Lunaria Wulandari terpaksa menggantikan kakaknya yang kabur di hari pernikahan. Demi menyelamatkan nama keluarga, ia harus menikah dengan Alex Lucas Dimitri—pria dingin dan penuh rahasia yang sejak awal tidak pernah menginginkan dirinya.
Awalnya Luna hanya dianggap pengganti. Namun semakin lama bersama, hubungan mereka berubah menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan. Sayangnya, saat hati mulai saling menerima, masa lalu datang menghancurkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Hadiah dari Kakek
Dua minggu setelah malam saat Luna menunggunya pulang hingga dini hari, hubungan mereka mulai berubah dengan cara yang sulit dijelaskan.
Mereka masih tidur di kamar yang sama.
Alex masih memilih sofa beberapa malam.
Dan Luna masih sering merasa gugup saat berduaan dengan suaminya.
Tapi kini ada percakapan-percakapan kecil di antara mereka.
Tentang pekerjaan.
Tentang buku yang dibaca Luna.
Tentang bisnis yang membuat Alex pusing.
Hal-hal sederhana yang perlahan mengisi jarak di antara mereka.
Pagi itu Luna sedang menikmati sarapan ketika Kakek Dimitri tiba-tiba datang ke rumah utama.
"Kakek."
Alex langsung berdiri.
Luna ikut berdiri.
Pria tua itu tersenyum lalu duduk di kursinya.
"Aku datang membawa kabar baik."
Luna dan Alex saling pandang.
Biasanya kalau Kakek Dimitri berkata begitu, akan ada sesuatu yang tidak terduga.
Dan benar saja.
Pria tua itu mengeluarkan dua amplop berwarna emas dari tasnya.
"Apa itu?" tanya Alex.
"Hadiah."
Untuk pertama kalinya Kakek terlihat begitu puas.
Alex langsung curiga.
Sedangkan Luna mulai penasaran.
Kakek menyerahkan kedua amplop itu.
"Buka."
Alex membuka amplopnya.
Luna melakukan hal yang sama.
Beberapa detik kemudian keduanya membeku.
"Tiket pesawat?"
Luna mengangkat kepalanya.
Alex terlihat tidak kalah terkejut.
"Swiss?" ucap mereka hampir bersamaan.
Kakek tersenyum lebar.
"Tepat sekali."
Luna mengedipkan matanya berkali-kali.
Swiss?
Negara yang selama ini hanya ia lihat di televisi?
"Untuk apa?" tanya Alex.
Kakek langsung menatap cucunya seperti orang paling tidak sabaran di dunia.
"Honeymoon."
Luna langsung tersedak jus jeruk.
Alex memijat pelipisnya.
"Kakek..."
"Tidak ada bantahan."
"Tapi pekerjaan—"
"Selesai."
"Aku masih punya rapat."
"Ryan dan Yesa bisa mengurusnya."
Alex menghela napas panjang.
Luna yang duduk di sampingnya hampir tertawa melihat ekspresi suaminya.
Sudah beberapa kali ia melihat Alex berdebat dengan investor besar, direktur perusahaan, bahkan pejabat penting.
Tapi kalau berhadapan dengan kakeknya?
Pria itu selalu kalah.
---
"Kita benar-benar akan ke Swiss?"
tanya Luna setelah Kakek pergi.
Mereka sedang duduk di ruang keluarga.
Tiket itu masih berada di tangannya.
"Kelihatannya begitu."
Alex menyandarkan tubuhnya ke sofa.
Luna masih sulit percaya.
Ia bahkan belum pernah keluar negeri.
Jangankan Swiss.
Naik pesawat ke luar Indonesia saja belum pernah.
"Kenapa wajahmu begitu?"
Luna menoleh.
"Aku gugup."
Alex mengernyit.
"Karena Swiss?"
Luna mengangguk.
"Karena aku belum pernah ke luar negeri."
Alex terlihat terdiam sesaat.
Lalu tanpa sadar sudut bibirnya terangkat.
"Kamu lucu."
Luna langsung melotot.
"Aku serius."
"Aku juga serius."
"Alex."
"Oke, maaf."
Tapi jelas sekali pria itu sedang menahan tawa.
---
Malam harinya.
Ryan dan Yesa datang ke rumah.
Begitu mendengar kabar tersebut, reaksi mereka persis seperti yang diperkirakan Alex.
Ryan tertawa sampai hampir tersedak kopi.
"Akhirnya!"
Alex langsung menatap tajam.
"Akhirnya apa?"
"Honeymoon."
Yesa mengangguk setuju.
"Jujur aja, aku udah nunggu momen ini."
"Aku tidak."
Ryan tertawa makin keras.
"Makanya Kakek yang ngatur."
Luna yang duduk di samping hanya bisa tersenyum geli.
Melihat Alex diolok-olok teman-temannya ternyata cukup menghibur.
"Kalian terlalu banyak waktu luang."
Ryan langsung menunjuk Luna.
"Lihat kan? Suamimu galak."
Luna menahan tawanya.
"Sedikit."
"Sedikit?"
Ryan terlihat dramatis.
"Dia bahkan nggak pernah senyum waktu SMA."
Yesa langsung menimpali.
"Betul."
"Dulu ada guru yang ngira Alex marah selama satu semester."
Luna akhirnya tertawa.
Sementara Alex mulai menyesal mengundang mereka masuk.
---
Dua hari kemudian.
Hari keberangkatan tiba.
Bandara internasional dipenuhi orang-orang yang berlalu lalang.
Luna memegang paspornya erat.
Ia terlihat jauh lebih gugup dibanding saat menikah.
"Kamu santai sedikit."
Alex berjalan di sampingnya.
"Aku nggak bisa."
"Kenapa?"
"Aku takut ada yang salah."
Alex menghela napas.
Lalu tanpa sadar mengambil koper dari tangan Luna.
"Aku urus semuanya."
Luna menatapnya.
Entah kenapa kalimat sederhana itu membuatnya tenang.
---
Beberapa jam kemudian.
Pesawat akhirnya lepas landas.
Saat melihat kota Jakarta semakin mengecil dari balik jendela, Luna merasa seperti sedang bermimpi.
"Aku benar-benar pergi ke Swiss."
gumamnya.
Alex yang duduk di sebelahnya mendengar itu.
"Kamu masih nggak percaya?"
Luna menggeleng.
"Sedikit."
Pria itu tersenyum tipis.
Dan tanpa mereka sadari, perjalanan panjang itu menjadi awal dari sesuatu yang baru.
---
Belasan jam kemudian.
Pesawat mendarat.
Begitu keluar dari bandara, Luna langsung terpukau.
Udara dingin menyambut mereka.
Bangunan-bangunan indah berdiri di sepanjang jalan.
Dan pemandangan pegunungan di kejauhan membuat Luna tidak bisa berhenti menatap.
"Ya Tuhan..."
Alex memperhatikan reaksinya.
Biasanya ia tidak terlalu peduli dengan pemandangan.
Karena sudah beberapa kali datang ke Swiss untuk urusan bisnis.
Tapi melihat wajah Luna yang penuh kekaguman membuat tempat itu terasa berbeda.
"Keren kan?"
Luna mengangguk cepat.
"Sangat."
---
Hotel yang mereka tempati berada di dekat danau dengan pemandangan pegunungan Alpen yang menakjubkan.
Begitu masuk ke kamar, Luna kembali terpana.
Jendela besar menghadap langsung ke hamparan pegunungan bersalju.
Sementara balkon kecil dihiasi bunga-bunga cantik.
"Ini luar biasa."
Alex meletakkan koper.
"Kakek memang berlebihan."
Luna justru tersenyum.
Untuk pertama kalinya ia setuju dengan keputusan pria tua itu.
---
Malam pertama di Swiss.
Luna berdiri di balkon sambil menikmati udara dingin.
Lampu-lampu kota terlihat seperti bintang yang tersebar di bawah sana.
Indah.
Sangat indah.
Tak lama kemudian Alex keluar membawa dua cangkir cokelat hangat.
"Minum."
Luna menerimanya.
"Makasih."
Mereka berdiri berdampingan.
Tidak banyak bicara.
Hanya menikmati suasana.
Sampai akhirnya Luna berkata pelan.
"Aku senang."
Alex menoleh.
"Karena Swiss?"
Luna tersenyum.
"Karena bisa melihat semua ini."
Lalu setelah beberapa detik, ia melanjutkan.
"Dan karena nggak sendirian."
Jantung Alex berdetak sedikit lebih cepat.
Kalimat itu sederhana.
Tapi terasa hangat.
Sangat hangat.
Pria itu memandang pemandangan di depan mereka.
Lalu tanpa sadar tersenyum kecil.
Mungkin untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun...
Ia juga merasa senang tidak menjalaninya sendirian.
Dan di bawah langit malam Swiss yang dipenuhi cahaya bintang, keduanya tidak menyadari bahwa perjalanan ini akan menjadi titik awal perubahan terbesar dalam hubungan mereka.
Perubahan yang perlahan membawa dua hati yang dulu asing menjadi semakin dekat.