NovelToon NovelToon
Realita Menikah

Realita Menikah

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cattygril

Menikah muda terdengar indah di mata banyak orang—tentang cinta, perhatian, dan hidup bahagia bersama pasangan. Namun, bagi Elvara Naomi Wijaya, kenyataannya jauh berbeda. Setelah resmi menjadi istri Arsen Rafael Mahardika, pria dingin dan ambisius yang sangat ia cintai, Elvara mulai menyadari bahwa pernikahan bukan hanya soal rasa cinta.

Di balik rumah mewah dan status sebagai pasangan sempurna, mereka perlahan terjebak dalam kesalahpahaman, ego, luka batin, dan rahasia yang tidak pernah terungkap sebelumnya. Arsen yang sulit mengekspresikan perasaan membuat Elvara merasa sendirian di dalam hubungan mereka sendiri.

Saat masalah demi masalah datang menghancurkan ketenangan rumah tangga mereka, Elvara harus memilih—bertahan demi cinta yang masih ia perjuangkan, atau melepaskan semuanya sebelum dirinya hancur lebih dalam.

Karena terkadang, realita menikah tidak seindah janji di hari akad.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cattygril, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 (Rahasia di Balik Pintu Rumah)

...HAPPY READING...

...🧸💕...

Setelah keluar dari apartemen Vivian, Arsen mengendarai mobilnya membelah keheningan malam dengan pikiran yang semrawut. Kepalanya terasa mau pecah. Pengakuan kehamilan Vivian benar-benar menjadi bom waktu yang siap menghancurkan hidupnya kapan saja.

Begitu tiba di depan pintu unit apartemennya bersama Elvara, Arsen sempat terdiam lama. Ia menghela napas panjang, mencoba menata ekspresi wajahnya yang kusut sebelum memutar knop pintu.

Namun, begitu melangkah masuk, pemandangan di ruang tamu langsung membuat langkahnya tertahan.

Televisi menyala, menampilkan siaran larut malam yang temaram. Di atas sofa, Elvara duduk tegak. Wanita itu ternyata belum tidur. Ia sengaja terjaga, setia menunggu kepulangan sang suami.

"El? Kamu belum tidur?" tanya Arsen, berusaha sekuat tenaga menjaga agar suaranya terdengar biasa saja.

Elvara sedikit tersentak, lalu menoleh ke arah pintu. Wajah lelahnya seketika digantikan oleh senyuman hangat saat melihat sosok suaminya. "Eh, Arsen? Kamu sudah pulang?!"

Arsen melangkah mendekat, namun matanya sengaja menghindari tatapan langsung Elvara. Rasa bersalah mendadak mencekik lehernya. "Kenapa belum tidur? Ini sudah larut sekali."

"Aku nggak bisa tidur," jawab Elvara lembut sambil bangkit berdiri dari sofa. "Yaudah, aku putuskan buat nungguin kamu aja. Oh ya, kamu sudah makan malam? Kebetulan tadi aku masak banyak di dapur."

Mendengar perhatian tulus dari istrinya, dada Arsen justru terasa semakin sesak. Setiap untai kata manis dari Elvara kini terasa seperti duri yang menusuk harga dirinya. Bayangan Vivian yang menangis sambil mengaku hamil terus berputar, kontras dengan ketulusan Elvara yang berdiri di hadapannya sekarang.

Arsen mundur satu langkah, menciptakan jarak. "Oh... Lain kali nggak usah nungguin aku, El. Lagian aku sudah makan di luar tadi. Aku mau ke kamar duluan."

Tanpa menunggu balasan dari Elvara, Arsen langsung melengos pergi begitu saja. Langkah kakinya terburu-buru menuju kamar mandi, seolah ingin segera membasuh sisa-sisa rasa bersalah yang melekat pada tubuhnya.

Elvara terpaku di tempatnya berdiri. Senyum di bibirnya perlahan memudar, menyisakan kekosongan yang dingin.

Sikap Arsen barusan terasa sangat janggal. Nada bicaranya yang datar, tatapannya yang menghindar, dan penolakan halusnya yang terkesan buru-buru... semuanya terasa tidak beres.

Seketika, benak Elvara dirayapi oleh rasa curiga.

Ada apa dengan Arsen? batinnya bertanya-tanya.

Apakah suaminya itu hanya sedang memiliki banyak masalah di kantor? Atau... pria itu kembali memikirkan Vivian? Wanita dari masa lalu sekaligus cinta pertama Arsen yang belakangan ini kembali hadir dan mulai mengusik ketenangan rumah tangga mereka. 

Perasaan tidak enak mulai menyusup ke relung hati Elvara, membisikkan bahwa ada sesuatu yang besar yang sedang disembunyikan Arsen darinya.

​Elvara masih menatap pintu kamar yang tertutup rapat tempat Arsen menghilang. Di tengah keheningan ruang tamu yang mendadak terasa mencekam, suara getaran singkat dari ponsel di genggamannya memecah lamunan.

​Sebuah notifikasi pesan masuk. Elvara menyalakan layar ponselnya, dan nama Kael tertera di sana.

​Kael: El, besok siang ada waktu kosong? Aku mau ajak kamu ketemu. Ada hal penting yang harus kita bicarakan.

​Elvara mengernyitkan alis. Tidak 

biasanya Kael mengajaknya bertemu secara mendadak seperti ini, apalagi dengan embel-embel hal penting. Jemari Elvara ragu di atas papan ketik. Di satu sisi, ia penasaran. Namun di sisi lain, tumpukan tanggung jawab sudah menunggunya esok hari.

​Sambil menghela napas, Elvara mengetik balasan dengan penolakan halus, ​Elvara: Maaf banget ya, Kael. Besok jadwal aku penuh banget di butik. Kebetulan lagi padat-padatnya karena banyak klien yang mau fitting baju pernikahan minggu ini. Mungkin lain kali ya?

​Setelah menekan tombol kirim, Elvara mengunci kembali ponselnya. Pikirannya benar-benar bercabang. Urusan butik yang sedang ramai pesanan gaun pengantin seharusnya membuat ia senang, namun malam ini, hatinya justru terasa hambar dan berat.

​Ia kembali menatap ke arah kamar tidur mereka. Kontras dengan para calon pengantin yang datang ke butiknya dengan wajah berbinar penuh harapan akan masa depan, Elvara justru merasa rumah tangganya sendiri sedang berjalan di atas lapisan es yang tipis—retak sedikit saja, maka semuanya akan hancur lebur.

​Belum sempat Elvara melangkah meninggalkan ruang tamu, ponselnya kembali bergetar. Balasan dari Kael masuk dengan sangat cepat, seolah pria itu memang sedang menunggu di seberang sana.

​Kael: Oh, gitu ya? Kalau aku yang datang ke butikmu besok, bisa? Nggak akan ganggu lama, kok.

​Elvara mengernyitkan alis. Sepasang matanya menatap layar ponsel dengan rasa heran yang semakin menjadi. Sikap Kael malam ini terasa sangat tidak biasa. Kael yang ia kenal adalah sosok yang selalu menghargai ruang pribadinya dan tidak pernah memaksa, apalagi sampai bersikeras ingin mendatangi tempat kerjanya di saat sibuk.

​Perasaan tidak enak yang tadi dipicu oleh sikap dingin Arsen, kini bertambah karena desakan Kael. Sambil menggigit bibir bawahnya pelan, Elvara kembali mengetikkan balasan.

​Elvara: Kael, aku benar-benar sibuk besok. Jadwalku dari pagi sampai butik tutup sudah full untuk fitting. Apa urusannya mendesak banget? Nggak bisa dibicarakan lewat pesan atau telepon sekarang aja?

​Elvara sengaja mengirimkan pesan itu untuk menegaskan batasannya. Ia sedang tidak memiliki energi emosional yang cukup untuk melayani keanehan sikap orang lain, sementara suaminya sendiri baru saja mengabaikannya dan mengunci diri di dalam kamar.

​Ia meletakkan ponselnya di atas meja kopi dengan helaan napas berat, berharap Kael mau mengerti dan mengatakan apa pun masalahnya lewat telepon saja.

… 

Sementara itu di tempat lain, Kael mengusap wajahnya dengan kasar setelah membaca balasan terakhir dari Elvara. Ia melempar ponselnya ke atas kasur dengan helaan napas penuh frustrasi.

​Niatnya untuk menemui Elvara secara langsung terbentur oleh kesibukan wanita itu. Padahal, hal penting yang ingin ia bicarakan bukanlah perkara sepele. Ini tentang Arsen. Tentang bagaimana suami yang sangat dipercaya Elvara itu diam-diam masih menjalin hubungan terlarang di belakangnya dengan Vivian, sang cinta pertama.

​Kael mengepalkan tangan kuat-kuat. Mengingat fakta itu membuat dadanya bergemuruh oleh amarah. Ia sama sekali tidak rela melihat wanita yang diam-diam ia cintai sejak masa SMA harus terluka dan dikhianati secara keji oleh suaminya sendiri. Elvara tidak pantas mendapatkan perlakuan sekotor itu.

​Kael tahu dia harus membongkar kebenaran ini pada Elvara. ​Sebenarnya, jika hanya ingin memberi tahu, ia bisa saja mengatakannya lewat telepon sekarang juga. Namun, Kael sengaja menolak opsi itu. Ia ingin berbicara langsung secara empat mata. Kael tahu betul seberapa hancurnya Elvara saat mendengar kabar buruk ini nanti. Dan di saat dunia Elvara runtuh karena pengkhianatan Arsen, Kael ingin memastikan bahwa dirinyalah yang berada di sana, di samping wanita itu, siap untuk mendekap dan menenangkannya.

​Ia ingin menjadi sosok penyelamat yang menghapus air mata Elvara, posisi yang seharusnya diisi oleh Arsen, namun telah disia-siakan oleh pria berengsek itu.

​Kael kembali memungut ponselnya, menatap ruang obrolannya dengan Elvara yang masih kosong. Pikirannya berputar mencari cara, bagaimanapun sibuknya Elvara besok, ia harus menemukan celah untuk menemuinya.

Kael menatap layar ponselnya lama sebelum akhirnya menyerah pada keadaan. Ia tahu memaksakan diri datang ke butik di saat Elvara sedang sibuk justru akan membuat wanita itu merasa tidak nyaman dan curiga.

Sambil menahan gejolak di dadanya, jemari Kael bergerak mengetikkan balasan terakhir.

Kael: Oke, nggak apa-apa. Kalau nanti kamu ada waktu luang, tolong kabari aku ya. Urusan ini benar-benar nggak bisa aku bicarakan lewat pesan atau telepon.

Kael menekan tombol kirim. Ia sengaja tetap meninggalkan kesan misterius dan mendesak agar Elvara tahu bahwa pembicaraan ini bukan sekadar obrolan santai biasa. Setelah itu, ia membalikkan ponselnya ke atas kasur, menolak untuk melihat respons apa pun lagi malam ini.

Di apartemennya, Elvara membaca pesan terakhir dari Kael dengan helaan napas yang terasa kian berat. Kalimat Kael yang bersikeras ingin bicara langsung justru menorehkan kecemasan baru di hatinya yang sudah telanjur gundah.

Ada apa sebenarnya?

Elvara meletakkan ponselnya, lalu perlahan berjalan masuk ke dalam kamar tidur. Di atas ranjang, Arsen tampak sudah memejamkan mata dengan posisi membelakangi sisi tempat tidur Elvara—entah suaminya itu benar-benar sudah terlelap atau hanya berpura-pura tidur untuk menghindari percakapan.

Elvara naik ke atas ranjang dengan pelan, memandangi punggung lebar Arsen dengan tatapan nanar. Malam itu, di bawah atap yang sama, tiga orang terikat dalam benang kusut yang sama: Arsen yang terjebak dalam kebohongan besar, Kael yang menunggu waktu untuk membongkar kebenaran, dan Elvara yang mulai merasakan badai besar siap menghantam rumah tangganya kapan saja.

Bersambung….. 

1
Aquarius1276 Nonamolek
tidak bertele²...bahasa yg mudah dimengerti
Aquarius1276 Nonamolek
kapan thor season 2 nya ...plus judul nya donk😍
Cattygril
okee
mba mawar34
oh noo gw pikir bakalan sama kael
Cattygril: haha, tidak kk
total 1 replies
mba mawar34
Next💪😍
mba mawar34
ceritanya bgus, dan oke di baca
Cattygril: terimakasih☺
total 1 replies
mba mawar34
semangat thir💪😍
Cattygril: iya dongg👌☺
total 1 replies
cynth
Everyone biggest nightmare.
Cattygril: heee☺
total 1 replies
Amelia
Next😍
Amelia
iya Thor gak papa, semangat trus update ya💪😍
Cattygril: terimakasih yaa😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!