Liana adalah seorang wanita bertubuh gemuk yang menemukan kemerdekaan sejatinya melalui tarian. Baginya, setiap gerak tubuhnya adalah bentuk pelarian, sebuah rahasia yang ia simpan rapat-rapat karena ia hanya menari untuk jiwanya sendiri.
Keajaiban—atau mungkin petaka—datang ketika Adrian, seorang produser film ambisius, menemukannya secara tidak sengaja. Adrian sedang mencari sosok penari yang memiliki aura "kebebasan murni" untuk proyek besarnya, dan ia melihat hal itu dalam diri Liana. Namun, saat tawaran diberikan, Liana menggeleng tegas; ia tak ingin tarian sucinya menjadi konsumsi publik.
Tak kehilangan akal, Adrian mulai mendekati Liana dengan pesona dan perhatian palsu. Ia melangkah lebih jauh dengan menyatakan cinta, membuai Liana hingga wanita itu luluh dan setuju untuk tampil di atas panggung dunia. Namun, di puncak popularitasnya, Liana menemukan kebenaran pahit bahwa pernyataan cinta Adrian hanyalah skenario matang untuk memanfaatkannya demi kesuksesan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Setelah berminggu-minggu menghabiskan energi di bawah kabut Puncak yang dingin, perjalanan pulang menuju Jakarta terasa sangat panjang.
Di dalam mobil SUV yang melaju membelah kemacetan ibu kota, Liana menyandarkan kepalanya di jok kulit yang empuk.
Napasnya teratur, perlahan ia memejamkan matanya yang kelelahan, membiarkan tubuhnya menyerah pada rasa kantuk setelah menyelesaikan adegan-adegan emosional yang menguras tenaga.
Adrian melirik ke samping, menatap wajah lelap Liana dengan tatapan yang sulit diartikan.
Ada rasa cinta yang mendalam, namun juga ada beban rahasia yang semakin menghimpit dadanya setiap kali ponselnya bergetar.
Sesampainya di parkiran apartemen mewah itu, Adrian tidak tega membangunkan Liana.
Dengan gerakan perlahan, ia keluar dari mobil, membuka pintu sisi penumpang, dan menyusupkan lengannya di bawah lutut serta punggung gadis itu.
Adrian membopong tubuh Liana yang mungil dengan penuh kehati-hatian, seolah sedang membawa porselen yang sangat rapuh.
Liana sempat melenguh kecil, namun ia justru menyandarkan wajahnya ke ceruk leher Adrian, mencari kehangatan yang sudah sangat akrab baginya.
Begitu sampai di dalam unit apartemen yang luas itu, Adrian membaringkan Liana di atas ranjang kamar tamu yang kini sudah terasa seperti kamar pribadi gadis itu.
Ia menyelimuti Liana hingga sebatas dada, lalu mengecup keningnya lama.
"Maafkan aku, Liana... untuk semua kebohongan ini," bisik Adrian lirih di tengah kesunyian kamar.
Adrian melangkah keluar menuju ruang tengah yang gelap, hanya diterangi lampu-lampu kota dari balik dinding kaca. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel yang sejak tadi terus-menerus menampilkan notifikasi pesan dari Paris.
Nama "Arum " kembali menghiasi layar ponselnya.
Adrian menatap layar itu dengan rahang yang mengeras.
Ia tahu Arum akan terus menghubunginya, menuntut waktu dan perhatian yang kini seluruhnya sudah ia berikan pada Liana.
Tanpa ragu lagi, Adrian menekan tombol samping cukup lama, lalu memilih opsi untuk mematikan daya.
Klik.
Layar ponsel itu menjadi gelap gulita. Adrian menghela napas panjang, melemparkan benda itu ke atas sofa beludru.
Untuk malam ini, ia ingin dunianya berhenti sejenak. Ia tidak ingin Arum menghubunginya, ia tidak ingin ada gangguan dari masa lalunya.
Di apartemen ini, hanya ada dia dan Liana—setidaknya sampai matahari terbit dan kenyataan kembali menagih janji yang belum ia tepati.
Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu melalui celah gorden apartemen, membelai wajah Liana yang baru saja terjaga dari tidur lelapnya.
Rasa lelah setelah berminggu-minggu syuting di Puncak masih menyisakan sedikit pegal di bahunya, namun kehangatan kasur empuk itu membuatnya enggan beranjak.
Saat Liana mengerjapkan mata dan menoleh ke samping, ia tertegun.
Adrian sudah duduk di kursi santai dekat jendela, masih mengenakan kaos oblong hitam yang sedikit kusut.
Pria itu tampak sedang melamun menatap pemandangan gedung pencakar langit Jakarta, namun matanya langsung berbinar saat menyadari Liana sudah bangun.
"Pagi, Penari Pasarku," sapa Adrian dengan suara berat khas bangun tidur.
Ia beranjak mendekat dan mengecup kening Liana lembut.
Liana tersenyum tipis, masih mengumpulkan nyawanya.
"Pagi, Pak Adrian. Bapak sudah bangun dari tadi?"
"Sudah. Dan aku punya kabar baik," ucap Adrian sambil mengusap pipi Liana.
"Hari ini jadwal syuting dikosongkan. Kita libur. Dan sebagai perayaan karena kita sudah melewati masa sulit di Puncak, aku mau mengajakmu nonton bioskop. Hanya kita berdua. Mau?"
Liana terdiam sejenak, membayangkan dirinya duduk di kursi empuk bioskop mewah bersama pria yang kini mengisi hatinya.
Tanpa ragu, Liana menganggukkan kepalanya pelan dengan senyum malu-malu.
"Aku mau, Adrian."
Namun, suasana manis itu mendadak terinterupsi oleh getaran keras ponsel Liana di atas nakas.
Layarnya menyala menampilkan panggilan video dari Mamanya di Yogyakarta. Liana segera mengangkatnya.
"Halo, Ma? Ada apa pagi-pagi telepon?" tanya Liana ceria.
"Liana! Kamu harus tahu, Erwin sudah pulang!" seru Mama dari seberang sana dengan wajah berseri-seri.
"Tadi pagi dia datang ke rumah, bawain oleh-oleh banyak sekali buat kamu. Dia langsung tanya kamu di mana."
Wajah Liana seketika berubah cerah. "Erwin sudah pulang, Ma? Wah, syukurlah! Sudah lama sekali dia di perantauan."
Erwin adalah sahabat masa kecil Liana yang tinggal tepat di seberang rumahnya.
Mereka tumbuh besar bersama, dan Erwin adalah orang yang selalu ada untuk Liana saat ayahnya meninggal dunia.
"Iya, dia makin gagah sekarang," lanjut Mama.
"Kapan kamu pulang, Nduk? Erwin bilang dia mau ajak kamu jalan-jalan kalau kamu sudah di rumah."
Liana melirik Adrian yang mendadak terdiam, rahang pria itu tampak mengeras mendengar nama pria lain disebut-sebut.
"Dua minggu lagi Liana pulang, Ma. Tinggal sedikit lagi proyeknya selesai," jawab Liana berusaha tetap tenang.
"Ya sudah, Mama tunggu ya. Erwin juga titip salam buat kamu," ucap Mama sebelum mengakhiri panggilan dengan anggukan mantap.
Begitu sambungan terputus, keheningan yang mencekam menyelimuti kamar.
Adrian masih berdiri di tempat yang sama, namun sorot matanya yang tadinya lembut kini berubah menjadi tajam dan dingin.
"Erwin? Siapa dia?" tanya Adrian dengan nada suara yang rendah, namun penuh dengan kecemburuan yang tak bisa disembunyikan.
Liana meletakkan ponselnya, sedikit bingung dengan perubahan sikap Adrian yang tiba-tiba.
"Dia sahabatku, Adrian. Rumah kami berhadapan. Dia sudah seperti kakak sendiri bagiku."
"Sahabat? Tapi Mamamu kedengarannya sangat antusias menjodohkanmu dengannya," cetus Adrian ketus.
Ia berjalan menjauh, berkacak pinggang sambil memunggungi Liana.
"Jadi itu alasanmu ingin cepat-cepat pulang ke Yogyakarta? Untuk bertemu 'kakak' itu?"
Liana tertegun. Ia tidak menyangka sang produser besar yang biasanya begitu percaya diri bisa merasa terancam hanya karena sebuah nama dari masa lalunya.
"Adrian, kamu cemburu?" tanya Liana polos.
Adrian berbalik, menatap Liana dengan tatapan posesif yang membara.
"Tentu saja aku cemburu, Liana! Kamu milikku sekarang. Aku tidak suka ada pria lain yang menunggumu pulang dengan membawa oleh-oleh dan rencana jalan-jalan."
Liana bangkit dari ranjang, mendekati Adrian dan menggenggam tangannya.
"Dia hanya masa lalu dan sahabat, Adrian. Kamu adalah masa depanku."
Meskipun ucapan Liana menenangkan, api cemburu di hati Adrian tidak padam begitu saja.
Baginya, Erwin adalah ancaman nyata dari dunia Liana yang tidak bisa ia jangkau, sementara ia sendiri masih menyimpan rahasia besar tentang Arum yang siap menghancurkan segalanya.
Sinar mentari Jakarta yang terik menyambut mereka saat mobil SUV Adrian membelah jalanan menuju salah satu pusat perbelanjaan paling elit di Jakarta Selatan.
Di dalam kabin, suasana masih terasa sedikit kaku. Adrian menyetir dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menggenggam erat jemari Liana, seolah takut jika ia melepaskannya sedetik saja, gadis itu akan terbang kembali ke pelukan sahabat masa kecilnya di Yogyakarta.
Sesampainya di bioskop premiere, Adrian memesan seluruh baris kursi di bagian belakang agar tidak ada orang lain yang duduk di dekat mereka.
Sikap posesifnya terlihat jelas saat seorang petugas pria memberikan tiket dan sedikit tersenyum ramah pada Liana.
Adrian langsung berdiri di depan Liana, menghalangi pandangan petugas itu dengan tatapan tajam yang dingin.
"Terima kasih. Kami bisa masuk sendiri," ucap Adrian ketus sambil merangkul bahu Liana dengan protektif.
Liana hanya bisa mendesah pelan, namun di dalam hati ia merasa sedikit geli sekaligus tersanjung.
"Adrian, dia hanya petugas tiket. Jangan galak-galak," bisik Liana saat mereka berjalan menuju teater.
"Aku tidak suka cara dia menatapmu. Kamu terlalu cantik hari ini, dan aku benci berbagi perhatian itu dengan siapa pun," jawab Adrian jujur, suaranya rendah dan posesif di telinga Liana.
Saat mereka baru saja duduk di kursi beludru yang nyaman dan lampu mulai meredup, ponsel Adrian yang baru saja dinyalakan kembali bergetar hebat. Kali ini bukan dari Paris, melainkan dari sang sutradara.
Adrian mendengus kesal karena kencannya terganggu, namun ia tetap mengangkatnya karena tahu ini urusan produksi yang krusial.
"Ya, ada apa? Aku sedang sibuk," jawab Adrian singkat.
"Adrian! Maaf mengganggu waktumu, tapi ada perubahan jadwal," suara sutradara terdengar antusias dari seberang telepon.
"Pihak sponsor ingin kita mempercepat proses. Lusa kita akan melakukan take penutupan di studio utama. Ini adalah adegan puncak, tarian terakhir antara kamu dan Liana yang akan menentukan nasib seluruh film ini."
Adrian terdiam sejenak, melirik Liana yang sedang menatapnya dengan penuh tanya.
"Lusa? Studio utama?" tanya Adrian memastikan.
"Benar! Kita butuh persiapan fisik yang maksimal. Tarian ini harus lebih intim, lebih emosional, dan lebih megah dari apa pun yang pernah kita rekam di Puncak. Pastikan Liana siap secara mental," lanjut sutradara sebelum menutup telepon.
Adrian mematikan layar ponselnya dan menarik napas panjang.
Ia menoleh ke arah Liana, menggenggam tangannya lebih erat lagi.
"Kabar dari sutradara," ucap Adrian pelan.
"Besok adalah hari terakhir kita. Adegan penutup di studio utama. Tarian kita yang terakhir untuk film ini."
"Besok? Berarti setelah itu, aku sudah boleh pulang ke Jogja?"
Mendengar kata "pulang", rahang Adrian kembali mengeras.
Kecemburuannya pada Erwin kembali memuncak.
Ia menarik Liana mendekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.
"Jangan pikirkan soal pulang dulu, Liana. Fokuslah padaku dan tarian kita besok. Aku akan memastikan tarian penutup itu begitu berkesan, sampai kamu lupa kalau kamu punya rumah di tempat lain," bisik Adrian posesif, lalu mengecup bibir Liana dengan lembut namun penuh penekanan di tengah kegelapan bioskop yang mulai memutar film.
Sementara itu di sebuah apartemen mewah yang menghadap langsung ke cakrawala Paris, Arum mengempaskan tubuhnya ke sofa beludru dengan napas panjang yang sarat akan kelelahan.
Sesi pemotretan outdoor di bawah kemegahan Menara Eiffel baru saja usai, menyisakan rasa kaku di sekujur tubuhnya akibat udara musim dingin yang menusuk. Namun, di balik keletihan itu, ada binar kebahagiaan yang tak mampu ia sembunyikan dari sepasang matanya yang indah.
Ia meraih ponsel pintarnya, jemarinya mulai menari lincah di atas layar, hampir saja menekan ikon pesan untuk menghubungi Adrian.
Ia ingin sekali mengadu tentang betapa dinginnya embusan angin Paris hari ini, atau sekadar membisikkan betapa ia sangat merindukan aroma kopi hangat di apartemen mereka di Jakarta.
Namun, gerakan jemari Arum tiba-tiba terhenti. Sebuah senyum misterius namun manis merekah di bibirnya yang dipulas lipstik merah anggur.
"Besok aku akan pulang," gumam Arum pelan pada dirinya sendiri, suaranya bergema lembut di ruangan yang sunyi itu.
"Adrian pasti akan sangat terkejut melihatku berdiri di depan pintunya, tepat di hari ulang tahunnya."
Pikirannya melayang pada sebuah kotak beludru di dalam koper, berisi jam tangan edisi terbatas yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari sebagai kado istimewa.
Arum membayangkan ekspresi wajah Adrian yang akan berbinar bahagia—pria yang selama ini ia yakini sedang berjuang habis-habisan demi masa depan indah mereka berdua.
"Sebaiknya aku tidak mengiriminya pesan apa pun," gumamnya lagi sembari meletakkan ponsel itu jauh dari jangkauannya.
"Kejutan harus tetap menjadi kejutan."
Arum memejamkan mata, membayangkan pelukan hangat Adrian yang akan menyambutnya lusa di Jakarta, tanpa sedikit pun menyadari bahwa di belahan bumi lain, Adrian sedang berdansa dalam "permainan api" yang siap menghanguskan segala rencana indahnya.
ditunggu crazy upnya