Di Desa Sumberarum, ketenangan bukanlah anugerah—melainkan harga dari sebuah perjanjian gelap.
Fariz, anak petani biasa, hidup di desa yang tak pernah kekurangan apa pun. Sawah selalu subur. Penyakit jarang datang. Bencana seolah menjauh.
Namun semua itu dibayar dengan sesuatu yang tak pernah dibicarakan dengan lantang.
Ketika Kyai Salman datang untuk memutus kemusyrikan yang mengakar, kematiannya justru menanam warisan berbahaya pada Fariz—ilmu yang belum sempurna, kebenaran yang tak diinginkan siapa pun.
Di tengah cintanya pada Aisyah, putri kepala desa, Fariz dipaksa memilih:
membiarkan desa tetap “selamat” dengan dosa, atau menghancurkan keseimbangan yang telah dijaga turun-temurun.
Karena di desa ini,
kebenaran bukanlah penyelamat—
ia adalah awal dari kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Warisan Yang Tidak Bisa Ditolak
Aisyah berlari dengan cepat tanpa mempedulikan apa pun yang ada di hadapannya.
Yang ia pikirkan hanya satu: bagaimana caranya agar keluarga itu selamat dari ancaman tumbal bagi Dewi Kuasa.
Kakinya bergerak lebih cepat dari napasnya. Dadanya sesak tapi ia tidak berhenti. Tidak boleh berhenti.
Sampai di rumah persembunyian, ia menggedor pintu.
"Fariz! Rahman! Buka!"
Teriakannya menggelegar. Tidak peduli lagi siapa yang mendengar. Tidak ada waktu untuk berbisik.
Keduanya langsung terperanjat. Membuka pintu dengan cepat.
"Aisyah, kenapa kamu kembali lagi ke sini?" Fariz terkejut. Hari sudah larut malam.
"Aku tahu rumah mana yang ditandai untuk tumbal."
Suara Aisyah terbata-bata. Napasnya belum teratur karena harus berlari cukup jauh.
"Kabut putih tebal berada di atas rumah." Ia sedikit membungkuk sambil mengatur napas. "Dan mereka menanam sesuatu di halamannya."
Fariz terdiam sejenak. Menyimak setiap kata.
Lalu wajahnya berubah.
"Tidak mungkin."
Ia langsung berlari keluar.
"Fariz, mau ke mana?!" Aisyah berteriak. Mengikuti dari belakang bersama Rahman.
Sesampainya di dekat rumah, Fariz berhenti di balik pagar tetangga.
Dari sini ia bisa melihat rumahnya dengan jelas. Dan di atas atap rumah itu, kabut putih tebal menggulung. Berputar pelan seperti pusaran.
Tapi yang membuat napasnya tertahan bukan kabut itu.
Sosok-sosok hitam.
Berjongkok di atap. Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima.
Seperti burung gagak yang menunggu. Tubuh mereka tidak stabil. Bergerak seperti asap tapi tetap di tempat. Kepala menunduk. Menunggu perintah.
Fariz membeku di tempat.
Tubuhnya tidak bergerak. Matanya tidak bisa lepas dari sosok-sosok itu. Seperti ada yang menahannya di tempat dengan tangan tak terlihat.
Lalu ia melihat seseorang di halaman rumah.
Berjongkok. Menggali tanah.
"Jangan!" Rahman menarik bahu Fariz dari belakang. Keras. Menyeretnya ke balik tembok.
Fariz hampir berteriak tapi Rahman menutup mulutnya dengan tangan sambil menggeleng cepat.
"Jangan gegabah, Iz. Mereka anak buah Pak Kades."
Bisikan Rahman tepat di telinga Fariz. Urgent. Mendesak.
Fariz menarik napas lewat hidung. Mencoba menenangkan diri. Rahman perlahan melepaskan tangannya.
Aisyah ikut bersembunyi di samping mereka. Mengintip dari celah tembok.
Orang itu masih menggali. Lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam kantongnya.
Keris.
Bilahnya panjang. Berkelok-kelok. Bahkan dari jarak ini, Aisyah bisa melihat ukiran di gagangnya.
Fariz mengerutkan dahi. Keris itu.
Ia pernah melihatnya. Di kotak hitam. Bersama perjanjian Sucipto.
Keris yang sama.
Dadanya sesak dengan cara yang berbeda sekarang. Bukan hanya takut. Tapi sangat menyakitkan dengan cara yang tidak bisa dijelaskan.
Keris yang ayahnya simpan bersama perjanjian dua puluh tahun lalu, sekarang digunakan untuk menandai rumahnya sendiri sebagai target tumbal.
Orang itu menanam keris dengan hati-hati. Bilahnya masuk ke tanah sampai hanya gagang yang terlihat. Lalu ia menimbunnya dengan tanah. Meratakan. Sampai tidak ada tanda bahwa ada sesuatu di sana.
Lalu ia pergi.
Mereka menunggu.
Hampir setengah jam. Bersembunyi di balik tembok. Tidak bergerak. Tidak bicara.
Sampai langkah orang itu benar-benar menjauh dan tidak terdengar lagi.
Fariz menatap rumahnya. Kabut masih menggulung di atas atap. Sosok-sosok hitam masih berjongkok. Menunggu.
"Tidak mungkin mereka akan menjadi tumbal." Suaranya keluar pelan. Gemetar. Seperti sedang mencoba meyakinkan diri sendiri tapi tidak berhasil.
"Jangan sekarang, Iz." Aisyah menyentuh lengannya. "Kalau kamu masuk sekarang, mereka akan tahu semuanya. Dan itu akan membuat keadaan ini menjadi lebih buruk."
"Aku tidak akan membiarkan keluargaku menjadi persembahan untuk Dewi Kuasa."
Fariz mencoba berdiri. Tapi Rahman menahannya.
"Kita harus menyusun rencana. Tapi tidak malam ini."
Rahman menatapnya serius. Lalu melirik ke Aisyah.
"Kalau kita bergerak malam ini terlalu berbahaya."
Fariz mengepalkan tangannya. Rahangnya menegang. Tidak mengira keluarganya akan menjadi calon tumbal dari Darma Wijaya.
Lalu Aisyah menundukkan wajahnya.
"Maafkan aku, Iz." Suaranya hampir tidak terdengar.
Fariz menatapnya. Bingung.
"Kenapa kamu minta maaf?"
"Karena..." Aisyah menarik napas. Matanya berkaca-kaca. "Karena sistem yang Bapak pelihara, sekarang mengancam keluargamu. Karena aku adalah anak dari orang yang melakukan ini semua."
Fariz terdiam. Tidak tahu harus bilang apa.
Rahman menepuk pundaknya. Pelan.
"Istighfar, Iz."
Isyarat agar Fariz tidak membuat Aisyah merasa lebih bersalah lagi.
Fariz menarik napas panjang. Lalu mengangguk.
"Malam ini kita tidur di pondok." Rahman berdiri. "Besok kita akan cari cara."
Ia menarik Fariz perlahan. Meminta Aisyah untuk segera kembali ke rumahnya sebelum ayahnya sadar ia pergi.
PONDOK — MALAM HARI
Fariz tidak bisa memejamkan matanya.
Berbaring di lantai tajuk dengan sajadah sebagai alas. Menatap langit-langit yang gelap. Air matanya menggantung di kelopak mata. Tidak jatuh tapi tidak hilang juga.
Merasa bersalah karena telah meninggalkan Ratna dan Sucipto di sana. Sendirian. Dengan sosok-sosok hitam yang berjongkok di atap. Menunggu.
Ia bangkit. Mengambil wudhu di sumur belakang. Air dingin menyentuh wajahnya. Tapi tidak membuat pikirannya lebih jernih.
Kembali ke tajuk. Menggelar sajadah. Berdiri.
Dua rakaat.
Selesai salam, ia tidak langsung berdiri. Duduk di sana. Tangan di pangkuan. Kepala tertunduk.
Menatap lafaz Allah yang menempel di dinding tajuk.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Gumamnya pelan. Air matanya mulai jatuh. Membasahi pipi.
"Kenapa sekarang... kenapa harus keluargaku..."
Pertanyaan itu keluar tanpa sadar. Seperti tumpah begitu saja dari mulut yang sudah tidak bisa menahan lagi.
"Apa yang harus aku lakukan... dengan titipan ini..."
Suaranya pecah di ujung. Tangisnya makin menjadi. Beban yang ada di hatinya semakin terasa berat. Seperti ada yang menekan dari dalam sampai ia tidak bisa bernapas dengan benar.
Ingatan tentang pertemuan terakhir dengan Kyai Salman. Pertengkaran di rumah dengan Sucipto. Wajah ayahnya yang berlutut memohon. Wajah ibunya yang menangis.
Semuanya berputar di kepalanya. Membuat tekanan itu semakin besar.
Fariz menempelkan dahinya di atas sajadah. Menangis. Tidak tahu harus berbuat apa.
Hampir satu jam ia berada di atas sajadah. Berharap mendapatkan jawaban. Tapi yang ada hanya rasa kantuk yang menyerang.
Hingga ia tidur sambil duduk. Kepala menunduk. Napasnya pelan.
MIMPI
"Tuhanmu adalah Allah. Lalu kenapa tidak mengadu dan meminta pertolongan kepada-Nya?" Suara Kyai Salman terdengar di kegelapan.
Fariz membuka mata.
Ia tidak lagi di pondok. Tapi di tajuk yang lebih luas. Lebih terang. Dinding kayu yang sama. Tapi ada sesuatu yang berbeda.
Beberapa pria duduk melingkar di sekitarnya.
Tiga. Empat. Lima orang.
Mengenakan gamis putih dan sorban yang terikat di kepala. Wajah mereka tenang. Mata terpejam. Bibir bergerak pelan membaca sesuatu.
Laa Ilaha Illallah. Laa Ilaha Illallah.
Suara mereka bergabung jadi satu. Menembus telinga Fariz. Masuk ke dalam dada. Merasakan hawa hangat yang menyebar ke seluruh tubuh.
Fariz menatap mereka satu per satu.
Tidak mengenal. Tapi ada sesuatu yang familiar. Seperti pernah melihat wajah-wajah ini di suatu tempat yang sudah lama ia lupakan.
"Anakku." Suara Kyai Salman dari samping.
Fariz menoleh. Kyai Salman duduk di sana. Menatapnya dengan wajah penuh kehangatan.
"Mereka adalah kakekmu, dan kakek dari kakekmu." Kyai Salman bicara pelan. "Yang mengajarkanku. Yang mewariskan ilmu ini dari generasi ke generasi. Dan sekarang sampai padamu."
Fariz menatap mereka lagi. Lalu ia mengerti.
Ini bukan hanya warisan dari Kyai Salman. Ini warisan dari garis keturunan yang jauh lebih panjang dari yang ia kira.
"Aku tidak pernah memintamu untuk meneruskan." Kyai Salman menatap lafaz Allah yang menempel di dinding. "Tapi panggilan itu akan selalu ada dalam diri setiap manusia yang takut kepada Tuhannya."
Fariz ingin bicara. Mulutnya bergerak. Tapi tidak ada suara keluar. Seperti terkunci rapat.
Ribuan pertanyaan di kepala. Tapi semuanya terasa sulit. Bahkan tubuhnya pun kaku. Tidak bisa digerakkan.
Kyai Salman tersenyum. Seperti mengerti.
"Doa itu kekuatan seorang muslim, anakku."
Ia mengangkat tangan. Menunjuk dada Fariz.
"Dua tanganmu adalah warisan dari Allah yang bisa membelah sesuatu yang buruk menjadi baik."
Lalu wajahnya berubah. Lebih serius.
"Tapi jika pikiranmu telah menuduh-Nya, maka apalah artinya sebuah doa."
Ia menyentuh bahu Fariz.
Hangat.
"Menangis itu tidak apa-apa, anakku. Air mata adalah doa yang tidak terucap. Tapi mengeluh pada takdir-Nya dengan menuduh Dia tidak adil — itu yang berbahaya."
Kyai Salman menatap Fariz dengan mata yang penuh kasih.
"Mengadu pada-Nya dengan air mata, itu adalah ibadah. Tapi menuduh-Nya dengan kata-kata, itu adalah dosa."
Fariz merasakan dadanya sesak.
Ia ingat kata-katanya sendiri barusan.
"Mengapa sekarang? Kenapa harus keluargaku?"
Pertanyaan yang terdengar seperti tuduhan.
"Maafkan aku." Bisiknya. Suara akhirnya keluar. Pelan. Retak.
Kyai Salman tersenyum. Lalu semuanya perlahan memudar.
MIMPI BERAKHIR
Fariz terbangun.
Masih duduk di atas sajadah. Kepalanya terangkat dari dada. Napas terengah sebentar.
Ia melihat sekeliling. Tajuk yang sama. Tapi tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya Rahman yang tertidur pulas di pojok dengan punggung bersandar ke dinding.
"Maafkan aku yang telah menuduh-Mu, Ya Allah."
Kata-kata itu terucap begitu saja. Pelan. Tapi tulus.
"Aku tidak tahu cara berdoa dan meminta kepada-Mu."
Air mata jatuh lagi. Tapi kali ini berbeda. Lebih ringan.
"Berikan aku kekuatan untuk menghadapi semuanya."
Fariz kembali bersujud. Memohon ampunan.
Kali ini bukan dengan tuduhan. Tapi dengan penyerahan.
PAGI HARI
Fariz berpamitan kepada Rahman untuk pulang ke rumahnya sebentar.
"Aku harus melihat apa yang mereka tanam semalam." Suaranya lebih tenang sekarang. Lebih tegas.
Rahman mengangguk. "Hati-hati, Iz."
Saat ia berjalan menuju rumahnya, Fariz merasakan sesuatu yang aneh.
Semua orang menatapnya.
Bukan tatapan biasa. Tapi tatapan yang berbeda. Seperti mereka tahu sesuatu yang ia tidak tahu. Seperti mereka melihat sesuatu di tubuhnya yang ia sendiri tidak sadari.
Wajah mereka kosong. Tidak ramah. Tidak bermusuhan. Hanya kosong.
Fariz tidak menghiraukan. Terus berjalan. Sampai ia tiba di rumahnya.
Sucipto sedang duduk bersama Ratna di meja makan. Wajah mereka lelah. Seperti tidak tidur semalam.
"Assalamualaikum, Pak."
Fariz masuk. Mencium tangan ayah dan ibunya.
Sucipto langsung memeluknya. Erat. Seperti takut kehilangan.
"Nak... kemarilah."
Hatinya senang bisa melihat kembali Fariz berada di rumah. Meski hanya sebentar.
"Pak, ayo kita pergi dari sini." Fariz menatap keduanya. Serius.
"Apa maksudmu?" Sucipto mengerutkan dahi.
"Aku mohon, Pak. Sudah tidak ada waktu lagi. Ayo, Pak..."
Fariz menarik tangan Sucipto. Tapi ayahnya malah menariknya kembali dengan keras.
"Ini semua gara-gara kamu tinggal di pondok itu, Iz!"
Sucipto berdiri dari kursi. Suaranya naik.
"Cukup, Pak. Aku tidak mau berdebat."
Fariz melepaskan tangan ayahnya. Lalu keluar. Mengambil cangkul yang ada di samping rumah.
Menggali tanah di tempat anak buah Darma Wijaya menanam keris semalam.
"Kamu ngapain, Iz?!" Sucipto keluar. Heran melihat Fariz menggali tanah di depan rumahnya.
"Pak, mereka menanam sesuatu di rumah ini. Bapak akan dijadikan..."
Fariz menggali lebih dalam. Mencari gagang keris.
Tapi tidak ada.
Ia menggali lebih lebar. Lebih dalam lagi.
Tapi tetap tidak ada.
Keris itu lenyap. Seperti sudah menyatu dengan tanah. Atau menghilang ke tempat yang tidak bisa dijangkau oleh cangkul biasa.
Fariz merasakan dadanya sesak. Tanah di tangannya terasa panas. Seperti ada sesuatu yang menolak sentuhan.
"Kamu ngapain, Iz?!"
Suara Sucipto terdengar marah. Bingung. Takut.
Tapi sebelum Fariz sempat menjawab, suara motor terdengar dari jalan.
Karno datang. Bersama dua orang anak buah Darma Wijaya.
"Pagi, Pak Sucipto."
Sapaan Karno tenang. Terlalu tenang. Tapi Fariz merasakan ada ancaman yang dibawa olehnya.
"Bapak ditunggu di pendopo. Mari, Pak."
Karno menunjuk motor kosong yang sengaja disiapkan.
Sucipto menatap Fariz sebentar. Lalu ke Karno.
Tanpa banyak bicara, ia naik ke atas motor.
Karno menaikkan sudut mulutnya. Menyeringai saat menatap Fariz yang berdiri di sampingnya. Cangkul masih di tangan. Tanah masih di kaki.
Lalu mereka pergi.
Fariz berdiri di situ. Menatap motor yang menjauh. Membawa ayahnya.
Dan di atas atap rumah, kabut masih menggulung.
Sosok-sosok hitam masih berjongkok.
Menunggu.