Rahasia Yang Kau Bawa

Rahasia Yang Kau Bawa

MALAM PERTAMA KEBEBASAN

BAB 1 — MALAM PERTAMA KEBEBASAN

Dentuman bass musik begitu kuat hingga terasa mengguncang lantai dan memantul di tulang rusuk setiap orang yang berada di dalamnya. Suara itu berpadu dengan riuh tawa dan sorak sorai yang memenuhi setiap sudut ruangan, menciptakan suasana yang hiruk-pikuk namun hidup. Lampu sorot warna-warni berputar liar di langit-langit, membelah kegelapan dan memantulkan cahaya keemasan pada permukaan gelas-gelas kristal berisi minuman mahal, serta menerpa wajah-wajah yang dipenuhi euforia dan kebebasan.

Di tengah keramaian itu, Keisha berdiri mematung di dekat meja bar.

Jemarinya menggenggam tali tas kecilnya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Benda itu terasa seperti satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak hanyut terbawa arus suasana asing yang begitu liar di sekelilingnya. Matanya bergerak gelisah ke sana kemari, mengamati orang-orang yang tampak begitu lepas dan menikmati malam. Ada yang tertawa terbahak-bahak hingga bahu mereka bergetar, ada yang bergoyang liar di atas lantai dansa, dan tak sedikit pasangan yang saling berpelukan mesra tanpa peduli pandangan orang lain.

Keisha menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa kering.

Seumur hidupnya, ini adalah pertama kalinya ia menginjakkan kaki di tempat semacam ini. Dunianya selama ini hanyalah dinding kelas, tumpukan buku tebal, dan deretan angka nilai di atas kertas. Tempat seperti klub malam ini hanyalah bayangan abstrak yang pernah ia dengar dari cerita orang lain, bukan tempat yang seharusnya ia singgahi.

“Ya ampun, Sha... ekspresi wajahmu kayak anak kecil yang tersesat di pasar malam,” suara renyah memecahkan lamunannya.

Rina muncul di sampingnya, membawa dua gelas tinggi berisi cairan berwarna merah menyala yang dihiasi potongan buah dan payet es. Sahabatnya itu tampak begitu percaya diri, dandanan glamornya sempurna, dan matanya berbinar-binar menikmati setiap detik suasana di sana.

“Aku memang merasa salah tempat,” gumam Keisha pelan, suaranya hampir tenggelam oleh musik.

Rina memutar bola matanya malas, lalu menyenggol bahu Keisha pelan. “Please deh, mikir dong. Kita baru saja resmi lulus SMA! Kamu juga sudah diterima di universitas impianmu dengan nilai gemilang! Ini malam perayaan, bukan malam sidang skripsi atau interogasi. Santai sedikit, dong.”

Keisha menghela napas panjang, mencoba mengurai ketegangan yang menjalar di bahunya. Mungkin Rina benar. Selama tiga tahun terakhir, hidupnya benar-benar didikte oleh jadwal yang padat. Pagi sekolah, sore les, malam mengerjakan soal latihan. Saat teman-teman lain sibuk merajut asmara atau sekadar nongkrong menghabiskan waktu, Keisha sibuk mengejar beasiswa dan target nilai sempurna.

Malam ini seharusnya menjadi hadiah kecil untuk dirinya sendiri. Penghargaan atas segala lelah yang sudah ia lalui.

“Nah, minum dulu. Biar pikiran dan badan jadi lebih rileks,” ujar Rina sambil menyodorkan salah satu gelas itu ke hadapan Keisha.

Keisha menatap cairan merah itu dengan ragu. Warnanya tampak mengundang, tapi ia tak tahu apa isinya.

“Ini... aman, kan?” tanyanya was-was.

Rina terkekeh, suaranya terdengar ceria. “Tenang aja, bukan racun kok. Cuma cocktail manis, nggak bikin mabuk. Coba aja dulu.”

Sahabatnya itu kemudian menarik tangan Keisha untuk duduk di atas bangku tinggi di depan bar. Dengan tangan sedikit gemetar, Keisha membawa gelas itu mendekat ke bibirnya. Ia menarik napas panjang sekali lagi, memberanikan diri, lalu meneguknya sedikit.

Rasa manis yang segar langsung menyerbu lidah, disusul dengan sensasi hangat yang sedikit pedas merambat turun ke tenggorokan, lalu menyebar perlahan ke seluruh dada. Rasanya aneh, asing, namun... tidak buruk. Justru ada rasa nyaman yang mulai menjalar.

“Nah, gitu dong!” seru Rina sambil bertepuk tangan kecil, tampak bangga melihat temannya mau menurut.

Keisha pun akhirnya tertawa kecil. Tawa yang tulus untuk pertama kalinya malam itu.

Mungkin, hanya satu malam saja bersenang-senang tidak akan merusak segalanya. Membiarkan dirinya bebas sejenak dari segala aturan dan target.

Mungkin.

 

Waktu bergulir, dan efek minuman serta suasana mulai bekerja. Bahu Keisha yang semula kaku seperti patung kini perlahan mulai melunak. Musik yang tadinya terdengar terlalu bising dan memekakkan telinga, kini mulai terdengar berirama dan justru terasa memacu adrenalin.

Ia bahkan mulai ikut menggerakkan ujung kakinya dan menggoyangkan bahu pelan mengikuti beat lagu yang sedang diputar.

Rina menatapnya dengan ekspresi dramatis, tangannya menutup mulut seolah melihat keajaiban. “Wah, lihat tuh! Akhirnya es batu pun bisa ikut goyang juga. Gue kira lo bakal jadi patung sepanjang malam.”

“Dih, apaan sih,” balas Keisha sambil tertawa renyah, memukul pelan lengan sahabatnya itu.

Namun, tawanya itu tiba-tiba terhenti di tengah jalan.

Ada sesuatu yang berubah.

Sebuah perasaan aneh merayap naik dari ujung kaki, membuat bulu kuduk di sekujur tubuhnya berdiri tegak. Seolah ada sepasang mata yang sedang mengamati setiap gerak-geriknya. Intens. Menembus.

Entah kenapa, instingnya mengatakan bahwa ia tidak sendirian.

Perlahan, dengan hati yang mulai berdegup lebih kencang, Keisha menoleh ke arah seberang ruangan. Matanya menyusuri kerumunan, hingga akhirnya berhenti pada satu titik.

Dan di sanalah dia melihatnya.

Seorang pria berdiri bersandar santai pada pilar besar di sudut ruangan. Posturnya tinggi dan tegap, memancarkan aura dominan yang sulit diabaikan. Satu tangannya dimasukkan ke dalam saku celana bahan yang terlihat mahal, sementara tangan lainnya memutar-mutar gelas whiskey berisi cairan keemasan.

Ia mengenakan kemeja hitam yang satu kancing atasnya dibiarkan terbuka, memberikan sedikit gambaran kulit dadanya yang kekar. Lengan bajunya digulung rapi hingga ke siku, memperlihatkan lengan yang berotot namun terawat, melingkarkan jam tangan mewah di pergelangan tangannya.

Wajahnya tampan dengan garis rahang yang tegas dan tajam, hidung mancung, dan tatapan mata yang gelap serta dalam. Tatapan itu datar, namun memiliki kekuatan yang begitu besar seolah mampu menyedot seluruh perhatian.

Dan saat ini... pria itu sedang menatap lurus ke arahnya.

Jantung Keisha serasa berhenti berdetak sejenak, lalu mulai berpacu tak karuan seolah ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Ia buru-buru memalingkan wajah, berpura-pura sibuk mengutak-atik tasnya, jantungnya masih berdebar hebat.

“Ada apa, Sha? Kok tiba-tiba diem?” tanya Rina menyadari perubahan sikap temannya.

“Enggak... nggak apa-apa,” jawab Keisha gugup, suaranya sedikit bergetar.

Namun rasa penasaran ternyata jauh lebih besar daripada rasa malunya. Beberapa detik kemudian, ia kembali melirik diam-diam ke arah pilar itu.

Pria itu masih di sana.

Posisi tubuhnya tidak berubah, tapi tatapannya masih tertuju tepat pada Keisha. Kali ini, sudut bibirnya yang tegas itu terangkat sedikit, membentuk sebuah senyum tipis. Senyum yang sulit diartikan; entah itu mengejek, menggoda, atau sekadar basa-basi.

Tapi itu cukup membuat Keisha salah tingkah. Ia buru-buru meneguk minumannya lagi untuk menutupi kegugupan yang memuncak.

“Sha...” Rina menyipitkan matanya, mencoba mengikuti arah pandang Keisha. “Wah... jangan-jangan kamu lagi dilirik cowok ganteng, ya?”

“Apanya yang ganteng, ah.”

“Itu lho... yang di pojok, pakai baju hitam.”

Keisha menatap Rina lekat-lekat. “Kamu lihat juga?”

Rina mengangguk cepat, lalu menoleh kembali ke arah pria itu, dan matanya seketika membesar. “Ya Tuhan, ganteng banget sumpah! Itu mah levelnya CEO di drama-drama Korea atau novel wattpad yang tajir melintir!”

“Rina!” seru Keisha sambil memukul lengan temannya, namun pipinya terasa panas menjalar hingga ke leher.

Ia benar-benar tidak mengerti. Kenapa pria sekeren dan seberkelas itu harus menatapnya? Mereka bahkan tidak saling mengenal. Pria seperti itu pasti terbiasa dikelilingi oleh wanita-wanita cantik, percaya diri, dan seksi. Bukan gadis polos, pemalu, dan kikuk sepertinya yang bahkan baru pertama kali ini menginjakkan kaki di tempat seperti itu.

Namun saat Keisha memberanikan diri menoleh sekali lagi...

Dunianya seakan berputar lebih lambat.

Pria itu tidak lagi bersandar.

Dia sedang berjalan.

Berjalan mendekat ke arahnya.

Langkahnya santai, tenang, dan penuh perhitungan. Namun anehnya, kerumunan orang di depannya seolah otomatis memberi jalan, seolah mereka sadar bahwa ada sosok penting yang sedang lewat. Setiap langkah pria itu membuat jantung Keisha makin berdebar kencang, hingga rasanya sesak di dada.

“Sha...” bisik Rina, suaranya terdengar panik namun penuh kegembiraan. “Dihampirin... dia dihampirin lo!”

“Aku tahu, aku tahu!” desis Keisha, tangannya mulai berkeringat dingin.

“Yaudah, aku pamit dulu ya! Sana ngobrol berdua aja!”

“Rina! Jangan tinggalin gue!”

Terlambat. Sahabatnya yang kurang ajar itu sudah melenggang pergi dengan senyum jahil, meninggalkan Keisha sendirian di depan bar, menghilang begitu saja di tengah kerumunan.

Kini, Keisha benar-benar sendirian.

Dan pria itu sudah berhenti tepat di depannya.

Jarak mereka begitu dekat. Keisha harus mendongak cukup tinggi untuk bisa menatap wajahnya dengan jelas. Aroma parfum mahal berwangi kayu dan rempah-rempah tercium samar, hangat dan sangat maskulin, langsung menyeruak masuk ke penciumannya.

Pria itu menatapnya lekat-lekat, tanpa tergesa-gesa, seolah sedang mengamati sesuatu yang menarik.

“Pertama kali ke tempat seperti ini?”

Suaranya berat, rendah, dan berwibawa. Bergetar di dada Keisha yang mendengarnya.

Keisha menelan ludah lagi, berusaha mengumpulkan sisa keberanian yang ada.

“Kelihatan banget ya?” tanyanya pelan.

“Sedikit,” jawab pria itu, dan kembali ada senyum tipis yang menghiasi bibirnya. Senyum yang membuat jantung Keisha makin tak beraturan.

Keisha menggigit bibir bawahnya gugup. “Aku... aku datang sama teman.”

“Temanmu sepertinya sudah meninggalkanmu sendirian.”

Keisha menoleh cepat ke sekeliling, mencari sosok Rina, tapi sahabatnya itu benar-benar sudah lenyap ditelan malam. Ia memejamkan mata sejenak, merasa sangat malu dan dipermalukan.

Saat ia membuka mata kembali, pria itu sudah mengulurkan tangannya ke arahnya. Tangan itu besar, kokoh, dan bersih.

“Arsen,” perkenalannya singkat dan padat.

Keisha menatap tangan itu selama dua detik yang terasa seperti berjam-jam, sebelum akhirnya menyambutnya dengan ragu-ragu. Sentuhan itu hanya singkat, hangat, dan tegas, namun cukup membuat napas Keisha tercekat di tenggorokan.

“Keisha.”

“Nama yang cantik,” ujar Arsen, tak melepaskan tatapan tajamnya dari mata Keisha.

Keisha terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa, harus berbuat apa. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa benar-benar gugup, bingung, dan kehilangan kata-kata di hadapan seorang lawan jenis.

Dan yang lebih aneh lagi...

Di tengah rasa takut dan canggung itu, ada sebuah perasaan aneh yang muncul. Ia tidak ingin pergi dari sana. Ia ingin tetap berada di dekat pria bernama Arsen ini.

 

Di sudut ruangan yang lain, musik masih berdentum keras, lampu masih berputar liar, dan orang-orang masih terus tertawa serta menari.

Namun bagi Keisha, semua suara itu mendadak menghilang.

Dunianya seakan meredup, menyisakan hanya detak jantungnya sendiri yang berirama kacau.

Dan sosok pria bernama Arsen yang kini berdiri begitu dekat, seolah menjadi satu-satunya realita yang ada di hadapannya.

Bersambung...

Episodes
1 MALAM PERTAMA KEBEBASAN
2 PRIA BERNAMA ARSEN
3 SATU MALAM YANG SALAH
4 TIDAK AKAN BERTEMU LAGI
5 DUA GARIS MERAH
6 MENCARI PRIA YANG HILANG
7 KABUR MEMBAWA RAHASIA
8 NEGERI ASING DAN NAMA YANG TERTINGGAL
9 RAHASIA YANG TUMBUH
10 SURAT YANG TAK PERNAH DIKIRIM
11 NAMA UNTUK SEORANG BAYI
12 HARI LEO LAHIR
13 KAMI BERDUA SUDAH CUKUP
14 AKU HARUS PULANG
15 KOTA LAMA, JANTUNG LAMA
16 WAJAH KECIL YANG MENGHENTIKAN WAKTU
17 AKU DATANG MENJEMPUT MILIKKU
18 DUA HARI UNTUK MEMILIH
19 KAU BISA MEMBENCIKU, TAPI BUKAN MENJAUHKAN ANAKKU
20 HASIL YANG TAK BISA DIBANTAH
21 MAKAN MALAM PERTAMA SEBAGAI AYAH
22 KATA YANG TERUCAP TANPA SENGAJA
23 AKU TIDAK MAU KEHILANGAN LAGI
24 JANGAN DEKATI WANITA ITU
25 KALAU MAU DEKAT DIA, LEWATI AKU DULU
26 SATU RUMAH, DUA KEPALA BATU
27 CEMBURU ITU TIDAK ELEGAN
28 JANGAN BIKIN AKU TERBIASA
29 SEKALI LAGI, AKU CIUM
30 AKU TIDAK BISA MARAH
31 DATANG BERSAMA WANITA LAIN
32 AKU BUKAN CEMBURU
33 FOKUS SAYA BUKAN KAMU
34 GAMBAR TIGA ORANG
35 JANGAN TERLALU NYAMAN
36 CEMBURU YANG PERTAMA KALI JUJUR
37 RINDU ITU DATANG CEPAT
38 CEPAT PULANG
39 KENAPA PAPA TIDAK TINGGAL DI SINI?
40 KALAU AKU MELAMAR
41 KAU BOHONGI AKU LAGI
42 AKU PERGI LAGI
43 JANGAN PERGI LAGI
44 KAU HARUS MELAWAN AYAHMU
45 AKU PILIH MEREKA
46 JANGAN LAMAR AKU DI DEPAN BANYAK ORANG
47 AKU CEMBURU LAGI
48 LEO MENDENGAR SEMUANYA
49 KAU SUDAH JADI RUMAH
50 AKU TIDAK MAU KEHILANGANMU LAGI
51 BUKAN KARENA TERPAKSA
52 AKU MEMILIH KAMU
53 DUNIA KITA TIDAK SEDERHANA
54 KAMU MAU PERGI LAGI?
55 KALI INI AKU TIDAK LARI
56 LAMARAN YANG SEBENARNYA
57 BELAJAR JADI KITA
58 NAMA KELUARGA KITA
59 HARI KITA
60 BAB 60 — AKHIR YANG KITA PILIH
Episodes

Updated 60 Episodes

1
MALAM PERTAMA KEBEBASAN
2
PRIA BERNAMA ARSEN
3
SATU MALAM YANG SALAH
4
TIDAK AKAN BERTEMU LAGI
5
DUA GARIS MERAH
6
MENCARI PRIA YANG HILANG
7
KABUR MEMBAWA RAHASIA
8
NEGERI ASING DAN NAMA YANG TERTINGGAL
9
RAHASIA YANG TUMBUH
10
SURAT YANG TAK PERNAH DIKIRIM
11
NAMA UNTUK SEORANG BAYI
12
HARI LEO LAHIR
13
KAMI BERDUA SUDAH CUKUP
14
AKU HARUS PULANG
15
KOTA LAMA, JANTUNG LAMA
16
WAJAH KECIL YANG MENGHENTIKAN WAKTU
17
AKU DATANG MENJEMPUT MILIKKU
18
DUA HARI UNTUK MEMILIH
19
KAU BISA MEMBENCIKU, TAPI BUKAN MENJAUHKAN ANAKKU
20
HASIL YANG TAK BISA DIBANTAH
21
MAKAN MALAM PERTAMA SEBAGAI AYAH
22
KATA YANG TERUCAP TANPA SENGAJA
23
AKU TIDAK MAU KEHILANGAN LAGI
24
JANGAN DEKATI WANITA ITU
25
KALAU MAU DEKAT DIA, LEWATI AKU DULU
26
SATU RUMAH, DUA KEPALA BATU
27
CEMBURU ITU TIDAK ELEGAN
28
JANGAN BIKIN AKU TERBIASA
29
SEKALI LAGI, AKU CIUM
30
AKU TIDAK BISA MARAH
31
DATANG BERSAMA WANITA LAIN
32
AKU BUKAN CEMBURU
33
FOKUS SAYA BUKAN KAMU
34
GAMBAR TIGA ORANG
35
JANGAN TERLALU NYAMAN
36
CEMBURU YANG PERTAMA KALI JUJUR
37
RINDU ITU DATANG CEPAT
38
CEPAT PULANG
39
KENAPA PAPA TIDAK TINGGAL DI SINI?
40
KALAU AKU MELAMAR
41
KAU BOHONGI AKU LAGI
42
AKU PERGI LAGI
43
JANGAN PERGI LAGI
44
KAU HARUS MELAWAN AYAHMU
45
AKU PILIH MEREKA
46
JANGAN LAMAR AKU DI DEPAN BANYAK ORANG
47
AKU CEMBURU LAGI
48
LEO MENDENGAR SEMUANYA
49
KAU SUDAH JADI RUMAH
50
AKU TIDAK MAU KEHILANGANMU LAGI
51
BUKAN KARENA TERPAKSA
52
AKU MEMILIH KAMU
53
DUNIA KITA TIDAK SEDERHANA
54
KAMU MAU PERGI LAGI?
55
KALI INI AKU TIDAK LARI
56
LAMARAN YANG SEBENARNYA
57
BELAJAR JADI KITA
58
NAMA KELUARGA KITA
59
HARI KITA
60
BAB 60 — AKHIR YANG KITA PILIH

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!