NovelToon NovelToon
Takdir Gelap Huang

Takdir Gelap Huang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: Zerro One

Kisah ini adalah perjalanan pilu seorang anak yang ditempa oleh kehilangan. Huang adalah perwujudan dari ketabahan dalam kesunyian, dipaksa dewasa oleh kematian tragis orang tuanya. Pohon beringin menjadi saksi bisu atas kesedihan abadi, sementara tidur enam tahun di dasar kolam adalah simbol kematian masa kecilnya dan kelahiran kembali sebagai seseorang yang sama sekali baru. Huang melangkah bukan hanya untuk mencari pembunuh, tetapi juga untuk menemukan arti dari hidup yang tersisa.

Tema pembalasan dendam, kesepian, dan keinginan untuk menjadi kuat demi melindungi yang tersisa... menjadi nyawa dalam cerita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zerro One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5. Langkah Pertama

Setelah beberapa saat, Huang bangkit, lalu berjalan menuju gubuk yang hampir hancur. Huang masuk kedalam, lalu melihat area dalam ruangan, tempat dimana kenangan masa kecilnya tersimpan.

Namun Huang tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan.

Kemudian...

Huang duduk bersila di atas lantai rumahnya yang dingin. Matanya terpejam rapat, dengan napas panjang juga stabil. Di dalam tubuhnya, aliran halus yang dahulu tidak pernah dia sadari kini bergerak perlahan mengikuti irama pernapasannya sendiri.

Energi tipis dari langit dan bumi masuk melalui pori-pori tubuhnya, mengalir melewati jalur-jalur yang telah terbuka, lalu berkumpul di pusat bawah perutnya. Perasaan hangat perlahan menyebar ke seluruh tubuh.

Huang mengingat kembali semua pemahaman yang diberikan pria tua di dasar kolam... cara mengatur napas, cara merasakan aliran energi, cara menjaga pikiran tetap tenang.

Dia tahu dirinya masih sangat kasar dalam mempraktikkannya. Beberapa kali aliran energi di tubuhnya menjadi kacau lalu buyar sendiri. Kadang energi yang baru saja dikumpulkan langsung menghilang begitu saja karena pikirannya terganggu oleh kenangan masa lalu.

Namun Huang tidak menyerah.

"Ayah selalu bilang... pekerjaan sulit harus dibiasakan sedikit demi sedikit..."

Suaranya pelan di dalam gubuk sunyi itu.

Kedua tangannya tetap berada di atas lutut. Dia kembali menenangkan pikirannya. Sedikit demi sedikit, aliran energi di tubuhnya mulai stabil kembali.

Waktu berlalu perlahan. Dari malam menuju fajar.

Ketika Huang membuka matanya, cahaya pagi telah masuk melalui celah-celah dinding bambu yang retak. Tubuhnya terasa jauh lebih ringan dibanding sebelumnya. Bahkan rasa lapar yang biasanya menusuk perut kini hanya tersisa sedikit.

Huang berdiri perlahan lalu keluar rumah.

Dua gundukan tanah di bawah pohon beringin masih berdiri diam seperti biasanya.

Huang berjalan mendekat, lalu berlutut. Kedua tangannya menopang tubuh saat dahinya menyentuh tanah di depan makam ayah dan ibunya.

"Selamat pagi, Ayah... Ibu..."

Suaranya lembut dan sopan.

"Huang akan pergi mencari makanan hari ini."

Tidak ada jawaban.

Mata Huang sedikit memerah, tetapi dia tidak menangis. Setelah menarik napas panjang, dia berdiri lalu menatap ke arah hutan di kejauhan.

"Aku ingin mencoba... seberapa jauh tubuhku berubah."

Tubuh Huang langsung bergerak.

BRAKK!

Tanah di bawah kakinya sedikit retak saat dia melesat maju. Huang sendiri sampai terkejut. Angin menerpa wajahnya dengan keras. Pepohonan dan semak-semak berlalu begitu cepat di sampingnya.

"Apa ini...?"

Matanya membelalak lebar.

Dia terus berlari, semakin lama semakin cepat. Tubuhnya terasa ringan seperti tidak memiliki berat sama sekali. Dahulu perjalanan menuju hutan membutuhkan waktu cukup lama baginya, tetapi sekarang hanya beberapa tarikan napas.

Tak lama kemudian, Huang sudah memasuki wilayah hutan. Dia berhenti di atas dahan pohon besar sambil menatap kedua tangannya sendiri.

"Aku benar-benar berubah..."

Namun Huang segera menggeleng pelan. Dia tahu kekuatan seperti ini belum berarti apa-apa di dunia luar yang luas. Pria tua itu telah memberinya banyak pemahaman. Di luar sana ada orang-orang yang mampu menghancurkan gunung atau membelah sungai. Dirinya sekarang masih terlalu kecil.

Huang kembali bergerak cepat di antara pepohonan. Tubuhnya melompat dari satu dahan ke dahan lain dengan lincah. Angin dingin membelah rambut hitam panjangnya.

Dia mencari hewan kecil. Namun seperti biasa, hutan ini sangat miskin buruan. Tidak banyak kelinci atau ayam hutan berkeliaran. Inilah alasan warga desa lebih sering membeli makanan murah dari pasar dibanding berburu sendiri.

Beberapa saat kemudian, Huang tiba-tiba berhenti.

Di kejauhan terdengar suara geraman berat.

GROOARRR...

Huang menyipitkan mata. Seekor beruang besar sedang mencabik tubuh rusa di dekat batu besar. Darah segar mengalir di tanah. Taring binatang itu dipenuhi daging merah yang masih hangat.

Huang mengenali bentuk tubuh itu. Hampir sama seperti beruang yang dulu mengejarnya menuju kolam. Namun Huang tidak membenci binatang itu. Justru karena dikejar beruang itulah hidupnya berubah.

Huang menatap rusa di kaki beruang itu beberapa saat.

"Aku hanya butuh makan... maafkan aku."

Tubuh Huang langsung melesat.

SWUSSH!

Beruang itu bahkan belum sempat bereaksi ketika Huang sudah muncul di dekat bangkai rusa. Tangannya menyambar tubuh rusa dengan cepat lalu langsung melompat tinggi ke atas pohon.

GROOOARRR!

Beruang besar itu meraung marah sambil menghantam tanah. Matanya merah penuh amarah saat melihat buruannya dirampas. Namun Huang sudah bergerak jauh. Tubuhnya melompat dari satu dahan ke dahan lain dengan sangat cepat. Sementara beruang di belakang hanya mampu mengaum tanpa bisa mengejar.

Tak lama kemudian, Huang kembali sampai di rumahnya yang hampir ambruk itu

Dia segera menyalakan api di dapur tua menggunakan ranting kering. Sebagian besar daging rusa dia potong kecil lalu diasapi agar tahan lebih lama. Sisanya dia panggang di atas api sederhana. Aroma daging mulai memenuhi rumah bambu itu.

Huang duduk diam di depan api sambil membalik daging perlahan menggunakan ranting kayu. Cahaya merah dari bara api memantul di matanya yang tenang.

Namun kesunyian rumah itu tetap terasa menyakitkan. Dahulu, ibunya selalu duduk di dekat tungku sambil tersenyum kecil. Ayahnya biasa mengupas buah liar di dekat pintu. Sekarang hanya ada dirinya sendiri.

Setelah daging matang, Huang membawa potongan terbesar menuju makam ayah dan ibunya. Dia duduk di tengah dua kuburan itu.

"Asapnya harum sekali hari ini..."

Huang tersenyum kecil sambil menaruh daging panggang di atas daun lebar.

"Ayah... Ibu... lihat ini. Huang dapat makanan enak."

Angin berembus pelan. Tidak ada jawaban.

Senyum Huang perlahan memudar. Matanya mulai berair, tetapi dia buru-buru menunduk lalu menggigit daging di tangannya. Rasa hangat dan gurih memenuhi mulutnya. Sudah lama sekali dia tidak memakan daging sebanyak ini.

"Enak sekali..."

Namun suaranya terdengar serak. Air matanya jatuh perlahan ke daging di tangannya sendiri.

Setelah selesai makan, Huang kembali masuk ke rumah. Dia kembali duduk bersila. Kembali menyerap energi. Kembali menenangkan pikirannya.

Hari demi hari berlalu seperti itu.

Meditasi.

Makan.

Meditasi lagi.

Energi di daerah desa itu sangat tipis. Kemajuan yang dia rasakan berjalan lambat. Namun karena dasar tubuhnya telah ditempa selama enam tahun, pemahamannya terhadap cara mengendalikan energi menjadi semakin matang.

Tubuh Huang juga terus berubah perlahan. Tatapannya menjadi lebih tenang. Gerakannya semakin ringan. Bahkan napasnya kini hampir tidak terdengar ketika berjalan.

Sebulan berlalu tanpa terasa.

Pada suatu sore, beberapa warga desa datang diam-diam menuju pohon beringin untuk melihat makam Lian dan Haoshu. Mereka langsung terkejut saat melihat seorang pemuda duduk tenang di depan rumah bambu tua.

"Itu... Huang?"

"Mustahil... bukankah anak itu menghilang enam tahun lalu?"

"Dia masih hidup?"

Bisik-bisik penuh ketakutan terdengar di antara mereka.

Huang membuka mata perlahan dari meditasinya lalu berdiri dengan sopan.

"Paman... Bibi..."

Warga desa saling menatap bingung melihat perubahan Huang. Bocah kecil kurus itu kini tumbuh menjadi pemuda tampan dengan rambut hitam panjang dan tatapan yang sulit dijelaskan.

Salah satu wanita tua memberanikan diri bertanya.

"Huang... dua makam itu... benar-benar makam ayah ibumu?"

Huang tersenyum tipis. "Iya, Bibi."

"Lalu selama ini kau ke mana?"

Huang terdiam sesaat. "Aku hanya bertahan hidup."

Jawabannya singkat. Dia tidak menjelaskan lebih banyak. Dan para warga desa pun tidak berani bertanya lebih jauh.

Hari demi hari kembali berlalu.

Hingga akhirnya pagi itu tiba.

Huang berdiri di depan rumahnya dengan buntalan kain sederhana di punggung. Isinya hanya pakaian ganti, sedikit daging asap, dan beberapa ramuan kering peninggalan ibunya yang masih tersisa.

Dia berjalan menuju dua makam di bawah pohon beringin, lalu berlutut perlahan. Tubuhnya membungkuk sangat dalam hingga dahinya menyentuh tanah.

"Ayah... Ibu..."

Suaranya bergetar kecil.

"Huang akan pergi."

Tangannya mencengkeram tanah di depan makam itu. "Huang ingin mencari orang yang membunuh Ayah dan Ibu. Dan Huang juga ingin melihat dunia yang lebih luas."

Air mata jatuh perlahan membasahi tanah.

"Maafkan Huang... mungkin perjalanan ini sangat panjang. Mungkin Huang tidak bisa kembali untuk waktu yang lama. Atau mungkin... tidak akan pernah kembali lagi."

Angin pagi meniup daun-daun beringin hingga bergesekan lirih seperti suara bisikan jauh.

Huang memeluk kedua makam itu satu per satu. Sangat lama. Seolah ingin mengingat kehangatan terakhir yang tidak pernah benar-benar ada.

Setelah itu dia berdiri perlahan. Tatapannya memandang rumah bambu reyot. Semua kenangannya... tertinggal diam di sana.

Huang menarik napas panjang.

"Ayah... ibu... Huang pergi."

Lalu tubuhnya melesat cepat meninggalkan desa kecil tanpa nama itu.

1
yos helmi
tamat.. jgn tunggu up.. thornya dah modaaar 🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
💪😄😄😄💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄👍👍👍
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣😄😄
yos helmi
yg anehnya ko lan dong bisa di murid dalam.. ??? thor jgn terlalu tolol buat cerita..
Tinta Abadi: Ini komentar nya juga aneh. Padahal udah ada narasi. Huang heran mengapa Lan Dong yang murid luar bisa ikut eksplorasi murid dalam. Kau tolol, tapi ngatain orang tolol. Padahal cerita pengenalan Dhu Yan udah dijelaskan. kalau dhu yan itu orang yang memiliki banyak koneksi.

ngakak banget bro ini salah mulu🤣
kok bisa ya kek gitu. bacanya di lompat lompat kah?
total 1 replies
yos helmi
banyak yg ketinggalan dlm cerita ini.. ilmu dari org misterius..
Tinta Abadi: Otak bro yang ketinggalan. Literasi minus. Jadi pembaca itu yang teliti sedikit bro. Jangan dungu.

Saran: Baca ulang bab 4 berulang-ulang sampai paham. Mungkin anda sudah tua, jadi otaknya lemot, saya memahami🙏

Kasihan authornya ditanya mulu. Kebiasaan baca novel warisan, jadi beberapa pembaca nganggep warisan itu kekuatan sakti. Padahal pemahaman dasar loh tentang kultivasi.
total 1 replies
yos helmi
👍👍👍💪💪
yos helmi
😄😄😄😍😍😍
yos helmi
😄😄😄😄😄💪💪💪👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!