Bagi Jati, kesetiaan adalah harga mati. Namun, sebuah kecelakaan tragis merenggut kejantanannya, membuat pernikahan yang ia bangun bersama Mila berubah menjadi neraka dingin tanpa suara tangis bayi. Di tengah kehampaan itu, Mila memilih jalan pintas yang menyakitkan: berselingkuh dengan Andre demi mendapatkan keturunan yang tak bisa diberikan Jati.
Puncak kehancuran Jati terjadi saat Mila dengan terang-terangan memamerkan pengkhianatannya di depan mata, bahkan menghina kekurangan fisik Jati demi uang belanja. Di titik terendah hidupnya, saat ia merasa bukan lagi seorang lelaki, Jati bertemu dengan Lintang.
Lintang hanyalah seorang janda yang bekerja sebagai tukang pijat keliling untuk menyambung hidup. Pertemuan yang diawali dengan ketidaksengajaan di taman itu perlahan membuka mata Jati. Di balik sentuhan tangan Lintang yang sederhana, Jati menemukan penawar luka yang tak terduga—sebuah harapan bahwa harga diri seorang pria tidak hanya ditentukan oleh fisik, melainkan oleh ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Malam itu, suasana apartemen Jati berubah total.
Cahaya lampu temaram memberikan kesan hangat dan sangat pribadi.
Jati duduk di tepi tempat tidur besar mereka, namun pundaknya tampak tegang.
Untuk pertama kalinya, ia merasa sangat gugup, bahkan takut.
Pintu kamar mandi terbuka pelan, dan Lintang melangkah keluar.
Jati sempat tertahan napasnya. Lintang mengenakan lingerie sutra berwarna merah menyala yang sangat kontras dengan kulit kuning langsatnya.
Ia tampak begitu cantik, berani, namun tetap memiliki kelembutan yang selama ini Jati kagumi.
Melihat Lintang yang begitu memukau, Jati justru menundukkan kepalanya dalam-dalam. Jemarinya saling bertautan, tampak gelisah.
"Mas, ada apa?" tanya Lintang lembut sambil mendekat.
"Maafkan aku, Lintang," suara Jati terdengar parau.
"Melihatmu secantik ini, aku justru takut. Aku takut jika malam ini sarafku kembali tidak merespons. Aku takut mengecewakanmu sebagai seorang suami di malam pertama kita."
Lintang tersenyum tipis, penuh pengertian. Ia berlutut di depan Jati, lalu meraih kedua tangan suaminya dan mengecupnya.
Kemudian ia mengambil botol minyak zaitun yang sudah ia siapkan di meja rias.
"Mas, jangan berpikir seperti itu. Mas tidak pernah mengecewakan saya," bisik Lintang.
"Malam ini bukan tentang keberhasilan atau kegagalan. Malam ini tentang kita yang sudah bersatu."
Lintang membuka sedikit kimono yang dikenakan Jati, lalu mulai menuangkan minyak zaitun ke telapak tangannya.
Aroma zaitun yang hangat mulai memenuhi indra penciuman mereka.
"Mari kita lakukan terapi seperti biasa dulu, Mas. Biarkan tubuh Mas rileks. Jangan ada beban pikiran soal status atau performa. Biarkan cinta kita yang bekerja," ucap Lintang sambil mulai memijat kaki Jati dengan gerakan yang sangat lembut dan penuh kasih.
Pijatan Lintang kali ini terasa berbeda. Ada getaran emosional yang lebih dalam.
Setiap sentuhan Lintang seolah membisikkan doa dan harapan. Dan benar saja, seiring dengan hilangnya ketegangan di hati Jati, getaran hangat itu mulai muncul kembali di pangkal sarafnya—kali ini lebih kuat dan lebih nyata dari sebelumnya.
Jati menatap istrinya dengan mata berkaca-kaca, merasakan kehidupan yang kembali berdenyut di dalam dirinya, dipicu oleh cinta dan ketelatenan wanita yang kini telah resmi menjadi belahan jiwanya.
Malam yang sunyi itu menjadi saksi bisu di dalam kamar utama yang mewah.
Lintang, dengan balutan lingerie merahnya, menatap suaminya dengan penuh keberanian meski dadanya berdegup kencang.
Ia ingin membuktikan bahwa cinta dan ketelatenannya bisa menghidupkan kembali apa yang telah lama mati dalam diri Jati.
"Aku coba dulu Mas, ya..." bisik Lintang lembut.
Jati hanya bisa mengangguk pelan. Ada rasa haru sekaligus cemas yang berkecamuk di hatinya.
Kemudian Lintang bergerak perlahan, memosisikan dirinya duduk di atas tubuh suaminya.
Dengan penuh kehati-hatian, ia membantu "senjata" Jati untuk menemukan jalan masuk ke dalam mahkotanya.
Ketika penyatuan itu terjadi, Jati menatap Lintang dengan tatapan bertanya.
"Belum ada respon ya, Sayang?" tanyanya getir, merasa bersalah karena tubuhnya belum memberikan reaksi spontan yang ia harapkan.
"Sabar Mas, ini saja baru masuk. Jangan dipikirkan, rasakan saja kehadiranku," jawab Lintang sambil memejamkan mata, mencoba menyesuaikan diri.
Detik demi detik berganti menjadi menit yang terasa sangat panjang.
Lintang mulai menggerakkan tubuhnya secara perlahan, memberikan stimulasi alami yang paling kuat bagi saraf Jati. Tiba-tiba, Lintang merasakan sensasi penuh yang luar biasa di bawah sana.
Sesuatu yang tadi terasa lemas, kini mulai mengeras dan membesar dengan tenaga yang tak terduga.
"Ahhh... sakit Mas..." rintih Lintang tertahan.
Wajahnya mengernyit, ada rasa perih yang menjalar namun bercampur dengan sensasi asing yang memenuhi dirinya.
Jati, yang mulai merasakan aliran darahnya berdesir hebat menuju pusat kejantanannya, memegang pinggul Lintang dengan erat.
"Jangan turun, tetaplah duduk di sana, Lintang. Mas mulai merasakannya..."
Lintang menatap Jati dengan mata berkaca-kaca, napasnya tersengal.
"Mas, sebenarnya, aku masih perawan. Mas adalah pria pertama yang menyentuhku sedalam ini."
Jati terpana. Sebuah senyuman tipis namun penuh kemenangan dan rasa syukur terukir di wajahnya.
Ia melihat bercak darah merah segar yang mulai keluar sedikit, membasahi kain sprei sutra mereka.
Rasa bangga luar biasa merayapi hatinya; wanita semulia ini menjaga kesuciannya hanya untuk dirinya, pria yang sempat dianggap cacat oleh dunia.
Didorong oleh rasa cinta dan gairah yang kembali bangkit sepenuhnya, Jati mulai mengambil alih gerakan.
Sarafnya yang selama ini bungkam kini berteriak penuh kehidupan.
Ia melakukannya dengan penuh perasaan, membalas setiap pengorbanan Lintang dengan kehangatan yang mendalam.
Suara desahan Lintang mulai terdengar jelas memenuhi kamar, berpadu dengan deru napas Jati yang memburu.
Lintang menggelengkan kepalanya, ia merasa kewalahan menghadapi kekuatan Jati yang bangkit begitu perkasa.
Ukuran dan tenaga suaminya yang selama ini tersembunyi di balik kelumpuhan, kini benar-benar membuatnya kehilangan kata-kata.
"Sabar ya, sayang. Perlahan-lahan," bisik Jati di telinga Lintang, suaranya serak penuh gairah.
Lintang hanya bisa mengangguk pasrah, melingkarkan lengannya di leher Jati seolah tidak ingin dilepaskan.
Malam itu, bukan hanya saraf Jati yang sembuh, tapi luka hati Lintang pun terobati oleh penyatuan suci yang penuh makna ini.
Sampai keesokan harinya dimana matahari pagi menyusup malu-malu dari balik tirai jendela apartemen, menyinari wajah Lintang yang tampak sangat tenang dalam tidurnya.
Jati terbangun lebih awal, merasakan tubuhnya jauh lebih ringan dari biasanya. Namun, ada satu hal yang membuatnya tertegun sekaligus takjub: "senjatanya" pagi ini berdiri tegak dengan sendirinya, menunjukkan vitalitas yang sudah lama ia rindukan.
Rasa syukur dan gairah yang membuncah membuatnya tidak tahan untuk tidak menyentuh belahan jiwanya lagi.
Ia merayap perlahan, memosisikan dirinya di atas Lintang yang mulai menggeliat halus.
"Maaf sayang, aku hanya ingin mencobanya lagi. Rasanya luar biasa," bisik Jati di telinga Lintang.
Lintang perlahan membuka matanya, mengerjap melihat wajah suaminya yang begitu dekat dengan binar mata yang jauh lebih hidup.
"Mas..." suaranya masih serak khas orang bangun tidur.
"Sebentar saja ya, nanggung," pinta Jati dengan senyum menggoda yang sulit ditolak.
Lintang hanya bisa mengangguk pelan, meskipun tubuhnya masih terasa sedikit pegal dari malam pertama mereka. Namun, melihat kebahagiaan Jati adalah obat baginya.
Selama hampir satu jam berikutnya, kamar itu kembali menjadi saksi bisu kebangkitan kejantanan Jati yang kini benar-benar kembali sepenuhnya.
Setelah mencapai puncaknya, Jati merebahkan tubuhnya di samping Lintang, mengatur napasnya yang memburu sambil memeluk istrinya dengan erat.
"Terima kasih atas semuanya, Lintang. Kamu benar-benar keajaiban dalam hidupku," ucap Jati tulus sambil mengecup kening Lintang.
Lintang yang tampak kelelahan hanya bisa mengangguk, menyandarkan kepalanya di dada bidang Jati.
Suasana menjadi hening sejenak, sampai akhirnya Jati menanyakan hal yang mengusik rasa penasarannya sejak semalam.
"Sayang, bagaimana ceritanya kamu masih perawan? Apakah Dery benar-benar tidak pernah menyentuhmu selama pernikahan kalian?"
Lintang menghela napas panjang, menatap langit-langit kamar dengan tatapan menerawang ke masa lalu yang pahit.
"Mas Dery tidak pernah mencintai saya, Mas," jawab Lintang pelan.
"Kami menikah karena dijodohkan. Di malam pertama kami dulu, dia langsung mengatakan bahwa dia jijik melihat saya yang hanya anak seorang asisten rumah tangga. Dia lebih banyak menghabiskan waktu di luar dengan perempuan lain."
Lintang melanjutkan dengan suara yang mulai bergetar.
"Karena dia tidak pernah menyentuh saya tapi ingin menutupi aibnya di depan keluarganya, dia membuat cerita bohong. Dia bilang ke Ibunya dan kakak-kakaknya kalau saya ini mandul. Itulah alasan kenapa keluarganya begitu membenci saya dan memperlakukan saya seperti budak. Mereka menganggap saya wanita tidak berguna yang hanya menumpang hidup."
Jati mendengarkan dengan rahang yang mengeras.
Ia mengeratkan pelukannya, seolah ingin melindungi Lintang dari semua kenangan buruk itu.
"Bajingan..." desis Jati tajam.
"Dia menghancurkan harga dirimu hanya untuk menutupi kebusukannya sendiri. Tapi sekarang kamu lihat, Lintang. Kamu tidak mandul. Kamu hanya belum bertemu dengan pria yang tepat. Dan Mas berjanji, Mas akan membuktikan pada mereka semua bahwa mereka salah besar." ucap Jati.