Selama tiga tahun bekerja di perusahaan advertising ternama milik keluarga Mahardika Group, hidup Naura Azzahra nyaris seperti neraka. Semua gara-gara atasannya: Arkan Mahendra, direktur muda yang tampan, perfeksionis, dingin, dan hobi menghancurkan harga diri karyawan dengan satu tatapan.
Naura sudah berkali-kali berniat resign. Namun gaji besar dan cicilan rumah membuatnya bertahan.
Sampai malam presentasi besar itu datang.
Di depan seluruh direksi, Arkan tanpa ampun mengkritik konsep Naura habis-habisan. Bukan cuma mempermalukannya, pria itu juga menyebut Naura “tidak cukup kompeten untuk berada di perusahaan ini.”
Malu bercampur marah membuat Naura meledak.
Untuk pertama kalinya, ia membalas semua omongan Arkan—bahkan menyebut pria itu manusia paling menyebalkan yang mungkin akan mati sendirian karena tak punya hati.
Lalu ia resign malam itu juga.
Naura merasa hidupnya akhirnya tenang… sampai ibunya memaksanya datang ke acara makan malam keluarga seminggu kemudian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eunoia Fashion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
"Jelaskan pada saya, Naura, sejak kapan ayah saya bertransformasi menjadi penggemar berat musik pantura jam dua dini hari."
Suara Arkan terdengar lebih mirip bisikan kematian daripada pertanyaan pagi hari. Pria itu berdiri di dekat mesin kopi otomatis yang sedang mendengung keras, tangan kanannya mencengkeram cangkir porselen hitam dengan begitu kencang hingga urat-urat di punggung tangannya menyembul tegang. Sepasang lingkaran hitam yang cukup kontras menghiasi bagian bawah matanya yang memerah. Dia tampak seperti pria tampan yang baru saja lolos dari interogasi semalam suntuk.
Aku menjejalkan sepotong roti tawar panggang dengan selai stroberi tebal ke dalam mulutku, mengunyahnya dengan ritme lambat yang sengaja dibuat senikmat mungkin.
"Oh, mungkin Om Surya mendadak butuh pencerahan kultural, Mas," jawabku setelah menelan kunyahan pertama, memberikan penekanan yang manis pada kata 'Mas'. "Dangdut koplo itu bagus untuk melancarkan sirkulasi darah yang kaku. Sangat direkomendasikan untuk lansia... dan pria paruh baya yang gila kerja."
Arkan melangkah mendekati meja bar, menghentakkan cangkir espresonya hingga cairan hitam di dalamnya sedikit menciprat keluar, mengotori permukaan marmer yang semula bersih tanpa noda.
"Gara-gara ulah kekanak-kanakanmu itu, Papa mengira saya sedang berada di kelab malam kelas bawah bersama wanita simpanan," desis Arkan, wajahnya berjarak hanya tiga puluh sentimeter dari wajahku. Aroma kopi hitam yang pekat berbaur dengan sisa wangi *mint* dari pasta giginya, menyerbu indra penciumanku. "Beliau menceramahi saya selama empat pukul lima menit nonstop tentang moralitas calon pemimpin perusahaan. Kamu tahu berapa kerugian waktu tidur saya semalam?"
"Dua jam? Tiga jam?" Aku mengedikkan bahu santai, lalu meminum susu kotakku langsung dari sedotannya hingga berbunyi nyaring. "Anggap saja itu latihan mental. Menghadapi istrimu yang jenius ini butuh kesiapan psikologis yang tinggi, Pak CEO."
Kilat amarah di mata Arkan mendadak padam, tergantikan oleh seulas senyum dingin yang membuat bulu kudukku meremajang. Pria ini kalau sudah tersenyum licik begini, biasanya ada udang di balik batu yang siap menghancurkan ketenanganku.
"Kamu benar. Menghadapimu memang butuh strategi matang," Arkan mundur dua langkah, merapikan letak jam tangan Rolex-nya dengan gerakan yang teramat sangat tenang. "Dan strategi pertama saya sudah tiba di depan pintu."
*Ting-tong.*
Bel apartemen berbunyi tepat saat kalimat Arkan berakhir. Keakuratan waktu pria ini benar-benar menjengkelkan.
Arkan melangkah menuju pintu lobi, membukanya untuk membiarkan seorang pria muda berkacamata dengan setelan jas rapi masuk ke dalam. Pria itu memegang sebuah koper kulit hitam tebal dan beberapa map dokumen di dadanya. Wajahnya tampak tegang, tipikal karyawan yang terbiasa hidup di bawah tekanan tenggat waktu yang tidak manusiawi.
"Selamat pagi, Pak Arkan. Selamat pagi... Ibu Naura," sapa pria itu, membungkuk hormat ke arahku. Suaranya agak bergetar saat menyebut namaku, matanya melirik canggung ke arah piyama katun motif anak ayam yang sekarang kukenakan—kontras dengan penampilannya yang sangat formal.
"Hadi, taruh dokumennya di meja," perintah Arkan tanpa basa-basi, kembali duduk di kursi bar dengan posisi tegap yang dominan.
Hadi—sekretaris pribadi Arkan yang paling loyal sekaligus paling menderita di Mahardika Group—dengan cekatan menggelar tiga map tebal di atas meja marmer. Aku mengintip isinya. Lembaran-lembaran kertas berlogo firma hukum ternama di Jakarta dengan judul yang cukup membuat kepalaku berdenyut instan: **PERJANJIAN PRANIKAH & PAKTA INTEGRITAS KELUARGA MAHENDRA**.
"Pak Surya meminta saya menyampaikan ini segera, Pak," ujar Hadi, menyeka keringat dingin di pelipisnya dengan saputangan. "Situasi di dewan direksi memburuk sejak kemarin sore. Pak Dimas—sepupu Anda—mulai bergerak."
Mendengar nama Dimas, rahang Arkan mengetat sempurna. Aku bisa melihat perubahan atmosfer ruangan yang mendadak berubah berat dan sarat akan ketegangan korporat yang kaku.
"Apa yang dilakukan si bodoh itu?" tanya Arkan, nadanya serendah lantai basemen.
"Pak Dimas mengumpulkan beberapa kepala divisi malam ini. Beliau menyebarkan rumor ke para pemegang saham bahwa pernikahan mendadak Anda dengan Ibu Naura hanyalah sebuah rekayasa murah demi mengamankan kursi CEO bulan depan. Beliau bahkan menyewa detektif swasta untuk memantau apartemen ini, mencari bukti kalau Anda dan Ibu Naura tidak benar-benar tinggal bersama."
Napas di dadaku tertahan sejenak. Jadi, pernikahan kontrak ini bukan lagi sekadar sandiwara di depan orang tua, melainkan sudah bergeser menjadi tameng dalam bisnis Mahardika Group. Skalanya meningkat dari drama domestik menjadi krisis keuangan yang bisa membuatku kehilangan jaminan biaya operasi Ibu kalau Arkan sampai jatuh dari posisinya.
Arkan menatapku tajam, seolah ingin memastikan apakah aku siap menghadapi badai yang baru saja datang ini.
"Untuk mengonfirmasi keaslian hubungan kalian," Hadi melanjutkan dengan suara yang makin mengecil, "Pak Surya memutuskan bahwa malam ini, beliau bersama tiga anggota komite komisaris utama akan datang ke apartemen ini untuk melakukan... inspeksi mendadak."
"Inspeksi?" Pekikan itu lolos begitu saja dari mulutku. "Ini apartemen, bukan pabrik tekstil! Kenapa harus pakai inspeksi segala?!"
"Mereka mau memastikan kalian benar-benar berbagi ranjang yang sama, Bu Naura," bisik Hadi, tampak ingin menghilang dari ruangan akibat rasa canggung yang luar biasa. "Pak Surya bilang, kalau sampai mereka menemukan indikasi bahwa kalian tidur di kamar terpisah, pelantikan Pak Arkan sebagai CEO minggu depan akan dibatalkan secara mutlak."
Keheningan total kembali menguasai ruang tengah. Aku menoleh ke arah Arkan, mendapati pria itu sedang memijat pelipisnya dengan frustrasi yang mendalam. Ego perfeksionisnya baru saja mendapat hantaman realitas yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan rumus formula biasa.
"Hadi, kamu boleh keluar sekarang," ujar Arkan, suaranya terdengar sangat lelah.
"Baik, Pak. Semoga sukses... untuk malam ini," Hadi merapikan tasnya, lalu bergegas pergi seolah-olah tempat ini adalah zona bahaya bagi keselamatannya.
Setelah pintu menutup, Arkan berdiri dari kursinya, menatapku dengan pandangan mata yang tidak lagi menyisakan ruang untuk perdebatan konyol tentang nada dering dangdut.
"Kamu dengar sendiri, kan, Naura?" Arkan melipat tangan di depan dada. "Kita punya waktu kurang dari sepuluh jam untuk mengubah tempat ini menjadi sarang sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta. Dan langkah pertama..."
Dia menunjuk ke arah kamar tidur tamuku dengan dagunya yang tegas.
"...pindahkan seluruh barang-barangmu ke dalam kamar utama saya. Sekarang juga."
Aku langsung berdiri dari kursi bar, melotot tidak terima. "Sebentar, sebentar! Pindah ke kamar utamamu? Arkan, denger ya! Kita ini belum sah secara agama ataupun hukum! Belum ada buku nikah, belum ada akad! Aku tidak mau ya tidur satu kamar apalagi satu ranjang dengan pria yang statusnya masih sebatas bos menyebalkan!"
Arkan mengembuskan napas panjang, menatapku seolah-olah aku baru saja mengajukan pertanyaan paling bodoh di dunia. "Naura, singkirkan dulu pikiran mesummu itu. Saya juga tidak berniat melanggar batas norma hukum dan agama sebelum kita sah. Ini namanya manipulasi dekorasi. Kita hanya membuat kamar saya kelihatan seolah-olah ditempati oleh dua orang demi mengelabui dewan komisaris dan detektifnya Dimas. Setelah inspeksi selesai dan mereka semua pulang, kamu bisa kembali tidur di kamarmu sendiri."
Aku mengedipkan mata, mencoba mencerna draf strateginya. "Oh... jadi cuma akting panggung aja nih? Kamarmu cuma dipinjam buat properti?"
"Tepat sekali. Jadi cepat pindahkan barang-barangmu sebelum waktu kita habis," sahut Arkan tidak sabaran.
Invasi domestik itu resmi dimulai pada pukul sebelas siang.
Aku menyeret koper besarku masuk ke dalam kamar tidur utama Arkan. Kamar itu berukuran dua kali lipat dari kamar tamuku, dengan kasur ukuran *king size* berbalut sprei sutra hitam yang tampak sangat intimidatif di tengah ruangan. Jendela kaca raksasa di sisi kanan langsung menyajikan pemandangan gedung pencakar langit Jakarta, sementara di sisi kiri terdapat sebuah pintu kaca buram yang menuju ke dalam *walk-in closet*.
"Taruh pakaianmu di sisi sebelah kiri lemari," perintah Arkan yang sudah berdiri di dalam *walk-in closet*, sedang memindahkan beberapa kemeja kerja desainer-nya untuk memberikan ruang bagiku. "Dan pastikan warnanya dikelompokkan sesuai dengan gradasi warna yang benar. Jangan mencampur warna terang dengan warna gelap."
Aku mendengus keras, melempar koperku ke atas lantai karpet beludru hingga menimbulkan bunyi *bukk*. "Ini lemari pakaian, Arkan, bukan toko cat swalayan. Kenapa hidupmu harus se-menderita ini sih?"
Aku membuka koperku dengan kasar, mengeluarkan tumpukan daster batik longgar favoritku, kaus-kaus oblong bergambar karakter kartun yang sudah melar, dan barisan jepitan rambut plastik berwarna-warni. Tanpa memedulikan aturan gradasi warnanya yang agung, aku langsung menjejalkan seluruh pakaian itu ke dalam gantungan kosong di sebelah jajaran jas Tom Ford miliknya.
Kontras yang tercipta benar-benar luar biasa mengerikan. Jas hitam premium seharga puluhan juta rupiah kini bersanding langsung dengan daster batik motif mega mendung seharga lima puluh ribu rupiah yang sudah robek sedikit di bagian ketiaknya.
Arkan keluar dari bilik lemarinya, menatap hasil invasiku dengan ekspresi wajah yang tampak seperti pria yang baru saja melihat koleksi mobil mewahnya dicoret-coret menggunakan spidol permanen. Urat di pelipisnya berdenyut kencang.
"Naura... benda pusaka berbau minyak tanah apa yang kamu gantung di sebelah jas formal saya ini?" Arkan menjepit ujung daster batikku dengan dua jarinya, menjauhkannya seolah benda itu mengandung bakteri menular.
"Itu daster keberuntungan, tahu! Kainnya adem sekali karena sudah dicuci ratusan kali," aku merebut daster itu dari tangannya, memeluknya pelan. "Dan ini bukan bau minyak tanah, ini bau kasih sayang Ibu!"
"Singkirkan itu dari jas saya. Atau saya sendiri yang akan membakarnya di balkon," desis Arkan, matanya menyipit berbahaya.
"Coba saja kalau berani! Kalau kamu bakar daster ini, malam ini aku akan menceritakan pada Om Surya dan seluruh dewan komisaris kalau kamu punya kebiasaan tidur sambil mengempeng jempol!" ancamku, memajukan tubuhku menantang tatapan matanya.
Arkan menarik napas dalam-dalam, berusaha keras mengendalikan emosinya yang berada di ambang batas ledakan. Dia memejamkan mata sejenak, lalu saat membukanya kembali, fokus pandangannya mendadak bergeser dari daster di tanganku menuju ke arah meja rias kecil di sudut ruangan.
Di atas meja marmer putih yang semula kosong melompong itu, kini sudah berjejer rapi belasan botol skincare milikku. Toner, serum, pelembap, masker wajah, hingga krim malam dengan berbagai bentuk kemasan plastik yang tidak estetis sama sekali menurut standarnya. Di sebelah botol-botol itu, tergeletak Si Pipi—guling stroberi kumalku—yang menduduki posisi sentral di atas ranjang hitamnya yang mewah.
"Tempat ini..." Arkan berbisik, suaranya terdengar sangat putus asa. "Rumah saya sudah resmi menjelma menjadi pasar kaget dalam waktu tiga jam."
"Ini namanya seni kehidupan, Pak Bos. Biar apartemenmu ini kelihatan ada tanda-tanda kehidupan manusianya, bukan seperti kuburan modern," ujarku puas, melangkah menuju ranjang lalu merebahkan tubuhku di atas kasur sutranya yang teramat sangat empuk. "Wah, kasurmu enak sekali. Jauh lebih empuk dari kamar tamu."
"Jangan santai-santai dulu, Naura. Masalah utama kita belum selesai," Arkan melangkah mendekati ranjang, memandangi Si Pipi dengan tatapan bermusuhan. "Kamar ini kelihatan terlalu rapi untuk ukuran dua orang yang katanya tidur bersama. Kita harus merekayasa kasur ini agar terlihat sedikit berantakan, seolah-olah baru saja digunakan. Dan bantal guling stroberi aneh ini harus disembunyikan."
"Heh! Tidak boleh!" Aku langsung melompat duduk dan memeluk Si Pipi erat-erat. "Si Pipi ini benteng pertahanan kesucianku selama proses pembuatan set panggung ini! Dia tidak boleh disembunyikan!"
"Naura, komisaris itu orang-orang pintar. Kalau mereka melihat kasur hitam ini rapi seperti pameran furnitur, mereka tidak akan percaya. Sini, berikan guling itu pada saya, saya mau menyimpannya di atas lemari," Arkan mengulurkan tangannya, mencoba merebut Si Pipi dari dekapanku.
"Tidak mau! Cari draf barang lain saja untuk diacak-acak!" Aku menarik Si Pipi ke arah belakang, membuat tubuhku berguling ke tepi ranjang untuk menghindar dari jangkauan tangan panjang Arkan.
"Jangan keras kepala, Naura. Sini—" Arkan tidak menyerah. Dia ikut membungkuk di atas ranjang, memegang ujung guling stroberi itu lalu menariknya dengan kuat.
Aku mempertahankan Si Pipi dengan seluruh kekuatan jiwa dan ragaku. Terjadilah aksi saling tarik-menarik guling yang sangat konyol di atas ranjang sutra hitam milik sang CEO. Aku menarik ke kiri, Arkan menarik ke kanan dengan wajah kaku yang mendadak kelihatan sangat kompetitif gara-gara sebuah guling buah-buahan.
"Arkan, lepas—"
Aku menarik guling itu kembali dengan satu sentakan kuat yang tak terduga. Namun, karena posisi tubuhku yang berada di tepian kasur yang sangat licin, gerakan mendadak itu justru membuat keseimbanganku hilang total. Tubuhku merosot ke bawah menuju lantai. Karena panik akan jatuh, tangan kiriku refleks mencengkeram kerah kemeja kerja Arkan, menarik tubuh tegapnya ikut meluncur bersamaku.
"Naura, awas—"
*Brukkh!*
Dalam hitungan milidetik, tubuh tegap Arkan ambruk menimpaku di atas lantai karpet beludru yang tebal di samping ranjang.
Seluruh pasokan oksigen di paru-paru saya seolah menguap seketika saat dada bidangnya yang keras menghantam dadaku dengan telak. Kedua tangan Arkan bertumpu di sisi kiri dan kanan kepalaku, menahan berat tubuhnya agar tidak sepenuhnya menghimpitku, menciptakan jarak yang sangat intim di antara wajah kami. Jarak yang bahkan jauh lebih dekat daripada ketegangan malam di dapur bersama Valerie.
Napas kami berdua memburu cepat, saling berkejaran di udara yang mendadak terasa sangat tipis dan panas. Mata elang Arkan terkunci sepenuhnya pada mataku, memancarkan binar intensitas yang tidak bisa dijelaskan oleh logika apa pun. Aku bisa merasakan kehangatan yang menguar dari balik kemeja tipisnya, merambat masuk menembus piyama katunku, memicu debaran jantung di dalam dadaku yang mendadak bertalu-talu dengan kecepatan yang tidak normal.
Waktu seolah berhenti berputar di dalam kamar utama yang sunyi itu. Aroma parfum *ambergris*-nya yang maskulin mengepung seluruh inderaku, membuatku mati kutu tanpa bisa mengeluarkan satu patah kata pedas pun dari mulutku. Kami berdua terjebak dalam pusaran ketegangan yang begitu pekat, hingga deru napas kami terdengar seperti dentuman keras di telinga masing-masing.
Mata Arkan perlahan turun, menatap bibirku yang sedikit terbuka karena terkejut. Sudut rahangnya yang tegas bergerak kecil, mengindikasikan adanya gejolak batin yang sangat hebat di balik topeng dinginnya. Genggaman tangannya pada karpet di bawah kepalaku mengerat, mengoyak serat-serat beludru halus di sana.
Tepat di saat wajah Arkan mulai turun beberapa milimeter—membuat jarak di antara bibir kami hanya tersisa beberapa senti saja—sebuah suara dehaman yang sangat berat dan berwibawa memecah keheningan dari arah pintu masuk kamar yang ternyata tidak tertutup rapat.
"Ehem."
Suara itu terdengar seperti suara petir di siang bolong, menghancurkan seluruh sihir ketegangan di antara kami secara instan.
Aku dan Arkan tersentak hebat, menoleh secara bersamaan ke arah pintu kamar dengan mata membelalak sempurna.
Di ambang pintu yang terbuka lebar, berdiri Om Surya dengan setelan jas formal lengkapnya. Di sebelah kanannya, berdiri Ibuku, Tante Danastri, yang sedang membekap mulutnya sendiri dengan tangan, matanya berbinar cerah penuh dengan rasa haru dan kemenangan romantis yang sangat besar. Dan di belakang mereka berdua, berdiri dua orang pria paruh baya berkacamata—anggota komite komisaris utama Mahardika Group—yang langsung membuang muka dengan canggung sambil berdeham kecil berkali-kali.
"Papa... Ibu...?" Suara Arkan terdengar tercekat di kerongkongan, dengan posisi tubuh yang masih mengurungku di atas lantai karpet.
Om Surya menurunkan kaca mata bacanya sedikit, menatap kami berdua dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan senyum kemenangan yang luar biasa lebar terukir di wajah tuanya yang tegas.
"Sepertinya... inspeksi mendadak kita sore ini agak sedikit mengganggu waktu 'inspeksi' pribadi kalian berdua, ya?" ujar Om Surya dengan nada suara yang sarat akan sindiran jenaka, sukses membuat wajahku memancarkan rona merah padam yang siap meledak karena malu hingga ke sumsum tulang.