Keisha lari membawa rahasia hidupnya. Lima tahun ia bersembunyi, berpikir tak ada yang akan tahu. Tapi Arsen tidak pernah berhenti mencari. Ketika mereka bertemu kembali, dunia Keisha gemetar. Pria itu datang bukan untuk membenci, tapi untuk menuntut haknya sebagai seorang ayah dan ingin memiliki Keisha sepenuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NEGERI ASING DAN NAMA YANG TERTINGGAL
BAB 8 — NEGERI ASING DAN NAMA YANG TERTINGGAL
Udara dingin yang menusuk tulang langsung menyambut Keisha begitu ia melangkah keluar dari area bandara.
Setiap kali ia menarik napas, uap putih tipis langsung mengepul di udara, hilang seketika terbawa angin. Langit di atas sana tampak kelabu mendung, jalanan tertata rapi dan bersih, serta orang-orang berlalu lalang dengan langkah tergesa sambil membungkus tubuh rapat-rapat dalam mantel tebal dan syal.
Semuanya terasa asing.
Sangat asing.
Keisha menggenggam gagang koper itu erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Tubuhnya gemetar, bukan hanya karena suhu udara yang jauh berbeda dengan tanah kelahirannya, tetapi juga karena ketakutan yang sejak semalam tak pernah lepas bersarang di dalam dadanya.
Ia sadar sepenuhnya.
Ia benar-benar pergi.
Benar-benar meninggalkan Indonesia, meninggalkan rumah yang dicintainya, meninggalkan ayah dan ibu yang menyayanginya sepenuh hati... dan juga meninggalkan seluruh masa lalunya, termasuk sosok pria yang menjadi awal dari semua perubahan ini.
“Keisha!”
Suara seorang wanita paruh baya memecah kesunyian, memanggil namanya dari kejauhan.
Keisha menoleh cepat, matanya menyapu sekeliling mencari sumber suara.
Di sana, berdiri seorang wanita berwajah lembut yang sedang melambaikan tangan riang sambil berjalan mendekat. Ia mengenakan mantel panjang berwarna krem yang terlihat hangat, rambutnya digelung rapi dan sederhana, serta senyumannya yang hangat seolah mampu mencairkan dinginnya udara di sekeliling mereka.
“Bibi Rina...” bisik Keisha lirih, suaranya hampir tak terdengar.
Begitu wanita itu sampai tepat di hadapannya, Keisha langsung ditarik masuk ke dalam pelukan hangat yang menenangkan itu.
“Ya Tuhan... kamu kurus sekali, Nak,” ujar Bibi Rina sambil menatap wajah Keisha dengan tatapan penuh kekhawatiran. “Kenapa kamu menangis histeris di telepon kemarin? Ada apa sebenarnya yang terjadi sampai kamu memohon untuk datang ke sini dengan begitu putus asa?”
Pertanyaan yang sederhana itu seketika membuat tenggorokan Keisha terasa tercekat dan kaku. Ia ingin menjawab, ingin menceritakan semuanya, namun ribuan kata terasa begitu berat untuk diucapkan. Seolah ada beban besar yang menahan lidahnya.
“Sudah... ayo kita masuk ke mobil dulu. Kamu pasti lelah sekali setelah perjalanan panjang itu. Kita bicara baik-baik nanti kalau kamu sudah siap,” kata Bibi Rina dengan lembut, seolah memahami keraguan yang sedang melanda keponakannya itu.
Keisha hanya bisa mengangguk pelan. Air matanya kembali menetes perlahan.
Perjalanan menuju rumah Bibi Rina berlangsung dalam keheningan yang sunyi.
Keisha duduk di jok belakang, matanya tak berkedip menatap pemandangan di luar jendela mobil. Kota yang mereka lewati terlihat begitu indah dan tenang. Pepohonan berjajar rapi di sepanjang jalan, rumah-rumah kecil berdinding kayu berdiri manis dengan halaman yang terawat, serta orang-orang yang berjalan santai sambil memegang cangkir kopi hangat di tangan mereka.
Pemandangan seindah ini seharusnya bisa menenangkan hati dan pikiran siapa saja. Namun anehnya, hati Keisha justru terasa semakin kosong dan hampa.
Pikirannya melayang jauh menyeberangi lautan dan benua.
Ia teringat ibunya yang saat ini mungkin sedang sibuk membereskan kamar tidurnya, merapikan barang-barang yang tertinggal dengan penuh kerinduan.
Teringat ayahnya yang mungkin dengan bangga menceritakan pada sanak saudara dan rekan kerjanya bahwa putri kesayangannya kini sedang menuntut ilmu di negeri orang.
Kebohongan yang ia ciptakan itu kini terasa bagaikan batu besar yang terus menindih dadanya, membuatnya sulit bernapas lega.
Tanpa sadar, tangannya perlahan bergerak dan menempel lembut di atas perutnya yang masih terlihat rata dan belum menampakkan tanda apa pun.
Di sanalah letak alasan utama dari semua ini. Di sanalah kehidupan baru yang kini menjadi satu-satunya harapan dan tujuan hidupnya.
Rumah tempat tinggal Bibi Rina terasa hangat dan nyaman, persis seperti sosok pemiliknya.
Ada taman kecil yang dipenuhi bunga-bunga di bagian depan, jendela-jendela besar yang membiarkan cahaya matahari masuk dengan bebas, dan sepanjang lorong tercium aroma harum sup ayam yang sedang dimasak di dapur.
Begitu melangkah masuk, rasa lelah yang sedari tadi ditahan akhirnya meledak. Seluruh tubuh Keisha terasa lemas tak berdaya.
“Kamu mandi air hangat dulu untuk menghangatkan badan, lalu segera makan. Jangan sampai sakit karena kecapekan,” kata Bibi Rina dengan nada lembut bagaikan seorang ibu. “Setelah itu tidur yang cukup. Kita bicara panjang lebar nanti saja kalau pikiranmu sudah lebih tenang.”
Kebaikan hati yang tulus itu justru membuat mata Keisha terasa panas dan perih. Ia belum melakukan apa-apa, belum memberikan apa-apa, namun ia sudah diterima dengan tangan terbuka di sini.
“Terima kasih banyak, Bi... makasih sudah mau menerima aku,” ucap Keisha dengan suara bergetar.
Bibi Rina tersenyum lembut lalu menepuk pundaknya pelan.
“Di rumah ini, kamu aman. Tidak ada yang akan menyakitimu, tidak ada yang akan menghakimi kamu. Istirahatlah.”
Kalimat sederhana itu menjadi penutup yang sempurna. Air mata Keisha yang sedari tadi ditahan akhirnya jatuh juga.
Malam itu, setelah mandi membersihkan diri dan makan sedikit untuk mengisi perutnya yang kosong, Keisha akhirnya duduk berhadapan dengan Bibi Rina di ruang keluarga yang remang-remang.
Tangannya saling menggenggam erat, jari-jarinya saling bertautan seolah mencari kekuatan untuk memulai cerita yang berat ini.
“Ada apa sebenarnya, Sha? Ceritakan semuanya pada Bibi. Apa pun masalahnya, kita cari jalan keluarnya bersama-sama,” desak Bibi Rina dengan nada lembut namun tegas.
Keisha menundukkan wajah dalam-dalam, air matanya mulai menetes jatuh membasahi lututnya.
Ia tak bisa lagi berbohong. Tak bisa lagi menyembunyikan rahasia ini dari satu-satunya orang yang kini menjadi tempat perlindungannya.
Dengan suara yang bergetar dan terputus-putus karena isak tangis, Keisha pun membuka mulutnya.
Ia menceritakan semuanya.
Mulai dari pertemuan tak sengaja di klub malam itu, tentang malam yang penuh kesalahan namun tak terlupakan itu, tentang sosok pria bernama Arsen yang datang lalu menghilang begitu saja, tentang dua garis merah yang mengubah seluruh hidupnya, tentang rasa takut yang luar biasa jika orang tuanya mengetahui kenyataan ini, hingga akhirnya keputusan nekat untuk lari dan pergi jauh dari tanah kelahirannya.
Suasana ruangan menjadi sunyi senyap setelah cerita panjang itu usai.
Bibi Rina menatap wajah keponakannya dengan tatapan yang sulit diartikan, lalu ia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.
“Kamu membuat keputusan yang sangat besar dan berat itu sendirian, Nak. Tanpa bertanya, tanpa bercerita, dan tanpa meminta pendapat siapa pun,” ujarnya pelan.
Mendengar kalimat itu, Keisha langsung menangis tersedu-sedu.
“Aku takut, Bi... aku takut banget. Aku enggak tahu harus gimana lagi, aku bingung, aku malu... aku merasa aku sudah menghancurkan segalanya,” rintihnya.
Bibi Rina segera menggeser duduknya, mendekat lalu memeluk bahu Keisha dengan penuh kasih sayang.
“Kamu memang bersalah. Salah karena memilih lari dari masalah, salah karena membohongi orang tua yang menyayangimu. Tapi... kesalahan itu sudah terjadi. Sekarang kamu sudah ada di sini. Kita hadapi semuanya perlahan-lahan.”
“Bibi marah sama aku?” tanya Keisha lirih, takut akan mendapatkan kemarahan.
“Aku tidak marah. Aku hanya sedih. Sedih membayangkan betapa beratnya perasaanmu selama ini, menanggung semua ini sendirian tanpa ada tempat untuk bercerita.”
Tangis Keisha semakin pecah dan menjadi lebih keras. Untuk pertama kalinya sejak ia mengetahui kabar kehamilannya, ia benar-benar merasa tidak sendirian. Ada seseorang yang mau mendengar, memahami, dan mendukungnya apa pun yang terjadi.
Di belahan dunia yang lain, ribuan kilometer jauhnya, kota Jakarta masih sibuk dan berisik seperti biasanya.
Lampu-lampu warna-warni memantulkan cahayanya di dinding gelap gedung hiburan, dentuman musik masih bergema memenuhi ruangan, dan orang-orang masih larut dalam kegembiraan pesta malam yang tak berkesudahan.
Di salah satu sudut ruangan yang agak sepi, Arsen duduk sendirian dengan segelas minuman keras di tangannya.
Matanya menatap kosong ke arah keramaian di lantai dansa, namun pikirannya sama sekali tidak ada di sana.
Sudah hampir dua minggu berlalu sejak malam itu.
Namun anehnya, wajah seorang gadis terus saja berputar-putar di dalam benaknya. Tak mau pergi, tak mau hilang, dan selalu muncul di setiap kesempatan.
Gadis dengan mata yang bening dan polos.
Gadis yang pipinya mudah memerah hanya karena sedikit godaan.
Gadis yang pergi meninggalkannya pagi-pagi buta tanpa banyak bicara.
Gadis yang bernama Keisha.
Arsen meneguk minumannya hingga habis dalam sekali tegukan.
Sial.
Ia mengumpat dalam hati.
Selama ini, tak ada satu pun wanita yang mampu bertahan lama di pikirannya. Mereka datang, mereka lewat, lalu dilupakan begitu saja. Namun kenapa gadis ini justru malah membuatnya terus memikirkannya seolah ada benang tak kasat mata yang mengikat hatinya?
Seorang bartender mendekat dengan langkah hati-hati.
“Tuan Arsen, mau pesan minuman yang sama seperti biasanya?” tanyanya sopan.
Arsen meletakkan gelas kosong itu ke atas meja dengan suara agak keras.
“Gadis yang bersamaku dua minggu yang lalu,” ucapnya tiba-tiba, suaranya terdengar berat.
Bartender itu berkedip bingung. “Yang mana, Tuan? Banyak sekali tamu yang datang ke sini.”
“Yang bernama Keisha. Gadis manis yang datang bersama teman wanitanya.”
Wajah bartender itu seketika berubah paham. “Oh... gadis yang manis dan pendiam itu.”
“Cari tahu siapa dia,” perintah Arsen tegas.
Bartender itu menatapnya dengan tatapan tak percaya, seolah tidak menyangka mendengar perintah seperti itu dari mulut orang yang paling sulit tertarik pada wanita.
“Maaf, Tuan?”
“Kau dengar aku. Cari tahu segala sesuatu tentang dia.”
Arsen berdiri dari tempat duduknya, merapikan kemeja hitam yang ia kenakan dengan gerakan tenang namun penuh wibawa.
“Cari nama lengkapnya, kampus tempat dia kuliah, alamat tempat tinggalnya, nomor teleponnya... apa saja yang bisa kau dapatkan. Aku ingin tahu semuanya.”
Bartender itu menelan ludah gugup. “Baik, Tuan. Saya akan usahakan semampu saya.”
Arsen berbalik badan hendak pergi, namun langkahnya terhenti sesaat. Ia menoleh sedikit ke belakang, nada suaranya terdengar lebih dingin dan tegas dari biasanya.
“Dan lakukan dengan cepat. Jangan sampai ada satu pun informasi yang terlewat.”
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidupnya yang penuh kesibukan dan kesendirian, Arsen merasakan ketertarikan yang nyata pada seorang wanita... tepat di saat wanita itu sudah menghilang tanpa jejak dari permukaan bumi.
Sementara di tempat yang jauh sekali, Keisha tertidur pulas sambil memeluk perutnya dengan lembut, seolah sedang melindungi harta yang paling berharga di dunia.
Tak satu pun dari mereka menyadari...
Bahwa benang takdir yang menghubungkan keduanya belumlah putus sama sekali. Benang itu hanya ditarik lebih panjang, menyebrangi jarak dan waktu, untuk kemudian dipertemukan kembali di saat yang tak terduga.
Bersambung...