Malam di kota metropolitan itu tidak pernah benar-benar tidur. Lampu-lampu neon berkilauan memantul di aspal basah sisa hujan sore tadi, menciptakan kilauan warna-warni yang mempesona namun juga menyembunyikan banyak rahasia di baliknya. Di tengah hiruk-pikuk itu, di salah satu klub malam paling eksklusif dan terkenal berbahaya di pusat kota, Grey Cha Lavian sedang menikmati malamnya seperti biasa.
Bagi banyak orang, Grey adalah definisi sempurna dari seorang play girl. Cantik, cerdas, berani, dan memiliki pesona yang mampu membuat hampir semua pria berlutut di hadapannya. Rambut panjang berwarna cokelat gelap dengan sedikit sentuhan pirang, mata abu-abu yang tajam dan penuh misteri, serta senyum menggoda yang selalu terukir di bibir merahnya. Dia tidak pernah terikat pada satu orang pun. Baginya, hubungan hanyalah permainan, dan dia adalah pemenang yang selalu berkuasa. Dia mendekat saat dia mau, pergi saat dia bosan, dan tidak pernah meninggalkan jejak perasaan di belakangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elfin hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Pengkhianatan dan Amarah
Air mata Grey belum juga kering membasahi pipinya, rasa sakit akibat penolakan ayahnya masih menusuk tajam di dada, namun ternyata penderitaan gadis itu belum berakhir. Saat dia baru saja hendak melangkah keluar dari ruang tamu yang terasa seperti neraka itu, sebuah ide licik yang jahat tiba-tiba melintas di benak ibu tirinya, Selvi. Wanita itu menatap punggung Grey yang gemetar itu dengan pandangan berkilat penuh kebencian sekaligus perhitungan. Dia tidak cukup hanya menghina dan menyakiti hati gadis itu. Dia ingin menghancurkan hidup Grey sepenuhnya, ingin memastikan gadis itu menderita selamanya, dan sekaligus mendapatkan keuntungan besar bagi dirinya dan suaminya.
Selvi menoleh cepat ke arah suaminya, Tuan Haris Lavian, yang masih berdiri dengan wajah merah padam menahan marah karena "aib" yang menurutnya dilakukan putrinya itu. Dengan suara yang sengaja dikeraskan agar Grey mendengarnya, namun bernada seolah-olah dia sedang memberikan nasihat bijak, Selvi berbicara.
"Haris… tunggu dulu. Jangan biarkan dia pergi begitu saja. Kau bilang dia sudah mempermalukan nama baik keluarga, kan? Kalau dia pergi begitu saja, aib itu tidak akan hilang. Orang-orang akan tetap berbicara buruk tentang kita karena kelakuannya," ucap Selvi sambil menatap tajam ke arah punggung Grey yang berhenti bergerak.
Dia berjalan mendekat ke arah suaminya, meletakkan tangannya di lengan pria itu, dan berbisik dengan nada yang penuh rencana jahat, namun terdengar meyakinkan.
"Justru, ini adalah kesempatan emas bagi kita untuk menutup aib itu sekaligus mendapatkan keuntungan besar. Kau ingat tidak? Tuan Harto… pengusaha tambang tua yang sangat kaya raya itu? Dia sudah lama sekali ingin memiliki istri muda. Dia pernah bertemu Grey di acara pesta setahun lalu, dan dia sangat mengagumi kecantikan Grey. Dia bahkan pernah menawar mahar yang sangat besar jika bisa menikahi anak kita ini."
Selvi tersenyum licik, matanya berkilat memandang Grey yang kini berbalik menatap mereka dengan tatapan ngeri.
"Kalau kita nikahkan Grey dengan Tuan Harto, masalah selesai. Nama baik keluarga kita kembali terangkat karena menyatukan dua keluarga besar. Kita dapat modal usaha yang sangat besar dari Tuan Harto. Dan Grey… yah, dia akan hidup mewah, meski menjadi istri tua, tapi setidaknya dia tidak perlu lagi menjual dirinya di luar sana seperti wanita murahan. Itu solusi terbaik, bukan? Menggunakan apa yang dia miliki—kecantikannya—untuk berguna bagi ayahnya yang sudah membesarkannya."
Grey merasa kakinya lemas seketika. Dia tidak percaya apa yang dia dengar. Tuan Harto? Pria tua yang usianya sudah mendekati tujuh puluh tahun, berbadan bungkuk, berwajah seram, dan dikenal memiliki banyak istri yang sering dia siksa? Pria tua yang kaya raya tapi kejam itu?
"KAU GILA?!" teriak Grey, suaranya pecah karena campuran rasa sakit, marah, dan ketakutan yang luar biasa. Dia menatap ibu tirinya dengan pandangan tidak percaya. "Kau mau menikahkanku dengan pria tua itu? Kau mau menjualku seperti barang dagangan hanya demi uang?! Dan Ayah… Ayah juga akan menyetujuinya? Demi bisnis? Demi uang? Ayah rela memberikan anak kandungmu sendiri ke mulut buaya itu?!"
Tuan Haris Lavian terdiam sejenak. Di benaknya, kata-kata istrinya itu mulai terproses. Rasa marah karena aib, ditambah godaan keuntungan bisnis besar yang sangat dia butuhkan saat itu karena perusahaannya sedang terancam bangkrut… membuat hati pria itu yang sudah keras dan mati rasa itu perlahan meleleh ke arah rencana jahat istrinya. Dia menatap wajah putrinya yang cantik itu, lalu mengangguk perlahan dengan tatapan dingin dan tidak berperasaan.
"Selvi benar… itu jalan terbaik. Kau sudah menghancurkan nama baikmu sendiri dengan kelakuanmu yang bejat itu. Setidaknya dengan menikah dengan Tuan Harto, kau bisa berguna. Kau bisa menebus kesalahanmu pada keluarga ini. Tuan Harto orang kaya, dia akan menjamin masa depanmu, dan masa depan keluarga kita," ucap Tuan Haris dengan nada datar, tanpa sedikit pun rasa bersalah atau kasih sayang.
Dia menatap Grey dengan pandangan menghakimi, seolah putrinya itu memang tidak lebih berharga daripada sekadar alat tawar-menawar.
"Dan jangan berpikir kau bisa menolak. Kau bilang kau sudah menikah? Itu omong kosong. Tidak ada pemberitahuan resmi, tidak ada restu ayahmu. Perkawinan itu tidak sah di mata keluarga ini. Kau masih anakku, dan aku berhak menentukan dengan siapa kau akan hidup. Mulai detik ini, kau tidak boleh pergi ke mana-mana. Kau dikurung di kamarmu dulu. Besok sore, Tuan Harto akan datang untuk melamar secara resmi, dan pernikahan akan dilaksanakan lusa pagi. Tanpa penundaan, dan tanpa penolakan."
Grey merasa dunianya runtuh sepenuhnya. Lebih runtuh daripada sebelumnya. Tuduhan bahwa dia menjual diri itu menyakitkan, tapi keputusan ayahnya untuk menjualnya secara nyata, memberikan dia pada pria tua yang asing dan mengerikan itu demi uang… itu adalah pukulan yang mematikan bagi hatinya. Itu membuktikan sepenuhnya bahwa di mata ayahnya, dia tidak pernah menjadi anak perempuan. Dia hanyalah aset, barang, yang bisa dibeli dan dijual kapan saja mereka mau.
"Ayah… aku sudah menikah! Aku istri orang lain! Aku istri Davian Argantha! Kau tidak bisa melakukan ini… kau tidak boleh melakukan ini padaku…" Grey mencoba berteriak, mencoba melawan, namun suaranya tenggelam di tengah isak tangisnya yang hebat. Dia berusaha berlari ke arah pintu, ingin lari keluar, ingin kembali ke pelukan suaminya, ke satu-satunya tempat yang aman baginya.
Namun Selvi hanya tertawa renyah, tertawa penuh kemenangan yang kejam. Dia mengangkat tangan, memberi isyarat pada beberapa pengawal keluarga yang berdiri di sudut ruangan—orang-orang yang selama ini selalu menurut pada perintah wanita jahat itu.
"Tangkap dia! Kunci dia di kamar lamanya. Jangan biarkan dia keluar sedikit pun, jangan biarkan dia menghubungi siapa pun. Kalau dia berontak, kalian tahu apa yang harus dilakukan. Pastikan dia ada di sini sampai hari pernikahan. Tuan Harto sudah lama menginginkannya, dan dia akan membayar mahal untuk mendapatkanmu utuh, Sayangku."
Dua orang pengawal besar dan kekar segera menangkap lengan Grey, menahannya dengan kuat saat gadis itu meronta, berteriak, dan menangis sekuat tenaga.
"LEPASKAN AKU! AYAH! TOLONG AKU! MEREKA MAU MENJUALKU! AYAH JANGAN DIAM SAJA! DAVIAN… DAVIAN… TOLONG AKU!" teriak Grey sekeras-kerasnya, suaranya bergema di seluruh ruangan besar itu, namun tidak ada yang peduli. Ayahnya hanya membuang muka dengan dingin, sementara Selvi menatapnya dengan senyum puas yang mengerikan, menikmati setiap detik penderitaan anak tirinya itu.
Grey diseret paksa menaiki tangga, dibawa kembali ke kamar lamanya yang dulu menjadi tempat persembunyian dan tempat tangisannya sendirian. Pintu ditutup rapat dan dikunci dari luar. Bunyi kunci yang diputar itu terdengar begitu nyaring dan mengerikan, menandakan bahwa dia kembali terperangkap, kali ini dalam bahaya yang jauh lebih besar dan lebih mengerikan dari sebelumnya.
Di dalam kamar yang sunyi dan berdebu itu, Grey menjatuhkan dirinya ke lantai, menangis sejadi-jadinya. Tubuhnya gemetar hebat karena rasa takut dan marah yang luar biasa. Dia membayangkan hidupnya yang hancur, dipaksa menjadi istri pria tua menjijikkan itu, jauh dari suaminya, jauh dari kebahagiaannya. Dan yang paling menyakitkan, semua ini terjadi karena darah dagingnya sendiri.
"Davian… di mana kau… tolong aku… cepatlah datang… aku tidak kuat lagi…" bisiknya lirih di sela-sela tangis, memegang cincin kawin di jarinya dengan erat, satu-satunya bukti bahwa dia pernah dicintai dan dimiliki oleh pria terhebat di dunia.
Sementara itu, di jalan raya yang membelah kota, sebuah mobil hitam besar melaju dengan kecepatan luar biasa, memotong kendaraan lain, menerobos lampu lalu lintas, dan melesat bagai kilat. Di balik kemudi, Davian Argantha mengemudikan mobilnya dengan wajah yang sudah berubah menjadi pucat pasi namun juga merah padam menahan amarah yang meluap-luap. Matanya yang hitam pekat itu memancarkan kilatan bahaya yang mengerikan, kilatan yang belum pernah dilihat siapa pun selama bertahun-tahun.
Sepuluh menit yang lalu, saat dia sedang bergegas keluar dari kantornya, sekretaris pribadinya yang cerdik dan setia baru saja mendapatkan laporan dari salah satu mata-mata yang ditempatkan di sekitar kediaman keluarga Lavian. Berita itu datang seperti petir di siang bolong, menghancurkan kewarasan Davian seketika.
Laporan itu berisi: Grey dipanggil pulang, dituduh kejam, disakiti hatinya, dan yang paling gila, paling keterlaluan, dan paling tidak termaafkan… ayah dan ibu tirinya berniat menikahkan Grey paksa dengan seorang pria tua kaya raya bernama Tuan Harto, demi keuntungan bisnis, dan mereka sama sekali tidak peduli bahwa Grey sudah sah menjadi istri Davian Argantha.
"MEREKA BERANI?!" teriak Davian saat mendengar laporan itu, suara amarahnya menggetarkan seluruh ruangan kantornya hingga kaca-kaca bergetar. Urat-urat di leher dan pelipisnya menonjol keluar. Tangannya mengepal erat hingga buku jarinya memutih.
Rasa sakit yang dia rasakan di dada kirinya tadi ternyata adalah sinyal bahwa wanitanya sedang disakiti, sedang terancam, sedang dipermainkan, dan hampir direnggut paksa dari sisinya.
Mereka tidak hanya menyakiti hatinya Grey dengan tuduhan kotor itu. Mereka tidak hanya mengabaikan perasaannya. Mereka berani menjualnya! Mereka berani menganggap istri sah Davian Argantha, nyawa dan separuh jiwanya, sebagai barang dagangan murahan untuk ditukar dengan uang! Mereka berani merencanakan untuk memberikan milik mutlak Davian ke tangan orang lain!
Amarah Davian meledak melampaui batas kewajaran. Ini bukan lagi sekadar kemarahan seorang suami yang cemburu atau kesal. Ini adalah kemarahan seorang Raja yang wilayah kekuasaannya diinjak-injak, kemarahan seorang Dewa yang ciptaannya dihancurkan, kemarahan seekor binatang buas yang anaknya disakiti.
"DASAR BERANI! DASAR TIDAK TAHU DIRI! KAU PIKIR KAU SIAPA?!" umpat Davian dengan suara berat dan mengerikan, menginjak pedal gas semakin dalam. "Menyakiti Grey… menuduhnya kotor… menjualnya… KAU SEMUA AKAN MATI KALI INI! AKU AKAN MEMBUAT KALIAN MENYESAL TELAH DILAHIRKAN KE DUNIA INI! AKU AKAN MEMBUAT KALIAN MERASA BAHWA KEMATIAN ITU ADALAH KEHIDUPAN YANG SANGAT INDAH DIBANDINGKAN DENGAN APA YANG AKAN AKU LAKUKAN PADA KALIAN!"
Darahnya mendidih, pikirannya penuh dengan satu tujuan saja: sampai ke sana, menyelamatkan istrinya, dan menghancurkan siapa saja yang berani berdiri di antara mereka atau yang berani menyakiti rambut kepala Grey sedikit saja. Dia tidak peduli itu ayah kandungnya, tidak peduli itu ibu tirinya, tidak peduli siapa pun. Di mata Davian, mereka semua sudah menjadi mayat hidup sejak detik mereka berniat buruk pada Grey.
Di belakang mobil Davian, puluhan mobil lain mulai mengekor dengan cepat—pasukan elit bawahannya yang siap menghancurkan apa saja atas perintah tuannya. Kabar tentang kemarahan Davian Argantha telah menyebar dengan cepat, dan semua orang tahu: neraka baru saja terbuka, dan tidak ada yang selamat dari amarahnya kali ini.
Mobil Davian melesat masuk ke gerbang besar kediaman keluarga Lavian, tidak berhenti, tidak memperlambat laju, malah semakin mempercepat hingga akhirnya…
BRAKKKKK!!!
Suara benturan keras menggema seisi rumah, saat mobil mewah Davian menabrak dan menghancurkan gerbang besi besar yang kokoh itu hingga terlempar ke samping. Mobil itu melaju masuk ke halaman depan dengan kecepatan penuh, berhenti mendadak tepat di depan pintu utama, meninggalkan jejak ban di tanah.
Pintu mobil terbuka dengan kasar. Davian turun dengan langkah lebar, tubuhnya memancarkan aura pembunuh yang mengerikan. Wajahnya dingin namun matanya menyala penuh api pembalasan. Di belakangnya, puluhan anak buahnya yang berbadan besar dan bersenjata lengkap turun dan mengepung seluruh rumah itu dalam sekejap mata, mengunci semua jalan keluar, membuat tidak ada satu pun semut yang bisa lolos dari tempat itu.
Tuan Haris dan Selvi yang sedang duduk santai di ruang tamu, merasa menang besar atas rencana jahat mereka, terlonjak kaget dan ketakutan mendengar suara tabrakan itu. Mereka berlari ke jendela, dan saat melihat siapa yang datang, wajah mereka seketika berubah menjadi pucat mayat.
"D-Davian Argantha…?" gumam Tuan Haris dengan suara bergetar, lututnya seketika terasa lemas. Dia tahu nama itu. Dia tahu kekuasaan pria itu. Dia tahu bahwa dia baru saja membuat kesalahan terbesar dan terakhir dalam hidupnya.
Pintu depan rumah didorong terbuka dengan keras hingga hampir copot dari engselnya. Davian berdiri di ambang pintu, bayangannya menutupi seluruh ruangan, matanya menatap tajam ke arah dua orang yang berdiri gemetar di tengah ruangan itu. Suasana di dalam rumah itu berubah menjadi neraka yang dingin dan menyesakkan.
Davian melangkah masuk perlahan, setiap langkahnya terdengar berat dan mengancam, seolah bumi bergetar setiap kali kakinya menyentuh lantai. Dia menatap mereka berdua dengan pandangan merendahkan, pandangan seolah mereka bukan manusia, melainkan sampah yang tidak berharga sama sekali.
"Di mana istriku?"
Suara itu keluar rendah, berat, namun begitu mengerikan hingga membuat seluruh isi rumah itu bergidik ngeri. Tidak ada nada ramah, tidak ada nada sopan. Hanya ancaman kematian yang nyata.
Selvi mencoba tersenyum kaku, mencoba berpura-pura tidak tahu apa-apa meski keringat dingin sudah membasahi seluruh tubuhnya. "T-Tuan Argantha… k-kami tidak mengerti… apa maksud Anda? Istri? Kami tidak tahu—"
DUARRRR!!!
Davian menendang meja kaca besar di depannya hingga hancur berkeping-keping menjadi ribuan pecahan tajam. Dia tidak lagi menahan diri. Dia melangkah cepat, menangkap kerah baju Selvi dengan satu tangan, mengangkat tubuh wanita itu yang gemetar ketakutan hingga kakinya tidak menyentuh lantai. Wajah Davian mendekat, matanya menatap lurus ke mata wanita itu dengan amarah yang meledak-ledak.
"JANGAN BERANI BERBOHONG PADAKU, WANITA JAHAT! KAU PIKIR AKU TIDAK TAHU SEMUA YANG KALIAN LAKUKAN?! KAU MENUDUH ISTRIKU WANITA MURAH?! KAU MENYAKITINYA?! DAN KAU BERANI… BERANI SEKALI MENJUALNYA, MENIKAHKANNYA DENGAN ORANG LAIN SAAT DIA SUDAH SAH MENJADI MILIKKU?!"
Suara teriakan Davian menggelegar seisi rumah. Dia melempar tubuh Selvi ke samping dengan kasar hingga wanita itu jatuh dan mengerang kesakitan di atas pecahan kaca. Kemudian dia berbalik menghadap Tuan Haris yang sudah berlutut ketakutan, menggigil hebat menyadari betapa besar bahaya yang baru saja dia cari sendiri.
"Dan kau… ayah kandungnya…" Davian berjalan perlahan mendekati Tuan Haris, menunduk menatap pria tua itu dengan pandangan jijik dan membunuh. "Kau menjual anakmu sendiri demi uang? Kau menukar bidadariku dengan emas kotor? Kau tidak percaya padanya, tapi kau percaya pada racun wanita itu? Kau tahu siapa aku? Kau tahu apa artinya menyakiti milikku? Kau pikir kau masih hidup sampai detik ini hanya karena keberuntungan?!"
Davian berhenti tepat di depan ayah Grey, lalu berlutut sedikit, menatap mata pria itu lekat-lekat dengan senyum mengerikan yang menakutkan.
"Kalian pikir kalian pintar? Kalian pikir kalian berkuasa? Dengarkan baik-baik. Mulai detik ini, hidup kalian berakhir. Perusahaanmu, namamu, kekayaanmu, nyawamu… semuanya ada di tanganku. Aku akan membuat kalian merasakan rasa sakit seribu kali lipat lebih besar daripada rasa sakit yang kalian berikan pada Grey. Aku akan membuat kalian memohon mati tapi aku tidak akan membiarkan kalian mati. Dan untuk pria tua sialan yang berani-berani berniat mengambil istriku… dia sudah menerima balasannya sekarang juga. Tidak ada yang bisa mengambil apa yang menjadi milikku. Tidak ada yang boleh menyentuh apa yang aku cintai. Dan tidak ada yang boleh hidup setelah berani-berani menyakitinya."
Davian berdiri tegak kembali, aura pembunuhnya mencapai puncaknya. Dia menunjuk ke arah tangga dengan jari telunjuknya, suaranya tegas dan penuh perintah mutlak.
"SEKARANG! BUKA KUNCI KAMAR ITU! BAWA ISTRIKU KELUAR DALAM KEADAAN UTUH DAN TANPA GORESAN SATU PUN, ATAU AKU AKAN MEMBANTAI KALIAN SEMUA DI SINI JUGA!"
Pintu kamar di lantai atas terbuka. Grey, yang mendengar semua keributan dan suara itu dari dalam, berlari keluar. Saat dia melihat sosok tegap dan tak tergoyahkan itu berdiri di lantai bawah, sosok yang menjadi satu-satunya pelindungnya, kekuatannya, dan hidupnya… lututnya lemas, dan dia hanya bisa berdiri mematung sambil menangis bahagia.
"Davian…" bisiknya lirih, hampir tak terdengar.
Davian berbalik, dan saat melihat wajah istrinya yang pucat, mata bengkak karena menangis, dan tubuh yang terlihat sangat menderita itu… hati kerasnya hancur seketika, digantikan oleh rasa sakit yang mendalam dan kasih sayang yang tak terbatas. Dia langsung berlari menaiki tangga dalam dua langkah lebar, dan dalam sekejap, tubuh mungil itu sudah terangkat ke udara, dipeluk seerat mungkin ke dalam dada bidang yang paling aman di dunia itu.
"Maafkan aku… maafkan aku telat datang… maafkan aku membiarkanmu sendirian… maafkan aku, Sayangku…" gumam Davian berulang kali di samping telinga istrinya, suaranya bergetar karena campuran rasa marah, rasa bersalah, dan rasa lega yang luar biasa. Dia mencium seluruh wajah Grey, menghapus air matanya, mencium kening, mata, hidung, dan bibirnya dengan penuh rasa syukur dan perlindungan mutlak. "Kau aman sekarang. Aku di sini. Tidak ada yang akan menyakitimu lagi. Tidak ada yang akan memisahkan kita. Aku ada di sini, Nyawaku. Aku ada di sini."
Di bawah sana, Tuan Haris dan Selvi hanya bisa melihat dengan ketakutan yang luar biasa. Mereka melihat betapa besarnya cinta pria mengerikan itu pada gadis yang mereka remehkan dan mereka jual. Mereka menyadari kesalahan fatal yang telah mereka buat. Mereka tidak hanya menyakiti seorang gadis biasa. Mereka telah menyakiti satu-satunya wanita yang paling dicintai dan paling dilindungi oleh orang paling berkuasa dan berbahaya di negeri ini.
Dan mereka tahu, hukuman yang paling berat, paling kejam, dan paling mengerikan kini sedang menanti mereka. Amarah Davian Argantha belum selesai. Itu baru permulaan. Dan neraka yang sebenarnya baru saja dimulai bagi mereka yang berani menyakiti Grey Cha Lavian.
Lanjut ke Bab 10