NovelToon NovelToon
Maaf Itu Mati Bersama Kepergiannya

Maaf Itu Mati Bersama Kepergiannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Balas Dendam
Popularitas:319
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

sepuluh tahun lalu,Aldric veynheart kehilangan segalanya
ia kehilangan ayahnya di singgasana dengan pedang patah ditangan.
Ia kehilangan ibunya yang ditikam dari belakang saat berlindung.ia kehilangan adiknya - Liana enam tahun yang dilempar dari menara tertinggi.
dan dimalam yang sana,dibalik tirai,ia melihat Elera ,istri yang dinikahinya sebulan lalu,bersandar mesra di dada Darius veynheart ,Kaka tirinya.
senyum Elera,saat menatap Darius adalah paku terakhir di peti mati hati Aldric sebelum ia sempat berteriak,sebelum tendangan menghantam punggungnya.
Tubuhnya meluncur ke jurang maut - jurang tak berdasar di bawah istana ,tempat ribuan monster dan roh penasaran bercokol. Tempat tak seorangpun kembali tapi Aldric bisa kembali

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: KRISTAL KEGELAPAN

Varyn mendarat di halaman istana dengan suara gemuruh yang membuat tanah bergetar. Cakarnya yang besar menggores lantai marmer, meninggalkan bekas dalam. Para penjaga yang masih tersisa lari tunggang langgang, meninggalkan senjata mereka.

Aldric turun dari punggung Varyn, Soulrender terhunus di tangan. Elara, Sera, dan Ren mengikuti di belakangnya—Sera menggendong Ren yang masih lemas setelah menjadi saluran Varyn, tapi matanya sudah mulai jernih.

Istana Veynheart berdiri di depan mereka. Rumah yang dulu hangat, tempat ia dibesarkan, tempat keluarganya dibantai. Kini bangunan itu tampak lebih mengerikan—dinding-dindingnya ditutupi kabut hitam yang merayap seperti ular, jendela-jendelanya memancarkan cahaya merah redup, dan dari puncak menara, sinar merah menyala terang menusuk langit kelabu.

Kristal kegelapan. Sumber kabut.

Dari pintu utama, sesosok bayangan melangkah keluar.

Darius Veynheart.

Kakak tirinya berjalan dengan santai, senyum puas terukir di wajahnya. Ia mengenakan jubah hitam dengan sulaman emas—pakaian resmi seorang raja. Di pinggangnya, pedang panjang bergantung—pedang yang dulu milik ayah mereka.

"Selamat datang di pestaku, Adik," sambutnya, suara penuh ejekan. "Kau datang tepat waktu. Acara utama akan segera dimulai."

Aldric menatapnya dengan dingin. Matanya yang abu-abu dengan semburat merah menyala penuh kebencian.

"Ini bukan pestamu, Darius. Ini akhirmu."

Darius tertawa—tawa panjang, penuh kegilaan. "Akhirku? Lihat sekelilingmu, Adik. Aku duduk di singgasana yang seharusnya menjadi milikmu. Aku menguasai kerajaan yang seharusnya kau pimpin. Rakyat menyembahku sebagai pahlawan. Dan kau?" Ia menunjuk Aldric dengan jemarinya. "Kau buronan. Monster. Setengah iblis yang lari dari kenyataan."

"Aku tidak lari. Aku kembali untuk mengambil apa yang menjadi hakku."

"Hakmu?" Darius menyeringai. "Kau tidak punya hak apa pun di sini. Ayah lebih mencintaimu? Lihat sekarang—ia mati, dan kau tidak bisa menyelamatkannya. Ibu lebih menyayangimu? Mayatnya membusuk di pemakaman tanpa nisan layak. Liana, adik manismu? Ia mati dengan boneka kelinci di tangan, memanggil-manggil namamu."

Setiap kata Darius seperti pisau yang menusuk hati Aldric. Tapi ia tidak goyah. Ia sudah melewati ujian arwah leluhur—ia sudah belajar melepaskan masa lalu.

"Apa yang kau katakan tidak akan mengubah apa pun," balas Aldric tenang. "Kau sudah kalah, Darius. Kau hanya tidak sadar."

Dari belakang Darius, dua bayangan hitam mulai terbentuk. Kael the Destroyer dan Malak the Corruptor muncul dari kabut, mata merah mereka menyala penuh amarah.

"Cukup bermain-main, Darius," suara Kael bergema. "Bunuh dia. Atau biarkan kami yang melakukannya."

Darius mengangkat tangan. "Tunggu. Aku ingin melihatnya menderita lebih dulu." Ia menatap Elara, yang berdiri di samping Aldric. "Istriku yang cantik. Kau kangen denganku, Sayang?"

Elara meludah ke arahnya. "Aku bukan istrimu. Tidak akan pernah."

Darius mengusap ludah di wajahnya, lalu tersenyum—senyum yang mengerikan. "Kau akan merubah pikiranmu saat aku memenggal kepala suamimu di depan matamu."

Varyn, yang sejak tadi diam, melangkah maju. Tubuh raksasanya membayangi mereka semua.

"Darius Veynheart," suaranya dalam, menggetarkan. "Kau hanya boneka. Kael memanfaatkanmu. Sadarlah sebelum terlambat."

Darius menoleh, matanya melebar melihat iblis raksasa itu. Tapi cepat ia mengendalikan diri. "Boneka? Aku raja di sini. Mereka hanya... mitra bisnis."

Kael tertawa. "Dia lucu, Malak."

"Lucu dan bodoh," sahut Malak.

Darius mengerutkan dahi. "Apa maksud kalian?"

Kael melangkah maju, mendekati Darius. "Kau pikir kami butuh manusia lemah seperti kau? Kami hanya menggunakanmu untuk mencapai tujuan kami. Dan sekarang setelah Soulrender aktif dan iblis-iblis lain bangkit..." Ia mengangkat tangan, dan tiba-tiba Darius terangkat ke udara, tercekik oleh kekuatan tak terlihat. "...kau tidak berguna lagi."

Darius meronta, wajahnya membiru. "Tunggu... kita... ada perjanjian..."

"Perjanjian batal," Kael tersenyum puas. "Selamat tinggal, Raja boneka."

CRACK!

Leher Darius patah dengan suara mengerikan. Tubuhnya jatuh ke lantai, tidak bergerak. Mata orang itu masih terbuka—terkejut, tidak percaya bahwa ia dikhianati oleh sekutunya sendiri.

Aldric menyaksikan semuanya dengan perasaan campur aduk. Darius mati—tapi bukan di tangannya. Ada sedikit kehampaan, tapi juga kelegaan. Satu beban lepas.

Kael berbalik pada Aldric. "Sekarang, urusan kita. Kau punya Soulrender. Kami punya kekuatan. Ayo selesaikan ini."

Varyn melangkah maju. "Kael, sudah lama kita tidak bertarung."

"Varyn." Kael menatap saudaranya dengan kebencian. "Pengkhianat. Kau memilih manusia daripada keluarga sendiri."

"Aku memilih kebenaran. Kau memilih kegilaan."

Tanpa peringatan, Kael menyerang.

Pertempuran antara dua iblis kuno menggunakan seluruh halaman istana. Pukulan mereka menghancurkan tiang-tiang marmer, tendangan mereka membelah tanah. Api hitam dan merah beterbangan, membuat udara panas dan beracun.

Malak ikut bergabung, menyerang Varyn dari samping. Dua lawan satu—Varyn mulai kewalahan.

"Aldric!" teriak Elara. "Kau harus bantu dia!"

Aldric mengangguk. Ia menghunus Soulrender dan berlari ke medan pertempuran. Pedang itu bersinar terang, seolah tahu bahwa saatnya telah tiba.

Ia menerjang Malak, menebas punggung iblis itu. Soulrender membuka luka dalam—Malak meraung kesakitan, kabut hitam keluar dari lukanya.

"Anak kurang ajar!" Malak berbalik, menyerang Aldric dengan cakar beracun.

Aldric menghindar, menangkis, menyerang balik. Soulrender setiap kali mengenai tubuh Malak, meninggalkan luka yang tidak bisa sembuh. Tapi Malak cepat—terlalu cepat. Beberapa serangannya berhasil melukai Aldric.

Dari kejauhan, Elara melihat pertempuran itu dengan cemas. Ia tahu ia tidak bisa bertarung, tapi ia harus melakukan sesuatu.

Ren tiba-tiba meronta di gendongan Sera. "Bu, turunin. Ren mau bantu Om."

"Kau gila, Nak! Itu iblis!"

"Ren bisa." Matanya mulai bersinar merah. "Varyn bilang, Ren bisa."

Sera ragu, tapi Ren sudah turun dan berlari ke arah pertempuran.

"REN!" teriak Sera panik.

Anak kecil itu berlari di tengah kekacauan, menghindari batu-batu berhamburan, mendekati Malak yang sedang bertarung dengan Aldric.

Malak melihatnya. "Anak itu—"

Ren mengangkat tangannya. Dari tubuh kecilnya, cahaya merah menyala—bukan merah biasa, tapi merah darah, merah api. Dan dari cahaya itu, sesosok bayangan Varyn keluar—bukan Varyn utuh, tapi versi kecil, versi murni, yang langsung menerjang Malak.

"APA—" Malak terkejut, terpental oleh serangan itu.

Varyn yang asli—yang bertarung dengan Kael—tertawa. "Ren anak hebat! Ia bisa memanifestasikan kekuatanku!"

Aldric tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dengan Soulrender teracung, ia menusuk dada Malak tepat di jantung iblis itu.

Malak menjerit—jeritan panjang, melengking, mengerikan. Tubuhnya bergetar, lalu meledak dalam kepulan asap hitam pekat.

SATU IBLIS TUMBANG.

Kael melihat itu dan matanya melebar. "Tidak mungkin! Malak!"

Varyn tersenyum puas. "Giliranmu, Saudaraku."

Kael mundur, ketakutan untuk pertama kalinya. Tapi sebelum ia bisa lari, Aldric dan Varyn sudah mengepungnya.

"Ini akhirnya, Kael." Aldric mengangkat Soulrender.

Kael tertawa—tawa putus asa. "Kau pikir ini akhir? Masih ada Abaddon di utara. Lilith masih hidup. Mereka akan membalaskan dendamku!"

"Biarkan mereka datang," balas Aldric. "Kami akan siap."

Soulrender menebas.

Kael the Destroyer—iblis pertama dari Four Horsemen—runtuh.

Hening.

Halaman istana yang megah kini hancur lebur. Puing-puing berserakan, api hitam masih menyala di beberapa tempat, dan kabut mulai menghilang perlahan. Langit mulai cerah—tidak sepenuhnya, tapi setidaknya matahari mulai terlihat.

Aldric terhuyung, hampir jatuh. Elara segera berlari menopangnya.

"Kau hebat," bisiknya.

Aldric tersenyum lemah. "Kita hebat."

Ren berlari menghampiri, memeluk kaki Aldric. "Om! Om! Ren bantu!"

Aldric menggendong anak itu. "Ya, Nak. Kau pahlawan kecil."

Sera datang dengan air mata bahagia. Varyn mengecilkan ukurannya, mendekati mereka.

"Pertempuran belum selesai," katanya. "Masih ada Abaddon dan Lilith. Tapi hari ini kita menang."

Aldric mengangguk. "Istirahat dulu. Besok kita lanjutkan."

Mereka berjalan meninggalkan halaman istana, meninggalkan mayat Darius, meninggalkan puing-puing pertempuran. Di belakang mereka, kabut hitam terus menghilang, dan sinar matahari mulai menyinari Nivalen yang porak-poranda.

Tapi di kejauhan, di utara, langit masih hitam pekat. Di sana, Abaddon the Desecrator menanti.

Dan di barat, Lilith the Temptress tersenyum, menyusun rencana baru.

Perang masih panjang.

Tapi setidaknya, hari ini mereka menang.

Malam itu, mereka berkemah di reruntuhan istana. Varyn menjaga dari kejauhan. Elara membersihkan luka-luka Aldric. Ren tidur di pangkuan ibunya, kelelahan setelah memanifestasikan kekuatan Varyn.

Tapi Aldric tidak bisa tidur.

Ia memegang Soulrender, menatap bayangannya sendiri di bilah hitam itu. Dua iblis tumbang. Dua tersisa. Tapi di dalam hatinya, ada kehampaan—Darius mati, tapi tidak di tangannya. Apakah dendamnya sudah lunas?

Elara meraih tangannya.

"Apa yang kau pikirkan?"

"Tentang besok. Tentang lusa. Tentang kapan ini akan berakhir."

Elara tersenyum. "Ini akan berakhir saat kita bersama. Sampai mati."

Aldric memeluknya erat.

Di luar, angin malam berdesir. Dari utara, bisikan kegelapan terdengar samar—panggilan perang dari Abaddon.

Tapi untuk malam ini, mereka istirahat.

Besok, mereka akan menjawab panggilan itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!