NovelToon NovelToon
Dibalik Lampu Sorot

Dibalik Lampu Sorot

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Duniahiburan / Percintaan Konglomerat / Tamat
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Andreas St. Clair adalah definisi dari kesempurnaan yang arogan. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris dinasti elit New York, ia tidak memiliki toleransi untuk kegagalan atau amatirisme. Baginya, film terbarunya hanyalah bisnis biasa, hingga ia dipasangkan dengan Seraphina Vanderbilt, Terkenal Gadis Manis Manhattan yang reputasinya sebersih salju.
Ketegangan memuncak di lokasi syuting saat adegan ciuman mereka gagal hingga enam kali.
Andreas, yang muak dengan kekakuan Seraphina, menghina bakat dan profesionalitasnya di depan semua orang. Namun, Andreas tidak tahu bahwa di balik sikap dingin Seraphina, tersimpan sebuah rahasia, itu adalah ciuman pertamanya, baik di depan kamera maupun dalam hidupnya.
Terluka dan dipicu amarah, Seraphina melepaskan topeng "gadis baik-baik" miliknya. Dia menantang ego Andreas dengan keberanian yang belum pernah dilihat dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Seminggu terakhir bagi Archelo St. Clair terasa lebih lama daripada setahun masa hiatus ayahnya dari dunia akting. Cambridge yang biasanya dipenuhi suara hiruk-pikuk mahasiswa, kini terasa sunyi dan menekan. Fokusnya pada mata kuliah Makroekonomi hancur total.

Di perpustakaan Widener yang megah, ia hanya menatap layar laptop yang kosong selama berjam-jam. Pikirannya bukan lagi tentang kurva permintaan atau teori pasar, melainkan tentang gema suaranya sendiri di gang gelap malam itu.

"Apa perlu kau kutiduri dulu agar kau tahu rasa...?"

Kalimat itu seperti kaset rusak yang berputar tanpa henti di otaknya, menyiksanya dengan rasa malu yang membakar. Archelo membenci dirinya sendiri. Ia membenci betapa mudahnya racun dari pergaulan lamanya keluar saat ia kehilangan kendali.

Biasanya, setiap kali Archelo berjalan menuju kelas, ia akan mendengar suara sindiran Flo. Ia akan melihat jaket kulit hitam itu di kejauhan, atau merasakan tatapan tajam yang seolah sedang menguliti dosanya. Namun seminggu ini, Flo menghilang bak ditelan bumi. Gadis itu tidak ada di kafetaria perbatasan, tidak terlihat di balkon asrama, dan selalu berhasil menghindar setiap kali Archelo mencoba mencegatnya di depan gedung fakultas hukum.

"Flo..." gumam Archelo saat ia berdiri di koridor asrama, menatap pintu kamar di gedung sebelah yang selalu tertutup rapat.

Ia merasa kehilangan jangkar. Sindiran Flo yang dulu ia anggap menyebalkan, kini ia sadari sebagai satu-satunya hal yang membuatnya merasa "nyata" di Harvard. Tanpa Flo yang menyebutnya sampah, Archelo merasa dirinya benar-benar hanyut kembali menjadi bayangan yang tak punya arah.

Archelo mencoba segalanya. Ia mengirimkan pesan singkat, sesuatu yang sangat jarang ia lakukan pada wanita.

Flo, aku perlu bicara. Tolong berikan aku waktu lima menit. - Tidak dibalas.

Flo, kata-kataku malam itu... itu bukan aku. Aku minta maaf.

- Hanya dibaca, tanda centang biru yang terasa seperti tamparan.

Ia bahkan mencoba cara yang lebih elegan. Ia memesan buket bunga lili putih, bunga kesukaan ibunya yang melambangkan ketulusan, untuk dikirim ke asrama Flo. Namun, satu jam kemudian, ia melihat buket itu tergeletak di tempat sampah besar di depan lobi asrama, masih terbungkus rapi dengan kartu ucapan yang belum dibuka.

Archelo terduduk di bangku taman kampus, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Ia, sang pangeran St. Clair yang punya segalanya, kini merasa seperti pecundang paling kecil di dunia. Ia teringat nasihat Sera ibunya, "Hargai dirimu sendiri."

Bagaimana ia bisa menghargai dirinya sendiri jika ia telah merendahkan orang lain dengan cara yang begitu menjijikkan?

Hari kelima, Archelo mulai kehilangan kewarasannya. Ia tidak lagi peduli dengan tugas-tugas kuliahnya. Ia menghabiskan waktu berjam-jam di depan gedung fakultas kriminologi, bersandar pada pilar batu, mengabaikan tatapan mahasiswa lain yang berbisik-bisik melihat sang pewaris St. Clair tampak berantakan. Rambutnya tidak tertata, matanya cekung karena kurang tidur, dan ia tidak lagi memakai kemeja mahal yang disetrika.

Setiap kali ada mahasiswi yang keluar dengan jaket atau postur tubuh mirip Flo, jantung Archelo berdegup kencang, hanya untuk jatuh kembali ke dasar jurang saat menyadari itu bukan dia.

Ia mulai menulis surat. Bukan email atau pesan instan, tapi surat tulisan tangan di atas kertas linen mewah. Ia menuliskan bagaimana ia tumbuh di lingkungan di mana wanita sering dianggap sebagai objek penaklukan. Ia menuliskan bagaimana ia benci pada dirinya sendiri karena telah membiarkan racun itu keluar. Ia menuliskan bahwa Flo adalah orang pertama yang benar-benar peduli untuk menegurnya, dan ia telah menghancurkan satu-satunya hal murni dalam hidupnya.

Namun, surat itu hanya berakhir di saku jaketnya, remuk karena genggamannya yang terlalu kuat. Ia merasa kata-kata di atas kertas tidak akan pernah cukup untuk menghapus luka di mata Flo malam itu.

Akhirnya, di penghujung minggu, Archelo melihat Flo. Gadis itu sedang berjalan keluar dari perpustakaan hukum bersama seorang pria tinggi berpakaian rapi, mungkin mahasiswa senior.

Flo tampak sedang tertawa kecil, namun tawa itu segera hilang saat matanya menangkap sosok Archelo yang berdiri beberapa meter di depannya.

Archelo melangkah maju, kakinya terasa berat. "Flo... tolong."

Pria di samping Flo tampak ingin mengintervensi, namun Flo mengangkat tangannya, memberi isyarat agar temannya itu pergi duluan. Kini hanya ada mereka berdua di bawah lampu jalan yang mulai menyala.

"Aku tidak punya waktu, St. Clair," ucap Flo. Suaranya tidak lagi marah, tapi datar dan dingin. Itu jauh lebih menyakitkan bagi Archelo daripada bentakan.

"Seminggu ini... aku tidak bisa tidur," suara Archelo serak. "Aku tahu aku sampah karena mengatakan itu. Aku tidak bermaksud... itu adalah kata-kata dari orang-orang bodoh di markas yang entah kenapa keluar dari mulutku. Aku tidak pernah memandang wanita seperti itu, apalagi kau."

Flo menatap Archelo, namun pandangannya seolah menembus tubuh pria itu. "Kau tahu apa yang paling menyedihkan, Archelo? Aku tidak marah karena kau menghinaku. Aku marah karena aku sempat percaya kau berbeda. Aku sempat percaya bahwa di balik alkohol dan kemarahanmu, ada pria baik yang sedang berjuang."

Flo melangkah maju, mendekat hingga Archelo bisa melihat luka yang masih basah di matanya.

"Tapi malam itu kau membuktikan bahwa kau sama saja dengan Hernand atau Julian. Kau pikir kau bisa membungkam kebenaran dengan kekuatan atau intimidasi seksual? Kau ingin 'meniduriku' agar aku berhenti menyebutmu sampah? Itu adalah cara paling pengecut yang pernah kudengar."

"Aku minta maaf, Flo. Demi Tuhan, aku minta maaf," Archelo memohon, hampir ingin berlutut jika itu bisa membuat Flo percaya.

"Maaf tidak akan mengubah fakta bahwa kau memikirkan hal itu, Archelo," Flo berbalik, bersiap untuk pergi. "Jangan mencari ku lagi. Uruslah dirimu sendiri. Belajarlah bagaimana menjadi manusia sebelum kau belajar bagaimana menjadi seorang St. Clair."

Archelo berdiri mematung saat Flo berjalan menjauh dan menghilang di balik gerbang fakultas. Ia tidak mengejarnya. Ia tahu, untuk saat ini, kehadirannya hanya akan menambah luka.

Malam itu, Archelo kembali ke asramanya. Ia membuang semua botol minuman keras yang masih tersisa di kamarnya ke tempat sampah. Ia duduk di meja belajarnya, menatap foto ibunya. Ia menyadari bahwa permintaan maaf bukan tentang kata-kata, tapi tentang transformasi.

Jika ia ingin Flo kembali melihatnya, ia tidak bisa lagi menjadi Archelo yang tersesat. Ia harus menjadi pria yang layak untuk berdiri di hadapan Florence Edison, pria yang benar-benar menghargai dirinya sendiri dan menghormati orang lain.

Perjuangan Archelo untuk dimaafkan baru saja dimulai, dan ia bersumpah, meski butuh waktu bertahun-tahun, ia akan menebus kata-kata menjijikkan itu dengan tindakan yang nyata.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
Triana Oktafiani
Terloveh semua ceritamu ❤️❤️
ros 🍂: ma'aciww kak 😍
total 1 replies
isnaini_jk 28
Luar biasa
ros 🍂: Ma'aciww kak😍
total 1 replies
Siti Maryati
bagus .... bagus ..... ceritanya
ros 🍂: Ma'aciww kak 😍
total 1 replies
Siti Maryati
enak bacanya...bahasa tertata, alur cerita nya bagus
ros 🍂: Ma'aciww 😍
total 1 replies
Berlian Nusantara dan Dinda Saraswati
ini tuch bgus banget asli cuma baru nemu aja.... karna gak kepikiran judulnya Inggris gak nyambung di pencarian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!