NovelToon NovelToon
Antara Batas Dan Nafas

Antara Batas Dan Nafas

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

​“Menikah denganku artinya bebas menyentuh siapa saja di luar sana, kecuali hatiku.”

​Bagi Narendra, CEO muda berego tinggi, kesepakatan open marriage adalah solusi kejenuhan rumah tangganya bersama Alika. Sebagai praktisi PR ternama, Alika menelan kepedihan itu rapat-rapat demi menjaga citra sempurna mereka di depan publik. Namun, sandiwara power couple ini mulai retak saat tubuh Alika perlahan digerogoti penyakit autoimun akibat tekanan batin yang ia pendam sendiri. Di kala Narendra sibuk mencari kesenangan luar, Alika justru bertaruh nyawa dalam kesunyian. Akankah ego Narendra runtuh saat menyadari nafas sang istri perlahan menjauh dari batas waktunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: Penyamaran dalam Kotak Beludru

Bagi Alika, empat hari tanpa asupan kortikosteroid terasa seperti siksaan di kerak neraka. Pagi itu, ia bahkan tidak memiliki tenaga sekadar untuk mengangkat lengan dan merapikan sisa-sisa rambutnya. Sendi bahu dan pergelangan tangannya membengkak hebat, memancarkan denyut nyeri yang membuat pandangannya berkunang-kunang setiap kali ia mencoba bergeser. Dalam posisi miring di atas ranjang, ia hanya bisa mendekap tubuhnya sendiri sambil mengatur napas sehalus mungkin. Ia tidak ingin isakannya tertangkap oleh rungu Rasti yang tengah sibuk merapikan lemari pakaian di sudut kamar.

Pikirannya terus dihantui oleh waktu yang berdetak layaknya bom. Tiga hari lagi, dr. Hendrawan dijadwalkan datang untuk mengambil sampel darah atas instruksi Narendra. Tanpa obat penekan sistem imun, hasil pemeriksaan laboratorium minggu depan pasti akan membongkar seluruh kebohongannya tanpa sisa.

Tiba-tiba, dengung dari interkom memecah kesunyian. Rasti menghentikan aktivitasnya, lalu melangkah menuju tombol di dinding. "Ada paket untuk Nyonya Alika," lapor petugas keamanan dari balik speaker yang suaranya terdengar pecah. "Dikirim oleh agensi public relations kosmetik, L'Aura Botanica."

Netra Alika terbuka perlahan. L'Aura Botanica? Meski ia terbiasa menerima kiriman PR package dari berbagai jenama mewah, ia merasa telah membatalkan seluruh jadwal pengiriman sejak Joshua mengurus cuti panjangnya. Rasti menoleh dengan tatapan yang tetap datar dan tanpa emosi. "Apakah Nyonya memang sedang menunggu kiriman dari mereka?"

"T-tidak," jawab Alika dengan suara serak yang hampir menyerupai bisikan. "Mungkin itu kiriman yang sudah dijadwalkan pihak agensi sejak bulan lalu."

"Saya akan mengambil dan memeriksanya terlebih dahulu," ujar Rasti dengan nada mutlak sebelum melangkah keluar.

Sepuluh menit berselang, Rasti kembali membawa sebuah kotak berbahan beludru hitam dengan lilitan pita emas yang tampak anggun. Alih-alih langsung memberikannya pada Alika, ia meletakkan kotak itu di meja rias dan membukanya di bawah pengawasan Alika yang mulai dilanda kecemasan. Alika berupaya bangkit dan duduk meski punggungnya terasa sangat ngilu. Ia harus tetap terlihat tenang, seolah tidak ada rahasia yang ia sembunyikan.

Dari balik kotak tersebut, Rasti mengeluarkan sebuah stoples kaca tebal berisi krim malam premium. Begitu tutup berwarna emas itu dibuka, aroma mawar dan chamomile segera memenuhi ruangan. Permukaan krim yang berwarna putih tulang itu tampak sangat mulus, menandakan isinya belum tersentuh. Rasti meneliti dasar kotak untuk mencari kartu ucapan, lalu mengangkat stoples itu tinggi-tinggi guna memeriksanya dari setiap sudut. Setelah merasa tidak ada yang ganjil, ia menutupnya kembali dan menaruhnya di atas nakas, tepat di samping tempat tidur Alika.

"Hanya pelembap wajah dari agensi," lapor Rasti dengan nada dingin. "Nyonya bisa menggunakannya nanti. Sekarang, silakan minum vitamin dari Tuan Narendra."

Alika menelan ludah dengan susah payah. Ia menerima butiran vitamin yang sebenarnya tidak ia butuhkan itu, lalu menelannya dengan seteguk air di bawah pengawasan ketat Rasti yang sudah seperti seorang sipir penjara.

"Aku ingin mencuci muka dan mencoba krimnya," kata Alika, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar. Ia meraih stoples kaca yang terasa sangat berat itu dengan kedua tangan yang sedikit gemetar.

"Perlu saya bantu ke kamar mandi, Nyonya? Tangan Anda sepertinya kesulitan memegangnya," tawar Rasti dengan mata menyipit penuh selidik saat melihat jemari Alika yang memerah.

"Tidak perlu. Aku bisa sendiri."

Alika menyeret langkahnya menuju kamar mandi dan segera mengunci pintu. Begitu bunyi klik terdengar, ia bersandar di balik pintu dengan napas yang memburu. Matanya tertuju pada stoples L'Aura Botanica tersebut. Perasaannya tidak enak; biasanya agensi kosmetik akan menyertakan kartu ucapan panjang mengenai detail produk, namun kotak ini benar-benar kosong.

Dengan jemari yang kaku dan perih, ia memutar tutup emas stoples itu. Ia menatap permukaan krim yang putih bersih, lalu memberanikan diri memasukkan dua jarinya ke dalam cairan kental yang dingin itu. Ia menggalinya perlahan hingga menyentuh dasar wadah. Jari Alika membentur benda keras berbahan plastik.

Jantungnya berdegup kencang. Ia merogoh lebih dalam, mengabaikan sisa krim mahal yang kini melumuri tangannya, dan menarik benda tersebut. Ternyata itu adalah sebuah tabung plastik kecil kedap air, menyerupai kapsul tempat menyimpan rol film kuno. Alika segera membilasnya di bawah kucuran air keran. Di dalamnya, tampak puluhan butir pil putih kecil dan selembar kertas yang tergulung rapi.

Tangan Alika bergetar hebat saat membuka tutup tabung dan membaca tulisan tangan yang sangat ia kenal.

> "Ini hanya cukup untuk meredam peradangan akutmu selama lima hari. Aksesku diputus, jadi aku terpaksa menggunakan kurir pihak ketiga dan memalsukan data pengiriman. Alika, dengarkan aku. Jika dalam lima hari kau tidak berhasil keluar dari rumah itu untuk menjalani tes darah lengkap denganku, ginjalmu akan mulai terancam. - Raditya."

Air mata Alika jatuh berderai, bercampur dengan sisa krim di tangannya. Ia menangis karena merasa lega telah mendapatkan kembali napasnya, sekaligus didera rasa bersalah yang amat dalam. Narendra telah mengancam akan menghancurkan karier dr. Raditya, namun pria itu justru berani mengambil risiko gila dengan mengirimkan obat terlarang—setidaknya di mata Narendra—tepat ke jantung pertahanan musuh. Raditya sedang mempertaruhkan segalanya demi nyawa Alika.

Tanpa menunda lagi, Alika menelan dua butir kortikosteroid dosis tinggi menggunakan air langsung dari keran wastafel. Sisa obat dan catatan dari Raditya segera ia bungkus ke dalam plastik ziplock kecil yang telah ia sembunyikan di dalam kotak pembalut sejak kemarin—satu-satunya tempat yang ia yakin tidak akan diperiksa secara mendetail oleh Rasti. Stoples krim itu ia biarkan terbuka di dekat wastafel agar tampak seolah-olah baru saja digunakan.

Saat melangkah keluar dari kamar mandi, meski wajahnya masih tampak pucat, ada secercah keberanian dalam tatapannya. Obat itu memang butuh waktu beberapa jam untuk mulai bekerja menenangkan amukan sistem imunnya, namun setidaknya kini ia punya 'amunisi' untuk bertahan hidup.

Akan tetapi, peringatan Raditya terus terngiang di kepalanya. Lima hari. Ia hanya punya waktu lima hari sebelum organ dalamnya benar-benar mengalami kerusakan permanen. Ia tidak bisa terus-menerus mengandalkan riasan tebal dan obat yang diselundupkan. Alika melirik Rasti yang berdiri kaku di sudut ruangan. Permainan sembunyi-sembunyi ini harus segera diakhiri. Jika ingin selamat, ia harus menemukan cara untuk mengelabui dr. Hendrawan saat pengambilan sampel darah nanti, atau ia harus benar-benar meloloskan diri dari sangkar emas Narendra Pradipta.

1
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat thor☺👈✍️
ilmuwankecil
seru kalk, update lagi kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!