NovelToon NovelToon
TUNANGAN PALSU

TUNANGAN PALSU

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:660
Nilai: 5
Nama Author: AlinaKS

Hanya karena sebuah kecelakaan, Sophia terjebak dengan Damian -- pria kaya, dingin, arogan, dan sangat posesif.

Damian memaksa Sophia menjadi tunangan palsunya demi kepentingan keluarga. Sebagai gantinya, utang besar Sophia akan dianggap lunas.

Awalnya Sophia pikir itu hanya sandiwara sementara.

Sampai Damian mulai ikut campur dalam hidupnya. Mengatur siapa yang boleh dekat dengannya. Dan perlahan memperlakukannya seperti miliknya sendiri.

“Kalau sudah tahu tidak bisa kabur… berhentilah melawan.”

Di saat Sophia mulai kehilangan kendali atas hidupnya, Arkan -- pria yang selama ini selalu ada untuknya, justru menyimpan rahasia yang menghancurkan semuanya.

Kini Sophia terjebak di antara pria yang terlalu ingin memilikinya… dan pria yang tak pernah benar-benar bisa ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tunangan Palsu - Chapter 2

**** HAPPY READING GUYS!****

Sophia mematung sesaat begitu pintu apartemennya terbuka.

Di depan sana berdiri seorang gadis cantik berambut pendek sebahu dengan dua kantung belanjaan di tangannya. Wajahnya terasa familiar. Mereka beberapa kali berpapasan di lift apartemen.

Kalau tidak salah … Ana.

Tetangga lantai bawah.

Sophia mengerjapkan mata bingung.

“Eh, ada perlu apa?”

Ana tersenyum kecil, sedikit gugup. Tanpa banyak bicara, ia menyodorkan salah satu kantung belanjaan itu.

“Aku habis beli terlalu banyak,” katanya pelan. “Jadi kupikir lebih baik dibagi.”

Sophia membuka sedikit isi kantungnya, lalu matanya langsung berbinar.

Kue.

Dan bukan sembarang kue. Ada cheesecake, roti isi premium, bahkan camilan mahal yang biasanya cuma ia lihat dari balik etalase minimarket sambil menelan ludah.

Dalam sekejap suasana hati Sophia berubah cerah.

Dengan ini ia tidak perlu membeli camilan Arkan minggu ini.

Artinya, pengeluaran berkurang lagi.

Tanpa sadar sudut bibirnya terangkat lebar.

“Kamu serius kasih ini buat aku?”

Ana mengangguk sambil tersenyum malu. Sophia segera menerima kantung itu sebelum wanita itu berubah pikiran.

“Ya ampun, terima kasih! Kamu baik banget!”

Ana terlihat lega. Namun beberapa detik kemudian, jemarinya mulai memainkan tali tas dengan gelisah, seolah ada hal lain yang ingin disampaikan.

“Sebenarnya…” Ana menggigit bibir bawahnya pelan. “Aku tahu kamu dekat sama Arkan.”

Sophia langsung mengangkat alis.

Oh.

Jadi ini tujuan sebenarnya.

“Aku satu kantor sama dia,” lanjut Ana hati-hati. “Tapi aku nggak berani kasih langsung .... " Kalimatnya menggantung malu-malu.

Senyum Sophia perlahan berubah jahil.

“Ooooh…”

Wajah Ana langsung memerah.

Sophia mencondongkan tubuh sedikit, berbisik dramatis seperti sedang membicarakan rahasia besar.

“Kamu suka Arkan?”

Ana tidak menjawab.

Namun pipinya yang makin merah sudah cukup menjadi jawaban.

Sophia nyaris tertawa puas.

Akhirnya ada juga perempuan yang tertarik pada manusia galak itu.

“Tenang.” Sophia menepuk dadanya percaya diri. “Kamu bisa mengandalkanku.”

“Benarkah?”

“Tentu.” Sophia mengangguk mantap. “Lagipula Arkan belum punya pacar.”

Mata Ana langsung berbinar penuh harapan.

Sophia melanjutkan santai, “Dan dia memang lagi cari pasangan.”

Setidaknya, itu yang Sophia simpulkan dari keluhannya tadi pagi.

Ana tersenyum semakin lebar. Ada rasa senang yang tidak bisa disembunyikan di wajahnya.

“Aku boleh main ke sini lagi?”

“Boleh banget.” Sophia terkekeh kecil. “Datang saja sekitar jam delapan malam. Biasanya Arkan sudah pulang kerja.”

“Baik.”

Ana pamit pergi dengan langkah ringan.

Sementara Sophia berdiri di depan pintu sambil memeluk kantung belanjaannya erat-erat.

“Arkan…” gumamnya pelan sambil menyeringai kecil. “Kau harus traktir aku nanti.”

****

Setelah terlalu lama mengobrol dengan Ana, Sophia akhirnya buru-buru berangkat kerja.

Ia bekerja sebagai kasir di sebuah minimarket kecil dekat pusat kota. Pekerjaannya mungkin terlihat sederhana, tetapi cukup melelahkan.

Setiap hari ia harus menghadapi puluhan pelanggan dengan berbagai macam tingkah, menghitung uang, mencatat transaksi, dan memastikan tak ada satu rupiah pun yang salah.

Untungnya, Sophia cukup ahli soal angka.

Tangannya cepat, ingatannya tajam, dan ia hampir tidak pernah salah menghitung. Mungkin karena itu pula atasannya sangat mempercayainya untuk menjaga mesin kasir.

Hari ini ia mendapat shift siang, jadi suasana terasa jauh lebih santai dibanding biasanya.

Tidak seperti Arkan.

Lelaki itu selalu ribut setiap kali bersiap berangkat kerja, seolah dunia akan kiamat kalau ia terlambat lima menit saja.

Apalagi kalau bosnya tiba-tiba menelepon pagi-pagi.

Mood Arkan pasti langsung rusak seharian.

Sophia bahkan hafal bagaimana lelaki itu akan mengacak rambut frustrasi sambil mengomel tidak jelas sejak keluar apartemen.

Mengingat itu membuat Sophia terkekeh kecil sendiri.

Motor mungilnya melaju membelah jalanan kota yang mulai lengang menjelang sore. Angin menerpa wajahnya lembut, membuat beberapa helai rambut keluar dari ikatan.

Namun pikirannya masih dipenuhi Ana.

Perempuan itu cantik, lembut, dan terlihat benar-benar menyukai Arkan. Entah kenapa, mereka tampak cocok jika berdiri berdampingan.

“Kasihan juga kalau Ana sampai ditolak…” gumam Sophia pelan.

Ia bahkan sempat membayangkan bagaimana wajah kecewa gadis itu nanti.

Namun lamunannya buyar seketika.

Seekor kucing tiba-tiba melintas cepat di tengah jalan.

“ASTAGA!”

Sophia refleks membanting setang.

Ban motornya bergesekan kasar dengan aspal hingga kendaraan itu oleng ke samping. Nafas Sophia tercekat. Untuk sesaat ia hampir kehilangan keseimbangan.

Dan tepat beberapa detik setelahnya ....

BRAAAAK!

Suara benturan keras menggema memecah jalanan yang sepi.

Sophia menoleh cepat dengan wajah pucat.

Sebuah mobil hitam di belakangnya menghantam pohon pembatas jalan cukup keras hingga bagian depannya ringsek parah.

Jantung Sophia serasa mau jatuh.

Tubuhnya membeku beberapa detik sebelum buru-buru menghentikan motor di pinggir jalan.

Asap tipis mulai keluar dari bagian depan mobil itu.

“Oh Tuhan…”

Tangannya mendadak dingin.

Sophia menoleh panik ke sekitar jalan, berharap ada orang lain yang membantu. Namun suasana di sana terlalu sepi. Tidak ada siapa-siapa selain dirinya.

Dengan napas memburu, ia segera berlari mendekati mobil itu lalu mengintip lewat kaca jendela.

Seorang pria terlihat bersandar lemah di kursi kemudi.

Matanya tertutup.

Untungnya tidak ada darah yang terlihat.

“Pak! Pak!”

Sophia mengetuk kaca mobil beberapa kali.

Tidak ada jawaban.

Ia mencoba membuka pintu mobil, tetapi terkunci.

Rasa panik mulai memenuhi dadanya.

“Jangan bilang pingsan…”

Tangannya sedikit gemetar saat buru-buru mengeluarkan ponsel untuk menelepon ambulans.

Namun sebelum panggilannya tersambung ....

Klik.

Suara kunci mobil terbuka.

Sophia tersentak.

Beberapa detik kemudian, suara berat terdengar samar dari dalam mobil.

“Siapa di luar?”

Dengan ragu Sophia membuka pintu mobil perlahan.

Untuk sesaat, napasnya tercekat.

Pria itu terlalu tampan untuk seseorang yang baru saja mengalami kecelakaan.

Rahangnya tegas. Hidungnya mancung. Matanya yang setengah terbuka tetap terlihat tajam meski wajahnya sedikit pucat.

Auranya dingin.

Menekan.

Membuat orang tanpa sadar merasa gugup hanya karena ditatap.

Sophia sampai lupa harus berkata apa.

Sampai pria itu membuka mulut.

“Apa matamu buta? Kau pikir aku terlihat baik-baik saja? Kenapa malah diam?”

Seketika rasa kagum Sophia runtuh tanpa sisa.

Oh.

Ternyata tipe manusia menyebalkan.

Sophia menarik napas panjang sambil menahan kesal.

“Aku cuma memastikan kamu belum mati,” balasnya ketus. “Sekarang cepat keluar. Aku bantu.”

Pria itu menatap Sophia beberapa detik sebelum berkata dingin,

“Berhenti bicara. Lakukan saja yang memang perlu dilakukan.”

Urat di pelipis Sophia langsung berkedut.

Kurang ajar! Bahkan dalam kondisi hampir sekarat pun, tidak ada satu kalimat baik yang keluar dari mulutnya.

Sophia menggenggam pintu mobil erat sambil menahan emosi.

Haruskah ia meninggalkannya saja di sini?

Membiarkan pria arogan ini mati sendirian di dalam mobil?

Atau tunggu sampai dia menangis sambil memohon bantuan?

Namun sebelum semua pikiran jahat itu benar-benar dilakukan, hati nuraninya lebih dulu menegur.

Dengan wajah kesal, Sophia tetap membantu pria itu keluar ketika ambulans datang beberapa menit kemudian. Bahkan motornya sampai terpaksa ditinggalkan di pinggir jalan.

Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Sophia duduk sambil melipat tangan dengan wajah jutek.

Sementara pria itu tertidur tenang di atas ranjang ambulans seolah tidak terjadi apa-apa.

Petugas medis tadi bahkan bilang kalau lukanya tidak serius.

Sophia mulai merasa sedikit menyesal sudah repot-repot menolongnya.

***

Begitu sampai di rumah sakit, pria itu langsung dibawa masuk untuk diperiksa.

Merasa tugasnya sudah selesai, Sophia berniat pulang diam-diam. Namun belum sempat pergi, dua polisi datang menghampiri.

“Kami perlu meminta keterangan.”

Sophia langsung membeku.

Beberapa menit kemudian, pria menyebalkan tadi keluar dari ruang pemeriksaan dengan luka kecil di pelipisnya.

“Sebutkan nama Anda,” ujar polisi.

“Damian.”

Polisi kemudian menoleh pada Sophia. Namun sebelum Sophia sempat membuka mulut, Damian lebih dulu bicara.

“Saya menabrak karena motor perempuan itu tiba-tiba oleng di jalan,” ucapnya datar. “Itu membahayakan pengemudi lain.”

Sophia langsung melotot tidak percaya.

“Hah?!”

Ia menunjuk dirinya sendiri.

“Aku tadi menghindari kucing!”

Tatapan Damian tetap dingin tanpa sedikit pun rasa bersalah.

“Jadi Anda lebih mementingkan hewan daripada manusia?”

Sophia langsung tersulut emosi.

“Makhluk hidup itu sama!”

“Menarik.” Damian menyandarkan tubuh malas. “Mungkin Anda perlu diperiksa ke rumah sakit jiwa.”

Sophia hampir meledak di tempat.

“Kalau aku tidak punya belas kasih, tadi aku sudah membiarkan kau mati terbakar di dalam mobil!”

Damian malah menatapnya dengan sorot meremehkan.

“Dan orang gila memang tidak seharusnya berkendara di jalan.”

Sophia benar-benar ingin mencakar wajah tampannya.

Dua polisi di samping mereka bahkan mulai terlihat pusing mendengar pertengkaran itu.

“Apakah Anda ingin melanjutkan kasus ini, Pak Damian?” tanya salah satu polisi hati-hati.

Damian mengambil ponselnya.

“Asisten saya akan mengurus semuanya.” Nada suaranya tenang.

Ia lalu menelepon seseorang dan menyuruh orang itu segera datang ke rumah sakit.

Sophia yang masih dipenuhi emosi hanya bisa menatap tajam pria itu dari ujung kepala sampai kaki. Air susu dibalas air tuba. Benar-benar lelaki tidak tahu terima kasih.

Akhirnya Sophia memilih keluar dari ruangan itu sebelum emosinya benar-benar meledak.

Ia duduk di kursi lorong rumah sakit sambil melipat tangan kesal.

Dadanya masih naik turun menahan emosi. Polisi masih memperhatikannya dari jauh. Beberapa menit kemudian, suara langkah tergesa terdengar mendekat.

Sophia mendongak.

Seorang pria berkacamata dengan jas formal berjalan cepat menuju ruangan Damian. Penampilannya rapi dan profesional, persis seperti asisten pribadi seorang pengusaha besar. Namun sesaat mata mereka bertemu, langkah pria itu mendadak terhenti.

"..."

"..."

Kenapa dia di sini? Keduanya saling menatap dengan ekspresi terkejut yang sama.

B e r s a m b u n g .....

Jangan lupa tinggalkan jejak, yah! Makasih (⁠^⁠^⁠)

1
falea sezi
mending ma Damian 🤣 dripada si goblok arkan kayaknya Sintia licik bgt ini jalang🤣
falea sezi
jangan mau sopii🤣 ada yg singgle. kok milih jd pelakor
Rumia Dell: Sopii food kah😭
total 1 replies
falea sezi
klo ma arkan pasti di nanti sintya ge recokin
falea sezi
ini mah bukan hemat tp medit buat diri sendiri😒
Rumia Dell: Gak boleh gitu, demi rumah impian 🤣
total 1 replies
Juli Rosan
keren
Rumia Dell: Ikutin terus ceritanya yah😍
total 1 replies
Dede Kurniawan
Seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!