Rumah tangga Puann hancur seketika saat wanita dari masa lalu suaminya datang membawa kabar kehamilan, ditambah lagi fitnah bertubi-tubi yang membuatnya dikucilkan bahkan oleh keluarganya sendiri.
Di saat kepercayaannya sudah habis dan ia mulai bersandar pada laki-laki lain yang jauh lebih tulus, Bahlil, suaminya berjuang membuktikan bahwa semua itu hanyalah jebakan. Namun, kebenaran tentang masa lalu dan trauma besar yang disembunyikan Bahlil justru membuka luka yang jauh lebih dalam.
Di ambang perceraian dan di tengah pengakuan yang hampir menyatukan mereka kembali, sebuah skandal video pun muncul dan mematikan segala harapan.
Apakah cinta yang penuh kebohongan dan rasa sakit ini layak diperjuangkan, atau lebih baik diakhiri selamanya sebelum hati mereka benar-benar hancur lebur?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perempuan Masa Lalu Itu Datang
Lengan kekar Bahlil melingkar erat di pinggangnya, menciptakan rasa aman dan kedekatan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama hubungan kaku, mereka tidur berdekatan di bawah satu selimut.
Di dalam pelukan itu, Puann menyadari rasa sayangnya belum hilang sama sekali. Ia mulai ragu, apakah masih sanggup memendam amarah pada laki-laki yang berani membelanya siang tadi.
...***...
Keesokan paginya, sinar matahari masuk terasa lebih cerah. Udara di dalam rumah terasa ringan dan hangat, tanpa ketegangan seperti sebelumnya.
Puann bangun dalam posisi masih berdekatan dengan Bahlil. Ia menarik tubuh perlahan, pipinya memerah saat mengingat kejadian semalam.
"Pagi... Kamu bangunnya udah siang lho. Biasanya kamu yang bangunin aku duluan,"
"Pagi juga. Kamu sih kalau tidur nyenyak susah banget dibangunin. Lagian siapa lagi yang mau ngurusin kamu kalau bukan aku,"
"Memang cuma kamu satu-satunya yang berhak ngurusin aku, Puann. Nggak ada orang lain, percaya deh,"
Perubahan sikap Bahlil makin terasa nyata. Ia tak lagi membiarkan Puann mengerjakan tugas berat sendirian, dan menyelesaikan semua pekerjaan rumah dengan senang hati.
"Kamu duduk aja di situ. Biar aku yang selesaikan semua. Kamu kan istriku, tugasku bikin kamu nyaman, bukan bikin capek terus,"
"Kamu ini kenapa sih? Lagi ada maunya ya? Mas Bahlil yang biasanya diam dan pasrah, kok tiba-tiba jadi rajin banget?"
"Aku cuma sadar, Puann. Aku hampir kehilangan hal paling berharga gara-gara kebodohanku sendiri. Aku nggak mau ambil risiko bikin kamu kecewa atau pergi lagi,"
Hari-hari berlalu dengan suasana makin hangat. Bahlil sering mengajak Puann jalan-jalan, makan enak, atau sekadar duduk santai di taman kota.
Ia mulai menampakkan sisi lain dirinya, bukan lagi sekadar suami yang pasrah, melainkan laki-laki dewasa yang bertanggung jawab dan penuh perhatian.
"Mas, tempat ini mahal banget lho. Kok asal bawa aku ke sini sih? Nanti orang lihat aku pake baju biasa, aku malah malu sendiri,"
"Buat aku, kamu paling cantik dan berharga, mau pake baju apa aja. Biarin orang ngomong apa, yang penting aku mau manjain kamu. Selama ini kamu udah terlalu banyak hidup susah, sekarang waktunya rasain hidup enak sama aku,"
"Kamu... beneran suamiku yang dulu aku kenal nggak sih? Kok berubah banget sih?"
"Aku berubah jadi lebih baik demi kamu, Puann. Aku mau buktiin kalau aku bisa jadi suami yang kamu banggain, bukan yang bikin malu terus,"
Momen manis makin sering terjadi. Kadang saat duduk berdua di teras, Bahlil akan mengusap rambut Puann atau menggenggam tangannya lama tanpa mengucap kata.
Bayangan Citra dan rasa curiga perlahan hilang tertutup perhatian Bahlil. Puann sadar, meski kekecewaan masa lalu belum hilang seratus persen, rasa cintanya makin tumbuh kuat.
Suatu sore yang cerah, mereka duduk bersandar di motor Bahlil menikmati angin pinggir jalan. Suasana damai, hanya terdengar suara kendaraan lalu lintas.
Tiba-tiba sebuah mobil sedan putih mewah melambat lalu berhenti tepat di samping mereka. Kaca jendela diturunkan perlahan, memperlihatkan wajah wanita cantik yang sangat elegan.
Penampilan wanita itu tampak mahal dan berwibawa, berbeda jauh dari siapa pun yang pernah ditemui Puann. Wanita itu menatap Bahlil lekat-lekat sambil tersenyum penuh arti.
"Mas Bahlil? Lama banget nggak ketemu. Ternyata kamu ada di sini ya,"
Wajah Bahlil yang tadinya santai dan tersenyum, langsung berubah kaku dan pucat. Tangannya memegang setang motor hingga tampak tegang, sebab ia mengenali sosok itu.
Puann mengerutkan dahi. Ia memeluk pinggang Bahlil makin erat, merasakan suasana berubah menjadi tegang dan berat. Firasat buruk yang sempat hilang, kini datang kembali.
"Maaf, siapa ini, Mas?"
Belum sempat Bahlil menjawab, wanita itu kembali tersenyum lebih lebar. Ia melirik Puann sekilas dengan pandangan merendahkan, lalu kembali menatap Bahlil.
"Kamu lupa sama aku ya, Mas? Aku Arifatul. Tunangan kamu dulu, sebelum kamu tiba-tiba hilang terus nikah sama orang lain,"
Jantung Puann seakan berhenti berdetak seketika mendengar kalimat itu.
Puann melepaskan pelukannya perlahan. Tubuhnya menegang kaku di belakang punggung Bahlil. Nama dan status yang disebut wanita itu mengejutkannya luar biasa.
Arifatul masih duduk di dalam mobil mewahnya. Ia menatap Bahlil penuh kenangan dan rasa memiliki, sama sekali tidak mengacuhkan keberadaan Puann. Penampilan Arifatul sangat rapi, elegan, dan mewah, sangat berbeda dengan penampilan Puann yang sederhana.
“Mas? Emang kamu udah lupa sama aku? Dulu kan kita udah disiapin buat nikah, semua orang juga tahu kita pasangan sejati,” ucap Arifatul lembut tapi penuh tekanan.
Bahlil mematikan mesin kendaraannya. Ia turun perlahan, lalu berdiri tegap menghadap wanita itu dengan wajah dingin dan serius, tanpa ekspresi ramah sedikit pun.
“Aku nggak lupa, Arifatul. Tapi itu semua udah masa lalu, lagian kan batal,” jawab Bahlil tegas.
Arifatul tertawa kecil dengan nada getir dan rasa tidak percaya. Ia menatap Puann sekilas dari atas ke bawah dengan pandangan merendahkan, lalu kembali menatap Bahlil.
“Batal? Cuma gitu aja? Kamu hilang tanpa kabar, eh tiba-tiba aku dengar kamu udah nikah sama perempuan model begini,” kata Arifatul, menekankan kata terakhir untuk menyakiti hati Puann.
Puann mengepal tangannya erat. Ia turun dari kendaraan dan berdiri di samping suaminya. Rasa minder menyeruak saat ia sadar akan perbedaannya dengan Arifatul, wanita itu cantik, kaya, berkelas, dan memiliki sejarah panjang bersama Bahlil, sedangkan dirinya hanyalah istri sederhana yang baru mengenal sisi asli suaminya belakangan ini.
“Aku Puann, istri sah Mas Bahlil. Tolong ngomongnya sopan ya,” ucap Puann pelan tapi berusaha tegas meski suaranya sedikit bergetar.
Arifatul menoleh sekilas seolah melihat benda tak berharga. Ia tersenyum sinis, lalu kembali menatap Bahlil.
“Kamu milih dia? Di antara semua perempuan, di antara aku yang siap kasih segalanya, kamu malah ambil dia yang nggak punya apa-apa, polos, dan kaku? Mas Bahlil, kamu bercanda kan?” tanya Arifatul tak percaya.
“Pilihanku udah tepat, Arifatul. Puann istriku, cuma dia satu-satunya yang aku mau. Tolong hargai dan jangan ganggu hidup kami lagi,” jawab Bahlil cepat seraya merangkul bahu Puann mendekat untuk menunjukkan sikap melindungi.
Mata Arifatul menyala karena rasa cemburu dan marah. Ia menatap genggaman tangan Bahlil di bahu Puann dengan pandangan penuh kebencian. Belum sempat berbicara lagi, terdengar kendaraan lain berhenti di pinggir jalan. Beberapa kerabat dekat Puann turun dan mendekat.
Mereka penasaran dengan wanita cantik dan mewah yang sedang berbicara dengan Bahlil. Setelah mengetahui siapa Arifatul dan apa yang terjadi, reaksi mereka ternyata di luar dugaan.
“Wah, ini dia mantan tunangan Mas Bahlil ya? Cantik banget, elegan, dan kaya juga. Pantas banget dulu kalian cocok,” ucap bibi Puann dengan suara keras agar terdengar oleh Puann.
“Iya bener. Dulu nama Arifatul emang sangat dikenal di lingkungan usaha kita. Jelas dia lebih pas sama Mas Bahlil, sama-sama kaya dan berpendidikan. Beda banget sama Puann yang serba pas-pasan,” tambah paman Puann sambil menyindir.
Bahkan ibu Puann yang kebetulan ada di sana ikut berkomentar dengan wajah kecewa. Ia menatap Puann seolah berkata ‘sudah aku bilang juga apa’.
“Lihat kan, Puann? Urusan masa lalunya aja belum kelar. Jujur aja, Arifatul jauh lebih pantas dampingi suamimu yang ternyata orang besar itu. Jangan kaget kalau nanti ada apa-apa,” ucap ibunya ketus.
Semua ucapan itu menusuk hati Puann dengan tajam. Ia merasa sendirian, bukan hanya karena kehadiran wanita hebat dari masa lalu, tapi karena keluarganya sendiri justru mendukung wanita itu menggantikannya. Rasa tidak aman dan rasa rendah diri makin membesar di hatinya.
Arifatul tersenyum puas mendapatkan dukungan itu. Ia turun dari mobil, lalu berdiri sangat dekat dengan Bahlil, sepenuhnya mengabaikan keberadaan Puann.
“Denger kan, Mas? Semua orang tahu kita pasangan yang cocok, tahu hubungan kita nggak main-main. Kamu pikir nikah sama dia terus semua beres gitu aja?” tanya Arifatul sambil menatap tajam tepat ke manik mata Bahlil.