NovelToon NovelToon
From Turis To Will You Marry Me

From Turis To Will You Marry Me

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ws. Glo

David Mendoza adalah pria paling menakutkan dan problematik di Sao Paulo, Brazil. Selain karena ia seorang Chief Executive Officer (CEO) perusahaan minyak dan gas terbesar kedua di negara itu, David merupakan ketua kartel kelas kakap. Sehingga membuatnya amat diwaspadai, baik di dunia bawah tanah maupun dalam pergulatan bisnis. Tidak ada yang berani menyentuhnya.
Sampai pada suatu hari, Laila Cakrawala yang merupakan seorang turis asal Indonesia, membuatnya terpana. Sejak saat itu, David terobsesi untuk mendapatkan Laila yang ternyata sudah menikah.
Tetapi, hubungan rumit itu jelas mendapat banyak tantangan, baik soal perasaan maupun alur kehidupan mereka, meski sekalipun David berhasil memenangkan Laila.

Akankah keduanya berakhir bahagia? Atau malah, sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ws. Glo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(Episode 22) Benarkah, ini cuma pura-pura?

Langit mulai tampak jingga di atas gedung megah tempat resepsi berlangsung.

Musik orkestra mengalun lembut. Gelas-gelas anggur berdenting. Tawa para tamu bercampur dengan suara kamera yang sesekali berkedip menangkap momen.

Di tengah kemewahan itu, Laila justru merasa asing.

Ia duduk di kursi pengantin yang empuk, sedikit memiringkan tubuhnya, mencoba mengistirahatkan kaki yang mulai pegal setelah berdiri berjam-jam menerima ucapan selamat. Senyum formalnya akhirnya runtuh ketika tidak ada tamu tepat di hadapannya.

Tangannya terlipat di pangkuan. Tatapannya kosong menelusuri ruangan. Dan kalimat itu kembali terngiang.

"Kau... hanya perlu berpura-pura menjadi istriku dan tinggal bersamaku selama setahun."

Suara David terdengar jelas di kepalanya, dingin, tenang, tanpa emosi.

Laila menghela napas pelan. Sorot matanya menyapu aula sekali lagi.

Dekorasi bunga impor memenuhi setiap sudut. Meja tamu dihiasi kristal mahal. Hidangan internasional tersaji tanpa henti. Bahkan panggung musik menghadirkan penyanyi terkenal yang sering ia lihat di televisi.

"Semakin diperhatikan… semuanya terasa aneh namun nyata. Ini terlalu megah, serius, dan bahkan berlebihan." Batin Laila dengan kening berkerut.

Batinnya mulai berisik. "Kami kan hanya menikah di atas surat kontrak. Setahun pula."

Ia menelan ludah. "Biaya resepsi ini pasti tidak main-main. Orang awam pun bisa menebak jumlahnya, mencapai angka fantastis."

"Mengapa David harus repot-repot begini, jika semuanya cuman sementara? Toh setelah setahun kami akan kembali menjadi dua orang asing."

Pikiran Laila berkecamuk. "Benarkah… ini cuma pura-pura?" tanyanya dalam hati.

Matanya tanpa sadar melirik ke arah David yang sedang berbicara dengan beberapa pengusaha tua di dekat meja VIP. Pria itu terlihat sempurna dalam jas hitamnya. Tegap. Tenang. Sulit ditebak.

Seolah ia memang benar-benar seorang pengantin pria yang bahagia. Tidak ada celah kebohongan di wajahnya. Justru itu yang membuat Laila semakin bingung.

Saat pikirannya mulai tenggelam terlalu jauh, sebuah suara ceria tiba-tiba muncul.

"Selamat atas pernikahan Anda, Nyonya."

Laila mendongak.

Seorang pria tinggi berdiri di depannya dengan senyum lebar yang hampir terlalu percaya diri. Rambutnya sedikit berantakan tapi looknya kelihatan mahal. Apalagi di bagian matanya, memancarkan kenakalan yang tidak bisa disembunyikan.

David yang berdiri tidak jauh dari samping langsung tersentak, lalu datang menghampiri.

"Bukankah kau bilang tidak bisa datang karena urusan bisnismu di Prancis?"

Pria itu langsung tertawa keras. "Bwahahaha! Selamat ya, sahabatku!"

Tanpa aba-aba, ia menarik David ke dalam pelukan erat. Laila melototkan mata melihat tubuh David yang sedikit kaku. Hal tersebut merupakan reaksi langka dari pria sedingin es itu.

"Aku tidak menyangka," lanjut pria itu dramatis, "pria sekaku dirimu akhirnya menikah juga. lebih duluan dariku pula!"

David mendengus kasar. "Adam…," nada suaranya terdengar seperti seseorang yang sudah pasrah menghadapi bencana alam.

Adam melepaskan pelukan, kemudian menoleh ke arah Laila. Tatapannya berubah, tajam namun penuh rasa ingin tahu.

"Ditambah…" kata Adam pelan.

Ia menatap Laila dari ujung kepala hingga kaki, bukan dengan sikap kurang ajar, melainkan seperti seorang kolektor seni yang menemukan lukisan langka.

"Istrimu sangat cantik dan terlihat mencolok," ucap Adam.

Laila sedikit canggung terhadap pujian spontan tersebut.

Adam lalu mendekat ke David dan berbisik, meski volumenya cukup terdengar, "sesudah acara selesai, aku perlu mendengarkan penjelasan secara detail darimu yang tiba-tiba menikah tanpa memberitahukan kepada sahabat dekatmu terlebih dahulu."

"Dan satu lagi," Adam memicingkan mata. "Berhati-hatilah. Orang-orang memperhatikannya terus dari tadi."

Adam mengangguk ke arah kerumunan.

Laila baru sadar. Beberapa tamu memang sesekali melirik mereka. Ada yang berbisik hingga tersenyum penuh arti. Seolah dirinya dan David adalah topik utama malam itu.

Sementara David terdiam. Wajahnya tetap datar, tetapi sorot matanya berubah sedikit lebih tajam.

Adam tersenyum puas melihat reaksi sahabatnya. "Oh ya," katanya tiba-tiba. "Aku membawa hadiah."

Ia merogoh jasnya dengan gaya dramatis. " "Taraaa!"

Dua lembar tiket pesawat diangkat tinggi-tinggi. "Tiket bulan madu ke Jepang!"

Laila membeku. David juga. Beberapa detik hening tercipta.

"Adam, Kau ini sungguh..."

David belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika Adam langsung mengangkat tangan.

"Eits! Tidak menerima penolakan!" Adam menyeringai lebar. "Intinya, semoga kalian cepat dapat momongan ya. Hehehe."

Laila hampir tersedak udara. "Momongan?! Apa dia sudah gila?" batinnya dengan wajah yang seketika panas.

Adam tertawa puas melihat ekspresi mereka berdua, lalu melambaikan tangan santai. "Oke, aku pergi dulu. Ada penggemar yang menungguku."

Benar saja, Adam pun langsung berjalan menuju sekelompok gadis yang kemudian menyambutnya dengan antusias.

David hanya menghela napas panjang. Seakan energi hidupnya habis hanya karena kehadiran satu orang itu.

Laila akhirnya bertanya pelan, masih bingung. "Dia siapa?"

David tiba-tiba membungkuk dengan sangat dekat. Wajahnya cuman menyisakan jarak secuil hingga napasnya terasa di telinga Laila.

Dengan suara rendah dan penuh penekanan ia berbisik, "Dia bukan siapa-siapa. Kau tidak boleh berurusan dengannya."

Nada suaranya tenang, tapi terdengar seperti perintah mutlak. "Kau cukup melihat dan memperhatikanku saja," lanjut David membuat Laila menegang.

Jantung Laila berdetak lebih cepat. Ia menelan ludah. Wajahnya kian memerah tomat tanpa alasan jelas.

Saat David kembali berdiri tegak seolah tidak terjadi apa-apa, Laila hanya bisa berkedip beberapa kali.

Dalam hati ia menggerutu. "Dasar aneh. Padahal dia begitu akrab dengan pria itu. Tapi kenapa malah bilang bukan siapa-siapanya? Pake marah segala lagi."

Ia mendengus kecil. Tanpa sadar, tangannya menggenggam ujung gaun pengantin sedikit lebih erat.

**********

Saat malam memperlihatkan dominannya, Laila yang kini berada di kamarnya langsung merentangkan badan ke atas ranjang. Ia sudah mengganti pakaiannya ke dress tidur mini dan tipis yang lebih menyejukkan, setelah menahan gerah karena dililit gaun pengantin selama seharian.

"Haaah," ia membuang nafasnya panjang. "Akhirnya bebas juga."

Laila menutup matanya. Badannya masih terlentang lebar. Ia tidak menyadari bahwa pintu kamarnya yang belum dikunci, terbuka perlahan tanpa sedikitpun kebisingan.

David. Itu adalah ulahnya.

Saat Laila mengira bahwa ia akan segera tertidur, tetesan air dari rambut David yang baru saja mandi, jatuh mengenai wajah cantik istri kontraknya itu.

Laila tersentak dan secepat kilat membuka kedua matanya. "Apa-apaan ini..."

Namun matanya terbelalak lebar kala mendapati jikalau David sudah berdiri dihadapannya.

"Kau bebas dari apanya?" tanya David dengan suara beratnya.

Laila terduduk, reflek menutup tubuhnya yang hanya terbalut kain tipis hampir tembus pandang, dengan kedua tangan.

"Apa yang anda lakukan disini?" Laila berbalik bertanya. Gelagatnya was-was.

David menyeringai lebar, ia membungkukkan badan.

"Tentu saja menghabiskan malam pertama yang sempat tertunda, dengan istriku tercinta," jawabnya lirih namun mengandung arti. Membuat bulu kuduk Laila meremang sampai ke ujung kaki.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!