Apa yang kita rencanakan tidak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan. Takdirkan yang akan membawa kita ke jalan yang sudah di gariskan.
Lidia tak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah kejadian malam itu. Niat ingin membantu malah berakhir jadi hal buruk yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidup.
Mahkota yang ia jaga di renggut paksa oleh Panca suami sahabatnya sendiri. Semenjak itu ia tak bisa lepas dari jeratan Panca. Sekeras apapun ia menolak ia tak bisa mengelak akan pesona panca yang notabene adalah atasannya sendiri.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Apakah sahabatnya akan mengetahui perbuatan buruknya dan bagaimana kisah anatara dirinya dan panca?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ima susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Keesokan malamnya, Panca kembali mengantar Lidia pulang tapi kali ini lelaki itu bersikeras mau mampir ke apartemen Lidia.
"Ga usah mas, ga enak di liat orang." tolak Lidia.
"Biarin aja, pokoknya aku mau mampir." Panca tak peduli jika pun ada yang melihat dirinya bersama Lidia. Lidia terpaksa mengijinkan Panca hingga sebentar karna keinginan lelaki itu tak bisa di bantah.
"Lumayan juga apartemen kamu, yang." Panca mengamati isi apartemen Lidia yang cocok untuk satu orang seperti Lidia.
Ada ruang tamu bersebelahan dengan dapur angsung dan sebuah kamar yang lumayan nyaman.
Panca memeluk kekasihnya itu dari arah belakang dan menciuminya dengan penuh nafsu. Panca memutar tubuh Lidia menghadap dirinya. Bibir merah merona yang sudah jadi candu tak lepas dari pagutan lembut Panca. Lidia terpancing dengan permainan Panca, nafsu juga sudah mengusai tubuhnya. Panca melepas pagutanya sesaat saat ia melihat Lidia kehabisan nafas dan membiarkan wanita itu untuk mengatur nafasnya kembali.
Setelah tenang Panca kembali mengulum bibir Lidia dan mengiring Lidia menuju kamar. Lidia bisa merasakan milik Panca sudah sesak dibawah sana dan punyanya sendiri juga sudah cenat cenut dan basah.
Tangan Panca mulai membuka baju Lidia satu persatu sehingga terpampang sepasang gunung kembar yang menggoda. Tangannya Panca bergerak melepas pengait dan melempar bra Linda sembarangan.
Mata Panca berbinar melihat gunung kembar yang sangat menantang, dengan rakusnyanya Panca melahap puting merah jambu bergantian.
"Mas....o...oh.....mas." teriak Linda merasakan sensasi melayang.
Tangan Panca nakal mulai mencari sesuatu yang sudah basah di bawah sana. Lidia melenguh saat jari Panca mulai menekan sebuah benda kecil di bagian intinya.
Lidia sudah dibakar gairah, matanya sayu. Ia sudah tidak mengingat apa - apa lagi. Akal warasnya menghilang karna sensasi yang Panca ciptakan.
Panca mulai menjelajah setiap inci tubuh Lidia. Lidahnya bermain di antara kedua paha Lidia, mengobral abrik bagian inti Lidia dan sesekali mengisap benjolan kecil.
"Masss....." teriak Lidia di sela permainan lidah Panca di bawah sana membuatnya melayang dan tubuhnya meliuk - liuk seperti cacing kepanasan. Ia mengigit bibir bawahnya menahan suara yang tidak seharusnya keluar.
Lidia membuka matanya yang tadi terpejam saat Panca menghentikan permainannya. Padahal Lidia hampir saja sampai dan itu membuat wajah Lidia mengerut karna kecewa.
"Mas...." ujar Lidia seperti memohon dan itu membuat Panca tersenyum menang.
Perlahan Panca merangkak keatas tubuh Lidia yang sudah tidak memakai apa - apa. Lidia merasakan milik Panca yang sudah siap mencari gua yang tersembunyi di sebuah lembah lembab. Lidia mendorong tubuhnya saat senjata Panca berusaha menusuk goanya.
"Ouch.... Lidia ?" racau Panca dengan mata sudah berkabut gairah.
"Mas, penuh mas." Lidia ikut menggoyangkan tubuhnya mengikuti gerakan Panca. Matanya terpejam menikmati sensasi nikmat yang tak terkira. Senjata berurai milik Panca selalu membuatnya merem melek dan sudah jadi candu baginya.
Lidia pasrah dan menyerahkan dirinya seutuhnya pada Panca. Tak ada lagi penolakan seperti sebelum - sebelumnya. Peluh bercucuran membasahi tubuh keduanya. Cuaca yang dingin berubah jadi panas.
"Mas lebih cepat mas." kacau Lidia saat gelombang itu datang. Panca mempercepat permainannya, bunyi kedua benda berdua memenuhi kamar dan lenguhan dan desahan dari keduanya lepas begitu saja.
"Mas aku mau sampai." teriak Lidia.
"Tunggu, sayang. Kita keluar bareng." Tempo permainan semakin cepat membuat tubuh Lidia terombang ambing mengikuti gerakan Panca.
Keduanya terkulai saat pelepasan. Panca membiarkan rudalnya di dalam goa milik Lidia yang masih terasa meremas remas miliknya di dalam sana.
Entah berapa kali mereka berpacu berbagi peluh dan permainan berakhir saat Lidia menyerah karna kelelahan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Assalamualaikum kk, si tunggu saran dan masukannya kk.
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen serta vote yang banyak biar thor semakin semangat untuk melanjutkannya bab berikutnya 👍😘🙏
atau adit br dipindah ke kantor nya panca?
atau adit atau lidia ga pernah saling cerita mrk kerja dimana?