NovelToon NovelToon
SERABI LEMPIT

SERABI LEMPIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

lanjutkan seorang gadis cantik baru lulus dan sedang mencari kerja dan menemukan masalah karena orangtuanya berhutang dengan lintah darat namun ada bos muda yang membantunya namun bos itu jatuh hati kepadanya gadis cantik itu bernama Mira dan bos besar grup Nusantara itu Romano Kusuma dan ia menginginkan gadis cantik itu dan mengejaran dimulai ...... lanjutkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 14

Lima tahun kemudian, menara Nusantara Group telah berganti nama menjadi Menara Berdikari. Fasadnya kini rimbun dengan taman vertikal yang menyuplai oksigen bagi kawasan sekitarnya, sebuah simbol fisik dari janji yang pernah diucapkan Mira di tengah debu Sektor Tujuh.

Mira berdiri di kantornya, namun ia tidak lagi sendirian di sana. Di sebuah meja kecil di sudut ruangan, seorang anak laki-laki berusia empat tahun sedang asyik menyusun balok kayu, membangun replika pasar yang sangat mirip dengan Pasar Berdikari yang asli.

"Dia memiliki ketelitianmu, Mira. Tapi dia punya ambisi yang jauh lebih liar," suara Romano memecah keheningan. Ia melangkah masuk, tidak lagi mengenakan jas kaku, melainkan kemeja kasual yang lengannya digulung hingga siku.

Mira tersenyum, melihat Romano berlutut di samping putra mereka, membantu menyeimbangkan menara balok yang hampir runtuh. "Selama ambisinya tidak membawanya ke gudang bawah tanah, aku rasa kita aman."

"Gudang itu sudah aku semen mati tahun lalu, kau ingat?" Romano berdiri dan berjalan mendekati Mira, memeluk pinggangnya dari belakang sambil memandang ke luar jendela.

Di bawah sana, Sektor Tujuh telah bertransformasi menjadi kawasan hunian mandiri terbaik di kota. Tidak ada lagi gang sempit yang becek; yang ada hanyalah trotoar lebar, sekolah-sekolah yang didanai oleh Yayasan Rahayu, dan warga yang berjalan dengan kepala tegak karena mereka adalah pemilik dari tempat mereka berpijak.

"Hasan meninggal tadi pagi," ucap Mira pelan, matanya menatap kejauhan. "Dia pergi dengan tenang. Warga mengantarnya sebagai pahlawan. Dia menyimpan rahasia itu sampai napas terakhirnya."

Romano menghela napas, dagunya bersandar di bahu Mira. "Itu adalah hukuman sekaligus hadiah terbaik yang bisa kau berikan padanya. Dia mati dalam martabat yang sebenarnya tidak ia miliki, tapi ia menebusnya dengan pengabdian yang nyata."

"Aku merasa seperti sedang menulis ulang sejarah setiap hari, Romano. Kadang aku takut... apakah kebenaran yang kita bangun di atas kebohongan ini akan bertahan?"

Romano memutar tubuh Mira agar mereka saling berhadapan. Ia menyentuh cincin perak di jari Mira yang masih melingkar dengan setia di sana. "Dunia tidak butuh kebenaran yang menghancurkan, Mira. Dunia butuh harapan yang membangun. Apa yang kita lakukan untuk warga, untuk perusahaan, dan untuk anak kita... itu adalah kebenaran yang baru."

Tiba-tiba, suara balok kayu yang runtuh terdengar. Putra mereka tertawa girang, tidak sedih melihat bangunannya hancur. "Bangun lagi! Bangun yang lebih besar!" teriak anak itu.

Mira dan Romano tertawa kecil. Mereka melihat cerminan diri mereka dalam semangat anak itu—semangat untuk tidak takut pada kehancuran, karena mereka tahu cara membangun kembali dari puing-puing yang tersisa.

"Kita sudah melakukannya, bukan?" tanya Mira, menatap mata hitam Romano yang kini selalu memancarkan ketenangan.

"Kita baru saja mulai, Sayang," balas Romano. Ia mengecup kening Mira dengan lembut. "Masih banyak 'Sektor Tujuh' lain di luar sana yang menunggu ratunya."

Mira menoleh kembali ke arah jendela, ke arah kota yang luas dan penuh tantangan. Ia bukan lagi gadis yang hanya ingin menyelamatkan rumah ayahnya. Ia adalah arsitek dari sebuah peradaban baru. Di sampingnya, sang raja yang dulu ia benci kini menjadi jangkar bagi jiwanya yang liar.

Bersama, mereka melangkah menjauh dari jendela, menuju anak mereka yang sudah mulai menyusun balok pertama untuk bangunan yang baru. Di dalam ruangan itu, masa lalu benar-benar telah menjadi debu, dan masa depan tampak secerah matahari pagi yang menyinari Menara Berdikari.

Pintu kantor terbuka pelan, dan ayah Mira melangkah masuk. Rambutnya kini telah memutih seluruhnya, namun langkahnya jauh lebih ringan dibanding lima tahun lalu. Ia melihat cucunya yang sedang bermain di lantai, lalu menatap Mira dan Romano dengan senyum yang menyimpan sejuta rasa syukur.

"Ayah baru saja dari pemakaman Hasan," ujar ayahnya pelan, duduk di sofa beludru yang nyaman. "Orang-orang di Sektor Tujuh membicarakan kebaikannya seolah dia adalah orang suci. Rasanya aneh, mengingat kita tahu apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu."

Mira mendekati ayahnya, menggenggam tangan pria tua itu. "Biarkan mereka mengingatnya seperti itu, Yah. Rahasia itu terkubur bersama Hasan. Sektor Tujuh butuh simbol kebaikan, bukan luka lama yang dikorek kembali."

"Kau benar," ayahnya mengangguk. "Tapi ada satu hal yang ia titipkan pada pengacaranya untuk diberikan padamu setelah ia tiada. Sebuah surat kecil."

Ayahnya menyerahkan amplop usang yang warnanya sudah menguning. Mira membukanya dengan tangan yang sedikit bergetar. Romano berdiri di belakangnya, memberi kekuatan melalui sentuhan tangannya di bahu Mira.

Mira, tulis surat itu. Aku tahu kau tidak pernah benar-benar memaafkanku, dan aku tidak mengharapkannya. Namun, ada satu rahasia terakhir yang tidak ada dalam arsip Nusantara. Ibumu, Rahayu, tidak hanya melawan demi tanah. Ia melawan karena ia tahu bahwa ayah Romano sedang merencanakan sesuatu yang lebih besar dari sekadar penggusuran. Ia ingin melindungi masa depanmu. Ia menyembunyikan sesuatu di balik dinding ruang tamu rumah lama kita. Bongkarlah, dan kau akan mengerti mengapa ia rela mati demi tempat itu.

Mira dan Romano saling berpandangan. Rumah lama itu—rumah yang dulu hampir digusur—kini telah dipertahankan sebagai bagian dari cagar budaya di tengah kawasan modern Berdikari.

Malam itu juga, mereka menuju ke rumah tua tersebut. Di bawah cahaya lampu temaram, Romano menggunakan alat pembongkar untuk membuka bagian dinding yang ditunjuk dalam surat. Di balik lapisan semen tua, mereka menemukan sebuah kotak logam kecil yang kedap udara.

Isinya bukan emas atau perhiasan. Melainkan dokumen-dokumen penelitian tentang sumber mata air bawah tanah raksasa yang mengalir tepat di bawah Sektor Tujuh. Mata air yang jika dikelola dengan benar, bisa memasok air bersih untuk separuh Jakarta tanpa harus bergantung pada korporasi air asing yang mahal.

"Ibuku bukan hanya melindungi tanahnya," bisik Mira, matanya berkaca-kaca saat membaca dokumen tersebut. "Ia sedang melindungi sumber kehidupan untuk orang banyak. Ia tahu jika Nusantara Group mengambilnya, mereka akan memonopoli air dan memeras rakyat."

Romano mengamati peta hidrologi tersebut dengan saksama. "Ayahku ingin menguasai air itu untuk membangun imperium energi dan utilitas yang absolut. Ibumu adalah penghalang terakhirnya."

Mira berdiri tegak, mendekap dokumen itu di dadanya. "Sekarang aku tahu misi terakhir kita, Romano. Proyek Berdikari tidak akan lengkap hanya dengan pasar dan sekolah. Kita akan membangun sistem distribusi air bersih gratis untuk seluruh warga. Kita akan mewujudkan mimpi ibu yang sebenarnya."

Romano tersenyum, menatap istrinya dengan rasa bangga yang tak terhingga. "Lalu, apakah ini berarti kita akan memulai perang baru dengan perusahaan utilitas raksasa?"

Mira berjalan menuju pintu rumah tua itu, menatap bintang-bintang di langit Jakarta. "Biarkan mereka datang. Mereka akan menyadari bahwa melawan kita bukan hanya melawan sebuah perusahaan, tapi melawan sebuah warisan yang sudah mengakar di hati rakyat."

Di bawah sinar bulan, di teras rumah yang pernah menjadi saksi bisu penderitaan dan perjuangan, Mira dan Romano menyadari bahwa perjalanan mereka belum benar-benar berakhir. Selama masih ada ketidakadilan yang bersembunyi di balik kemajuan, sang ratu dan rajamu akan selalu memiliki alasan untuk bertarung.

Dan kali ini, mereka bertarung bukan untuk menebus dosa, melainkan untuk menjaga kehidupan yang baru saja mereka temukan di balik dinding-dinding masa lalu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!