NovelToon NovelToon
SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT

SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Lelaki/Pria Miskin / Trauma masa lalu / Romantis / Slice of Life
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Di antara gemuruh kereta dan debu kehidupan yang keras, Siman hanyalah seorang pemuda yang tak pernah dianggap.

Dihina. Ditolak. Dilupakan.

Hingga suatu senja, seorang nenek misterius meninggalkan sebuah warisan di tangannya—akik biru laut yang memancarkan cahaya tak biasa… dan mengubah segalanya.

Keberuntungan mulai datang tanpa diminta.
Pintu-pintu yang dulu tertutup kini terbuka.
Dunia yang pernah merendahkannya mulai berbalik memandang.

Namun semakin tinggi Siman melangkah, semakin besar pula harga yang harus dibayar.

Apakah semua ini benar-benar takdir?
Ataukah hanya ilusi dari kekuatan yang belum ia pahami?

Ketika masa lalu kembali menghantui, dan kepercayaan dirinya runtuh tanpa akik itu di tangannya, Siman dihadapkan pada satu pilihan:

Terus bergantung pada keajaiban… atau menjadi penakluk sejati atas hidupnya sendiri.

Sebuah kisah tentang luka, harapan, cinta, dan keberanian untuk bangkit.

SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT
Jejak takdir tidak pernah salah memilih pemiliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 Melampaui Ekspektasi

Bapak Harsono mengangkat sebelah alisnya. Ia terkesan dengan respons Siman yang lugas. "Hijau zamrud? Bukannya itu agak... kontras?"

"Justru di situlah letak keunikannya, Pak. Kita bisa gunakan hijau zamrud untuk menonjolkan aksesoris, atau pada kampanye media sosial yang menonjolkan fitur 'daun hijau' di halaman digital Bapak," jelas Siman. Jemarinya bergerak lincah di atas tablet, memperlihatkan sketsa visual yang ia persiapkan, hasil semalam begadang dengan ide-ide kreatifnya. Semua tampak sempurna. Ia bahkan tahu Bapak Harsono pasti menyetujui hal ini.

Bapak Harsono mengamati layar tablet Siman, bibirnya melengkung. "Inovatif. Cerdas sekali. Saya... saya rasa saya tidak salah memilih Anda, Pak Siman. Ide Anda memang selalu segar." Pria itu kemudian mengambil cangkirnya dan menyeruput kopi, seolah lega dengan keputusan yang Siman berikan.

Siman tersenyum tipis. Pujian tulus kini bukan lagi hal yang asing baginya. Namun, jauh di lubuk hatinya, ada kebanggaan yang lebih besar. Kebanggaan atas kerja kerasnya, dan tentu saja, peran Murni yang tak henti-hentinya menemaninya. Kebanggaan Siman yang mampu melepaskan trauma. Ada dorongan akal, dan intuisi, itulah semua hal yang selalu Siman dapatkan dan akiknya hanya sebagai penguat dirinya.

Obrolan berlanjut, membahas detail proyek, strategi pemasaran, hingga perkiraan bujet. Siman dengan cekatan memberikan panduan dan ide, sesekali mengeluarkan humor ringan yang membuat suasana rapat menjadi hangat. Ini adalah duni Siman. Dunia yang dia ukir sendiri, tidak dengan kemurahan Dina yang hinaan dulu itu.

Di tengah suasana santai itu, mata Siman tanpa sengaja melirik ke arah pintu kedai. Langkahnya refleks membeku. Ia merasakan tubuhnya menegang, meskipun akiknya kini berdenyut stabil, terasa tenang, seperti lautan yang luas tanpa gelombang.

Di sana, berdiri seorang wanita, tinggi, semampai, dengan gaun bermerek yang harganya jelas bukan recehan. Rambutnya disanggul rapi, memperlihatkan leher jenjangnya yang indah. Wajahnya dipulas riasan sempurna, menampilkan hidung mancung dan mata yang tajam. Sebuah tas mewah berjenama Italia tergantung elegan di bahunya. Ia melangkah masuk, dikelilingi dua temannya, menebarkan aroma parfum mahal yang seketika memenuhi area pintu masuk kedai.

Bukan suara deru kereta, bukan pun kilasan ejekan. Siman langsung mengenalinya. Aroma itu. Wajah itu. Ekspresi angkuh yang masih sama. Itu... Dina.

Darah Siman seolah berdesir dingin, sebuah deja vu yang menusuk tajam ke hati. Ingatan akan cemoohan Dina di kantin sekolah, tendangan pelan ke tangannya, ucapan pedasnya yang melabelinya 'bau apek' dan 'sampah masyarakat', semuanya melintas cepat di benaknya. Seketika, rasa gugup menyerbu, membuat tangannya sedikit gemetar. Namun, akik di jari manisnya berdenyut. Bukan untuk mempercepat langkah Siman. Namun menyalurkan sebuah kekuatan dari dirinya untuk menahan itu.

"Pak Siman? Kenapa tiba-tiba diam begitu? Ada yang salah dengan proposal saya?" Bapak Harsono mengamati perubahan ekspresi Siman, menatapnya dengan sedikit bingung.

"Ti-tidak, Pak," Siman berbisik, cepat mengendalikan dirinya. Rasa marah dan sakit hati memang mencuat, namun kini ia tidak lagi terbakar emosi seperti dulu. Dia memandang wajah Dina, bukan, ia kini bisa menatap dengan pandangan tajam ke arah gadis itu, tidak ada sedikit pun ekspresi angkuh darinya. Namun ada kilatan dari kejauhan mata Siman. Siman menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan, menenangkan diri. Dia tidak boleh membiarkan ini merusak citra profesionalnya. Ini bukan lagi soal masa lalu. Ini adalah saatnya dia untuk menghadapi dan membuktikan dirinya. Akiknya memancarkan sensasi menenangkan, menyingkirkan badai yang mulai bergolak.

Dina dan teman-temannya mengambil meja di sudut lain kedai, tak jauh dari posisi Siman. Tawa renyah mereka terdengar begitu angkuh. Matanya, tanpa sengaja, menelusuri sekitar, hingga pandangannya bertumbuk pada Siman yang duduk rapi dengan kemeja kerjanya. Jeda sesaat. Dina membeku. Ia mengamati Siman, lalu beralih ke Bapak Harsono yang duduk di hadapannya.

Mata Dina menyipit. Kemeja rapi itu. Wajah serius Siman yang tampak menguasai keadaan. Aura percaya diri yang memancar. Itu jauh dari bayangan 'Siman si sampah pinggir rel' yang selama ini ada dalam benaknya. Ekspresi kaget dan sedikit rasa tak percaya terpancar jelas di wajah cantiknya, seolah berusaha keras mengenali sosok di depannya. Matanya membulat, menelusuri akik yang Siman kenakan di jarinya.

"Siman?" Suara Dina nyaris tak terdengar, namun telinga Siman yang kini lebih sensitif menangkapnya dengan jelas.

"Mohon maaf, Pak Siman. Sepertinya obrolan kami jadi terputus. Kita mau lanjut, Pak? Sepertinya sudah waktunya saya harus pergi, saya ada agenda rapat," kata Bapak Harsono, sedikit tersenyum tipis, seolah menyadari 'interupsi tak terduga' itu. Siman pun mengangguk, lalu mengeluarkan dokumen. Obrolannya kini lebih berat.

Setelah selesai pembahasan dan bersalaman dengan Bapak Harsono, Siman melirik jam tangannya. Ada rasa segan. Jantung Siman memang belum sembuh seratus persen dari trauma Dina, itu adalah hal yang Siman ketahui dari dirinya. Dia melirik Murni, yang baru saja masuk kedai, menunggunya dengan setia dari kejauhan.

"Murni sudah datang," gumamnya, membereskan dokumennya.

Di meja sebelah, Dina memaksakan sebuah senyum tipis, kemudian melangkah mendekat ke meja Siman. Ada kilatan ambisi tersembunyi di balik matanya, seolah mencari tahu lebih jauh tentang perubahan Siman.

"Wah, Siman! Ternyata ini beneran kamu, ya? Ya ampun, beda banget sama Siman yang dulu," sapa Dina, nadanya dibuat ramah, namun jelas tersimpan nada angkuh. Ia kini tidak lagi terlihat sinis seperti pertemuan mereka beberapa bulan lalu di mall. Matanya masih tak lepas dari kemeja rapi dan jam tangan yang terpasang manis di pergelangan tangan Siman.

"Halo, Dina." Siman mengangguk tipis, tatapannya tenang, tidak menghindar. Dia tak bisa lagi mundur dari hal ini. Trauma itu memang belum hilang, itu sebuah tantangan untuk dirinya, untuk membuktikan dirinya memang layak berada di sini.

"Kamu... sekarang kerja apa, Man? Di kedai kopi ini? Atau..." Dina menoleh ke meja kosong yang ditinggalkan Bapak Harsono. Ada sedikit kekecewaan di nada suaranya. Matanya melihat kertas memo yang ditinggalkan Bapak Harsono.

Siman tersenyum tipis. "Saya punya studio desain, Dina. Akik Creative Studio," jawabnya, tenang, bangga, dan kini, tanpa ada sedikit pun rasa takut atau minder. Kepercayaan dirinya memancar, terasa jauh lebih kuat daripada aura kesombongan Dina.

Dina mengangkat sebelah alis, ekspresinya berubah menjadi sedikit terkejut. Studio desain? "Wow. Nggak nyangka, lho. Kamu bisa sampai begini, ya," ujarnya, tatapannya menyiratkan keraguan. Ada sedikit nada kecemburuan, seperti melihat permata di tengah-tengah pasir yang biasa. Matanya, tanpa sengaja, melihat Akik Biru Siman, meliriknya, memancarkan pertanyaan.

"Murni itu sahabatku, kenapa kamu begitu kaget melihat hal itu, Dina?" Siman ingin mengucapkan kalimat itu, namun dirinya tahu bahwa dia harus bersikap tenang.

Ia tahu akalnya akan digunakan hari ini. Untuk melihat semua hal yang Siman bisa ciptakan sendiri. Tidak hanya Akik Creative Studio, namun dirinya akan melesat begitu cepat dan jauh dari ekspetasi orang lain.

***

1
Roynaldi Ananda
gak jadi nerusin bacanya kurang sip kelihatannya
Roynaldi Ananda
kok seperti pemaksaan alur cerita ini thor? gak wajib murni menanyakan soal cincin itu kecuali mc nya bawa motor atau mobil baru bisa ditanyakan dari mana asalnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!