Tiga hari ia bergulat dengan maut. Bayinya lahir tanpa tangis. Lalu diam selama 25 tahun.
Aryo hanya penarik becak. Istrinya buruh cuci. Mereka tak punya uang untuk rumah sakit, apalagi untuk terapi. Tapi ketika dokter bilang anaknya tak akan pernah normal, Aryo cuma berkata: "Dia tetap anakku."
Warga bilang anaknya kena guna-guna. Tetangga bergunjing di setiap pos kamling. Batu dilempar ke rumahnya tengah malam. Tapi Aryo bertahan. Sampai suatu hari, istrinya batuk darah. Dan Aryo harus memilih: selamatkan istri, atau rawat anak yang tak pernah bisa memanggilnya Bapak?
Kisah nyata seorang ayah yang mengajarkan arti cinta tanpa syarat.
Siap-siap sediakan tisu. Karena setiap bab akan membuatmu terisak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: RISMA OPNAME LAGI
"Pak, paru-paru anak Bapak lemah. Sangat lemah."
Dokter itu bicara pelan. Tapi setiap kata seperti palu yang menghantam kepalaku.
Risma terbaring di ranjang UGD. Wajahnya pucat. Dari hidungnya, selang oksigen. Dari dadanya, kabel-kabel monitor. Napasnya cepat. Cepat sekali. Seperti orang habis berlari marathon. Padahal ia hanya terbaring.
"Dia menghirup terlalu banyak asap. Kondisinya kritis. Harus rawat inap."
Aku diam. Dewi di sampingku, nangis tanpa suara. Budi di rumah, dititip tetangga.
Dokter melanjutkan, "Dengan kondisi CP-nya, daya tahan tubuhnya rendah. Infeksi bisa menyerang kapan saja. Kami harus observasi ketat."
Aku lihat Risma. Matanya terbuka sedikit. Menatapku. Lalu tangannya bergerak. Meraih. Aku pegang.
"Nak, Bapak di sini."
Risma tak bisa jawab. Tapi genggamannya... genggamannya erat. Seperti bilang, "Pa, aku takut."
Aku tahu. Aku juga takut. Tapi aku harus kuat. Untuknya.
---
Pagi harinya, aku pulang sebentar ke rumah.
Rumah yang hangus. Dinding belakang hitam. Bau terbakar masih menyengat. Kamar Risma yang paling parah—dekat dengan sumber api.
Aku masuk ke kamar itu. Tempat tidur Risma hitam jelaga. Mainan Budi yang tertinggal ikut hangus. Boneka kecil pemberian Mbah Kar, tinggal arang.
Aku jongkok. Memegang kepala. Nangis.
Di mana kami akan tinggal? Risma butuh tempat bersih, bebas asap, bebas debu. Tapi kami tak punya tempat lain. Hanya ini. Rumah kontrakan peninggalan Mbah Kar yang hampir jadi abu.
Aku keluar. Lihat dapur. Rusak. Lihat ruang tamu. Berantakan. Lihat teras. Masih ada kursi kayu tempat Mbah Kar biasa duduk.
Aku duduk di kursi itu. Pandangi rumah.
"Maaf, Mbah. Aku gagal jaga rumah peninggalan Mbah."
Angin berhembus. Daun pintu berderit. Seperti Mbah Kar bilang, "Kamu nggak gagal, Le. Kamu sedang berjuang."
Aku bangkit. Kembali ke rumah sakit.
---
Di rumah sakit, kondisi Risma naik turun.
Kadang stabil. Kadang drop. Dokter bilang itu wajar. Infeksi paru-paru pada anak CP butuh waktu. Tapi setiap kali monitor berbunyi, jantungku berhenti.
Malam ketiga.
Aku jaga sendirian. Dewi pulang sebentar ke rumah, urus Budi dan bersih-bersih.
Jam 2 dini hari. Alarm berbunyi.
Aku bangkit. Risma kejang.
Tubuhnya kaku. Lalu gemetar hebat. Matanya memutih. Mulutnya berbusa.
"RISMA! RISMA!"
Perawat lari masuk. Dokter menyusul.
"Pak, keluar! Keluar dulu, Pak!"
Aku didorong keluar. Lihat dari balik kaca. Mereka kerubungi Risma. Suntik. Pasang ini itu. Monitor berbunyi kencang.
10 menit. 20 menit.
Dokter keluar. Wajahnya lelah.
"Pak, selamat. Kejangnya berhenti. Tapi ini peringatan. Kondisinya sangat rapuh. Paru-parunya lemah sekali. Kami harus naikkan dosis obat."
Aku lemas. Hampir rubuh.
"Bisa... bisa lihat dia, Dok?"
"Sebentar, Pak. Kami stabilkan dulu."
Aku nunggu di luar. Satu jam. Dua jam.
Akhirnya dipanggil masuk.
Risma di ranjang. Tubuhnya lemas. Sangat lemas. Matanya terpejam. Tapi napasnya masih ada. Masih beraturan.
Aku pegang tangannya. "Nak, Bapak di sini."
Risma tak bergerak. Tapi tangannya... tangannya bergerak sedikit. Merespon.
Aku nangis. Nangis di samping ranjangnya.
---
Budi di rumah. Umur 3 tahun. Dijaga tetangga bergantian.
Tapi malam hari, ia sering sendiri. Tetangga punya keluarga masing-masing. Mereka jaga siang, malam kembali ke rumah.
Aku telepon setiap jam. Pakai HP pinjaman perawat.
"Nak, udah mandi? Udah makan?"
Budi jawab, "Udah, Pa. Budi jagain rumah. Kakak gimana?"
"Kakak di rumah sakit. Tapi nanti sembuh."
"Budi boleh jenguk?"
"Nanti, Nak. Kalau kakak sudah boleh pulang."
Budi diam. Lalu, "Pa, Budi takut. Rumah sepi."
Aku nangis di telepon. "Nak, kunci pintu. Jangan keluar. Pa telepon Bu RT minta jagain Budi."
"Iya, Pa. Pa cepet pulang ya."
"Iya, Nak. Pa sayang Budi."
Telepon ditutup. Aku duduk lemas di lorong rumah sakit.
Budi terlalu kecil untuk sendirian. Tapi tak ada pilihan. Risma kritis. Aku harus di sini.
---
Malam kelima.
Budi telepon jam 11 malam. Suaranya bergetar.
"Pa... Budi takut. Ada suara aneh di luar."
Aku panik. "Suara apa, Nak?"
"Kayak orang jalan. Terus ketuk-ketuk pintu. Budi diem aja. Nggak buka."
Jantungku berhenti. Joko. Lagi.
"Nak, dengar Pa. Kunci pintu udah? Kunci rantai udah?"
"Udah, Pa."
"Bagus. Jangan keluar. Jangan buka pintu buat siapa pun. Pa telepon Bu RT sekarang."
"Cepet ya, Pa. Budi takut."
Aku telepon Bu RT. Cerita. Bu RT langsung gerak.
10 menit kemudian, Bu RT telepon balik. "Pak, saya sudah di rumah. Budi saya gendong. Nanti malam saya bawa ke rumah saya. Istri saya jagain."
Aku nangis. "Makasih, Bu. Makasih banyak."
"Jangan khawatir, Pak. Fokus jaga Risma. Budi aman sama kami."
Aku bersyukur. Tapi di balik syukur, marah. Marah pada Joko. Sampai kapan ia akan terus-teror? Anak umur 3 tahun diganggu?
Aku genggam HP erat. Joko... kau sudah keterlaluan.
---
Tagihan rumah sakit datang. 2,5 juta.
Aku hanya punya 200 ribu. Itu pun sisa buat beli susu Budi.
Aku coba pinjam ke sana-sini. Tetangga yang kemarin bantu jaga, mereka orang biasa. Hidup pas-pasan. Tak bisa pinjam uang.
Aku coba ke Pak RT. Beliau bantu kumpulkan warga. Tapi hasilnya hanya 300 ribu. Itu pun dari iuran sukarela.
"Maaf, Pak. Kami juga susah," kata Pak RT.
Aku mengerti. Mereka sudah banyak bantu. Tak bisa minta lebih.
Aku hampir putus asa.
Di lorong rumah sakit, aku duduk lemas. Dewi di sampingku. "Mas, kita gimana?"
Aku tak bisa jawab. Aku hanya menunduk. Menangis diam-diam.
Dewi pegang tanganku. Kita nangis berdua di lorong rumah sakit. Pasien lain lalu lalang. Ada yang lihat kasihan. Tapi tak ada yang bisa bantu.
Tiba-tiba, seseorang berdiri di depan kami.
"Pak Aryo?"
Aku angkat kepala. Seorang ibu-ibu paruh baya. Wajahnya familiar.
"Saya Bu Tini. Tetangga Mbah Kar dulu."
Aku ingat. Ia tetangga yang baik. Sering belanja ke warung Mbah Kar. Dulu waktu Mbah Kar masih jualan, Bu Tini selalu beli sayur setiap pagi.
"Ibu... dari mana?"
Bu Tini duduk di sampingku. "Saya dengar kabar. Tentang kebakaran. Tentang Risma opname. Saya cari Bapak ke rumah, ketemu Pak RT. Katanya di sini."
Ia keluarkan amplop. Serahkan padaku.
"Ini, Pak. Buat bantu."
Aku buka. Isinya uang. 1 juta.
Aku kaget. "Bu, nggak... nggak usah... ini terlalu banyak..."
Bu Tini pegang tanganku. "Ambil, Pak. Mbah Kar dulu baik sama saya. Waktu suami saya sakit, Mbah Kar sering bantu. Pinjamkan uang tanpa bunga. Kasih sayur gratis. Saya hanya meneruskan kebaikan beliau."
Aku nangis. "Bu... makasih... makasih banyak..."
Bu Tini tersenyum. "Jangan menyerah, Pak. Saya tahu perjuangan Bapak berat. Tapi lihat Risma. Ia berjuang setiap hari. Bapak juga harus berjuang."
Aku mengangguk. Pegang amplop itu erat. Ini bukan cuma uang. Ini harapan.
Bu Tini bangkit. Tapi sebelum pergi, ia berkata pelan.
"Pak, saya juga punya kabar lain. Hati-hati dengan Joko. Saya dengar dia cari bantuan dari kota. Mau datangkan preman lebih banyak. Dia mau hancurin keluarga Bapak."
Aku diam. Ancaman itu lagi. Tak pernah berhenti.
"Saya tahu, Bu. Tapi saya tak bisa lari. Ini rumah saya. Ini kampung saya."
Bu Tini menghela napas. "Hati-hati, Pak. Kalau perlu, jangan lawan sendiri. Kumpulkan warga. Warga di sini sudah mulai sadar. Mereka tak suka dengan ulah Joko."
Aku mengangguk. "Terima kasih, Bu."
Bu Tini pergi. Meninggalkan aku dengan amplop di tangan dan ancaman di kepala.
---
Seminggu kemudian.
Risma boleh pulang. Kondisinya stabil. Tapi dokter bilang harus jaga kebersihan ekstra. Paru-parunya rentan. Hindari asap. Hindari debu. Hindari polusi.
Aku hanya bisa mengangguk.
Aku bawa Risma pulang. Naik ojek pelan-pelan. Risma di tengah, aku pegang erat. Dewi di belakang bawa tas berisi obat-obatan.
Sampai di rumah, Risma lihat rumahnya. Dinding hitam. Bau terbakar. Matanya berkaca-kaca.
Aku gendong dia masuk. Bawa ke kamar Budi—satu-satunya kamar yang masih layak. Kamar Risma masih rusak. Dinding hitam. Bau asap. Tak bisa ditempati.
Aku baringkan Risma di kasur Budi. Pasang selang oksigen portabel. Periksa kondisinya. Stabil. Syukur.
Budi lari masuk. "KAKAK! KAKAK PULANG!"
Ia naik ke kasur. Peluk Risma. Risma tersenyum. Tangannya bergerak, usap kepala Budi.
"Kak, Budi kangen. Budi takut sendiri. Tapi Budi jagain rumah, lho. Nggak nangis."
Risma tatap Budi. Matanya basah.
Aku lihat mereka berdua. Dua anakku. Satu berjuang dengan tubuhnya. Satu berjuang dengan ketakutannya. Tapi mereka saling menguatkan.
Dewi masuk. Bawa air hangat. "Minum dulu, Nak."
Risma minum sedikit. Lalu terpejam. Lelah.
Aku dan Dewi duduk di lantai. Pandangi mereka.
"Mereka kuat, Mas," bisik Dewi.
Aku angguk. "Iya. Mereka kuat. Kita juga harus kuat."
Malam itu, kami tidur berempat di satu kamar—kamar Budi. Aku di lantai. Dewi di kursi. Risma dan Budi di kasur.
Budi tidur di samping Risma. Pegang tangannya. Seperti biasa.
Risma tenang. Napasnya teratur. Untuk pertama kalinya dalam seminggu, ia tidur nyenyak.
Aku duduk di lantai. Pandangi mereka. Syukur. Mereka selamat.
Tapi di luar, suara motor berhenti. Lampu sorot masuk ke jendela.
Aku waspada. Langsung bangkit. Ambil kayu di samping pintu.
Aku ke jendela. Lihat ke luar.
Dua motor. Empat orang. Joko di depan. Tersenyum. Melambai.
Darahku mendidih. Tapi aku tahan. Risma dan Budi tidur. Tak boleh ribut.
Joko turun. Jalan ke pagar. Lempar sesuatu. Kertas. Lalu pergi. Motor mereka lenyap di kegelapan.
Aku tunggu sebentar. Pastikan mereka benar-benar pergi. Lalu ke pagar. Ambil kertas itu.
Surat. Gugatan baru. Kali ini gugatan perdata. Tuntutan ganti rugi 50 juta. Atas nama "pencemaran nama baik keluarga". Dituduh menyebar fitnah bahwa Joko dalang pembakaran.
Aku limbung. 50 juta?
Aku baca lagi. Pengadilan negeri. Sidang perdana dua minggu lagi. Kalau kalah, rumah bisa disita.
Aku pegang surat itu. Tanganku gemetar.
50 juta. Dari mana aku bisa dapat 50 juta? Aku buruh serabutan. Penghasilan tak menentu. Masih punya utang rumah sakit 1,5 juta. Sekarang kena gugatan 50 juta.
Aku lihat ke dalam. Risma tidur. Budi tidur. Dewi tidur. Mereka tenang. Tak tahu apa-apa.
Tapi aku tahu. Pagi nanti, hidup mereka akan kembali hancur.
Dan kali ini, aku tak tahu harus bagaimana.
Aku duduk di teras. Di kursi kayu Mbah Kar. Pandangi surat itu.
"Maaf, Mbah. Kayaknya aku nggak kuat."
Angin malam berhembus. Dingin. Tapi tiba-tiba ada kehangatan. Seperti ada yang usap pundakku.
Aku lihat ke samping. Tak ada siapa-siapa. Tapi rasanya... seperti Mbah Kar di sini. Dampingi aku.
Aku ingat kata-katanya dulu. "Rezeki Allah luas, Le. Jangan putus asa."
Aku genggam surat itu. Tarik napas dalam.
Besok aku cari bantuan lagi. Mungkin Bu Tini bisa bantu. Mungkin Pak Rahmat pengacara punya saran. Mungkin warga bisa kumpul lagi.
Joko pikir dengan uang bisa hancurkan kami. Joko pikir dengan gugatan bisa buat kami menyerah.
Tapi Joko lupa. Kami sudah lewati banyak hal. Risma lahir prematur, divonis CP, kami bertahan. Utang palsu 15 juta, kami bertahan. Mbah Kar pergi, kami bertahan. Kebakaran, kami bertahan.
Kami akan bertahan lagi.
Aku berdiri. Lihat ke langit. Bintang-bintang bersinar.
"Kita lawan, Mbah. Sampai titik darah penghabisan."
Aku masuk ke dalam. Tidur di lantai dekat Risma dan Budi. Pegang tangan mereka.
Pagi akan datang. Dan dengan pagi, perjuangan baru.
Tapi malam ini, untuk sementara, kami aman.
Bersama-sama.
Keluarga.