NovelToon NovelToon
Menantang Langit Yang Busuk

Menantang Langit Yang Busuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Iblis
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: KuntilTraanak

Tian Yuofan tumbuh dalam kehidupan yang tidak pernah mudah. Sejak usia delapan tahun, ia sudah harus belajar bertahan sendiri, merawat ibunya yang kehilangan kewarasannya akibat trauma masa lalu. Ia bahkan tidak bisa menyentuhnya, takut memicu trauma ibunya.

Tanpa keluarga yang utuh, tanpa teman, Yuofan menjalani hari-harinya sendirian di dunia yang tidak memberi banyak ruang bagi orang lemah. Ia belajar memahami lingkungan, membaca keadaan, dan bertahan dengan caranya sendiri.

Namun suatu hari, sebuah kejadian yang awalnya tampak seperti kesialan justru membawanya pada sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya—sebuah pertemuan yang perlahan mengubah arah hidupnya.

Dari sana, perjalanan yang tak pernah ia pikirkan pun benar-benar dimulai…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KuntilTraanak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17—Jubah Hijau

Yuofan menyipitkan matanya penuh rasa curiga. Saat dimana Wuxu percaya diri, itulah saat-saat ia harus mulai waspada. Setiap usulan yang diberikan iblis itu, bisa saja sebuah hasutan yang memiliki niat buruk didalamnya—walau memang tidak semua.

“Apalagi? Kau tidak menipu ku kan?” ucap Yuofan dengan nada sinis penuh rasa curiga yang tak bisa ia tahan.

“Haishh” Wuxu menggelengkan kepalanya dari dalam dimensi nya.

“Aku sudah berdamai dengan situasi ku saat ini. Mau tidak mau, aku dan kau adalah rekan diatas kontrak. Hidup mu juga adalah hidupku.” ujarnya dengan nada serius, seolah kebijakan dan pencerahan tiba-tiba muncul dalam otak rubah itu.

Bukannya merasa aman, Yuofan justru semakin sinis. Ia yakin, Wuxu adalah rubah licik dengan ribuan tipu muslihat didalam kepalanya. Tidak mungkin rubah pemarah itu tiba-tiba menerima situasi nya begitu saja, apalagi menganggapnya sebagai 'rekan'.

“Sudah dengarkan saja, siapa tahu memang diperlukan, kan?” ucap Wuxu dengan santai dan senyuman rubahnya yang mengambang diwajah hitam itu.

“Penggunaan teknik ini akan sedikit berbeda dengan yang kau baca di buku. Jika di buku kau hanya perlu menentukan target dengan pikiranmu, tetapi untuk versiku, kau harus melukai mereka terlebih dahulu hingga darah keluar dari tubuhnya. Tidak masalah itu sekecil apa pun, selama darah itu keluar maka persyaratan awal sudah terpenuhi,” ucap Wuxu dengan nada tenang, seolah hal itu adalah sesuatu yang sangat biasa.

Yuofan mendengarkan dengan saksama, meskipun raut wajahnya tidak terlihat terlalu senang mendengar penjelasan itu. Ia tetap diam dan membiarkan Wuxu melanjutkan penjelasannya sampai selesai.

“Kemudian setelah itu, kau harus mengeluarkan Gerbang Kematian dengan menggunakan energiku yang tersimpan di dalam mutiara,” lanjut Wuxu. Nada suaranya masih terdengar tenang dan teratur, seolah Yuofan memang harus memahami persyaratan nya.

Ucapan itu langsung membuat Yuofan mengerutkan keningnya. Ia tidak langsung menjawab, tetapi terlihat jelas bahwa ia tidak menyukai bagian penjelasan yang satu itu. “Kenapa harus energimu?” tanyanya dengan nada sinis dan sedikit curiga.

Wuxu tidak langsung marah mendengar nada bicara itu. Justru ia membalas dengan nada yang sama sinisnya. “Memangnya energimu akan cukup, bocah?”

Jawaban itu membuat Yuofan terdiam sejenak. Bukan karena ia tersinggung, tetapi karena ia tahu bahwa ucapan itu tidak sepenuhnya salah. Energinya sendiri memang masih belum stabil, apalagi untuk menggunakan teknik yang jelas adalah teknik yang cukup berbahaya. Dalam hatinya Yuofan hanya berharap semoga saja tidak ada kejadian yang membuatnya harus mengikuti kemauan dari Wuxu. Ia tidak tahu apa yang terjadi setelahnya jika ia memang mengikuti ide dari rubah iblis itu.

“Shtt…” Bai Luan berbisik pelan sembari mendarat dengan hati-hati. Tatapannya tajam tertuju tepat pada sesuatu dihadapannya. Melihat itu Yuofan dengan cepat menggunakan teknik Zharvak—Hantu untuk menyembunyikan keberadaannya. Hal itu membuat Di Xinyuan menengok kearah memastikan keberadaan yang tiba-tiba menghilang.

“Hebat sekali tuan ku!!” teriaknya didalam hati yang di penuhi rasa haru dan bangga. Sedangkan Yuofan hanya menatapnya dengan aneh dan kembali fokus kedepan.

Bai Luan menyipitkan matanya. “Mereka kembali membunuh.” ucapnya singkat, tetapi jelas nadanya tidaklah mengenakan.

Berbeda dengan Bai Luan, Yuofan sama sekali tidak bisa melihat tanda-tanda akan munculnya musuh, ia sudah mencoba hingga matanya terasa sakit tetapi hal itu percuma saja. Karena Bai Luan sendiri melihat lebih jauh dari apa yang dilihat oleh Yuofan, sekitar tujuh puluh enam kilometer didepannya.

“Ada lima orang yang setara dengan tingkat 3, di tambah tiga orang di tingkat 4, dan terakhir adalah pria dengan tudung hitam yang kemungkinan setara dengan mu, Yuan.” ucap Bai Luan seraya menengok kearah Di Xinyuan yang hanya memasang wajah murung.

“Wuxu, jelaskan maksud tingkatannya. Aku tidak paham.” bisik Yuofan dalam telepati nya membuat Wuxu tertawa terbahak-bahak mendengarnya.

“JELASKAN SAJA!!” Teriaknya yang merasa ingin sekali mencekik rubah itu.

“Baik, baik. Jadi ada lima orang yang berada sekitar ranah pengumpulan qi tingkat 2 sampai pembentukan fondasi tingkat 1. Lalu ada tiga orang tingkat 4 atau setara dengan ranah Pembentukan Fondasi tingkat 2 sampai pembentukan inti tingkat 1. Dan untuk yang terakhir, coba kau tanyakan pada kera itu tingkatan miliknya.” jawab Wuxu yang kemudian diangguki Yuofan.

Yuofan menepuk pelan leher Di Xinyuan, yang membuat kera itu menengok kearah nya. “Kau berada di tingkat apa?”

Kera itu tak langsung menjawab, ia terdiam sejenak sembari menyentuh jari telunjuknya dengan jari telunjuknya satunya—merasa tidak percaya diri.

“Aku berada di tingkat 6 pertengahan.” ucap kera itu akhirnya membuka suara walau dengan nada rendah.

Yuofan pun mengangguk. “Itu keren, berarti kau setara dengan praktisi diranah penguatan tulang tingkat 2 hingga penyucian roh tingkat 1.” ucap Yuofan seraya menepuk pelan leher kera itu lagi.

Ia kemudian menatap kearah Bai Luan.

“7” jawab burung itu cepat dan singkat seolah tahu niat Yuofan. Membuat Yuofan kembali tersenyum kikuk di buatnya.

Sesaat kemudian, aroma darah yang kuat mulai tercium di udara, menandakan bahwa perburuan kelompok itu semakin meluas dan kacau. Bai Luan berdecak kecil seraya menatap ke depan dengan mata sayu, seolah energinya sudah banyak terkuras hari itu.

“Strateginya, aku mengurus pria bertudung dan tiga orang itu. Sisanya terserah,” ucapnya sambil tetap memperhatikan situasi di depannya.

Di Xinyuan yang mendengar itu langsung menoleh dengan ekspresi tidak percaya. Ia merasa pembagian itu terlalu sederhana untuk disebut strategi, apalagi dalam situasi seperti ini.

“He… bagaimana bisa kau begitu? Strategi macam apa itu?” tanya Di Xinyuan, jelas merasa aneh dan tidak puas dengan rencana yang terdengar asal itu. Namun Bai Luan tidak membalas keluhan kera tersebut, ia hanya melirik singkat ke arah Yuofan, tatapannya tenang namun serius.

“Jaga. Jangan sampai mati.” ucapnya singkat.

Setelah mengatakan itu, Bai Luan langsung mengepakkan sayapnya dan terbang kembali ke langit, meninggalkan mereka yang masih belum mengerti dengan strategi yang diberikan. Bahkan Yuofan tak habis pikir dengan burung itu yang benar-benar sulit dimengerti baginya.

“Ha…" Wuxu menghela nafas panjang.

“Maafkan dia. Dia selalu seperti itu, untuk berbicara saja ia malas. Sepertinya energinya habis untuk menceritakan garis besar kejadian sebelumnya, dan sekarang hanya menyisakan rasa malasnya lagi.” ucap Wuxu sembari menertawakan kakaknya yang memang aneh itu.

“Tidak masalah," ucap Yuofan dengan tenang. “Lebih baik kita juga pergi menyusul. Tugas kita hanya perlu menyelesaikan lima orang sisanya dengan cara kita.” lanjut Yuofan yang di angguki oleh Di Xinyuan.

Di sisi lain, terlihat sekelompok orang mengenakan jubah hijau tua yang panjang hingga menutupi hampir seluruh tubuh mereka. Di bagian punggung jubah itu terdapat sebuah lambang berbentuk mata ular, terlukis dengan warna yang lebih gelap sehingga tetap terlihat meski terkena bayangan.

Mereka berdiri di berbagai sudut tempat, membiarkan darah binatang yang mereka bunuh mengalirkan pelan terserap ke dalam sebuah wadah besar yang diletakkan di tengah-tengah mereka. Wadah itu berbentuk seperti telur besar dan terbuat dari bahan kaca transparan, sehingga bagian dalamnya bisa terlihat dengan jelas dari luar.

“Ini masih kurang,” ujar pria dengan tudung hitam seraya menatap sinis kearah bawahannya. Tetapi belum sempat ia memberikan arahan, sebuah bilah es tajam melesat cepat dibelakangnya.

Pria itu melompat kecil, menghindari serangan itu. Tatapannya tajam tertuju tepat pada sosok yang melemparkan es itu.

1
Koplak
mulai seru nih
Koplak
pertama baca langsung tertarik💪
Nanik S
Cerita yang bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!