup. Cup.
Landon mulai menciumi seluruh sisi perut Vexana. Ia mengecup garis bekas luka itu dengan lembut, berulang kali, menyalurkan rasa bersalah, kerinduan, dan rasa hormat yang mendalam atas perjuangan bertaruh nyawa yang telah dilakukan Vexana sendirian tanpa dirinya di samping wanita itu.
"Tidak apa-apa, Bee... tidak apa-apa kalau kamu tidak ingin memberitahuku sekarang," bisik Landon di sela-sela kecupannya, suaranya teredam oleh kulit perut Vexana.
Ia mendongak sedikit, menatap perut itu dengan binar mata yang mendadak dipenuhi keharuan yang magis, melupakan amarah Vexana yang membentang di atasnya.
"Aku yakin... aku sangat yakin anak kita sehat dan tumbuh dengan baik. Dia tidak mungkin mati. Dia lahir dari ibu yang sangat kuat... dari Vexanaku yang hebat."
Vexana mencengkeram sprei di bawah tubuhnya dengan erat. Sentuhan bibir Landon di perutnya mengirimkan sengatan emosi yang begitu membingungkan. Itu adalah area sensitif yang menyimpan trauma persalinannya yang sunyi, dan kini pria yang menjadi alasan dari semua trauma itu sedang memujanya laksana sebuah altar suci.
Landon menggeser tubuhnya naik, melingkarkan kedua lengan kekarnya di sekeliling pinggang ramping Vexana, memeluknya erat dari samping sembari menyandarkan pipinya di atas perut wanita itu. Gestur itu begitu protektif, begitu posesif, namun sarat akan kasih sayang seorang ayah yang merindukan anaknya.
"Cup... anak Pintar. Ayah tidak sabar melihatmu, Sayang..." ucap Landon lirih, jemarinya mengusap lembut pinggul Vexana. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang emosional di tengah sisa air matanya.
"Bee... katakan padaku. Apa dia laki-laki, Sayang? Atau dia seorang princess kecil yang cerewet dan galak seperti ibunya?"
Vexana yang masih terombang-ambing dalam badai emosi dan kelelahan fisik akibat alkohol serta pergulatan panas mereka, mendadak kehilangan fokus pertahanannya.
Pertanyaan lembut Landon yang menggunakan kata 'princess yang cerewet' memicu memori alam bawah sadarnya tentang sosok anak kecil yang setiap hari menunggunya di rumah.
"Laki-laki..." jawab Vexana lirih, tanpa sadar. Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya sebelum otaknya sempat memasang kendali batin.
Begitu kata itu terucap, Vexana langsung tersentak. Ia membekap mulutnya sendiri dengan mata membelalak panik. Bodoh! Apa yang baru saja kau katakan, Vexa?!
Namun, kata itu sudah terlanjur melesat di udara, dan Landon mendengarnya dengan sangat jelas.
Deg.
Landon mendongak dengan cepat. Sepasang matanya berbinar begitu terang, sebuah riak kebahagiaan yang murni dan luar biasa besar tampak meledak di wajahnya yang basah oleh air mata.
Mendengar konfirmasi langsung dari bibir Vexana membuat seluruh keraguan yang tersisa di otaknya musnah. Anak mereka laki-laki. Anak mereka hidup. Darah daging Desmon dan Valerio selama enam tahun ini sedang tumbuh di suatu tempat di kota ini.
"Wah... jagoan Ayah..." Landon berbisik, suaranya tercekat di tenggorokan oleh rasa haru yang membuncah hebat. Ia menggenggam tangan Vexana yang bebas, menciuminya berulang kali dengan takzim. "Jagoan kita, Bee... Seorang anak laki-laki."
Landon terkekeh pelan di tengah sisa tangisnya, sebuah tawa bahagia yang terdengar sangat kontras dengan atmosfer kehancuran beberapa saat lalu. Ia menatap wajah Vexana yang kini memucat karena menyesali kecerobohannya.
"Ayah tebak... dia pasti memiliki sepasang mata bulat yang indah seperti ibunya. Dia pasti mewarisi tatapan angkuhmu yang membuatku bertekuk lutut sejak high school," kata Landon dengan suara yang bergetar penuh cinta.
Rasa manis dari kenyataan ini perlahan mengikis kepahitan yang mengendap di dadanya semenjak pertemuan mereka di koridor kampus. Jagoannya masih hidup.
Landon mengeratkan pelukannya di pinggang Vexana, menatap wanita itu dengan pandangan memohon yang paling dalam, seolah menyerahkan seluruh sisa harga dirinya sebagai seorang pria di hadapan ibu dari anaknya.
"Kapan... kapan aku bisa bertemu dengannya, Sayang? Kumohon, bawa aku kepadanya. Aku ingin menebus enam tahun yang hilang ini, Bee..." ucap Landon, menanti jawaban dari bibir Vexana dengan dada yang bergemuruh penuh harap.
Pertanyaan Landon menggantung di udara fajar, bergaung di antara sudut-sudut kamar mewah yang hening. Vexana memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba mengusir rasa hangat yang sempat menyusup ke dalam hatinya saat melihat air mata keharuan Landon tadi. Ia tidak boleh lemah. Ia tidak boleh melupakan bagaimana ayahnya, Maximilian, telah menegaskan garis pemisah di antara mereka demi AJ.
AJ. Nama itu laksana jangkar yang menarik Vexana kembali ke dalam realitas yang dingin.
Vexana menyentakkan tubuhnya, menggunakan sisa kekuatannya untuk mendorong dada tegap Landon agar menjauh. Kali ini, ia berhasil duduk dan bersandar pada kepala ranjang, menarik selimut sutra abu-abu itu untuk membungkus seluruh tubuh polosnya hingga ke leher, menciptakan pembatas yang tegas.
"Jangan pernah bermimpi untuk bertemu dengannya, Landon," ucap Vexana, suaranya kini telah kembali dingin, datar, dan tanpa emosi—sosok wanita anggun nan asing yang Landon temui di koridor kampus beberapa hari lalu telah kembali.
"Kata 'laki-laki' yang keluar dari mulutku tadi hanyalah racauan sisa mabuk semalam. Tidak ada anak di dunia ini. Anak kita sudah mati di jalanan antar-negara tahun lalu."
Binar kebahagiaan di mata Landon mendadak meredup, digantikan oleh kerutan dalam di dahinya. Ia ikut menegakkan tubuhnya, duduk di tepi kasur dengan rahang yang kembali mengatup rapat.
"Kau berbohong, Bee. Bekas luka di perutmu tidak bisa berbohong. Kata 'laki-laki' yang keluar dari bibirmu tadi bukan racauan. Mengapa kau begitu keras kepala menyembunyikan darah dagingku sendiri?"
"Karena kau tidak pantas menjadi ayahnya!" Kalimat itu meluncur dari mulut Vexana laksana tamparan yang telak.
Ia menatap Landon dengan sorot mata yang dipenuhi luka lama yang kembali menganga.
"Di mana kau saat aku terbangun dari koma dengan perut yang sudah kosong? Di mana kau saat aku harus melewati malam-malam penuh ketakutan? Kau sibuk membangun karier geniusmu!"
"Aku tidak pernah mengabaikan mu setelah kabar kecelakaan itu, Vexa!" Landon membela diri, suaranya meninggi, frustrasi karena tembok kesalahpahaman ini terasa begitu tebal.
"Daddymu yang memutus semua akses komunikasi kita! Aku mencarimu ke setiap rumah sakit di LA, tapi keluargamu menyembunyikanmu laksana kau telah lenyap dari muka bumi!"
"Dan kau menyerah begitu saja, kan?!" Vexana memotong dengan sinis, air mata kemarahan kembali menetes di pipinya. "Seorang Landon Desmon yang genius ternyata menyerah hanya karena gertakan seorang Maximilian Valerio. Itu membuktikan bahwa cintamu semalam... atau obsesimu pagi ini, hanyalah omong kosong!"
Landon terdiam, napasnya memburu tegang.
Kata-kata Vexana menghantam titik terlemah dalam sejarah hidupnya. Memang benar, enam tahun lalu ia sempat berada di titik frustrasi tertinggi hingga memilih melarikan diri untuk menenggelamkan diri dalam ilmu pengetahuan, mengira bahwa Vexana telah membencinya.
Ia tidak pernah tahu bahwa ada konspirasi besar yang dirancang oleh Keluarga Valerio.
"Aku tidak pernah menyerah padamu, Bee..." ucap Landon, suaranya merendah, sarat akan kepahitan yang mendalam.
"Jika aku menyerah, aku tidak akan pernah ada di Los Angeles. Aku tidak akan pernah sudi mengambil proyek penelitian di UCLA jika aku tahu aku tidak akan bisa melihat bayanganmu lagi di kota ini."
Pria itu bergeser mendekat, namun Vexana segera menaikkan lututnya di balik selimut, menolak interaksi fisik lebih lanjut.
"Sudah lambat, Landon," bisik Vexana, mengusap air matanya dengan kasar menggunakan ujung selimut.
"Malam ini... dan pagi ini, adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Anggap saja ini adalah pelampiasan dari dua orang gila yang merindukan masa lalu mereka. Tapi setelah aku melangkah keluar dari kamar ini, kita kembali menjadi dua orang asing."
Vexana menatap lurus ke arah pintu kamar mandi. "Aku ingin membersihkan diriku. Berikan aku privasi, dan biarkan aku pulang ke rumahku sebelum Daddy menyadari ketidakhadiranku."
Landon menatap Vexana lama, meneliti setiap lekuk wajah wanita itu yang memancarkan keputusan yang final.
Hatinya terasa perih, namun melihat kondisi fisik Vexana yang tampak kelelahan dan remuk akibat keegoisannya tadi, Landon memilih untuk mengalah demi menjaga kewarasan wanita itu. Ia tahu, memaksa Vexana berbicara sekarang hanya akan membuat wanita itu semakin menjauh ke dalam cangkang esnya.
Landon berdiri dari ranjang, mengambil jubah mandi sutra hitam miliknya yang tergantung di dekat lemari, lalu mengenakannya dengan gerakan yang tenang. Sebelum melangkah keluar dari kamar utama untuk memberikan ruang bagi Vexana, ia membalikkan tubuhnya di ambang pintu.
"Aku akan memberikanmu waktu untuk pulang, Vexa," ucap Landon, suaranya terdengar datar namun mengandung janji yang mutlak. "Tapi jangan pernah berpikir aku akan berhenti di sini. Sekarang aku tahu jagoanku masih hidup dan bernapas di kota ini, aku akan membalikkan setiap batu di Los Angeles untuk menemukannya. Dan saat hari itu tiba, kau tidak akan punya pilihan selain membawanya kembali ke pelukanku."
Dengan kalimat ancaman yang sarat akan cinta dan obsesi itu, Landon melangkah keluar, menutup pintu kamar dengan bunyi klik halus, meninggalkan Vexana yang kembali terisak dalam sunyi di atas ranjang yang dipenuhi sisa gairah mereka.