"Ini rumah, bukan sekolah. Tugas lo sekarang sebagai istri, bukan sekretaris lagi." Galvin menyudutkan Khaira di balik pintu kamar mereka.
"Aku juga udah ngelakuin tugas aku sebagai istri, kan? Kecuali—"
"Kecuali apa, hm?"
Khaira langsung menunduk, menggigit bibir bawahnya di balik cadar. Dia juga meremas sebuah proposal yang sejak tadi dia pegang. Jantungnya berdebar, saat Galvin semakin mendekat dan mengikis jarak di antara mereka.
✧✧✧
Khaira Mafaza Lavsha—Sekretaris Glory High School, tiba-tiba dijodohkan dengan Galvin Shaka Athariz—Ketua Osis yang terkenal tampan, dingin dan penuh kharisma.
Perjodohan itu membuat mereka harus menjalani pernikahan rahasia di masa SMA.
Bagaimanakah kehidupan mereka yang semula hanya sebatas Sekretaris dan Ketua Osis, kini berubah menjadi sepasang suami istri? Mampukah mereka menjalaniinya?
*** WARNING ! STOP PLAGIAT !!! ***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
✧♦
"Siapa?" tanya Fardan, begitu Galvin kembali ke ruang rawat Ezar, setelah sebelumnya Galvin menerima panggilan telepon.
"Keluarga gue nyuruh gue pulang," jawab Galvin, singkat.
Dia sebenarnya menjawab jujur dengan mengatakan bahwa yang menelpon adalah keluarganya, walaupun tidak mengatakan secara spesifik tentang siapa yang dia maksud sebagai keluarga itu.
Namun, sudah jelas bahwa saat ini Khaira sudah menjadi salah satu bagian dari keluarganya. Sehingga dia cukup mengatakan bahwa yang meneleponnya adalah keluarganya, tanpa mengatakan bahwa Khaira lah yang meneleponnya.
"Tumben banget nyuruh lo pulang. Biasanya juga dibiarin aja, tuh, ga pulang sampai pagi," ucap Daris, merasa sedikit heran. Begitu juga dengan yang lainnya, merasakan hal yang sama.
Daris dan yang lainnya merasa heran, karena biasanya Galvin tidak pernah diminta pulang saat Galvin bersama mereka.
Hal itu bukan berarti orang tua Galvin tidak peduli dengan anaknya, melainkan kedua orang tuanya sudah sangat percaya terhadap putranya itu.
Sehingga setiap kali Galvin berada di luar rumah, kedua orang tuanya hanya akan mengirim pesan supaya Galvin selalu hati-hati. Tidak sampai meminta Galvin untuk segera pulang, jika tidak ada hal yang urgen atau mendesak yang memaksa Galvin untuk pulang.
Namun, kali ini pikiran mereka salah, karena yang meminta Galvin pulang bukanlah kedua orang tuanya, melainkan Khaira yang sekarang sudah sah menjadi istrinya.
"Gue pulang duluan," ucap Galvin, tanpa mempedulikan perasaan teman-temannya yang masih heran akan hal itu.
"Lo dan keluarga lo lagi ga ada masalah, kan?" tanya Dafa, merasa khawatir jika terjadi sesuatu dengan keluarga Galvin.
"Ga ada. Lebay banget lo! cibir Galvin,
sambil menyambar sebuah kunci motor yang sebelumnya dia letakkan di atas meja yang ada di ruangan itu.
"Ga papa lo pulang sendirian?" tanya Faiz.
Dia bertanya bukan tanpa alasan, melainkan karena dia khawatir jika yang terjadi kepada Ezar juga akan terjadi kepada Galvin.
Walaupun dia dan yang lainnya sudah tahu bagaimana kemampuan Galvin dalam bela diri, tetapi jika dihadapkan dengan jumlah musuh yang sangat banyak, dan Galvin hanya seorang diri, tetap saja Galvin tidak akan sanggup jika harus melawan mereka sendirian.
"Mau kita anter, ga?" tawar Dafa.
Galvin langsung menggeleng. "Ga perlu. Kalian temenin dia aja di sini," ucapnya, sambil menunjuk ke arah Ezar menggunakan gerakan mata.
"Sory, Zar! Gue harus pulang duluan," ucapnya, beralih kepada Ezar yang masih duduk bersandar di bangku rumah sakit itu.
Dia mengulurkan salah satu tangannya yang sudah terkepal, ke arah Ezar untuk melakukan tos.
"Santai aja. Thanks udah ke sini." Ezar membalas salam tos dari Galvin.
Salam tos itu biasa mereka lakukan sebelum berpisah, dengan cara menyatukan kedua tangan yang sudah mengepal.
"Kalau ada apa-apa langsung hubungin kita," ucap Fardan, begitu Galvin sudah berada di ambang pintu ruangan, dan detik berikutnya menghilang dari pandangan.
Mendengar kabar bahwa Galvin akan segera pulang, Khaira memilih untuk menunggu Galvin di lantai bawah.
Entah kenapa dia masih tidak bisa tidur walaupun Galvin sudah menyuruhnya untuk tidur lebih dulu tanpa menunggunya pulang. Lagi pula kamar tidur mereka terpisah berbeda, sehingga tidak akan saling mempengaruhi tentang siapa yang akan tidur lebih dulu.
"Buku yang kemarin malam aku baca, aku simpan di mana, ya?" gumam Khaira, dengan kedua bola matanya yang bergerak mencari keberadaan buku itu.
Dia lupa semalaman meletakkan buku itu di mana.
"Nah, ini ternyata. Alhamdulillah, akhirnya ketemu juga."
Selama beberapa menit mencari, akhirnya dia menemukan buku yang dia cari, yang ternyata terselip di antara buku-buku sekolahnya.
Dia segera keluar dari kamarnya begitu buku bersampul merah muda itu sudah dia temukan.
Untuk menghilangkan rasa bosan selama menunggu Galvin pulang, Khaira memilih untuk membaca sebuah buku di lantai bawah, buku itu akan dia baca di ruang tengah.
"Sepertinya bibi-bibi sudah tidur," gumam Khaira, begitu menuruni anak tangga.
Suasana di lantai pertama, sama seperti lantai kedua yang dia tempati. Suasananya sama-sama hening. Yang terdengar hanyalah suara jam dinding yang terus bergerak dan berputar setiap waktu.
Seperti yang sudah Khaira ketahui sebelumnya, bahwa di rumah itu tersedia lift untuk memudahkan dalam menuruni ataupun menaiki lantai rumahnya.
Namun meskipun sudah tersedia fasilitas itu, tetapi Khaira lebih memilih untuk menggunakan tangga, karena dia menganggapnya sebagai olahraga juga.
"Buah kering ini ternyata enak juga, rasanya manis."
Khaira langsung tersenyum manis di balik cadar, begitu merasakan buah kering yang sebelumnya sudah disiapkan oleh Bi Narti.
Dia mulai membaca buku favoritnya tentang kisah wanita hebat di zaman Rasulullah, sehingga dia termotivasi untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi di setiap harinya.
Setiap paragraf dan kalimat dari buku itu berhasil membawa perasaannya masuk ke dalam ceritanya. Hingga dia tidak sadar sudah berapa halaman buku yang dia baca.
"Masya Allah!"
Kalimat itu sesekali terucap di tengah-tengah isi buku yang dia baca.
Lembaran demi lembaran buku sudah terlewat hingga rasa kantuk mulai menyerangnya.
Dia mulai melafalkan doa yang biasa dia lafalkan sebelum tidur, begitu rasa kantuk itu tidak bisa lagi dia tahan.
...
'Khaira?' batin Galvin.
Dia sedikit terperanjat melihat keberadaan Khaira yang tertidur di sofa ruang tengah.
Sofa itu berukuran panjang dan sedikit lebar, tetapi Khaira tidur hanya menggunakan sedikit bagian saja dari sofa itu.
Hal itu dikarenakan posisi tidur Khaira yang meringkuk, dengan kedua tangan mungil itu memeluk buku yang belum selesai dia baca.
'Lo sesuka itu sama buku? Sampai lagi tidur aja lo peluk buku,' batin Galvin, sambil menggelengkan kepalanya pelan, karena melihat Khaira yang tidak bisa terlepas dari buku.
Dia semakin melangkahkan kakinya ke arah sofa, lebih tepatnya ke arah Khaira yang semakin terlelap dalam tidurnya.
'Kenapa lo sampai tidur di sini? Gue udah bilang berapa kali, jangan nungguin gue pulang,' batin Galvin kembali.
Dia sedikit membungkukkan punggungnya, supaya lebih dekat saat berbicara dengan Khaira yang sekarang sudah sah menjadi istrinya.
Dengan perlahan, dia menarik buku dari pelukan Khaira, untuk menyimpannya di atas meja.
"Lepasin bukunya. Biar gue simpen di atas meja," ucap Galvin, saat Khaira tiba-tiba mengeratkan pelukannya kepada buku itu, seolah dia melarang Galvin untuk mengambil bukunya.
Alam bawah sadar Khaira seolah mendengar apa yang Galvin katakan, sehingga setelah Galvin berkata seperti itu, pelukan Khaira otomatis mengendur dengan sendirinya.
Galvin melakukan itu dengan hati-hati, sehingga dia berhasil mengambil buku itu tanpa mengusik tidur dari pemilik buku yang diambilnya.
Setelah berhasil mengambilnya dari pelukan Khaira, buku itu langsung Galvin letakkan di atas meja, tanpa dia baca apa judul bukunya.
Perhatiannya yang semula tertuju kepada buku itu, kini dengan cepat teralihkan kembali kepada Khaira.
'Cantik!'
Sebuah kata itu tiba-tiba terlintas begitu saja di pikiran Galvin.
Tanpa sadar, dia menarik kedua sudut bibirnya, saat melihat kedua kelopak mata Khaira yang terpejam indah dan sempurna.
'Gue masih belum percaya kalau ini nyata,' batinnya, begitu mengagumi terhadap apa yang dilihatnya saat ini.
Kain cadar yang Khaira kenakan, tidak mampu menyembunyikan keindahan yang ada dalam diri Khaira, sehingga siapa pun yang melihatnya akan tanpa sadar mengaguminya, walaupun mereka tidak pernah melihat seperti apa wajah Khaira.
'Ck! Bisa-bisanya lo mikirin hal itu!' Galvin merutuki dirinya sendiri, atas pikirannya yang telah berkelana entah ke mana.
Detik berikutnya, dia beranjak dari hadapan Khaira yang masih memejamkan mata.
Dia memutuskan untuk naik ke lantai atas dan segera beristirahat.
Namun, begitu dia sampai dan berdiri di antara pintu kamarnya dan pintu kamar Khaira, dia langsung terpikir akan sesuatu.
...
"Jam berapa ini?" gumam Khaira, begitu lirih dan pelan.
Suaranya terdengar begitu lemah, ciri khas orang yang baru terbangun dari tidurnya.
Kedua kelopak matanya perlahan terbuka, menyesuaikan dengan cahaya di sekitarnya.
Beberapa saat setelah kedua kelopak mata itu terbuka sempurna, pandangan Khaira langsung tertuju kepada sebuah jam dinding yang terletak lurus dengan posisi tidurnya saat ini.
Jam dinding itu menunjukkan pukul tiga dini hari. Dia memang sudah terbiasa terbangun di jam itu untuk melaksanakan shalat malam. Sehingga saat ini dia bisa terbangun dengan sendirinya.
Sebelum bangkit dari sofa, Khaira memilih untuk mengubah posisi tidurnya yang semula setengah terlentang, kini menjadi menyamping ke arah kanan.
"Galvin?" gumamnya pelan, dengan kedua matanya yang mendadak memencing secara sempurna.
Begitu dia mengubah posisi tidurnya, pandangannya langsung lurus, melihat Galvin yang tengah tidur terlentang dengan kedua tangannya yang dia lipat di depan dada.
Posisi tidur Galvin saat ini ada di salah satu sofa yang bersebrangan dengan sofa yang Khaira tempati.
Hingga posisi tidur mereka hanya terhalang sebuah meja panjang saja.
"Ya, Allah. Ternyata aku ketiduran di sini."
Khaira kembali terkejut, begitu menyadari dirinya yang tidur di ruang tengah, bukan di dalam kamarnya.
Dengan perlahan, dia bangkit dari posisi itu, hingga posisinya yang semua berbaring kini berubah menjadi duduk.
'Galvin tidur di sini buat nemenin aku, atau memang kemauan dia sendiri?' batinnya, sambil melihat lurus ke arah Galvin yang masih tertidur dengan tenang.
Kini, dia langsung dihadapkan oleh dua perasaan yang membuatnya bingung.
Di satu sisi, dia merasa bersalah, karena ditakutkan Galvin tidur di sana untuk menemaniinya.
Lalu di sisi lain, dia merasa bingung dengan alasan lain yang Galvin miliki hingga Galvin memilih untuk tidur di sana.
Karena menurutnya, Galvin tidak mungkin tidur di sana jika tidak ada alasan yang khusus.
"Apa pun alasannya, aku tetap merasa bersalah padanya," gumamnya pelan.
Tidak berhenti sampai di situ saja, detik berikutnya Khaira dikejutkan kembali oleh sebuah selimut tebal yang menutupi dirinya. Dia baru sadar akan hal itu.
Dia sangat ingat, jika sebelumnya dia tidak membawa selimut ke lantai bawah, dia hanya membawa buku saja.
Dan kini, buku yang dia ingat terakhir kali dia pegang, kini sudah tersimpan rapih di atas meja.
Lantas siapa yang melakukan itu semua?
Kenapa selimut tebal miliknya itu bisa berada di sana?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang terus berkecimbuh di pikiran Khaira.
'Apa dia yang nyelimutin aku? atau mungkin bibi?' batinnya, bertanya-tanya.
Masih dibingungkan oleh persolaan sebelumnya, kini dirinya dibuat bingung kembali karena perihal selimut itu.
Namun, dugaan Khaira lebih memberatkan jika yang menyelimutinya adalah Galvin.
Karena tidak mungkin pelayan di rumah itu berani memasuki kamar tanpa izin.
"Aku minta maaf, kalau kamu tidur di sini gara-gara aku," gumam Khaira pelan.
Dia beranjak berdiri dari sofa, kemudian melangkah pelan ke arah Galvin, sambil membawa selimut tebal yang semula menutupi dirinya.
Secara perlahan, Khaira menyelimuti Galvin menggunakan selimut yang sebelumnya dia pakai.
Dia melakukan itu dengan sangat hati-hati, karena tidak ingin membuat Galvin terganggu sedikit pun dari tidurnya.
Setelah itu, dia tidak langsung pergi menjauh dari Galvin.
Dia malah menjadikan kedua lututnya sebagai tumpuan, dengan posisinya yang bisa dibilang setengah berdiri, hingga wajahnya sejajar dengan wajah Galvin.
"Kamu kelihatan cape banget."
Jarak mereka yang begitu dekat, membuat Khaira bisa melihat wajah tampan Galvin yang terlihat begitu lelah.
Sudah sekitar dua tahun lebih dia mengenal Galvin selama di sekolah, tetapi baru kali ini dia bisa berani melihat wajah Ketua Osisnya itu dengan teliti dan dalam waktu yang cukup lama, juga jarak yang begitu dekat.
Sebelum Galvin menjadi suaminya, dia tidak pernah memandangi Galvin selekat itu. Tidak mungkin dia memandai orang lain yang bukan mahramnya. Sejak kecil dia sudah diajarkan untuk menjaga pandangan.
'Aku izin ke atas dulu. Nanti aku temenin kamu lagi di sini,' batinnya, dengan kedua sudut bibirnya yang terangkat sempurna, tersenyum di balik cadar.
Khaira memutuskan kembali ke kamarnya untuk melaksanakan shalat sunnah malam.
Setelah selesai shalat, seperti biasa dia selalu berdzikir, membaca al-Qur'an, dan berdoa.
Dia jarang sekali tidur kembali.
Menunggu waktu subuh, dia menggunakan waktunya untuk belajar. Seperti saat ini.
Namun, situasi belajarnya saat ini berbeda dari sebelumnya.
Sebelumnya, dia suka membaca buku atau belajar di meja belajar, tetapi saat ini dia memilih membawa bukunya ke lantai bawah.
Tepatnya di ruang tengah, di mana Galvin sedang tertidur di sana.
Dia belajar tanpa bersuara, karena takut mengganggu Galvin yang sedang tidur dengan pulasnya.
"Galvin, bangun. Waktunya shalat subuh."
Khaira memanggil Galvin dengan suara lembut dan pelan.
Walaupun terdengar begitu lembut, tetapi suara itu berhasil menarik Galvin dari alam bawah sadarnya.
"Kenapa kamu tidur di sini?" tanya Khaira, saat Galvin sudah membuka kedua kelopak matanya dengan sempurna.
"Gue terlalu cape kalau harus naik ke lantai atas," jawab Galvin, dengan suaranya yang berat karena dia baru bangun dari tidur.
Khaira menanggung pelan.
Entah kenapa, muncul rasa sakit ketika mendengar alasan Galvin seperti itu.
Awalnya dia berpikir jika Galvin sengaja tidur di sana untuk menemaniinya, tetapi nyatanya tidak seperti itu.
Galvin mengatakan dia tidur di sana karena dia lelah.
"Jadi bukan kamu yang nyelimutin aku?" tanya Khaira, dengan rasa sedikit kecewa di hatinya.
Kali ini dia benar-benar berharap, jika Galvin yang melakukan itu untuknya.
"Gue yang nyelimutin lo," jawab Galvin, jujur.
Dia mendadak tidak rela jika ada orang lain yang mengakui bahwa orang itu yang menyelimuti Khaira.
"Bukannya kamu bilang, kalau kamu cape ke lantai atas?" tanya Khaira, dengan kedua alisnya yang terangkat, mendadak bingung.
Perlu ditegaskan bahwa selimut itu berada di lantai atas, sehingga Galvin pasti mengambilnya dari lantai atas, jika Galvin yang menyelimutinya.
"Ya. Gue cape bulak balik karena ngambilin lo selimut. Jadi gue milih tidur di sini dari pada harus ke atas lagi," jawab Galvin, tanpa menatap Khaira.
"Kenapa ga naik lift?" tanya Khaira, mengingat fasilitas yang ada di rumah itu.
"Males," jawab Galvin, yang semakin membuat Khaira bingung.
"Mau ke mana?" tanya Khaira, begitu melihat Galvin bangkit dari sofa itu.
"Shalat. Lo mau ikut?" tanya Galvin, sambil menaikkan salah satu alisnya.
Khaira langsung menggelengkan kepalanya. "Aku udah."
"Lain kali bangunin gue dulu. Biar gue jadi imam lo," ucap Galvin, sambil membalikan badannya membelakangi Khaira, dan mulai melangkah menuju lift.
"Kamu mau?" tanya Khaira, membuat Galvin langsung menghentikan langkahnya.
"Lo ga mau?" Galvin kembali bertanya, dengan posisi yang masih membelakangi Khaira.
"Mau!" Khaira langsung menjawab tanpa berpikir.
Siapa juga yang tidak mau dimami dalam shalat oleh suaminya sendiri? Sepertinya tidak ada.
"Malam nanti gue jadi imam lo," ucap Galvin, sambil melanjutkan kembali langkahnya hingga memasuki lift.