Lima tahun menikah, Kanisha Rayya Shanika selalu percaya bahwa rumah tangganya bersama sang suami, Arven Mahendra, akan berjalan harmonis untuk selamanya. Ia rela menekan mimpinya sendiri demi menjadi istri sempurna dan ibu terbaik bagi anak angkat yang sangat ia cintai. Namun semua kepercayaan itu runtuh dalam satu malam.
Kanisha memergoki Arven berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri—wanita yang selama ini ia anggap hanya rekan kerja biasa. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, kenyataan yang jauh lebih kejam kembali menghantamnya. Anak angkat yang ia rawat dengan penuh kasih ternyata adalah darah daging hasil hubungan terlarang suaminya dengan sang selingkuhan.
Dikhianati sebagai istri sekaligus dipermainkan sebagai seorang ibu, Kanisha memilih pergi dan mengakhiri pernikahan yang telah menghancurkan hidupnya. Dengan tekad untuk bangkit, Kanisha mulai membangun hidup baru dan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak begitu saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Arven membuka mulutnya lalu menutupnya lagi karena tidak ada cara yang bagus untuk mengatakannya. Pak Damar menatapnya lama, lalu menghela napas.
“Kalau kamu tidak mau jelasin sekarang, papa tetap akan pergi kesana.”
Arven menegang.
“Pa…”
Pak Damar sudah benar-benar melanjutkan langkah kakinya menuju lift, membuat Arven menutup matanya sebentar lalu akhirnya berkata dengan suara lebih rendah.
“Kalau begitu Arven ikut.”
Pak Damar berhenti dan menoleh pelan.
“Apa?”
Arven mengangkat wajahnya, terlihat ragu sesaat, lalu berkata lebih hati-hati.
“Arven ikut papa kesana.”
Pak Damar menatapnya beberapa detik lalu mengangguk singkat.
“Bagus, Kita selesaikan ini bersama.”
Tanpa banyak kata lagi, mereka masuk ke dalam lift. Suasana di dalamnya terasa sunyi.
Terlalu sunyi hingga tidak ada yang berbicara diantara Arven dan juga pak Damar, hanya angka lantai lift yang terlihat turun satu per satu, seperti hitungan mundur menuju sesuatu yang tidak bisa lagi ditahan. Arven berdiri di sudut lift, tangannya dimasukkan ke saku celana, tapi jari-jarinya tidak berhenti bergerak gelisah sementara pak Damar berdiri tegak di sampingnya, wajahnya kembali terlihat santai, tapi matanya jelas penuh perhitungan. Namun di dalam kepala Arven, tidak ada perhitungan yang patut dipikirkan saat ini. Yang ia rasakan sekarang hanya satu hal yaitu ketakutan.
Ketakutan yang mulai menggerogoti pelan-pelan dari dalam. Semakin dekat lift itu ke lantai dasar, semakin jelas bayangan yang muncul di pikiran Arven. Bagaimana kalau papanya tahu semuanya? Bagaimana kalau Rendra Winata sudah tahu persis apa yang terjadi di rumahnya? Bagaimana kalau ini bukan sekadar keterlambatan dana? Arven menelan ludah, tangannya mengepal tanpa sadar. Selama ini ayahnya selalu melihat pernikahan ini sebagai “aset”.
Sebuah penguat posisi Mahendra, sebuah jembatan ke Winata Group, sebuah jalan aman untuk bisnis mereka, Tapi sekarang?Arven menutup matanya sebentar. Dia sendiri yang menghancurkannya dan kalau sampai ayahnya tahu semua kebenaran itu, ia tidak tahu apa yang akan terjadi dan yang akan ayahnya lakukan padanya.
Arven membuka matanya lagi dan kemudian lift berbunyi pelan.
Ting.
Pintu terbuka, di depan mereka yang membuat dunia luar sudah menunggu kedatangan mereka. Dan tanpa mereka sadari, langkah yang mereka ambil setelah ini bukan lagi menuju solusi tapi menuju permasalahan yang akan mengubah segalanya.
Sore itu, langit di atas gedung Winata Group sudah mulai berubah warna menjadi jingga keemasan. Pantulan cahaya matahari yang tersisa jatuh di kaca-kaca tinggi gedung pencakar langit itu, membuat seluruh bangunan tampak megah sekaligus dingin di waktu yang sama. Di dalam lobby utama, suasana sudah jauh lebih tenang dibanding siang hari. Para karyawan mulai berkurang, sebagian besar sudah pulang atau masih menyelesaikan pekerjaan terakhir mereka. Hanya beberapa orang yang masih terlihat berlalu-lalang dengan langkah cepat, membawa dokumen atau berbicara pelan lewat earphone bluetooth.
Di tengah suasana itu, Rendra Winata berdiri dengan setelan jas hitamnya yang rapi. Satu tangannya memegang ponsel, sementara tangan lainnya memasukkan kembali beberapa berkas ke dalam tas kerja. Di sampingnya, Kanisha berdiri tenang. Wajahnya sudah kembali seperti pagi tadi—tenang, terkontrol, dan sedikit dingin, seperti seseorang yang sudah kembali ke tempat yang seharusnya.
“Sudah selesai semua?” tanya Rendra sambil melirik putrinya dan membuat Kanisha mengangguk pelan.
“Sudah, Pa. Tinggal evaluasi internal besok pagi.”
Rendra tersenyum kecil.
“Bagus. Papa kira kamu bakal langsung kelelahan setelah lama tidak bekerja.”
Kanisha tersenyum tipis.
“Sekarang beda, Pa.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi cukup membuat Rendra menghela napas lega. Ada sesuatu dalam nada suara putrinya yang membuatnya yakin kalau Kanisha benar-benar sudah kembali menjadi dirinya yang dulu.
Mereka berdua berjalan menuju pintu keluar lobby. Beberapa karyawan yang melewati mereka menunduk sopan dan menyapa dengan hormat.
“Selamat sore, Pak Rendra. Nona Kanisha.”
Rendra hanya mengangguk ringan, sementara Kanisha membalas dengan senyum kecil yang sopan. Langkah mereka nyaris sampai di pintu utama lobby ketika—
“Pak Rendra!”
Suara itu membuat langkah mereka berhenti.
Nada suara yang terdengar cepat, tegang, dan sedikit panik dan membuat Rendra menoleh.
Di saat yang sama, pintu kaca otomatis lobby terbuka, memperlihatkan dua sosok yang baru saja masuk dari luar. Arven dan Pak Damar. Seketika suasana yang tadinya biasa saja berubah menjadi jauh lebih berat. Arven berdiri di belakang ayahnya. Wajahnya terlihat tegang, sementara matanya langsung mencari sosok Kanisha di ruangan itu. Begitu pandangannya bertemu dengan istrinya, ia langsung membuang muka.
Pak Damar justru melangkah lebih dulu. Wajahnya masih santai, ekspresinya masih berusaha tenang, seperti seseorang yang datang untuk urusan bisnis biasa.
“Pak Rendra,” sapanya sambil sedikit tersenyum formal. “Maaf mengganggu waktu Bapak.”
Namun Rendra tidak membalas senyum itu.
Tatapannya justru langsung jatuh pada Arven.
Lama dan dingin seperti seseorang yang sedang menilai sesuatu yang sudah tidak lagi layak dihormati. Suasana lobby mendadak terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Kanisha yang berdiri di samping ayahnya juga ikut menoleh ke arah Arven. Ekspresinya tidak berubah banyak, tapi sorot matanya jauh lebih tenang, terlalu tenang seolah apa pun yang berdiri di depannya sekarang bukan lagi sesuatu yang penting.
Rendra akhirnya berbicara.
“Kalau kalian datang ke sini hanya untuk basa-basi, saya tidak punya waktu.”
Nada suaranya datar, tapi jelas terdengar ketus dan membuat Pak Damar sedikit terkejut. Ia berkedip sebentar, lalu tersenyum canggung.
“Eh… tidak, Pak. Kami datang karena urusan kerja sama.” Ia melirik sekilas ke Arven, seolah meminta konfirmasi, lalu kembali menatap Rendra. “Terkait suntikan dana yang biasa Winata Group kirimkan ke Mahendra Corporation. Kami belum menerima transfer hari ini, jadi kami ingin memastikan apakah ada keterlambatan sistem atau—”
Kalimat itu belum selesai diucapkan oleh pak Damar yang akhirnya membuat Rendra langsung mengangkat satu tangannya.
“Tidak ada keterlambatan.”
Satu kalimat, pendek, tegas dan langsung memutus semua asumsi yang baru saja dibangun Pak Damar. Pak Damar mengerutkan kening.
“Maksud Bapak…?”
Rendra menghela napas pelan, lalu menatap lurus ke arah Pak Damar.
“Mulai hari ini, Winata Group menghentikan semua bentuk suntikan dana dan bantuan finansial kepada Mahendra Corporation.”
Suasana terasa hening untuk sejenak, tidak ada yang berbicara. Bahkan suara langkah karyawan yang lewat di belakang mereka terasa seperti menghilang. Pak Damar terlihat membeku di tempat.
“Apa?”
Suaranya pelan, seperti tidak yakin apakah ia mendengar dengan benar sementara Rendra tidak mengubah ekspresinya sedikit pun.
“Saya rasa saya sudah cukup jelas.”
Pak Damar langsung menggeleng kecil.
“Tidak, tunggu… Pak Rendra, mungkin ini ada kesalahpahaman. Kami sudah bekerja sama bertahun-tahun. Dan selama ini hubungan kita sangat baik. Kenapa tiba-tiba—”
Aku udh mmpir....slm knal....
dr awl aku udh gedek sm s pcundang...kya'nya dia emng ga pnya hti,smp tega ngucapin kta2 mnyakitkn sm istrinya...mnimal kl dia pnya hti,diem aja....kl mau psah,tnggal psah.....yg bkin dngkol,ga ngrsa brslah sm skli.....sntai bgt mlah....
tp abs ni prshaannya bkln hncur,scra pd tngkt dewa kl slma ni bs skses krna usaha sndri....pdhl tnp bntuan istrinya,udh bmgkrut dr dlu kaleee.....😡😡😡
dari semua karyamu , aku selalu suka dengan semua jalan ceritanya kak. Alurnya pas, konfliknya ada, jalan ceritanya rapi dan nggak putus di tengah jalan.
terus tingkatkan semua ceritanya supaya lebih baik kak, aku suka semua🤭☺️