Anya Anandita tidak pernah menyangka hidupnya akan sekacau ini. Di tengah himpitan utang medis mendiang ayahnya dan ancaman kehilangan tempat tinggal, ia justru dipertemukan lewat insiden memalukan dengan Devan Alfarezel CEO muda berhati dingin, arogan, dan perfeksionis yang paling dihindari semua karyawan di perusahaannya. Pertemuan pertama mereka berjalan buruk, menyisakan kekesalan mendalam di hati masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Royo Ekek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Terburuk Sepanjang Hidup
Jika ada kompetisi untuk manusia paling sial di muka bumi hari ini, Anya Anandita yakin ia akan keluar sebagai juara umum tanpa perlawanan.
"Kau dipecat, Anya. Kemasi barang-mu sebelum jam makan siang."
Suara dingin dari manajer HRD itu masih terngiang jelas di kepala Anya, bersahut-sahutan dengan bunyi rintik hujan yang menghantam payung lipat murahnya yang kini patah sebelah. Anya tidak melakukan kesalahan apa pun. Ia hanya menolak digoda oleh salah satu klien penting perusahaan, dan semenit kemudian, dialah yang didepak dengan alasan 'tidak bisa menjaga hubungan baik dengan mitra bisnis'.
Anya menghela napas berat, mengeratkan pelukannya pada kardus berisikan barang-barang kantornya. Air hujan mulai merembes, membasahi sepatu pantofelnya yang sudah mulai mengelupas di bagian ujung.
Belum sempat ia meratapi nasib kariernya, ponsel di saku mantelnya bergetar hebat. Nama 'Ibu' tertera di layar. Anya menelan ludah, mencoba menata suaranya agar terdengar baik-baik saja sebelum menggeser tombol hijau.
"Ya, Bu?"
"Anya..." Suara ibunya terdengar bergetar di seberang sana, diiringi isak tangis yang ditahan. "Pihak rumah sakit baru saja menelepon lagi. Sisa biaya perawatan mendiang ayahmu... mereka bilang jika minggu ini kita tidak mencicil setengahnya, mereka akan membawa kasus ini ke jalur hukum. Ibu... Ibu bingung harus mencari uang dari mana lagi, Nak."
Dunia Anya rasanya runtuh seketika. Lututnya melemas. Utang medis peninggalan almarhum ayahnya membengkak seperti bola salju yang siap mengubur mereka hidup-hidup.
"Ibu jangan khawatir, ya? Anya baru saja... dapat bonus besar dari kantor," dusta Anya, air matanya kini luruh menyatu dengan air hujan. "Anya akan transfer uangnya besok pagi. Ibu tenang saja, fokus jaga kesehatan Ibu."
Setelah panggilan terputus, Anya ambruk di halte bus. Ia menangis tersedu-sedu, mengabaikan tatapan aneh dari beberapa orang di sekitarnya. Logikanya buntu. Dari mana ia bisa mendapatkan uang puluhan juta dalam waktu semalam sedangkan ia baru saja menjadi pengangguran?
Jam menunjukkan pukul delapan malam ketika Anya berjalan lunglai di trotoar area bisnis Sudirman. Hujan semakin deras, badai angin membuat payung rusaknya terbang entah ke mana. Tubuhnya basah kuyup, menggigil kedinginan. Di tangan kanannya, ia memegang segelas kopi hitam panas yang baru ia beli dari minimarket—satu-satunya hal hangat yang bisa ia temukan untuk bertahan hidup malam ini.
Anya berjalan melewati lobi luar sebuah hotel bintang lima. Pikirannya melantur, meratapi betapa tidak adilnya hidup.
*Brak!*
"Ah?!" Anya menjerit kecil saat tubuhnya menabrak sesuatu yang keras—bukan tiang, melainkan dada seorang pria yang baru saja keluar dari pintu lobi kaca.
Gelas kopi di tangan Anya terlepas. Isinya yang berwarna hitam pekat dan masih mengepulkan uap sukses tumpah sepenuhnya, mengguyur kemeja putih dan jas wol mewah yang melekat di tubuh pria itu.
Suasana di sekitar lobi mendadak senyap. Beberapa petugas keamanan langsung tegang.
Anya membelalak panik. Ia mendongak, dan matanya langsung bertumpu pada sepasang manik mata sehitam elang yang menatapnya dengan kilat amarah yang begitu pekat. Pria itu bertubuh jangkung, memiliki rahang tegas yang mengeras, dan aura intimidasi yang membuat oksigen di sekitar Anya mendadak menguap.
"A-apa yang..." Pria itu bersuara. Suaranya rendah, bariton, dan teramat dingin. Ia menatap bercak kopi besar yang mengotori dada hingga perut jas mahalnya dengan tatapan jijik.
"Maaf! Maafkan saya, Pak! Saya benar-benar tidak sengaja!" Anya panik luar biasa. Dengan refleks bodohnya, ia mengambil beberapa lembar tisu lecek dari sakunya dan mencoba mengusap dada pria itu untuk membersihkan nodanya.
*Grep!*
Pergelangan tangan Anya dicengkeram dengan kuat, menghentikan gerakannya seketika. Cengkeraman pria itu begitu dingin namun bertenaga. Anya meringis, menatap wajah pria asing itu yang kini hanya berjarak beberapa senti darinya.
"Kau punya mata tidak?" desis pria itu, menatap Anya dari ujung kepala yang basah kuyup hingga ujung kaki, seolah sedang melihat seonggok sampah yang mengganggu pemandangan. "Jas ini dibuat khusus di London, dan kau menghancurkannya dalam satu detik dengan kopi murahanmu."
"Saya... saya benar-benar minta maaf. Saya akan tanggung jawab untuk biaya *laundry*-nya..." cicit Anya, suaranya bergetar karena takut dan kedinginan.
Pria itu tertawa hambar, sebuah tawa meremehkan yang menyakitkan telinga. Ia menghempaskan tangan Anya dengan kasar.
"Ganti rugi? *Laundry*?" Pria itu merapikan lengan jasnya yang tidak terkena kopi, lalu menatap Anya dengan pandangan merendahkan yang paling mutlak. "Bahkan jika kau menjual seluruh pakaian yang melekat di tubuhmu itu, kau tidak akan pernah mampu membayar harga jas ini. Singkirkan wajah sialmu dari hadapanku sebelum aku membuatmu membusuk di kantor polisi."
Pria itu berbalik, berjalan masuk kembali ke dalam hotel didampingi dua pengawalnya yang menatap Anya dengan pandangan memperingatkan.
Anya terpaku di bawah guyuran hujan yang merembes ke lobi luar. Tangannya bergetar hebat, bukan lagi hanya karena dingin, melainkan karena harga dirinya yang baru saja diinjak-injak sampai lumat.
"Dasar tirani arogan!" umpat Anya lirih dengan gigi bergemelatuk, menatap punggung tegap pria yang perlahan menghilang di balik pintu kaca.
Malam itu, di bawah langit Jakarta yang menangis, Anya bersumpah ia tidak akan pernah mau bertemu lagi dengan pria berhati iblis itu seumur hidupnya. Namun Anya tidak pernah tahu, bahwa pria berjas hitam itulah yang akan memutarbalikkan seluruh takdir hidupnya dua belas jam dari sekarang.