NovelToon NovelToon
Romansa Malam Di Jogjakarta

Romansa Malam Di Jogjakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintapertama / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:351
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Di tengah guyuran hujan Kota Senja, Arya menemukan lebih dari sekadar buku sejarah di perpustakaan tua—ia bertemu dengan Naya, seorang gadis misterius yang secara tak terduga membuat hatinya berdebar. Pertemuan yang terasa seperti kebetulan itu berubah menjadi awal dari sebuah misteri besar, ketika Arya menemukan foto tua tersembunyi yang mengungkapkan hubungan tak terduga: wajah Naya sangat mirip dengan wanita yang terlihat bersama ibunya, yang menghilang secara misterius setahun lalu tanpa meninggalkan jejak.

Dibakar oleh rasa penasaran dan keinginan untuk menemukan kebenaran di balik hilangnya ibunya, Arya mulai menyelidiki masa lalu keluarga-keluarga besar di kota itu. Semakin ia menggali, semakin ia menyadari bahwa pertemuan dengan Naya bukanlah kebetulan belaka. Di balik ketenangan Kota Senja, tersimpan rahasia kelam, persekutuan tersembunyi, dan kekuatan yang selama ini berusaha ditutup-tutupi. Arya harus berhati-hati, karena setiap langkahnya menuntunnya lebih dekat pada bahaya—dan pada kenyataan yang bisa mengubah seluruh hidupnya selamanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Satu hari setelah pesta malam itu, suasana di sekolah terasa berbeda. Bagi siswa lain, semuanya berjalan seperti biasa—pelajaran, tawa, obrolan ringan. Tapi bagi dua gadis yang duduk berdampingan di kelas, ada ketegangan yang tebal, seperti awan gelap yang menggantung di atas kepala mereka.

Kirana berusaha mempertahankan topengnya. Dia tetap tersenyum, tetap menjawab pertanyaan guru, tetap berbicara dengan nada sopan. Tapi di dalam hatinya, dia masih terguncang. Bayangan darah, jeritan, dan tatapan dingin Sari terus berputar di pikirannya. Dia sudah mengirim rekaman dan laporan lengkap ke Komisar David Kusuma pagi tadi, dan balasan yang diterimanya hanya perintah singkat: Tetap di sana. Jangan menarik perhatian. Cari bukti lebih kuat. Jangan berhenti sampai kita tahu semuanya.

Tetap di sana. Mudah dikatakan, tapi terasa seperti berjalan di atas kawat berduri.

Saat jam pelajaran terakhir usai, Sari menutup bukunya perlahan, lalu menoleh ke Kirana dengan senyum manis yang terlihat sama seperti biasanya—tapi bagi Kirana, senyum itu sekarang terasa seperti pisau yang tersembunyi di balik kain sutra.

"Kirana..." panggilnya lembut. "Kamu sudah ada rencana untuk malam ini?"

Kirana menggeleng pelan. "Tidak ada. Biasanya aku cuma di kamar, belajar atau membaca."

"Bagus!" Sari bertepuk tangan ringan, matanya berkilau cerah. "Kalau begitu, malam ini kamu menginap di rumahku ya? Aku sudah minta izin pada pengasuhmu. Dia setuju. Kita bisa mengerjakan tugas sekolah bersama, menonton film, mengobrol... seperti sahabat sejati."

Jantung Kirana berdegup kencang. Menginap di tempat tinggal Sari—di dalam sarang itu sendiri. Itu berarti akses yang lebih luas, lebih banyak kesempatan untuk melihat apa yang tersembunyi. Tapi itu juga berarti berada di jantung bahaya, tanpa jalan keluar yang mudah.

"Baiklah," jawab Kirana pelan, berusaha terdengar senang. "Aku senang bisa menginap."

Sari tersenyum lebar, lalu meraih tangan Kirana dan menggenggamnya erat. "Bagus sekali! Ayo, mobil sudah menunggu."

 

Malam itu. Menara Wijaya - Lantai 30.

Malam telah turun sepenuhnya. Dari jendela besar, pemandangan Kota Baru terlihat seperti lautan cahaya yang berkelap-kelip. Di dalam ruangan, suasana tenang dan mewah, hanya diterangi lampu-lampu dengan cahaya kuning lembut.

Setelah makan malam bersama—di mana Andri hanya hadir sebentar, menatap Kirana dengan curiga sebelum akhirnya dipersilakan beristirahat oleh Sari—kedua gadis itu berada di kamar tidur Sari. Kamar itu luas, dihiasi dengan perabotan mahal, rak buku yang penuh, dan tempat tidur besar dengan selimut halus berwarna krem.

Sari duduk di tepi tempat tidur, sementara Kirana duduk di kursi dekat meja belajar, pura-pura membuka buku pelajaran.

"Kamu tidak perlu berpura-pura sibuk, Kirana," kata Sari tiba-tiba, suaranya tenang namun langsung menusuk. "Kita sendirian. Tidak ada orang lain yang mendengar."

Kirana mengangkat kepalanya, menatap Sari. "Aku tidak berpura-pura. Aku benar-benar ingin menyelesaikan tugas."

Sari tertawa kecil, lalu berdiri dan berjalan mendekat, berhenti tepat di depan Kirana. Tatapannya tajam, tidak ada lagi senyum manis yang berlebihan—hanya ketenangan yang dingin dan penuh pengamatan.

"Kamu masih terkejut dengan apa yang kamu lihat malam itu, bukan?" tanyanya langsung. "Kamu masih berpikir bahwa aku adalah monster yang kejam, yang tidak punya hati nurani. Kamu masih berpikir bahwa semua ini salah, bahwa aku harus dihentikan."

Kirana menelan ludah, memilih kata-kata dengan hati-hati. "Aku... aku hanya berpikir bahwa ada cara yang lebih baik untuk menyelesaikan masalah. Tidak harus dengan kekerasan atau membuat orang menderita."

Sari mengangguk pelan, seolah mendengar pendapat yang wajar. "Cara yang lebih baik? Seperti apa? Berbicara baik-baik? Memberi peringatan? Memberi kesempatan kedua? Kirana, kamu belum mengerti. Orang seperti Hadi Tanudjaya tidak akan mengerti kata-kata lembut. Mereka hanya mengerti satu hal: Konsekuensi. Kalau aku tidak membuatnya merasakan ketakutan yang nyata, dia akan terus berusaha menjatuhkan kami. Dia akan membunuhku, membunuh Kakekku, menghancurkan semua yang kami bangun, tanpa ragu sedikit pun."

Dia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada yang lebih rendah, hampir berbisik:

"Dunia ini tidak adil, Kirana. Dan orang yang berkuasa adalah orang yang berani membuat aturannya sendiri. Kalau kamu lemah, kamu akan diinjak-injak. Kalau kamu kuat, orang akan menghormatimu—atau takut padamu. Dan rasa takut itu... jauh lebih andal daripada rasa hormat yang palsu."

Kirana membuka mulut untuk menjawab, tapi Sari sudah berbalik dan berjalan menuju pintu kamar.

"Ayo," katanya sambil membuka pintu. "Aku akan tunjukkan sesuatu. Sesuatu yang tidak diketahui orang luar. Sesuatu yang mungkin membuatmu mengerti sedikit lebih banyak."

 

Lantai 28 - Lorong yang sepi.

Mereka berjalan menyusuri lorong yang panjang dan sunyi. Lampu di langit-langit menyala redup, menciptakan bayangan yang panjang di dinding. Sepanjang jalan, tidak ada penjaga—seolah-olah tempat ini tidak membutuhkan pengamanan lagi.

Mereka berhenti di depan sebuah pintu besar yang terbuat dari kayu hitam tebal, dengan kunci yang terlihat kuat. Tidak ada nama, tidak ada tanda apa pun. Hanya pintu yang tertutup rapat.

Sari menoleh ke Kirana, matanya bersinar dengan campuran keseriusan dan tantangan.

"Di balik pintu ini... tinggal orang yang paling aku benci sekaligus orang yang paling aku butuhkan. Orang yang seharusnya melindungiku, tapi justru gagal total. Orang yang membuatku sadar sejak usia sangat muda: Kamu tidak bisa bergantung pada siapa pun selain dirimu sendiri."

Dia memasukkan kunci ke lubang, memutarnya perlahan. Suara kunci yang berputar terdengar jelas di keheningan. Pintu terbuka pelan, menampakkan ruangan yang terlihat nyaman, namun terasa dingin dan suram.

Di dalamnya, di dekat jendela, duduk seorang pria dengan punggung menghadap pintu. Dia terlihat kurus, bahunya bungkuk, rambutnya sudah banyak memutih meski usianya belum terlalu tua. Saat mendengar suara pintu terbuka, dia berbalik perlahan.

Itu adalah Arya Pratama.

Wajahnya pucat, matanya cekung, tatapannya kosong dan penuh kelelahan yang mendalam. Saat matanya bertemu dengan Sari, sekelebat rasa sakit dan kemarahan terlihat di sana, tapi segera digantikan oleh kepasrahan yang pahit. Di sampingnya, duduk seorang wanita—Naya Andalan—yang hanya menatap lantai, tidak bergerak, tidak berbicara.

"Ayah," sapa Sari dengan nada datar, tidak ada kasih sayang, tidak ada kehangatan. "Bunda. Aku bawa teman. Dia boleh melihat, kan? Tidak ada rahasia lagi antara kita."

Arya menatap Kirana, lalu menatap kembali putrinya. Suaranya parau dan lemah.

"Apa yang kamu inginkan, Sari? Apa lagi yang kamu mau hancurkan dari kami?"

Sari berjalan masuk, diikuti Kirana yang berdiri di dekat pintu, tidak berani melangkah lebih jauh.

"Hancurkan? Aku tidak menghancurkan siapa pun, Ayah. Aku hanya membiarkan kalian hidup. Aku memberi kalian tempat tinggal, makanan, keamanan. Kalian tidak kekurangan apa pun. Kecuali... kebebasan. Tapi itu harga yang harus dibayar, bukan?"

Dia berhenti tepat di depan Arya, menatapnya dari atas ke bawah.

"Kamu ingat dulu, Ayah? Kamu bilang kamu pahlawan. Kamu bilang kamu selalu membela kebenaran. Kamu bilang kamu akan melindungi kami dari bahaya. Tapi apa yang kamu lakukan saat Kakekku datang? Apa yang kamu lakukan saat dia mengambil kami? Kamu menyerah. Kamu membiarkan dia mengambilku. Kamu tidak berani berbuat apa-apa. Kamu lemah, Ayah. Sangat lemah."

Arya mengepalkan tangannya, seluruh tubuhnya gemetar. "Aku... aku tidak punya pilihan. Dia mengancam akan membunuh Naya. Aku harus melindunginya."

"Dan apa yang kamu dapatkan?" tanya Sari tajam. "Kamu menjadi alat. Kamu dipaksa melakukan hal-hal yang kamu benci. Kamu menyiksa orang, kamu berbohong, kamu menjadi bagian dari kejahatan yang kamu benci. Apakah itu lebih baik daripada mati dengan harga diri yang utuh?"

Dia tertawa kecil, tanpa senyum.

"Lihat dirimu sekarang. Kamu tidak lagi pahlawan. Kamu bukan lagi suami yang baik. Kamu bukan lagi ayah. Kamu hanyalah cangkang kosong. Dan itu semua karena kamu memilih jalan yang mudah: hidup dengan rasa takut, daripada mati dengan keberanian."

Naya tiba-tiba mengangkat kepalanya, matanya berkaca-kaca. "Sari... tolong... jangan bicara begitu. Dia ayahmu. Dia masih mencintaimu."

Sari menoleh ke ibunya, tatapannya tidak berubah. "Cinta? Cinta tidak berguna di sini, Bunda. Cinta tidak bisa memberi makan. Cinta tidak bisa melindungi dari pisau atau peluru. Cinta tidak bisa membuat orang takut padamu. Cinta hanya membuatmu lemah. Dan aku tidak mau menjadi lemah seperti kalian."

Dia berbalik, berjalan menuju pintu, lalu berhenti dan menoleh kembali.

"Besok pagi, Ayah akan pergi lagi. Ada 'tamu' yang perlu diajak bicara. Orang yang berani mencuri uang dari kas kami. Dan seperti biasa, Ayah akan melakukan apa yang diperintahkan. Karena dia tidak punya pilihan. Karena dia tahu, kalau dia menolak, Bunda akan yang menderita. Itu cara kerja dunia ini, Kirana. Orang kuat mengatur aturan. Orang lemah harus mengikutinya."

Dengan itu, Sari keluar dari ruangan, menutup pintu dan menguncinya kembali. Kirana masih berdiri di sana, tertegun, mendengar suara isak tangis pelan dari balik pintu tertutup.

 

Mereka kembali ke kamar Sari. Suasana menjadi sunyi untuk waktu yang lama. Akhirnya, Sari duduk di tepi tempat tidur dan menatap Kirana yang masih berdiri di dekat pintu.

"Kamu lihat sekarang," katanya pelan. "Itu sebabnya aku menjadi seperti ini. Aku melihat kelemahan. Aku melihat apa yang terjadi pada orang yang percaya pada kebaikan orang lain. Aku tidak mau menjadi seperti mereka. Aku tidak mau berakhir terkurung, tidak berdaya, menunggu perintah orang lain."

Kirana akhirnya berbicara, suaranya tenang namun tegas. "Tapi itu tidak berarti kamu harus menjadi seperti mereka juga. Kamu bisa memilih jalan yang berbeda. Kamu punya kekuasaan, kamu punya kecerdasan—kamu bisa menggunakan itu untuk hal yang baik. Untuk membantu orang, bukan menakut-nakuti mereka."

Sari menatapnya lama, lalu senyum tipis terbit di bibirnya—senyum yang terlihat hampir sedih, namun tetap dingin.

"Kamu benar-benar percaya itu, bukan? Kamu percaya bahwa kebaikan bisa menang atas segala sesuatu. Bahwa hukum bisa mengatur segalanya. Bahwa orang yang berbuat salah pasti akan dihukum."

Dia berdiri dan berjalan mendekat, sampai jarak mereka hanya beberapa sentimeter.

"Kamu tahu apa yang akan terjadi kalau kamu mencoba menghentikanku, Kirana? Kamu akan gagal. Kamu akan melihat orang-orang yang kamu percayai—polisi, jaksa, pejabat—menolak membantu. Kamu akan melihat mereka berdiri di sisiku. Kamu akan melihat bahwa sistem yang kamu percayai... sudah dibeli. Sudah diatur. Dan pada akhirnya, kamu akan punya dua pilihan: Bergabung denganku, atau hancur seperti orang lain yang berani melawan."

Dia mengangkat tangan kanannya, menyentuh pipi Kirana dengan jari yang halus dan dingin.

"Tapi aku suka kamu, Kirana. Kamu pintar. Kamu berani. Kamu tidak mudah takut. Aku tidak mau kamu hancur. Aku ingin kamu mengerti. Aku ingin kamu menjadi temanku yang sebenarnya. Bukan sekadar teman yang berpura-pura, tapi teman yang mengerti bagaimana dunia ini bekerja."

Jari-jarinya bergerak perlahan menuju kalung yang dikenakan Kirana—kalung yang menyembunyikan alat perekam. Dia menyentuhnya sebentar, lalu menatap mata Kirana dengan tatapan yang membuat darah gadis itu terasa membeku.

"Kalungmu bagus. Sangat indah. Kamu tidak keberatan kalau aku meminjamnya sebentar, kan? Aku ingin melihatnya lebih dekat."

Sebelum Kirana bisa bereaksi, Sari sudah mengambil kalung itu dengan gerakan yang cepat dan halus. Dia memegangnya di telapak tangannya, menatapnya seolah tahu persis apa yang tersembunyi di dalamnya.

"Barang elektronik yang bagus. Teknologi yang canggih," gumamnya pelan. "Tapi sayang sekali... di gedung ini, ada alat yang bisa mendeteksi sinyal apa pun. Dan ada alat yang bisa mematikan semua perangkat seperti ini kapan saja aku mau."

Dia melempar kalung itu ke meja, lalu menatap Kirana dengan senyum yang tidak lagi menyembunyikan apa pun.

"Kita sudah tahu satu sama lain sekarang, bukan, Kirana? Kamu tahu siapa aku. Dan aku tahu siapa kamu. Agen mata-mata yang dikirim untuk mengumpulkan bukti dan menjatuhkanku. Tapi jangan khawatir... aku tidak akan melaporkanmu. Aku tidak akan menyakitimu. Setidaknya... belum."

Dia berjalan mendekat lagi, suaranya menjadi lembut namun penuh ancaman yang jelas.

"Karena aku masih ingin melihat seberapa jauh kamu akan berani pergi. Aku masih ingin melihat apakah keyakinanmu itu cukup kuat untuk bertahan. Atau apakah pada akhirnya, kamu akan menyadari... bahwa tidak ada jalan keluar dari sini. Dan satu-satunya pilihan yang aman adalah berdiri di sisiku."

Dia menunjuk ke arah tempat tidur.

"Sudah larut malam. Istirahatlah. Besok pagi, kita akan pergi ke luar kota. Aku akan tunjukkan lebih banyak hal. Hal-hal yang akan membuatmu semakin memahami dunia ini."

Sari berjalan menuju kamar mandi, lalu berhenti sejenak di ambang pintu.

"Dan ingat, Kirana... di sini, tidak ada yang bisa disembunyikan. Tidak ada yang aman. Bahkan pikiranmu sendiri pun, aku bisa membacanya kalau aku mau. Jadi, berhati-hatilah dengan apa yang kamu lakukan dan apa yang kamu katakan. Selamat malam."

Pintu kamar mandi tertutup. Kirana berdiri diam di tengah ruangan, menatap kalungnya yang tergeletak di meja, jantungnya berdebar kencang. Topengnya sudah lepas. Rahasianya sudah terbuka. Dan dia tahu, permainan ini baru saja berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya dan mematikan.

 

Di ruangan lain, di lantai yang lebih bawah.

Riko Surya berdiri di depan layar komputer yang menampilkan rekaman dari kamar tidur Sari. Dia mendengar setiap kata, melihat setiap gerakan. Wajahnya datar, namun matanya berkilau dengan campuran rasa takut dan kekaguman yang sama seperti biasanya.

"Gadis itu berani," gumamnya pelan. "Tapi dia tidak tahu apa yang dia hadapi."

Di sampingnya, Raga Wijaya mengangguk. "Nona tahu sejak awal. Dia sengaja membiarkannya masuk. Dia ingin melihat seberapa jauh dia bisa pergi."

"Dan apa rencananya sekarang?" tanya Riko.

Raga menatap layar, lalu menjawab dengan nada datar:

"Rencananya sederhana. Dia akan membiarkan gadis itu melihat semuanya. Dia akan membiarkan dia mengerti. Dan pada akhirnya... dia akan membuatnya memilih. Atau mungkin... dia akan memecahkannya, sama seperti dia memecah yang lain. Hanya waktu yang akan menjawab."

Di layar, terlihat Kirana yang duduk di tepi tempat tidur, menatap kalungnya dengan ekspresi yang campur aduk—ketakutan, kebingungan, dan sedikit tekad yang masih tersisa.

Permainan telah berubah. Tidak lagi menjadi mata-mata yang menyamar, melainkan pertarungan antara dua dunia yang berbeda: kebaikan yang idealis melawan kekuasaan yang kejam. Dan hanya satu yang akan bertahan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!