"Hubungan yang berawal dari reuni kecil itu tumbuh begitu cepat, seolah waktu ingin mengejar ketertinggalan mereka selama di SMA. Arman adalah sosok kekasih yang penuh perhatian. Dia tahu kapan Kanaya sedang lelah hanya dari nada suaranya, dan dia selalu punya cara untuk membuat Kanaya merasa dihargai.
Bagi Kanaya, Arman adalah pelabuhan yang aman. Begitu pula bagi Arman, ketulusan dan kemandirian Kanaya adalah hal yang tidak bisa ia temukan pada perempuan lain."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelompok 1
"Oke, kelompok satu," ujar Wisnu sambil menggoreskan penanya di atas kertas agenda. "Biar adil dan koordinasinya gampang, kelompok pertama isinya: Arman, Lisa, Kanaya, dan... saya sendiri."
Mendengar deretan nama itu dibacakan, jantung Kanaya rasanya seperti berhenti berdetak sesaat. Ia langsung mendongak, menatap Wisnu dengan mata terbelalak kecil. Dari dua belas orang di kelompok ini, bagaimana bisa takdir mempermainkannya hingga ia harus berada di satu tim piket yang sama dengan mantan kekasih dan laki-laki yang sedang mendekatinya?
Kanaya refleks melirik ke arah Lisa, yang untungnya langsung tersenyum santai. "Wah, pas banget! Ada Pak Ketua langsung di tim kita. Berarti besok subuh jadwal pertama kita yang megang dapur ya?" tanya Lisa, mencairkan ketegangan yang sempat melintas di wajah Kanaya.
"Iya, betul. Besok subuh kita berempat sudah harus standby di dapur buat nyiapin sarapan sebelum kita koordinasi lagi sama Pak Kades," sahut Wisnu dengan senyum penuh semangat, sama sekali tidak menyadari badai canggung yang sedang berkecamuk di antara dua anggotanya.
Di seberang lingkaran, Arman yang sejak tadi bersandar diam di dinding, perlahan mengangkat kepalanya. Matanya sempat beradu pandang dengan Kanaya selama satu detik—tatapan yang sarat akan rasa bersalah dan kerinduan—sebelum Kanaya dengan cepat memalingkan wajahnya ke arah lain.
Arman mengepalkan tangannya tersembunyi di atas lutut. Berada di satu posko yang sama saja sudah cukup menyiksa batinnya, dan kini, ia harus bekerja sama dalam jarak yang sangat dekat dengan Kanaya, memperhatikan bagaimana Wisnu akan terus berada di sekitar perempuan itu, bahkan sejak matahari belum terbit.
"Nggak apa-apa kan, Nay? Man? Lisa?" tanya Wisnu memastikan, menatap anggota kelompoknya satu per satu.
"Aman, Kak Wisnu," jawab Lisa cepat.
Kanaya menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai dirinya sendiri agar tetap terlihat profesional sebagai mahasiswa KKN. "Iya, Kak. Aman," jawabnya pelan, sebisa mungkin menghindari kontak mata dengan Arman yang duduk tidak jauh di depannya.
Malam itu, di tengah keheningan Desa Sukamukti yang dikelilingi enam petak sawah, sebuah tim piket pertama resmi terbentuk, membawa empat orang dengan dinamika emosi yang rumit ke dalam satu dapur yang sama esok hari.
"Nah, untuk delapan orang sisanya, saya bagi jadi dua kelompok lagi ya," lanjut Wisnu sembari kembali menuliskan nama-nama anggota di buku agendanya.
Dengan cekatan, Wisnu membagi sisa anggota laki-laki dan perempuan ke dalam kelompok dua dan kelompok tiga secara adil. Setelah memastikan semua orang mendapatkan porsi tugas yang sama dan tidak ada yang keberatan, Wisnu akhirnya menutup buku agendanya dengan ketukan pelan.
"Oke, pembagian kelompok memasak dan piket sudah selesai. Karena besok adalah hari pertama kita mengabdi di Desa Sukamukti dan kelompok satu harus bangun subuh, mending sekarang kita langsung istirahat. Jangan begadang ya, teman-teman," pungkas Wisnu selaku ketua kelompok dengan nada mengayomi.
Mendengar instruksi itu, satu per satu dari dua belas mahasiswa itu mulai bangkit berdiri. Rasa lelah yang sempat terlupakan selama diskusi kini kembali menyerang tubuh mereka. Riuh suara pamit terdengar memenuhi ruang tengah saat mereka melangkah menuju kamar masing-masing.
Kanaya langsung berdiri, berjalan berdampingan dengan Lisa dan Mely menuju kamar perempuan di bagian depan. Ia merasa sangat lega rapat malam ini akhirnya usai, meskipun di dalam hatinya ada secercah rasa cemas memikirkan jadwal piket subuh esok hari bersama Arman dan Wisnu.
Di sudut lain, Arman berjalan pelan di barisan paling belakang rombongan laki-laki. Sebelum masuk ke kamarnya, langkahnya sempat tertahan sesaat. Ia menatap punggung Kanaya yang menghilang di balik pintu kamar depan. Arman menghela napas panjang, merapatkan jaketnya, lalu melangkah masuk ke kamarnya sendiri untuk mengistirahatkan tubuh dan hatinya yang lelah.
Pintu-pintu kamar pun tertutup rapat. Lampu ruang tengah diredupkan, menyisakan posko KKN di tengah enam petak sawah itu dalam keheningan malam yang pekat, bersiap menyambut fajar pertama mereka esek esok hari.