Chandra Baswara lahir pada malam yang indah di bawah cahaya rembulan, tetapi kebahagiaan itu retak sejak awal ketika ayahnya menolak dirinya hanya karena tanda lahir besar di wajahnya. Sejak kecil Chandra tumbuh dengan kasih sayang ibunya, namun dunia di sekitarnya tidak selalu sebaik itu. Tatapan aneh, bisikan, dan ejekan membuatnya terbiasa menyendiri dan perlahan menutup hatinya dari orang lain. Baginya, hidup sendiri terasa lebih aman daripada harus kembali merasakan penolakan. Namun semuanya mulai berubah ketika seseorang hadir tanpa memandang kekurangannya, sementara sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan keluarganya perlahan terungkap. Di tengah luka, penerimaan, dan pencarian jati diri, Chandra harus belajar memahami bahwa manusia tidak selalu sekejam yang ia bayangkan, dan bahwa nilai dirinya jauh lebih besar daripada apa yang terlihat di wajahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yikkii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab XX—BENCI DAN BOHONG
Di Malam itu, malam yang begitu cerah, begitu anehnya dunia ini. Sejam yang lalu hujan masih mengguyur bumi seisinya tanpa ampun, namun sekarang satu mendungpun tak tersisa. Sekarang yang tersisa hanya hawa dingin yang merasuk pada setiap lubang pori-pori mereka.
Meskipun begitu, hawa dingin tersebut cepat berlalu seolah menghilang tanpa jejak setelah kedatangan Baskara ke rumah Chandra.
“Assalamualaikum…eh ada si kaya, ngapain kau kesini?” salam dari Baskara dengan wajah berseri-seri.
“Waalaikumsalam…mau apa kau?” Jawab Chandra dengan sinis.
“Harusnya kalimatmu gak begitu itu dek, mas cuma mau main kesini, mau cerita ke kamu soal beasiswa itu…” Ujarnya mengerutkan wajah.
Melihat jawaban dan reaksi dari kakaknya, Chandra merasa bersalah kembali “Eh…iya iya mas, aku kira datang kesini cuma mau ngricuh…sini duduk.”
“Nah begitu dong…sekarang juga tolong buatkan mas, kopi super pait.” Perintahnya beriringan ekspresi yang kembali ceria.
“Ah…pulang saja lah mas…nyesel aku suruh mas duduk.” Ungkapnya dengan mulut yang mengerucut.
Baskara memegang pundak Chandra, “ayolah dek, mas ngantuk ini…malam ini akan menjadi malam yang panjang. Jadi buatkan kopi untuk mas, mungkin si kaya ini juga mau di buatkan susu, mboya pengertian sama tamu to dek.”
“Iya…iya dasar banyak mintanya.” Sungutnya pelan, lalu beranjak ke dapur untuk membuatkan kopi kakaknya dan susu buat Arka.
Di saat Chandra telah menuju dapur. Sontak sorot mata Baskara menatap kepada Arka lalu bertanya “Kenapa dengan wajahmu itu? Ada masalah?.”
“Ah…gak ada apa-apa kak,” kelitnya dengan menggelengkan kepala dan menggoyangkan kedua telapak tangannya.
“Kau gak usah bohong padaku, mungkin kau bisa berbohong kepada yang lain, tapi jika denganku jangan sekali-kali…” tuturnya menggali yang di sembunyikan Arka.
Arka pasrah dan memasang wajah yang begitu melas kembali “Aku tak bisa seperti Chandra kak…”
“Maksudnya seperti Chandra?.”
“Aku dan Chandra mengalami hal yang hampir sama tapi bedanya Chandra tak membenci ayahnya sedangkan aku benci pada ibuku sendiri…” keluhnya sambil menunduk.
Baskara mengerik pelipisnya yang tak gatal itu “Memangnya kenapa dengan Ibumu? Kenapa kau harus benci padanya?.”
Arka menghela nafasnya dengan begitu panjang “Aku di tinggal oleh Ibuku saat aku baru umur 3 bulan, dia meninggalkanku karena laki-laki lain. Ayahku bilang dia sudah mati…tapi kenyataannya dia belum mati. Sungguh besar rasa benci ini pada wanita itu kak…benar kata Chandra untuk membenci, seseorang juga harus peduli”
Baskara terdiam, tatapan matanya kosong mengarah ke raut wajah Arka “Maaf, Ka aku gatau kau mengalami hal seperti itu.”
“Gak papa kak” Arka menggeleng pelan “Ayahku berkata Ibu sudah mati, mungkin yang dimaksud ialah mati di dalam hatinya atau perannya sebagai seorang istri ataupun sebagai seorang Ibu. Meskipun begitu, saat aku mengetahuinya ayah tetap menganggapnya telah mati. Bagiku perannya memang sudah mati tapi di dalam hatiku dia belum mati…” Lanjutnya
Baskara menyela dengan menepuk pundak Arka dengan pelan dan lirih berkata “Karena kau masih berharap dia akan kembali, bukankah begitu?.”
Arka tak menjawab dengab kata. Ia menjawab dengan anggukan pelan.
“Tapi rasa itu telah sedikit berkurang karena pelukan dari Ibu Mandira. Sungguh, saat mendapatkan pelukan itu, aku tak kuasa menahan air mataku untuk jatuh. Ternyata rasanya seperti itu, begitu hangat dan nyaman ya kak…” Rintihnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Baskara melepaskan tangannya dari pundak Arka lalu memalingkan wajah tak kuasa mendengar rintihan dari Arka dengan wajah yang mengerut oleh rasa sedih yang mendalam.
Tepat setelah itu Chandra kembali keluar membawa 1 gelas kopi dan 2 gelas susu diatas nampan. Dia melihat ke arah Arka yang sekarang memasang wajah melas kembali dan mata berkaca-kaca.
“Oi mas…kau apakan Arka!?” Tuduhnya dengan nada agak tinggi.
Baskara hanya diam tak menjawab apa lagi Arka yang sekarang malah memalingkan wajahnya.
“Hoi kalian. Ada apa? Kenapa? Bertengkar? Jawab asu!” Cecarnya dengan begitu galak.
“Anu Chand…” Jawab Baskara
“Kenapa? Tiba-tiba banget diem-dieman” Cecar kembali dari Chandra
Dalam hening tersebut, Arka mengambil suara “Chand…ga papa kog. Aku tadi cerita ke kak Baskara…tentang ibuku dan aku juga bilang iri padamu yang tak benci pada ayahmu…” Lirih katanya.
Dengan posisi yang masih berdiri terlihat sorot mata Chandra menatap kosong kearah Arka. Kemudian dia meletakkan nampannya bersamaan dengan memposisikan duduknya. Setelahnya ia menghela nafas panjang seakan reaksi tersebut sungguh di perlukan.
“Ka…maaf aku telah membohongimu. Sebenarnya aku juga membenci ayahku. Bahkan aku tak bisa memaafkannya karena telah meninggalkan Ibuku dan Aku. Maaf telah membohongimu.” Ujarnya tak kalah lirih dari Arka.
Tatapan Chandra semakin kosong “Persetan dengan kata benci Ka…sungguh aku menginginkannya kembali kerumah ini, kembali untuk membangun keluarga yang telah ia tinggalkan selama 17 tahun ini. Selain itu…aku juga…ingin tahu rasa kasih sayangnya ataupun perannya sebagai ayah.
“Maaf tak jujur padamu…” Imbuhnya.
Malam ini semakin hening tak ada suara satupun kecuali suara dari burung-burung dan suara jangkrik yang sedang bernyanyi bersama.