Warning!!!!!!
Shenina Valerie Arous hanya menginginkan satu hal—cinta yang tulus.
Namun, pria yang ia cintai justru memberinya kasih sayang karena rasa kasihan.
Saat hatinya hancur, seorang pria berbahaya muncul dalam hidupnya.
Arsen Erzaquel Lergan—pewaris keluarga ternama yang terbiasa mendapatkan segalanya, termasuk dirinya.
Obsesi Arsen bukan cinta. Itu lebih seperti penjara yang tak terlihat.
Di saat yang sama, Andrew Kyle hadir sebagai satu-satunya pria yang tulus, rela melakukan apapun demi kebahagiaannya.
Di antara cinta, obsesi, dan pengkhianatan—
pilihan Shena akan menentukan apakah ia akan diselamatkan… atau justru hancur lebih dalam.
Dan ketika sebuah rahasia besar terungkap, segalanya tak akan pernah sama lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nupitautari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Shena mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah pria itu. Tatapan mata Shena tajam penuh intimidasi. Jarak tubuhnya sangat dekat sekitar 15 cm. Pria itu sangat tinggi sekitar 190 cm. Shena yang hanya 160 cm harus berjinjit untuk memberikan dominasinya namun tetap saja kepalanya hanya mencapai dada pria itu, sedikit lebih tinggi dari posisi sebelumnya.
Pria itu menatap Shena. Ia sedikit mengernyitkan keningnya merasa ekspresi wanita didepannya cukup lucu. Mengintimidasi dengan cara yang begitu kekanakan. Hanya satu kata dingin yang keluar dari mulutnya. "Kenapa?"
"Kenapa?" Sahut Shena tak percaya. "Apa kau tidak merasa bersalah pada ku?" Ucapnya kesal menekan nada bicaranya agar tidak meluap-luap.
"Apa aku menjegal mu hingga terjatuh?" Tanya pria itu tanpa ekspresi di wajahnya.
Shena tercengang dengan pertanyaan menyebalkan itu. Dia keterlaluan karena tidak menyadari kesalahannya. Ia berkata dengan kesal dan dan marah. "Kau baru saja melangkahi ku. Itu tindakan yang buruk. Bahkan jika hati nurani mu tidak ada untuk membantu ku. Bukankah melangkahi wanita yang terjatuh sangat tidak sopan? Kenapa kau begitu kurang ajar dan sekarang bertanya apa kau menjegal ku? Kau mau bertarung dengan ku, hah?" Wajahnya memerah, ia berkacak pinggang dan kakinya berjinjit untuk semakin memojokkan pria itu.
Ekspresi marahnya lucu. Pria itu sampai tidak percaya ada orang yang marah-marah dengan ekspresi ini. Apa ini untuk mengintimidasi? Pikirnya. Ia menundukkan kepalanya semakin kebawah sampai kaki pendek yang sedang berjinjit itu menapak sepenuhnya dilantai. "Jika kau tidak terjatuh dan menghalangi jalan, apa aku harus melangkahi mu?" Ucapnya dengan dingin.
Tindakan dan nada suaranya tanpa sadar membuat Shena yang merasa terintimidasi. Nyalinya yang tadi berapi-api kini padam bagai daun yang layu.
"Berjalanlah yang benar agar tidak menggangu". Ucap pria itu lalu tangannya menyingkirkan Shena dari depannya. Ia lalu berjalan menuju meja kasir.
Shena menoleh ke arahnya dengan ekspresi kesal. Ia mengernyitkan matanya dan menandai wajah pria itu. "Awas saja kalau ketemu lagi dengan ku. Aku pasti akan membalas mu". Ia buang muka dengan sebal dan langsung memunguti makanannya yang jatuh berceceran sambil masih menggerutu.
.
.
.
"Dret.. dret..."
Sebuah ponsel bergetar di atas meja. Ello meraih hp nya. Tertulis nama Diandra. Ia langsung mengangkatnya.
"Halo, Di. Ada apa?" Kalimat yang keluar dari mulutnya terasa lembut dan tidak dingin sama sekali.
"El, aku di rumah sakit. Bisakah kau menjadi wali ku?" Tanya orang di seberang sana dengan nada suara yang lemah.
Pertanyaan itu seketika membuat Ello langsung menjadi khawatir. Ia menenangkan gadis yang ia telpon.
"Kirim alamatnya, aku segera ke sana"
"Jangan lama ya, aku takut sendirian" ucap wanita itu lemah.
Ello tak tega mendengar suara lemah yang terdengar itu. Hatinya tergerak untuk segera bergegas dan menenangkannya dari rasa takut. "Di, aku akan segera sampai. Jangan khawatir".
"Iya, aku percaya" ucap wanita itu. Telpon pun di tutup.
Ello segera bersiap-siap. Ia mengambil dompet dan jaket lalu memasang sepatunya. Dirasa tidak ada yang tertinggal, Ello langsung membuka pintu.
"Hah.." ucap Shena yang sedikit kaget kala pintu terbuka dari dalam sementara jari telunjuknya hampir mencapai bel rumah.
Ello tak kalah terkejutnya ketika ia melihat Shena di depan pintu sambil menenteng kresek berisi banyak makanan. Ia terpaku beberapa saat sebelum akhirnya Shena melangkah maju dan langsung memeluknya dengan manja.
"El, aku kangen banget sama kamu"
Ello sadar dari keterkejutannya dan mengelus kepala Shena dengan lembut. Ia bertanya pelan. "Kenapa kau ada disini?"
Shena mendongakkan kepalanya untuk menatap Ello dan tersenyum penuh. "Aku mau makan ramen sama kamu." Ia melepas pelukannya dan menunjukkan isi bawaannya kepada Ello. "Aku udah bawa ramen dan banyak cemilan. Kali ini aku yang masak ya".
Ello meraih tangan Shena yang di angkat dan menurunkannya. Ia berkata dengan pelan. "Shena, aku tidak bisa makan ramen denganmu. Temanku masuk rumah sakit dan dia sendirian. Dia bukan berasal dari kota Wilow seperti ku. Tidak ada yang menjaganya. Kau pulanglah".
Shena langsung menggeleng dan berkata, "tidak mau, aku mau ikut".
"Pulanglah dan beristirahat. Kita makan ramen lain kali" Ello masih berusaha membujuk.
Shena cemberut. Bibirnya sampai monyong yang membuat Ello sedikit gemas. "Belum 2 menit aku disini dan kamu udah nyuruh pulang. Aku mau bantu juga. Aku janji ga ngerepotin kamu" ucapnya memelas.
"Shena, menurut lah. Besok kita akan bertemu lagi di sekolah. Aku akan menginap di rumah sakit. Kau tidak mungkin ikut tidur di rumah sakit." Ello masih sabar membujuknya.
"Ya sudah". Jawab Shena pasrah. Wajahnya masih cemberut dan ia menggeser tubuhnya untuk tidak menghalangi jalan Ello.
Ello tersenyum puas dan langsung menutup pintu. Ia berjalan terburu-buru. Namun ia berhenti sejenak dan menoleh ke belakang. Ia merasa bersalah ketika melihat Shena. Ia lalu berjalan ke arah Shena dan memeluknya sejenak. "Aku pergi dulu. Kau pulanglah dan kabari aku ketika sudah sampai" ucapnya lembut.
Shena langsung tersenyum senang dan mengangguk dua kali. "Eum, aku akan pulang".
Kalau Ello sudah mode lembut dan penyayang seperti ini, Shena sudah tidak kuat untuk menolak. Ello memang kerap kali bersikap dingin, namun bagi orang-orang yang ia sayang, Ello bisa bersikap lembut dan hangat.
Ello melepaskan pelukannya dan berjalan sampai ia hilang dari pandangan Shena. Tak lama setelah kepergian Ello, Shena pun juga pergi dari situ.
.
.
.
Pagi tiba. Shena sudah siap untuk pergi ke sekolah dengan seragam barunya. Ia menatap dirinya di cermin. Ia sangat cantik dan manis. Pony yang ia memiliki membuat wajahnya terkesan imut juga. Hidungnya mancung dan bibirnya yang tidak terlalu tebal. Matanya berwarna agak sedikit kecoklatan dan bulu mata yang lentik alami. Ketika ia tersenyum, ada dua lesung pipi di kiri dan kanan yang membuatnya semakin manis. Wajahnya yang mungil dan kulitnya yang putih serta rambut hitam bergelombang. Shena cantik dan manis dengan caranya sendiri. Senyumnya sangat memikat hati dan menghangatkan karena ia tersenyum tulus dan ceria.
Shena mengambil tas sekolahnya di atas kasur dan keluar dari kamar. Ia terkejut dan terpaku melihat ayahnya sedang menyiapkan sarapan. Tidak biasanya ini terjadi. Ah, lebih tepatnya, ayahnya tidak pernah menyiapkan sarapan, makan siang, atau makan malam untuk Shena selama mereka menjadi ayah dan anak. Ini pertama kalinya.
*Hi readers. Jangan lupa untuk memberikan dukungan kalian pada novel ini dengan cara berikan komentar terbaik kalian, kasih like dan vote novel ini ya. Akan ada banyak keseruan yang kalian dapatkan. Happy reading all 🙏