NovelToon NovelToon
Sovereign Asura

Sovereign Asura

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Akademi Sihir / Epik Petualangan
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ilfar Aksara

‎"Aku akan menanggung semua kebencian di dunia ini sendirian."

‎Kalimat itu lahir saat dadamu ditembus cahaya.
‎Duniaku runtuh seketika tanpa suara,
‎Meninggalkan kepal tangan yang mengutuk semesta.

‎Kau adalah detak jantung dari raga yang pincang,
‎Satu-satunya alasan bagi sepasang kaki untuk pulang.
‎Kini, kau terbujur kaku di bawah langit yang menghitam,
‎Membuat seluruh kenyataan ini tak lagi berarti untuk dipandang.

‎Dunia yang membiarkanmu mati adalah dunia yang salah,
‎Maka biarlah sejarah kukoyak hingga menyerah.

‎Aku akan membangun surga di atas puing yang bersimbah,
‎Tempat di mana bayangmu tak akan pernah lagi berdarah.

‎Dunia sihir ini tidak akan bisa dihancurkan hanya dengan kegelapan yang ada di dalamnya. Sebelum mencapai tahap kedua di mana dunia terbebas dari siklus kebencian, seseorang harus menjadi target bagi dunia.

‎"Seseorang harus memikul semua rasa sakit dan dendam itu sendirian, dan akulah orangnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilfar Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 9 - Awal Semula

‎Tidak seperti minggu-minggu sebelumnya, beberapa hari ini Ashura berlatih dibawah bimbingan Vipera.

‎Malam itu, Ashura kembali ke rumah setelah berlatih dengan Vipera, ada kecemasan yang tidak dapat ia pahami. Ia merasakan segel sihir yang ada ditubuhnya seperti melemah.

‎Waktu berjalan dengan cepat dan tak terasa Ashura akan berumur sepuluh tahun, mengingat itu membuat Ashura merasa sendiri. Perasaannya saat ini terlihat cemas dengan wajah yang gelisah dan tangan yang gemetaran.

‎Sesampainya di rumah, Ashura mengunci pintu dan secepat mungkin menuju kamar. Tangannya gemetaran saat dirinya mendengar suara petir yang menggelegar diluar sana.

‎Lalu Ashura memejamkan matanya dan larut dalam perasaan cemas. Langit malam yang gelap di Ibukota Flameheart berubah menjadi dingin saat salju mulai berjatuhan.

‎Ashura menatap keluar jendela, begitu melihat salju yang jatuh diluar, pikirannya tenggelam dan dunianya bergoyang. Ashura pun tenggelam dalam ingatan masa lalunya.

‎Kembali ke malam itu, malam tanpa bintang yang menyelimuti langit malam Ibukota Xyrus.

‎Badai salju mengamuk. Angin melolong kencang.

‎Pohon-pohon, bangunan dan hampir seluruh tempat diselimuti es tebal.

‎Ashrua tergeletak pingsan dan tidak sadarkan diri, tetapi cuaca ekstrem yang terjadi belum juga berhenti.

‎Dari kejauhan terlihat sosok Raphael mengamati Ashura, ditemani ketiga penyihir dari Organisasi Seven Deadly Sins.

‎"Kekuatannya sangat mengerikan! Aku tidak pernah menduga dia akan tumbuh kuat seperti ini!" ujar Raphael, tatapan tajam melihat kearah Ashura.

‎"Darah suci itu akan kita persembahkan pada Dewa Iblis Leviathan!" Raphael melanjutkan, namun sebuah aura yang kuat terasa di udara.

‎"Tuan Malphas, sepertinya kita kedatangan tamu..." ujar salah satu penyihir.

‎Penyihir bernama Abaddon Pride memberitahu, kemudian ia melepaskan mana dalam jumlah besar, namun Raphael menghentikannya.

‎"Hentikan! Percuma saja kau menghentikan waktu untuk sementara, karena yang datang bukanlah penyihir biasa..." Sosok Raphael yang mereka panggil Malphas tersenyum menyeringai, "Salah satu penyihir api terkuat yang pernah ada datang menyapa kita!"

‎Mendengar hal itu, mereka bertiga langsung menajamkan indera penglihatannya dan menemukan sosok penyihir yang memiliki julukan, "Kaisar Api."

‎"Kaisar Api datang kemari, apa yang dia rencanakan?" Abaddon menatap tajam, dan terlihat ingin bertarung.

‎"Kau mundur, Abaddon! Dia akan menjadi mangsaku! Kita tidak bisa membiarkan Leon Leywin menyadarinya!" salah satu penyihir yang memakai pakaian serba putih, sesuai warna rambutnya berjalan diudara.

‎"Sepertinya badai salju ini juga akan berhenti..." ucap penyihir bernama Valis Sloth tersebut.

‎"Tuan Malphas, bolehkah aku turun tangan?" Valis meminta izin pada sosok Raphael yang ia sebut Malphas.

‎"Lakukan sesukamu, Valis. Pastikan kalian bertiga membunuhnya! Aku akan melakukan ritual agar perpindahan jiwa sepenuhnya selesai dan tubuh Raphael menjadi milikku!" Setelah mengatakan itu, sosok Raphael menghilang.

‎"Valis, lebih baik kau mengamati dan biarkan aku yang melawannya!" ujar Abaddon, karena dirinya memang tertarik melawan musuh yang lebih kuat.

‎"Tuan Malphas menyerahkan ini padaku..." Valis memusatkan mana pada kelima jarinya, dan terlihat aura berwarna hitam muncul diujung setiap jarinya.

‎"Aku benci orang yang berlagak sebagai pahlawan!"

‎Kemudian Valis pun menggerakkan tangannya dan terlihat seperti menulis sesuatu di udara.

‎Melihat apa yang dilakukan Valis, membuat Abaddon dan penyihir berambut kuning keemasan menjaga jarak.

‎"Awas saja jika kau sampai membunuh anak itu, Valis! Pastikan untuk menyiksa dan mendengar jeritannya sebelum kita menghabisi nyawanya!" Penyihir bernama Valthor Wrath mengingatkan.

‎"Kalian berdua psikopat yang menyebalkan!" ujar Abaddon dan terlihat kesal.

‎Valthor mengerutkan keningnya mendengar ucapan Abaddon, "Psikopat katamu? Apa yang membedakan kami dengan dirimu, Abaddon sialan?"

‎"Lebih baik kita menghancurkan kota lain di negeri ini! Aku tidak tertarik dengan anak-anak! Aku lebih menyukai perempuan dan teriakan ketakutan gadis-gadis yang membuatku merasa lebih hidup!" ujar Abaddon sambil tertawa cekikikan.

‎"Diamlah, kalian berdua! Kalian mengganggu konsentrasku!" Valis menegur, lalu di udara muncul seekor naga berwarna hitam yang berukuran besar, terbang di udara.

‎Abaddon dan Valthor langsung menjaga jarak lebih jauh lagi, keduanya terlihat memasang ekspresi buruk.

‎"Lihat, dia akan melakukan hal yang gila!" ujar Abaddon kepada Valthor.

‎"Naga sialan itu akan memanggang bocah itu, Abaddon! Apa kau yakin membiarkannya melakukan hal gila?" Valthor berdecak kesal.

‎Tak lama Ashura terbangun dan menemukan dirinya di hamparan tanah, bangunan dan pohon-pohon bersalju yang seluruhnya telah membeku.

‎Mengingat kenyataan pahit itu, Ashura pun menangis dan berteriak histeris meluapkan kesedihannya. Namun teriakan keputusasaannya itu, ditelan oleh suara auman Naga milik sihir Valis.

‎"Word Magic - Dragon!"

‎Valis langsung mengamati Naga Hitam yang ia ciptakan dari atas langit, dan memulihkan mana miliknya yang terkuras cukup besar.

‎"Naga..." Ashura yang sudah putus asa terlihat tidak takut, melainkan pasrah dan menerima kenyataan jika dirinya akan mati malam ini.

‎Namun saat Naga Hitam itu hendak melumat Ashura hidup-hidup, sebuah tinju api menghantam mulutnya hingga sang Naga Hitam tumbang terkapar di tanah bersalju.

‎"Sepertinya aku terlambat ya..." Sosok pria berambut merah yang mengenakan jaket hitam bertuliskan, "IGNIS" dan lambang Phoenix Api berdiri didepan Ashura.

‎Pria itu memiliki paras yang tampan, dengan tatapan mata yang tajam dan dingin.

‎"Apa yang dilakukan Yang Mulia Raphael dan Xilla karena membiarkan mereka disini?" Sosok Leon Leywin menatap tajam Valis yang ada diatas.

‎Leon Leywin melepaskan mana dalam jumlah yang sangat besar, merasakan hawa kehidupan disekitarnya dan mencoba merasakan mana milik sosok yang disebut Xilla.

‎"Seperti itu ya..." Leon terlihat tersenyum kecut, dan menoleh ke arah Ashura yang menatap semuanya dengan tatapan kosong.

‎"Xilla, jadi kau telah pergi ya? Maafkan aku, tidak bisa menepati janjiku untuk menikahimu..."

‎Tepat setelah mengatakan itu, hawa dingin yang memenuhi Ibukota Xyrus itu berubah menjadi hangat.

‎"Julukan Kaisar Api bukanlah omong kosong! Kau pantas untuk dibunuh Leon Leywin!" ujar Valis sambil mengayunkan jarinya udara, menulis sesuatu dan merapalkan mantra sihir miliknya.

‎"Word Magic - Phoenix!"

‎Melihat Valis menciptakan seekor Phoenix berjumlah lima, Leon pun bergerak dengan kecepatan tinggi menuju Valis.

‎Pergerakan Leon begitu cepat, belum sempat Valis melakukan gerakan selanjutnya, Leon sudah berdiri dibelakangnya.

‎"Kaulah yang pantas untuk dibunuh!"

‎Kedua tangan Leon diselimuti api dan dalam satu kali pukulannya, tubuh Valis terhempas kebawah lalu menghantam daratan bersalju dengan sangat kuat.

‎BOOOMMM!!!

‎Ledakan tercipta saat tubuh Valis menghantam tanah dengan kecepatan tinggi.

‎Perbedaan kekuatan antara Leon Leywin dan Valis Sloth terlihat jelas. Namun pertarungan belum usai, Valis belum mati dan melepaskan kekuatan sihirnya lebih besar dari sebelumnya.

1
Green Nord 1927
Wani!!!
Bontang FC
Lanjut Wal 💪
Jakarta Stay High
enjooooooy 👍
Republik Orange
hiks hiks
The Horizon
jincurikiii
Maung Bandung
Inget Narutooo
Cimol
Lanjuttt
Alia Chans
keren✍️
Indialys Emberwind: Kakak juga keren👋
total 1 replies
Protocetus
Min bagus cover yang kmrn 🥲
Indialys Emberwind: Disuruh ganti Thor sama pihak Noveltoon 🤣
total 1 replies
Haikal Blues
Lanjuttt💪
Ahmad Qoyum
🔥🔥🔥
Ahmad Qoyum
pelan-pelan, jangan hancurkan masa depan sikecil
Protocetus
Let's go Thor!
Indialys Emberwind: Siap Thor
total 1 replies
Endri Ningtyas
lanjut💪
Haikal Blues
Cool
Haikal Blues
gokillll
Goat: super gokil
total 1 replies
Ahmad Qoyum
Jangan koit dulu thor, ada anak istri yang harus di nafkahi
Ahmad Qoyum
Gas thor
Indialys Emberwind: Gracias por leer, amigo, Decul🤣
total 1 replies
Ahmad Qoyum
💪💪💪
Endri Ningtyas
novelny sihir tpi inget anime sedih/Sob/
Indialys Emberwind: Enjoy reading, Kakak. Semoga suka ya hehe🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!